Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Bayangan di Balik Cermin

Pagi itu, sinar matahari merambat masuk melalui celah gorden, memantulkan bayangan di atas kaca cermin tua yang menggantung di dinding kamar Intan.

Intan berdiri diam di depan cermin tersebut. Jemarinya yang ramping perlahan menyentuh permukaan kaca yang dingin.

Di dalam pantulan itu, tampak sosok yang amat ia kenali, namun terasa kian asing: seorang gadis dengan mata bulat yang sembap, kulit pucat tanpa polesan, dan tubuh mungil berbalut kaos kebesaran.

Selama 23 tahun, bayangan itulah yang selalu ia kasihaninya.

Bayangan seorang gadis introvert yang bersembunyi dari tatapan tetangga, yang membiarkan dirinya dianggap "anak SMP yang tak kunjung dewasa", dan yang begitu haus akan validasi hingga dengan mudahnya berlutut pada janji manis seorang penipu.

"Cukup."

Bisik Intan pelan. Suaranya datar, tanpa nada ragu.

Ia meraih sepasang gunting kecil dari atas meja rias. Tanpa ragu sedikit pun, Intan memegang seikat rambut panjangnya yang selama ini selalu ia biarkan terurai acak-acakan.

Krek... krek...

Suara gesekan pisau gunting terdengar ritmis di dalam kamar yang sunyi.

Helai demi helai rambut hitamnya jatuh berserakan di atas lantai semen.

Intan memotong rambutnya hingga sebatas bahu, membentuk gaya yang lebih tegas dan rapi.

Ia lalu mengambil sisir, merapikan sisa-sisa potongan rambut itu, dan menatap kembali bayangannya di cermin.

Perubahan fisiknya memang sederhana, namun binar di matanya telah berubah total. Tidak ada lagi rasa minder, ketakutan akan status lajang, atau kepolosan yang naif.

Yang tersisa di balik mata bulat itu hanyalah kebekuan jiwa yang siap menembus kerasnya dunia luar.

Bip.

Ponselnya yang baru saja diisi daya hingga penuh menyala di atas meja. Intan mengambilnya, lalu membuka folder aplikasi.

Tanpa keraguan sedikit pun, ia menghapus aplikasi pencari jodoh yang telah menghancurkan hidupnya.

Benda itu kini bukan lagi sarana mencari "pangeran penolong", melainkan hanya alat yang akan ia gunakan untuk satu tujuan: perburuan.

Intan kembali memandangi buku catatan ber-cover hitam yang semalam ia tulis.

Di halaman pertama, tertera beberapa poin penting yang berhasil ia rangkum dari ingatan tentang Rian:

 * Menggunakan istilah-istilah proyek bangunan dan kontraktor dengan sangat fasih.

 * Pernah menyebutkan daerah tempat ia "mengurus tender"—sebuah kawasan industri di pinggiran kota provinsi.

 * Nomor rekening penipuan terdaftar atas nama bank swasta cabang pusat kota.

"Dua juta rupiah bukan cuma bayaran untuk kepolosanku, tapi juga tiket masukku ke duniamu, Rian."

Gumam Intan, mengusap tulisan itu dengan ibu jarinya.

Ia tahu, berdiam diri di Desa Sukamaju tidak akan membawanya ke mana-mana. Jika ia tetap mengurung diri di rumah ini, Rian akan menang sepenuhnya.

Pria itu akan terus berkeliaran di luar sana, memangsa gadis-gadis lugu lainnya, dan menertawakan betapa mudahnya membodohi seorang Intan Saputri.

Intan membuka lemari pakaian kayunya. Ia memilah beberapa helai baju yang paling rapi dan layak pakai, lalu memasukkannya ke dalam sebuah tas ransel tua berwarna gelap.

Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian secukupnya, buku catatan hitam, dan sisa uang tunai senilai seratus ribu rupiah—satu-satunya harta yang tertinggal di rekeningnya.

Langkah kakinya yang mantap membawa Intan keluar dari kamar menuju ruang tengah.

Di sana, ibunya sedang sibuk merajut taplak meja sambil menatap layar televisi yang menayangkan acara berita pagi.

"Bu"

Panggil Intan halus namun tegas.

Ibunya menoleh, dan seketika matanya membelalak kaget melihat penampilan baru anak gadisnya.

