Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG KERJA LIAM
Liam melangkah melewati Aleta begitu saja tanpa melirik lagi.
Sementara Aleta hanya melirik sekilas kepergian suaminya itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan, sementara para prajurit di belakang Liam buru-buru membubarkan diri setelah melihat sang jendral pergi.
"Kukira ayah tadi mau marah besar, Ibu," bisik Julian, menghela nafas lega.
Aleta menunduk, lalu mengelus puncak kepala bocah itu dengan lembut untuk menenangkan rasa kagetnya.
"Marah? Ayah mu itu hanya gengsi dan bingung karena istrinya yang sekarang tidak bisa lagi ditindas seperti dulu," jawab Aleta santai, menatap punggung Liam yang semakin menjauh.
Julian mendongak, mengerjap-ngerjapkan mata nya bingung mendengar istilah baru dari mulut ibu tirinya itu.
"Gengsi itu apa, Bu?" tanya Julian polos.
"Gengsi itu penyakit orang sok jual mahal, sudahlah, jangan dipikirkan, ayo kita balik ke kamar, kakimu pasti pegal kan berdiri terus dari tadi," ajak Aleta sambil merangkul pundak kecil Julian berjalan masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, suasana langsung terasa hangat begitu lampu minyak di atas meja dinyalakan oleh Aleta.
Julian langsung duduk di atas tempat tidurnya, matanya masih memancarkan sisa-sisa rasa kagum sekaligus takjub dengan kejadian di halaman depan tadi.
"Ibu tadi hebat sekali, berani berbicara tegas ke Ayah, padahal semua orang di kediaman ini paling takut kalau Ayah sudah pasang wajah dingin," puji Julian sambil tersenyum lebar menatap Aleta.
Aleta yang sedang meletakkan keranjang stroberi di atas meja kecil langsung menoleh, lalu terkekeh pelan mendengar pujian polos dari anak tirinya itu.
"Biasa saja, kalau kita benar, tidak ada alasan buat kita untuk nunduk atau takut sama orang lain, termasuk sama Ayah mu itu," jawab Aleta, meregangkan otot-otot tangannya yang sedikit kaku.
Julian mengangguk-angguk paham, meski usianya baru enam tahun, perlahan-lahan dia mulai mengerti arti ketegasan yang diajarkan oleh ibu barunya ini.
"Oh iya, Bu, besok jadi kan kita ke pasar kota untuk jualan stroberi hasil panen kita?" tanya Julian dengan mata berbinar penuh harap, takut rencana itu dibatalkan gara-gara kedatangan sang ayah yang mendadak.
Aleta mendengus pelan, berjalan mendekati tempat tidur lalu mencubit pelan hidung mancung Julian.
"Jadi dong, mana mungkin ibu bohong ke anak sendiri, makanya sekarang cepat tidur supaya besok pagi-pagi kita sudah siap berangkat," perintah Aleta dengan nada lembut.
"Siap, Bu! Kalau begitu aku tidur duluan ya, biar besok tidak kesiangan," jawab Julian antusias, langsung merebahkan tubuhnya di atas selimut dan menariknya hingga dada.
Tidak butuh waktu lama bagi bocah itu untuk tertidur, rasa lelah bercampur perasaan senang karena panen pertamanya berhasil membuatnya langsung terlelap dengan senyuman di bibirnya.
Aleta melangkah pelan menuju jendela kamarnya, membuka sedikit tirai kain usang itu untuk melihat suasana malam di luar wilayah Marquis yang tampak gelap gulita tanpa penerangan yang layak.
"Suami jendral tapi miskin, utang menumpuk, dan wilayahnya gersang begini, benar-benar tantangan hidup baru yang luar biasa," gumam Aleta pelan sambil melipat tangan di dada, menatap langit malam yang bertabur bintang.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar dari arah luar kamar Aleta, membuat wanita itu langsung menghentikan lamunannya dan memasang wajah waspada.
Tok
Tok
Tok
Aleta menoleh tajam ke arah pintu, alisnya berkerut tipis.
