Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Suara teratur dari pemantau detak jantung bergaung pelan di dalam ruang perawatan intensif VIP lantai sembilan Blackwood Medical Center.
Bip... bip... bip...
Aroma antiseptik yang pekat beradu dengan wangi samar bunga mawar putih segar yang ditata di dalam vas kristal dekat jendela. Di luar kaca tebal berpelapis baja, langit sore Verona Heights membiru gelap.
Awan mendung menggantung tebal di atas hamparan gedung-gedung pencakar langit distrik pusat, membiaskan pantulan pendar lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
Dominic Blackwood masih duduk di posisi yang sama.
Pria itu belum mengganti kemejanya yang bernoda darah kering sejak tiba dari Villa Mistral delapan jam lalu. Sikunya bertumpu di atas paha, sementara jemarinya yang besar dan hangat melingkari telapak tangan kiri Eva yang dingin.
Pandangan matanya tak pernah teralih dari wajah pucat wanita yang terbaring kaku di atas tempat tidur medis tersebut.
Setiap helaan napas Eva yang tipis dan teratur di balik selang oksigen terasa bagaikan tumpuan hidup bagi Dominic. Di dalam pikiran sang penguasa syndicate, tidak ada lagi perhitungan margin keuntungan, perebutan wilayah pelabuhan utara, atau persaingan antar-faksi. Yang tersisa hanyalah tekad dingin untuk memastikan wanita di hadapannya kembali membuka mata.
Klek.
Pintu geser berpanel kedap suara bergeser pelan. Viktor melangkah masuk tanpa menimbulkan suara sepatu. Kapten pengawal itu membawa sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua dan menghentikan langkahnya dua meter di belakang Dominic.
"Tuan," bisik Viktor rendah, menjaga agar volumenya tidak mengganggu hening ruangan.
Dominic tidak memutar kepalanya. "Laporan dari distrik barat."
"Serangan balasan sektor satu telah dieksekusi sepuluh menit lalu," jawab Viktor.
"Tiga gudang logistik dan fasilitas pengolahan utama Faksi Rossi di pinggiran dermaga enam telah diratakan dengan tanah. Sesuai perintah Anda, tidak ada negosiasi. Seluruh aset fisik mereka di area tersebut dilumpuhkan total."
Dominic mengepalkan jemarinya pelan di sekitar tangan Eva. "Reaksi Don Sergio?"
"Don Sergio mendadak menghilang dari kediamannya dua jam lalu," lanjut Viktor seraya membuka map cokelat yang dibawanya.
"Intelijen kita melaporkan dia melarikan diri ke benteng perlindungan Faksi Rossi di pegunungan timur. Namun..."
Viktor menghentikan kalimatnya sejenak, melirik ke arah Eva sebelum melanjutkan.
"...ada hal aneh dari pola penyerangan di Villa Mistral tadi pagi, Tuan."
Dominic perlahan memutar kepalanya. Iris kelamnya yang tajam menatap Viktor dengan tekanan yang membekukan. "Bicaralah."
Viktor menyodorkan selembar foto dari dalam map. Foto tersebut memperlihatkan sisa-sisa proyektil dan selongsong peluru yang dikumpulkan oleh tim forensik dari balik pilar batu villa yang hancur.
"Penembak jitu yang mengincar Anda menggunakan senapan dengan amunisi khusus bertanda lambang Faksi Rossi," jelas Viktor.
"Tetapi helikopter tanpa penanda yang menurunkan tim penyerang... menggunakan sistem navigasi udara yang terdaftar atas nama anak perusahaan logistik milik Valenti Family."
Mata Dominic menyempit. "Vincent Valenti?"
"Vincent Valenti bersumpah dia tidak terlibat," sahut Viktor. "Dia mendatangi markas pusat kita satu jam lalu dan menyerahkan seluruh log penerbangan helikopternya. Seseorang telah memalsukan dokumen otoritas udara milik Faksi Valenti untuk meluncurkan serangan tersebut."
Dominic membisu sejenak. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan selimut wol yang menutupi dada Eva sebelum berbalik sepenuhnya menghadap Viktor.
