Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inggris?

Haselyn memejamkan mata, mengabaikan pertanyaan Kevin. Bibirnya terkatup rapat, seolah tak ingin lagi membuka ruang untuk percakapan. “Memang salahku karena terlalu baik,” gumamnya pelan.

Meski amarahnya pada Kevin belum benar-benar reda, hati kecilnya tetap tak tega membiarkan pria itu terbaring sendirian di rumah sakit.

Kevin menoleh ke arahnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Terima kasih.”

Ia benar-benar tidak menyangka. Di balik sikap Haselyn yang tampak dingin dan keras, ternyata tersimpan hati yang begitu lembut.

“Padahal kamu bisa saja meninggalkanku sendirian,” ucap Kevin lirih. “Tapi kamu memilih tetap di sini, menemaniku saat aku sedang kesakitan.”

Ada rasa haru yang menghangat di balik luka yang kini memenuhi tubuhnya. Rasa sakit itu seakan tak berarti dibanding kesempatan yang masih diberikan Haselyn.

“Ini membuatku semakin yakin untuk terus meminta maaf sampai kamu benar-benar memaafkanku,” lanjutnya dengan suara serak.

Kevin menatap Haselyn dalam diam. Wajah perempuan itu tetap berpaling, namun kehadirannya di ruangan itu sudah lebih dari cukup.

“Terima kasih,” bisiknya sekali lagi, tulus sepenuh hati, meski ia tahu kemungkinan besar Haselyn tak mendengar ucapan itu.

*

*

*

Pagi datang menyapa dengan semburat cahaya keemasan yang menyelinap melalui celah jendela, menerobos tirai tipis dan jatuh tepat di wajah Kevin. Cahaya itu memaksa kelopak matanya yang masih enggan terbuka untuk perlahan terangkat.

Kevin mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke arah nakas di samping tempat tidur. Ponselnya tampak menyala dan terus bergetar. Tanpa berpikir panjang, ia segera meraihnya.

“Mama.” Nama yang tertera di layar membuatnya langsung menggeser tombol panggilan.

“Iya, Mah.” Belum sempat ia berkata lebih banyak, suara melengking dari seberang telepon langsung terdengar begitu nyaring hingga Kevin refleks menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Iya, Mah, bentar lagi aku pulang.” Tak ingin percakapan itu berubah menjadi perdebatan panjang, Kevin buru-buru mengakhiri panggilan tersebut.

Haselyn yang sejak tadi terbangun karena mendengar suara Kevin perlahan menoleh ke arahnya. “Siapa?” tanyanya pelan.

“Mama,” jawab Kevin singkat. “Beliau nanya kapan aku pulang.”

Haselyn mengernyit. “Kamu belum kasih tahu kalau kamu dirawat di sini?” Nada suaranya terdengar heran. Bukankah orang tua biasanya ingin mengetahui keadaan anaknya?

Kevin menggeleng pelan. “Nggak perlu. Aku nggak mau Mama khawatir kalau tahu aku masuk rumah sakit.”

Haselyn hanya mengangguk pelan. “Oh.” Penjelasan Kevin terdengar masuk akal. Lagi pula, itu bukan urusannya. Ia tidak memiliki hak untuk mencampuri hubungan Kevin dengan keluarganya.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Haselyn memalingkan wajah ke arah jendela, berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia berada di sana hanya untuk menemani seseorang yang sedang sakit—bukan karena mereka memiliki hubungan apa pun.

“Oh ya, kamu kan sudah lulus SMA?” Kevin membuka percakapan, berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi terasa canggung. “Kamu nggak lanjut kuliah?”

Pertanyaan itu sebenarnya bukan sekadar basa-basi. Di sudut hatinya, Kevin mulai berpikir untuk membantu biaya kuliah Haselyn sebagai bentuk penebusan atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan.

Haselyn menoleh dan menatap Kevin dengan sorot mata tajam. “Kuliah, lah,” jawabnya ketus. “Mana ada ceritanya aku nggak kuliah?”

Nada suaranya yang dingin membuat Kevin refleks menelan ludah. “Ya, aku cuma nanya, Haselyn.” Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa serba salah. Bukankah bertanya bukanlah sebuah kesalahan? “Aku pikir kamu nggak kuliah karena terlalu sibuk kerja.”

Haselyn tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Aku kerja banting tulang justru buat biaya kuliah. Jadi nggak ada ceritanya aku berhenti kuliah.” Ucapan itu terdengar seperti tamparan halus yang membuat Kevin terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini Haselyn berjuang sendirian, bahkan untuk pendidikannya sendiri.

