Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Tengah Badai

Udara di dalam rumah mewah milik Bu Gendis terasa begitu sesak, panas, dan pengap, seolah-olah bara api tengah membakar isi hati dan dada wanita paruh baya itu. Amarah dan rasa malu yang tertahan bergejolak hebat, siap meledak kapan saja.

Dan hal itu akhirnya terjadi, saat seorang pembantu rumah tangga secara tak sengaja menyenggol dan menjatuhkan gelas kristal mahal di ruang tengah. Bunyi pecahan yang nyaring itu seolah menjadi pemicu terakhir, memicu kemarahan yang sudah lama meluap tertahan di dada Bu Gendis.

"Kalian buta apa?!" bentak Bu Gendis dengan suara melengking tajam, matanya menyala merah menatap kedua pembantu yang terguncang ketakutan hingga tubuhnya gemetar hebat.

"Tahukah kalian berapa harga gelas itu? Satu tahun penuh gaji yang kalian terima pun belum tentu cukup untuk mengganti harganya!" Suara teriakan Bu Gendis bergema keras hingga ke seluruh penjuru rumah, menembus dinding dan lorong-lorong panjang.

Jingga mendengar keributan itu, ia segera bergegas menghampiri sang ibu dengan langkah cepat, berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan suasana yang kian memanas.

"Sabar, Bu... tarik napas dalam-dalam, tenangkan hatimu," ucap Jingga lembut, seraya mengelus punggung Bu Gendis berulang kali dengan gerakan menenangkan.

"Amarah yang berlebihan tidak akan menyelesaikan apa pun, malah akan membuat dirimu sendiri yang sakit. Bi Siti benar-benar tidak sengaja, dia hanya kaget mendengar suara Ibu tadi, tangannya tergelincir saja."

Nada bicara sang putri sulung yang lembut, bijaksana, dan penuh pengertian perlahan melunakkan hati Bu Gendis. Napasnya yang semula memburu berat perlahan menjadi lebih teratur, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dengan wajah yang masih tampak tegang.

"Benar kata kamu, Jingga. Kamu memang anak yang paling dewasa, tenang, dan penuh pengertian. Berbeda sekali dengan adikmu itu... keras kepala, sulit dinasihati, dan tak tahu diri! Selalu saja membuat masalah dan mempermalukan kita!"

"Bu, mari duduk sebentar di sini. Tenangkan pikiranmu dulu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, hal yang menyangkut masa depan Mawar dan nama baik keluarga kita," ajak Jingga sambil membimbing sang ibu menuju sofa empuk di ruang tamu yang luas itu.

Begitu duduk dan tenang sejenak, Bu Gendis langsung menggeleng kepala dengan wajah penuh kerut muram dan kecewa.

"Jika ini soal Mawar dan pemuda miskin itu, lebih baik jangan dibahas lagi. Kepala Ibu serasa ingin pecah setiap kali mengingat nama mereka berdua! Mana mungkin Ibu bisa menatap wajah tetangga dan kerabat, kalau Mawar menikah dengan pria yang tak punya apa-apa seperti Gala? Itu sama saja mempermalukan dan merendahkan nama baik keluarga yang sudah kita bangun tinggi-tinggi selama puluhan tahun!"

Jingga tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada lembut namun sangat meyakinkan.

"Bu, percayalah pada pengalaman hidupku. Semakin kita melarang, hati anak muda justru akan semakin keras kepala, semakin nekat, dan berani melakukan hal-hal yang tak terduga demi keinginan mereka. Daripada hubungan ini berakhir dengan hal yang jauh lebih buruk, atau hal yang tidak kita inginkan, mengapa kita tidak mengalah sedikit demi kebaikan bersama? Aku melihat sendiri, perasaan mereka berdua itu tulus. Jika mereka memang berjodoh, aku berjanji akan membantu dan memastikan kehidupan mereka nanti cukup layak dan baik, sehingga tidak ada seorang pun yang berani meremehkan, atau menertawakan keluarga kita."

Mendengar penjelasan yang masuk akal dan bijaksana itu, Bu Gendis terdiam lama. Ia menghela napas panjang yang terasa berat, seolah sedang membuang beban berat yang menindih dadanya selama ini.

"Kamu benar... Ibu beruntung memiliki kamu yang selalu berpikir jernih, tenang, dan dewasa. Sejak ayahmu tiada, Mawar benar-benar berubah menjadi anak yang keras kepala, sulit diatur, dan tak mau mendengarkan nasihat siapa pun."

"Jadi... Ibu sudah mulai mempertimbangkan dan merestui hubungan mereka?" tanya Jingga, matanya berbinar penuh harap dan lega.

Namun sebelum Bu Gendis sempat menjawab atau menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara berat, rendah, dan penuh kemarahan melengking tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.

"Aku tidak setuju!"

Semua kepala di ruangan itu serentak menoleh ke arah pintu. Bima baru saja melangkah masuk, berdiri tegak dengan rahang yang mengeras kuat dan kedua tangannya terkepal erat hingga urat-urat di pergelangan tangannya menonjol jelas. Ia baru saja melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada Gala, namun rasa geram, benci, dan rasa tidak terima itu masih membara hebat di dalam hatinya.

"Maksudmu apa, Mas?" tanya Jingga, dahinya mengerut bingung sekaligus mulai merasa curiga melihat sikap suaminya yang berlebihan.