"Seseorang sengaja menggunakan aset Valenti dan Rossi secara bersamaan," desis Dominic rendah.
"Mereka ingin aku membantai Rossi dan memicu perang saudara penuh di antara Tiga Faksi utama, sementara dalang yang sebenarnya duduk manis menyaksikan kita saling menghancurkan."
"Siapa pun 'Atasan Utama' dari Ordo Lima Duri tersebut..." kata Viktor, "...dia sangat mengenal struktur komando Konsorsium."
Dominic melangkah mendekati jendela besar, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca yang gelap. Di dalam benaknya, teka-teki berdarah ini makin rumit. Namun kali ini, Dominic tidak bergerak berdasarkan rasa curiga yang buta.
Pengorbanan Eva yang melompat menerima peluru demi menyelamatkan manifes St. Jude 2012 telah memberinya satu kepastian bahwa Evie adalah satu-satunya orang di dunia ini yang berdiri di sisinya tanpa topeng pengkhianatan.
"Pertahankan blokade di distrik barat," perintah Dominic dingin.
"Biarkan Don Sergio berpikir aku termakan oleh umpan mereka. Kita buat mereka percaya bahwa Blackwood Syndicate sedang membabi buta karena kemarahan."
"Siap, Tuan," jawab Viktor seraya membungkuk hormat, lalu mundur melangkah keluar dari ruangan.
...****************...
Pukul 20.00 malam.
Di atas tempat tidur medis, jemari tangan kiri Evangeline bergerak tipis.
Rasa sakit yang menyengat bagaikan tusukan jarum panas langsung menjalar dari bahu kanannya saat kesadarannya perlahan kembali melayang naik dari kegelapan anestesi.
Eva menahan rintihan di balik tenggorokannya yang kering. Kelopak matanya terasa sangat berat ketika ia mencoba membukanya secara bertahap.
Pandangannya yang kabur perlahan menyesuaikan dengan pendar remang lampu dinding kamar.
Aroma antiseptik, desis halus alat infus, dan bau kayu cendana yang sangat familiarnya langsung menyergap indra penciumannya.
"Evie?"
Suara rendah yang dipenuhi kehangatan dan kekhawatiran itu bergaung tepat di samping telinganya.
Eva memutar kepalanya sangat pelan. Di sana, duduk Dominic. Pria itu menundukkan tubuhnya mendekat, matanya yang memerah menatap Eva dengan binar relief yang tak terhingga. Tangannya yang hangat mengusap pipi Eva dengan kelembutan yang teramat sangat.
"Dominic..." suara Eva meluncur sangat serak dan halus, nyaris berupa bisikan tipis.
"Jangan banyak bergerak," potong Dominic cepat, jemarinya membelai rambut cokelat Eva yang terurai di atas bantal. "Operasimu berhasil. Pelurunya sudah diangkat, tapi kau kehilangan banyak darah."
Dominic menyambar gelas berisi air putih dengan sedotan fleksibel dari meja samping, mendekatkannya ke bibir Eva dengan kehati-hati yang luar biasa. Eva menyesap sedikit cairan dingin itu, merasakan kekeringan di tenggorokannya perlahan mengendur.
Eva memejamkan matanya sejenak, merasakan denyutan rasa sakit di bahunya. Namun di balik rasa sakit fisik tersebut, pikiran Ghost Rose dalam dirinya langsung bekerja dengan tingkat kewaspadaan maksimum.
Aku masih hidup. Pengorbanan itu berhasil.
Eva membuka matanya kembali, menatap lurus ke dalam iris kelam Dominic yang terpapar pendar lampu remang.
"Di mana... di mana dokumen itu?" bisik Eva, berpura-pura bahwa hal pertama yang dipikirkannya setelah sadar adalah foto yang diselamatkannya.
Dominic menatap Eva dengan pandangan mata yang begitu dalam dan sarat akan rasa cinta yang intens. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh lembut foto tua di atas meja samping, foto Lady Vivienne dan Clara Cross bersama anak perempuan kecil bernama Evangeline.
"Dokumen dan fotonya aman," jawab Dominic pelan, suaranya bergetar tipis.
