Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey 18

Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
​Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan di Depan KUA

​Suara sirine kendaraan dan bisingnya klakson lalu lintas seolah mengiringi laju taksi yang ditumpangi Maya dan Arka. Maya tidak berhenti membolak-balik dokumen pribadi milik suaminya yang baru saja diserahkan. Matanya membelalak membaca nama yang tertera di lembar kertas KTP tersebut.

​"Arka?" gumam Maya pelan, melirik pria yang duduk santai di sampingnya. "Nama kamu cuma Arka?"

​Pria itu hanya mengangguk pelan sambil membuang pandangannya ke luar jendela taksi. "Iya. Cuma satu kata. Orang tuaku dulu tidak punya banyak uang untuk beli nama panjang."

​Maya menghela napas panjang. Alasan yang sangat masuk akal bagi keluarga kelas bawah. Ia mengamati nama lengkap pria itu tanpa kecurigaan lebih lanjut. Baginya, yang terpenting adalah dokumen tersebut asli dan terdaftar di sistem kependudukan resmi.

​"Dengar, Arka," kata Maya dengan nada serius, merapatkan duduknya. "Setelah ini kita akan langsung memproses dokumen pernikahan darurat di kantor KUA. Temanku yang bekerja di sana sudah menyiapkan berkasnya secara kilat. Tugasmu sederhana: cukup katakan 'ya', tanda tangani semua lembar kertas yang disodorkan, dan jangan banyak bicara."

​Arka memiringkan kepalanya, menatap wajah Maya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. "Bagaimana kalau ada keluarga atau kerabatmu yang bertanya soal latar belakangku?"

​"Katakan saja kamu bekerja serabutan," potong Maya cepat. "Itu bukan kebohongan, kan? Lagi pula, kamu tidak perlu khawatir. Setelah urusan di KUA dan notaris selesai hari ini, kamu boleh tinggal di rumahku sampai situasi mereda. Tapi ingat aturan mainnya: kita tidur di kamar terpisah dan tidak ada kontak fisik tanpa izin!"

​Arka menyunggingkan senyum tipis yang sangat tipis, hampir tak terlihat. "Tentu. Aku sangat menghormati kesepakatan bisnis."

​Pukul 16.52 WIB.

​Suara stempel yang menghantam kertas bergema di dalam ruangan kepala KUA. Petugas yang merupakan kenalan lama almarhum ayah Maya mendesah lega setelah menyerahkan dua buah buku bersampul merah dan hijau ke atas meja.

​"Selamat, Maya. Pernikahan kalian sudah sah secara hukum dan agama," ujar petugas tersebut sambil tersenyum tipis. "Buku nikah ini resmi terdaftar di sistem jam ini juga."

​Maya menerima dua buku kecil itu dengan tangan yang bergetar hebat. Rasa lega yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia berhasil. Di detik-detik terakhir sebelum batas waktu habis, ia berhasil mempertahankan hak atas warisan ayahnya.

​Ia melirik Arka yang baru saja menyalin tanda tangannya di lembar arsip. Pria itu tampak sangat tenang, seolah-olah proses pernikahan kilat ini hanyalah kegiatan rutin yang biasa ia lakukan setiap sore.

​"Terima kasih, Pak," ucap Maya tulus. Ia menyambar buku nikahnya, lalu menoleh pada Arka. "Ayo cepat, kita harus ke kantor Notaris Hendra sebelum jam lima tepat!"

​Namun, baru saja mereka melangkah keluar menuruni tangga semen di depan gedung KUA, dua buah mobil SUV hitam berukuran besar mendadak melaju kencang dan berhenti secara melintang di halaman parkir, memblokir jalan keluar mereka.

​Pintu mobil terbuka secara kasar. Dari dalam mobil pertama, melangkah keluar Pak Gunawan dengan wajah penuh percaya diri, diikuti oleh Sisca yang mengenakan gaun merah menyala dan Rian yang berdiri membusungkan dada.

​"Maya!" teriak Pak Gunawan dengan suara nyaring yang memantul di dinding halaman. "Mau lari ke mana kamu?! Waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang lima menit! Kamu tidak akan sempat membohongi Notaris Hendra!"

​Maya menghentikan langkahnya di tangga terakhir. Matanya menyipit menatap ketiga orang yang telah mengkhianatinya tersebut. Tangannya secara refleks menggenggam erat buku nikah di dalam tasnya.