"Maksudku, Mawar berhak mendapatkan pria yang memiliki martabat tinggi, kedudukan, harta, dan masa depan cerah! Bukan pengangguran tak punya apa-apa, pria rendahan yang hanya bermodalkan wajah manis dan kata-kata manja saja!" bentak Bima dengan nada menggelegar, matanya menyala tajam penuh kebencian.

"Kamu tidak berhak memutuskan atau mengatur hidup adikku, Mas," balas Jingga tegas namun tetap tenang dan berwibawa.

"Mawar sudah besar, dia tahu apa yang dia pilih. Dan aku melihat, Mawar dan Gala saling mencintai dengan tulus, mereka berjuang bersama. Lagipula Ibu sudah mempertimbangkannya dengan matang dan bijaksana, bukan begitu, Bu?" lanjut Jingga sambil menoleh ke arah sang ibu.

Saat ketiganya mulai terlibat perdebatan yang semakin memanas dan tajam, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah kamar Mawar. Suasana di ruang tamu langsung hening seketika. Perhatian mereka serentak teralihkan, digantikan rasa curiga, gelisah, dan waspada yang melonjak naik.

"Segera periksa! Cepat! Jangan sampai Mawar berbuat hal yang nekat atau bodoh!" seru Bu Gendis dengan nada panik dan cemas, lalu bergegas melangkah cepat menuju kamar sang putri. Bima dan Jingga segera mengikuti di belakang dengan langkah tergesa-gesa.

Begitu pintu kamar didorong terbuka lebar, ketiganya tertegun kaku seolah kehilangan kemampuan bergerak dan bernapas. Pemandangan di hadapan mata membuat darah Bu Gendis serasa mendidih sekaligus membeku dingin. Mawar dan Gala terlihat saling memeluk dengan penuh kehangatan, seolah dunia di sekitar mereka tak ada artinya.

"Apa yang kalian berdua lakukan?!"

Tanpa berpikir panjang, amarah Bima meledak sepenuhnya. Ia melangkah maju dengan langkah lebar dan cepat, menarik kasar tubuh Gala hingga terpisah dari Mawar, lalu melayangkan satu pukulan keras dan berat tepat mengenai rahang pria itu, membuat Gala terjengkang dan jatuh tersungkur ke lantai kayu yang keras.

"Dasar tak tahu malu! Berani sekali kau masuk ke kamar Mawar!" makian Bima meluncur tanpa henti, matanya liar penuh amarah yang tak terkendali.

"Jangan! Hentikan! Jangan sakiti dia lagi! Dia tidak salah! Kami tidak melakukan hal buruk apa pun!" Mawar segera berdiri dan melindungi tubuh Gala dengan sekuat tenaga, membelakangi kekasihnya agar tidak terkena pukulan atau tendangan lagi. Tubuhnya gemetar hebat namun ia tak bergeser sedikit pun.

Namun semakin Mawar berusaha membela, semakin membara dan meluap amarah Bima. Ia terus melayangkan tinjunya ke arah Gala, berteriak keras, membayangkan jika ia datang terlambat sedikit saja, hal yang jauh lebih buruk mungkin saja terjadi.

"Cukup, Mas! Berhenti! Kalau terus dipukuli seperti ini, dia bisa kehilangan nyawanya!" Jingga segera menarik lengan sang suami dengan kuat, berusaha sekuat tenaga menghentikan kekerasan itu.

"Pria ini sudah melampaui batas kesopanan!" geram Bima, napasnya memburu berat. "Siapa yang tahu niat buruk apa yang tersembunyi di kepalanya kalau kita tidak datang tepat waktu!"

"Sudah, cukup! Jangan buat keributan ini terdengar sampai ke luar pagar atau ke telinga tetangga! Nanti nama baik kita yang hancur!" tegur Bu Gendis dengan suara parau dan bergetar, berusaha menenangkan suasana agar tidak menjadi bahan pembicaraan buruk dan gosip tetangga.

Bu Gendis kemudian menatap Mawar dan Gala dengan pandangan sayu, lelah, namun juga penuh kepasrahan yang mendalam.

"Gala, dengar baik-baik. Ibu merestui hubungan kalian. Tapi ingat baik-baik janji yang kau ucapkan sebelumnya, jangan pernah ingkar."

Gala berdiri perlahan dengan sisa tenaganya, wajahnya penuh memar dan lebam, namun matanya tetap bersinar, berani, dan penuh tekad yang tak bisa digoyahkan.

"Terima kasih, Bu. Terima kasih atas kepercayaan ini. Aku berjanji tidak akan mengecewakan Ibu maupun Mawar. Besok pagi, sebelum matahari terbit, aku akan berangkat ke kota untuk mencari pekerjaan. Dan aku berjanji, aku tidak akan kembali ke sini sebelum berhasil mengumpulkan cukup harta dan membuktikan diriku layak menjadi pendamping hidup Mawar."

Setelah Gala mengucapkan janji itu dengan lantang dan mantap, Bu Gendis berbalik perlahan dan berjalan keluar kamar dengan langkah berat, seolah membawa beban berat di pundaknya. Jingga segera mengikuti di belakangnya untuk menemani dan menenangkan, sedangkan Bima masih berdiri diam di ambang pintu, menatap tajam ke arah Gala dengan rasa benci dan dendam yang belum sirna.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!