"Ada di dalam brankas besi ruangan ini. Kau menyelamatkannya, Evie... kau menyelamatkan peninggalan ibuku."
Eva menyunggingkan senyum lemas yang amat tipis di balik selang oksigennya. "Baguslah..."
Dominic menundukkan kepalanya, mendaratkan ciuman yang sangat perlahan dan hangat di kening Eva. Bibirnya bertahan di sana selama beberapa detik, menyerap aroma tubuh Eva yang tercampur antiseptik, seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar bernapas di pelukannya.
"Kau wanita paling gila yang pernah kutemui," bisik Dominic di depan kening Eva, suaranya serak oleh emosi. "Kenapa kau melakukan hal itu? Kau bisa mati, Evie."
Eva menatap mata Dominic dari jarak sangat dekat. Di dalam benaknya, setiap kata yang akan diucapkannya adalah bagian dari anyaman benang alibi yang harus dijaganya.
Namun, melihat kerentanan murni di wajah penguasa mafia yang kejam ini, ada sedikit getaran asing di dalam dadanya sendiri, sebuah getaran yang mulai membiaskan garis antara tugas dan kenyataan.
"Aku sudah katakan padamu di villa..." kata Eva lambat-lambat, mengarahkan jemari kirinya yang lemas untuk menyentuh pergelangan tangan Dominic.
"...aku tidak bisa membiarkan siapa pun melukaimu di depanku, Dominic. Jika kau mati... dunia ini tidak ada artinya lagi bagiku."
Kebohongan itu diucapkan dengan begitu lembut, dibungkus oleh tatapan mata hazel yang bening dan ketulusan dari seorang wanita yang baru saja mengorbankan darahnya.
Dominic memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Eva dan menempelkannya di pipinya sendiri. Rasa bersalah dan rasa kepemilikan yang mendalam menyatu di dalam dadanya.
Pria yang dulunya tidak pernah mempercayai siapa pun di dunia bawah ini kini telah berlutut secara emosional di hadapan istrinya.
"Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu," janji Dominic. "Aku akan mengawasi tempat ini sendiri. Perang ini akan kukendalikan dari ruangan ini, di sampingmu."
...****************...
Dua hari kemudian.
Kondisi fisik Eva perlahan membaik. Meskipun bahu kanannya masih terbalut perban tebal dan dibatasi oleh penyangga lengan, ia sudah diperbolehkan untuk duduk di atas tempat tidur medis.
Pengamanan di Blackwood Medical Center ditingkatkan ke tingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah kota. Koridor lantai sembilan sepenuhnya dikosongkan dari pasien umum dan diisi oleh eksekutor-eksekutor elit berpakaian serba hitam.
Pintu kamar VIP terbuka pelan. Dominic yang baru selesai mengadakan rapat tertutup di ruangan sebelah melangkah masuk. Pria itu telah berganti pakaian menggunakan kemeja hitam bersih dan celana bahan kelabu, meski lingkaran hitam tipis di bawah matanya memperlihatkan bahwa ia belum tidur secara layak selama 48 jam terakhir.
Di belakang Dominic, Lady Eleanor melangkah masuk disangga oleh tongkat berkepala naganya.
Eva membetulkan posisi duduknya sedikit, menatap penguasa tua yang melangkah mendekati tempat tidurnya.
Lady Eleanor menghentikan langkahnya di sisi tempat tidur, matanya yang tua namun tajam menatap balutan perban di bahu Eva, lalu beralih menatap wajah pucat wanita muda itu.
"Nenek," sapa Eva pelan dengan nada penuh rasa hormat.
Lady Eleanor tidak langsung menjawab. Wanita tua itu mengetukkan tongkat naganya ke lantai batu sekali.
"Aku telah memimpin keluarga Blackwood selama empat puluh tahun, Evie," buka Lady Eleanor, suaranya tenang namun bergema penuh wibawa di dalam ruangan yang sunyi.
"Aku telah melihat ratusan wanita mencoba mendekati cucuku demi takhta, uang, dan kekuasaan konsorsium ini."
Eleanor mengulurkan tangannya yang keriput namun kokoh, meletakkannya di atas tangan kiri Eva yang terpangku.