Rambut Intan yang kini sebatas bahu membuat wajah mungilnya terlihat lebih dewasa dan berani, meski tanpa polesan riasan.

"Astaga, Intan!"

"Rambutmu... kenapa dipotong sendiri, Nak?"

Tanya Ibu keheranan, meletakkan rajutannya.

"Intan ingin suasana baru, Bu. "

Jawab Intan tenang. Ia berjalan mendekati ibunya, lalu duduk bersimpuh di samping kursi kayu tempat ibunya bertengger.

"Bu..."

"Intan mau izin."

"Izin ke mana?"

Dahi ibunya berkerut, rasa cemas mulai terpancar di raut wajah yang renta itu.

"Intan mau mencari kerja di kota."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Intan, membuat suasana ruang tengah seketika hening.

Ibunya menatap Intan seolah-olah anak gadisnya itu baru saja berbicara menggunakan bahasa asing.

Selama ini, keluar ke pasar desa saja Intan harus ditemani, bagaimana mungkin gadis yang tak pernah berinteraksi dengan masyarakat ini mendadak ingin pergi ke kota besar seorang diri?

"Kerja di kota?"

"Tapi, Tan... kamu kan tidak punya pengalaman apa-apa."

"Kamu juga penakut kalau ketemu orang baru. Di kota itu keras, Nak."

"Siapa yang bakal menjaga kamu di sana?"

Tanya Ibu dengan nada panik, memegang kedua bahu Intan erat-erat.

Intan menatap mata ibunya dalam-dalam. Dahulu, tatapan khawatir ibunya selalu berhasil membuatnya lari kembali ke dalam kamar dan bersembunyi. Namun hari ini, benteng pertahanan itu sudah berbeda.

"Ibu tidak perlu cemas. "

Jawab Intan pelan, namun setiap kata yang diucapkannya sarat akan tekad yang tak tergoyahkan.

"Intan sudah dua puluh tiga tahun."

"Intan tidak bisa terus-terusan bersembunyi di rumah ini dan jadi bahan omongan tetangga."

"Intan harus mandiri dan berdiri di atas kaki Intan sendiri."

"Tapi uang dari mana untuk modal awalmu di sana, Nak?"

Intan tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang tak sampai ke mata.

 "Intan ada tabungan sedikit dari hasil bantu Ibu jual kue."

"Cukup untuk bayar ongkos bus dan sewa kamar kos kecil untuk minggu pertama."

"Di sana, Intan pasti langsung dapat pekerjaan."

Ibunya terdiam, memandangi wajah anak gadisnya yang kini tampak begitu asing.

Tidak ada lagi raut kekanak-kanakan yang biasanya menghiasi wajah mungil itu.

Yang ada di hadapannya kini adalah seorang wanita muda yang keras kepala, dengan sorot mata yang tak bisa dibantah oleh siapa pun.

Setelah helaan napas panjang yang penuh kegelisahan, sang ibu akhirnya mengangguk pelan.

 "Kalau itu memang sudah jadi keputusanmu..."

"Ibu cuma bisa mendoakan dari rumah, Nak."

"Jaga dirimu baik-baik."

"Jangan mudah percaya pada orang asing di kota."

Nasihat terakhir ibunya menempel keras di benak Intan. Jangan mudah percaya pada orang asing.

 Sebuah pelajaran yang harus ia bayar mahal dengan air mata dan pengkhianatan.

"Pasti, Bu."

"Intan tidak akan pernah percaya pada siapapun lagi."

Bisik Intan dalam hati.

Esok harinya, Intan sudah berdiri di tepi jalan raya desa dengan tas ransel menempel di punggungnya.

Bus antarkota berwarna biru lusuh berhenti tepat di hadapannya dengan deru mesin yang bising dan asap knalpot yang memenuhi udara.

Sebelum melangkah naik ke atas tangga bus, Intan menyempatkan diri melirik bayangan dirinya pada kaca jendela bus yang berdebu.

Bayangan di balik kaca itu menatapnya balik dengan tatapan yang dingin, tajam, dan penuh dendam.

Gadis desa yang lugu itu telah resmi tertinggal di Desa Lao-Lao. Dan kini, wanita yang baru sedang melangkah menuju perburuan terbesarnya.

Jangan lupa like, komen dan subscribe😉

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!