“Memangnya kamu mau kuliah di mana?” tanya Kevin hati-hati. “Kamu kelihatan santai saja, padahal sebentar lagi masa perkuliahan dimulai. Orang-orang biasanya sudah sibuk mengurus persiapan.” Bukankan masa perkuliahan sudah akan di mulai dan calon-calon mahasiswa sudah sangat sibuk mempersiapkan itu semua

Haselyn menatap Kevin beberapa saat, seolah mempertimbangkan apakah pertanyaan itu layak dijawab atau tidak. “Bulan depan aku akan berangkat ke luar negeri untuk kuliah,” ucap Haselyn pelan.

Tatapannya beralih ke arah jendela, seolah sedang membayangkan kehidupan baru yang menantinya di negeri seberang. “Aku juga sudah menyiapkan tempat tinggal di sana. Tinggal membereskan semua urusanku di sini, setelah itu aku bisa berangkat.”

Kevin terdiam. Entah mengapa, kabar itu terasa seperti sesuatu yang menghantam dadanya. Baru saja ia mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Haselyn, tetapi perempuan itu justru akan pergi begitu jauh.

“Permisi, Nona.” Suara seorang perawat menyela percakapan mereka. Perawat itu masuk sambil membawa beberapa obat, lalu menghampiri tempat tidur Kevin.

“Ini obat untuk Tuan Kevin,” katanya sembari menyerahkan obat minum dan salep kepada Haselyn. “Jangan lupa bantu suaminya mandi ya, Nona. Lukanya masih terbuka, jadi jangan sampai terkena air.” Setelah mengucapkan itu, perawat tersebut langsung keluar dari ruangan tanpa menyadari bahwa wajah Haselyn telah berubah merah padam.

Haselyn membeku di tempat. Ucapan “bantu suaminya mandi” terus terngiang di kepalanya, membuat pipinya terasa semakin panas.

Di sisi lain, Kevin menundukkan kepala sambil menggigit bibir, berusaha menahan senyum yang perlahan terbit di wajahnya.

Haselyn segera menoleh dengan tatapan tajam. “Jangan kebanyakan ketawa!”

Kevin yang tak mampu lagi menahan ekspresinya akhirnya terkekeh pelan. “Maaf,” katanya cepat, masih menyisakan senyum di sudut bibir. “Aku benar-benar nggak bermaksud ngetawain kamu.” Namun semakin ia berusaha menghentikan tawanya, semakin sulit ia menahan ekspresi geli di wajahnya.

Haselyn mendengus kesal. Kalau bukan karena pria itu sedang terluka, sudah pasti ia akan meninggalkannya sendirian di rumah sakit.

Meski enggan, Haselyn tetap menuruti ucapan perawat. Bagaimanapun, ia tidak tega membiarkan Kevin yang masih kesulitan berjalan harus masuk ke kamar mandi seorang diri. Perlahan, ia membantu Kevin berdiri dan membimbingnya menuju kamar mandi.

Saat melihat tubuh Kevin yang dipenuhi luka dan memar, Haselyn mengurungkan niat untuk memandikannya seperti biasa. Ia hanya membasahi kain dengan air hangat, lalu mulai mengelap tubuh Kevin dengan hati-hati agar lukanya tidak semakin perih.

“Terima kasih,” ucap Kevin pelan.

“Hm.” Haselyn hanya menjawab singkat tanpa menghentikan tangannya yang terus membersihkan tubuh pria itu.

Beberapa saat kemudian, Kevin kembali membuka percakapan. “Toko kamu bagaimana kalau nanti kamu berangkat kuliah?”

Haselyn memeras kain basah sebelum melanjutkan mengusap lengan Kevin. “Aku sudah mengatur sistem manajemennya. Jadi meski aku di Inggris, aku tetap bisa mengawasi operasional toko dari sana.” Selesai mengelap tubuh Kevin, Haselyn membawa baskom berisi air keruh ke wastafel di sudut kamar mandi.

Kevin menatap punggung Haselyn dengan kening berkerut. “Inggris?” gumamnya, memastikan dirinya tidak salah dengar.

Haselyn mengangguk pelan. “Iya. Aku akan kuliah di sana.”

Senyum tipis terbit di wajahnya, senyum yang berbeda dari ekspresi dingin yang selama ini ia tunjukkan pada Kevin.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!