"Tapi kau..." lanjut Lady Eleanor seraya menatap lurus ke dalam mata hazel Eva, "...adalah satu-satunya wanita yang berdiri di depan peluru untuknya. Darah yang kau tumpahkan di Villa Mistral telah memusnahkan seluruh keraguan di dalam hati keluarga ini."
Eva menahan napasnya secara halus. Nenek Eleanor, sosok yang paling sulit ditaklukkan di dalam hirarki keluarga Blackwood kini telah menerima alibinya secara mutlak.
"Terima kasih, Nenek," sahut Eva rendah. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang istri keluarga Blackwood."
Lady Eleanor menyunggingkan senyum tipis, sebuah gestur langka yang sangat jarang diperlihatkan oleh penguasa tua itu.
Dominic yang berdiri di samping tempat tidur menatap neneknya dengan binar kepuasan tipis. Dengan pengakuan dari Lady Eleanor, posisi Evangeline di dalam kediaman utama kini berdiri sejajar dengan pimpinan faksi lainnya.
"Terima kasih Nenek," kata Dominic pelan pada neneknya.
Lady Eleanor mengangguk anggun. "Aku akan kembali ke manor untuk mengawasi penguatan barisan pertahanan utama. Jaga istrimu, Dominic. Musuh kita sedang merayap di dalam kegelapan yang makin sempit."
Setelah Lady Eleanor melangkah keluar ruangan bersama dua pengawal pribadinya, ruangan kembali diliputi oleh keheningan yang hangat.
Dominic mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur Eva, menyandarkan lengannya di samping pinggul wanita itu.
"Nenek sangat jarang memberikan stempel penerimaannya pada siapa pun," kata Dominic seraya mengusap lembut jemari Eva. "Kau telah menaklukkan wanita paling keras di kota ini, Evie."
Eva tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu kiri Dominic yang tak terluka. "Aku tidak mencoba menaklukkannya. Aku hanya ingin berada di sisimu."
Dominic memejamkan matanya, menikmati kehangatan helaan napas Eva di lehernya.
Namun di dalam batin Evangeline yang tersembunyi rapat di balik senyuman lembutnya, sebuah kalkulasi dingin sedang berjalan dalam irama yang teratur.
"Penerimaan dari Lady Eleanor berarti akses ke arsip tingkat dua di manor kini terbuka lebar untukku," batin Eva seraya menatap bayangan perapian luar di jendela. Akses itu adalah kunci untuk membongkar identitas 'Atasan Utama' Ordo Lima Duri dan membuktikan keterlibatan keluarga Blackwood dalam eksekusi ibunya.
Eva melirik ke arah brankas besi di sudut ruangan tempat foto tua Clara Cross disembunyikan.
Foto itu mencantumkan nama "Evangeline". Dominic belum menyambungkan nama itu dengan dirinya karena alibi "Evie Thorne" yang telah disusun rapi sejak awal.
Namun Eva tahu, seiring bertambah dekatnya hubungan emosional mereka dan makin intensnya penyelidikan atas manifes St. Jude 2012, batas antara nama "Evie" dan "Evangeline" akan makin menipis.
Eva telah mengamankan posisi tertinggi kepercayaan penuh dari Dominic dan pimpinan tertinggi keluarga Blackwood.
Namun saat rasa cinta Dominic makin mendalam dan protektif, setiap langkah yang diambil Eva menuju kebenaran kematian ibunya akan menjadi pijakan yang makin licin di atas jurang kehancuran mereka berdua.
"Dominic," bisik Eva pelan di leher pria itu.
"Hm?"
"Kapan kita bisa kembali ke kediaman utama?"
Dominic mendongak, menatap mata hazel Eva dengan kelembutan yang sangat dalam. "Setelah lukamu benar-benar menutup, Evie. Setelah aku memastikan bahwa kota ini cukup aman untuk kau tempati kembali."
Dominic meraih dagu Eva, memiringkan wajah wanita itu pelan dan mendaratkan ciuman yang sangat dalam dan lembut di bibir Eva.
...Bersambung... ...