"Siapa malam-malam begini bertamu ke kamar nyonya rumah?" batin Aleta dingin, melangkah pelan mendekati pintu sambil berjaga-jaga kalau saja ada pelayan atau orang usil yang ingin mencari masalah lagi.
Ceklekk...
Aleta membuka pintu kamarnya dengan gerakan cepat, dan di balik pintu itu, berdiri sesosok pria berbadan tegap yang dia lihat tadi.
Seno, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Jendral Liam, berdiri sambil menunduk hormat dengan ekspresi kaku di wajahnya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Marchiones Aleta," ucap Seno dengan suara berat, berusaha menjaga sopan santun meski sorot matanya masih menyiratkan kebingungan.
Aleta menatap Seno dengan sebelah alis terangkat santai.
"Ada apa malam-malam begini asisten setia Jendral datang mencari ku? Apa suamiku itu menyuruhmu untuk mengusirku dari rumah ini?" tanya Aleta to the point, sama sekali tidak berbasa-basi.
Seno langsung menggeleng cepat, menegakkan tubuhnya dan merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan.
"B-bukan begitu, Marchiones, marquez Liam tidak menyuruh mengusir Anda," jawab Seno cepat, sedikit kaget dengan gaya bicara Aleta yang sangat blak-blakan.
"Lalu? Kalau bukan mau mengusir, mau apa lagi? Cepat katakan, aku mau tidur," desak Aleta malas, melipat tangan di dada.
Seno menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, matanya melirik ke dalam kamar sekilas.
"Marquez ingin Anda datang ke ruang kerjanya sekarang juga, ada hal penting yang ingin beliau bicarakan mengenai kondisi keuangan kediaman ini," ucap Seno tegas.
Aleta mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh dengan tantangan.
"Wah, baru juga datang beberapa jam dari medan perang, pria itu sudah tidak sabar ingin membahas utang dan kebangkrutan rumah tangga kita rupanya," batin Aleta, merasa situasi ini semakin menarik untuk dilewatkan.
"Tunggu di sini sebentar," ucap Aleta singkat pada Seno.
Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar sejenak untuk memastikan Julian masih tidur nyenyak, lalu kembali menutup pintu dan berdiri tepat di hadapan sang asisten pribadi.
"Ayo jalan, jangan sampai Jendral kesayanganmu itu menunggu terlalu lama di ruang kerjanya," sindir Aleta santai, berjalan mendahului Seno.
Seno hanya bisa menelan ludahnya kasar, buru-buru melangkah mengikuti dari belakang sambil menatap punggung Aleta dengan perasaan campur aduk.
Selama belasan tahun bekerja di kediaman ini, baru kali ini dia melihat seorang Marchiones berjalan dengan aura setegas dan sedingin itu, mirip sekali dengan perangai atasan mereka di medan perang.
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua tiba di depan ruang kerja Liam, yang dijaga oleh dua orang prajurit bersenjata lengkap.
Begitu melihat Aleta datang, kedua prajurit itu langsung membungkuk hormat lalu mendorong pintu berat tersebut hingga terbuka lebar.
"Silahkan Marchiones," ucap nya sopan.
Aleta melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun, meninggalkan Seno yang memilih berjaga di luar ruangan.
Suasana di dalam ruang kerja Jendral Liam terasa begitu dingin dan kaku.
Di balik meja kerja nya, Liam duduk dengan posisi tegak sempurna, kedua tangannya saling bertumpu di atas meja, menatap lurus ke arah pintu dengan sorot mata tajam nya.
Aleta berjalan mendekati meja kerja Liam tanpa diminta, berhenti tepat beberapa langkah di depan meja sang suami.
"Duduk," perintah Liam singkat, suaranya berat dan datar tanpa emosi sedikit pun.
Aleta tidak langsung menuruti perintah itu, dia justru menarik sebelah sudut bibirnya membentuk senyuman miring yang mengejek, lalu dengan santainya menarik kursi di depan meja lalu mendudukinya begitu saja.