Indonesia
NovelToon NovelToon
Godaan Paman Mantanku

Godaan Paman Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.

​Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."

​Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.

​Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.

​Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Payung Hitam Di Tengah Deras nya Hujan

​Aura masih menunduk rapat sambil mengusap kedua lengannya yang kedinginan. Suara gemericik air hujan yang menghantam atap halte berpadu dengan bisingnya klakson kendaraan yang terjebak macet. Beruntung, sebagian besar teman sekantor Aura di A&P Group sudah pulang lebih awal atau memilih naik kendaraan lain, sehingga halte itu kini hanya diisi oleh beberapa orang asing yang sibuk dengan urusan masing-masing.

​Tiba-tiba, cipratan air di depannya terhalang oleh sepasang sepatu kulit hitam mengkilap yang berhenti tepat di hadapannya. Sebuah bayangan tinggi tegap menutupi pandangan Aura, disertai kehangatan misterius yang seolah mengusir hawa dingin di sekitarnya.

​Aura mendongak perlahan. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok Arsenio Pratama berdiri menggegam sebuah payung hitam besar di atas kepalanya. Jas mewahnya tampak sangat sempurna, dan sorot matanya yang pekat menatap Aura lurus dari balik kegelapan malam yang mulai turun.

​"Ayo masuk ke mobilku," ucap Arsen singkat dengan suara berat dan tenang yang memotong suara gemuruh hujan.

​Aura terpaku sejenak di kursinya. Jantungnya berdesir hebat—campuran antara terkejut dan rasa segan. "Pak Arsen? Tapi... saya bisa tunggu busway, Pak."

​Arsen tidak memindahkan posisi payungnya yang sebagian besar justru menutupi tubuh Aura agar tidak terkena tetesan air. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Aura dengan ketegasan yang tak membantah.

​"Busway tidak akan datang dalam waktu dekat dalam cuaca seperti ini," ujar Arsen datar namun menuntut. "Dan aku tidak mau staf yang bertanggung jawab membuat kopiku besok pagi justru sakit karena kehujanan. Naik, Nona Aura."

​Aura menelan ludah pelan. Menyadari bahwa menolak perintah sang CEO di tengah situasi seperti ini hanya akan memicu perdebatan sia-sia, Aura akhirnya mengangguk pelan. Ia berdiri dari kursi halte, melangkah rapat di bawah perlindungan payung hitam yang dipegang oleh Arsen menuju pintu sedan mewah Rolls-Royce yang sudah dibukakan oleh David di pinggir jalan.

​Aura merapatkan pakaiannya seraya melangkah masuk ke dalam kabin belakang sedan Rolls-Royce yang begitu luas dan hangat. Pintu mobil tertutup dengan dentuman halus, seketika membungkam riuk pikuk gemuruh hujan dan bisingnya klakson lalu lintas di luar.

​Arsen menyusul masuk dari sisi sebelahnya, melipat payung hitamnya dan menyerahkannya pada David di kursi depan sebelum duduk tegak di samping Aura. Jarak di antara mereka di kursi penumpang yang dilapisi kulit premium itu terasa begitu dekat namun tetap menjaga batasan profesional. Aroma khas sandalwood dan parfum maskulin milik Arsen menyebarkan kehangatan, perlahan mengusir hawa dingin yang sempat meresap ke dalam tubuh Aura.

​"Jalan, David. Antar Nona Aura terlebih dahulu," perintah Arsen tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela luar.

​"Baik, Pak Arsen," jawab David sigap dari balik kemudi, mulai mengarahkan mobil melaju membelah rintik hujan ibu kota.

​Aura duduk dengan posisi sangat tegak, memangku tasnya dengan jemari yang saling bertaut rapat. Suasana di dalam kabin begitu hening dan penuh ketegangan halus. Ini adalah kali pertama Aura berada dalam jarak sedekat ini dengan pria paling berpengaruh di A&P Group di luar lingkungan kantor.

​"Di mana alamat tempat tinggalmu?" tanya Arsen tiba-tiba, menoleh perlahan menatap Aura dari samping.

​Aura sedikit terperanjat, lalu menyebutkan nama daerah dan alamat kontrakan sederhananya dengan suara halus. "Di kawasan Tebet, Pak. Di jalan kecil dekat lapangan."

​Arsen mengangguk pelan. Pandangannya sempat tertuju pada jemari Aura yang sedikit bergetar karena sisa hawa dingin. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arsen meraih tombol pengatur suhu di panel pintu dekatnya, menaikkan suhu pendingin udara kabin agar terasa jauh lebih hangat dan nyaman untuk gadis di sampingnya.

1
Ryuu
Keren
Ryuu
semangat😍
Ade Chubi
dua pilihan itu ,dua dua nya menguntungkan tuan CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!