​Sisca melangkah maju sambil mengacungkan ponselnya yang menampilkan waktu terkini. "Maya, akui saja! Kamu pasti gagal mencari pria yang mau menikahimu dalam waktu seartinya ini, kan? Rian sudah menceritakan semuanya. Tidak ada satu pun pria berkelas di kota ini yang sudi menolong wanita bangkrut sepertimu!"

​Rian tertawa sinis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jas mewahnya. "Maya, kalau saja kamu mau memohon padaku dan menyerahkan sepuluh persen saham secara sukarela tadi pagi, aku mungkin masih bersedia menolongmu. Tapi sekarang sudah terlambat."

​Maya mengepal jarinya hingga memutih. "Aku tidak perlu memohon pada pengkhianat sepertimu, Rian!"

​"Oh ya?" Pak Gunawan menyela dengan tawa mengejek. Matanya kemudian beralih menatap pria tinggi yang berdiri di samping Maya.

​Pak Gunawan mengamati Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan melotot penuh penghinaan. Tatapannya tertuju pada kaus oblong hitam yang agak pudar, celana jeans sederhana, dan sepatu kets yang sudah agak terkikis di bagian sampingnya.

​"Siapa pria di sampingmu ini?" tanya Pak Gunawan sambil menunjuk Arka menggunakan tongkat kayunya. "Jangan bilang kamu menyewa figuran gembel dari pinggir jalan cuma untuk berpura-pura?!"

​Sisca tertawa terbahak-bahak hingga harus memegang perutnya. "Aduh, Paman! Lihat bajunya! Kaus murah harga puluhan ribu, celana jeans dekil, bahkan ada bau oli mesin dari tubuhnya! Maya, demi mempertahankan warisan Kakek, kamu rela nikah sama tukang bengkel jalanan?"

​"Benar-benar tidak punya malu," timpal Rian sambil menatap Arka dengan pandangan jijik. "Seorang putri dari keluarga Wibowo menikah dengan kuli serabutan? Kalau berita ini tersebar di media, nama Wibowo Group bakal jadi bahan tertawaan seluruh pengusaha di kota ini!"

​Penghinaan bertubi-tubi itu memekakkan telinga. Maya merangsek maju, berdiri persis di depan Arka secara refleks untuk menutupi tubuh suaminya dari tatapan tajam ketiga orang di hadapannya.

​"Tutup mulut kalian semua!" bentak Maya dengan suara melengking penuh amarah. Wajahnya memerah padam. "Arka adalah suamiku yang sah! Kami sudah resmi menikah di dalam! Walaupun dia tidak punya harta berlimpah seperti kalian, dia ribuan kali lebih terhormat daripada pengkhianat dan pencuri uang keluarga!"

​Arka yang berdiri tepat di belakang punggung Maya mendadak tertegun. Mata gelapnya menatap punggung kecil wanita yang sedang pasang badan melindunginya itu.

​Selama bertahun-tahun berdiri di puncak tertinggi dunia bisnis, Arka selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mendekatinya karena uang, kekuasaan, dan status sosial. Belum pernah ada satu orang pun terutama seorang wanita yang berani berdiri di depan untuk membela kehormatannya saat ia dihina sebagai orang miskin.

​Ada desir hangat yang asing namun tajam merayapi dada Arka.

​Pak Gunawan melangkah mendekat dengan raut wajah marah. "Kurang ajar! Serahkan buku nikah itu! Aku mau lihat apa pria ini benar-benar terdaftar atau cuma dokumen palsu!"

​Saat Pak Gunawan mengacungkan tangannya untuk merebut tas milik Maya, Arka bergerak.

​Tanpa suara, Arka menggeser posisinya melangkah ke depan Maya. Satu tangannya yang kekar mencengkeram pergelangan tangan Pak Gunawan di udara. Cengkeraman itu begitu kuat dan presisi, membuat gerakan pria tua itu terhenti seketika bagaikan menabrak tembok besi.

​"Bapak sudah tua," suara Arka keluar sangat pelan, namun mengandung tekanan dingin yang membuat bulu kuduk Pak Gunawan berdiri seketika. "Jangan membiasakan tangan tua Bapak menyentuh barang milik istri saya secara kasar."

​Pak Gunawan meringis kesakitan, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Arka tidak bergeser satu milimeter pun. "Lepaskan! Lepaskan tanganmu, gembel!"

​Di saat suasana semakin memanas, dari kejauhan suara derum mesin mobil yang sangat halus namun bertenaga mendadak mendekat. Sebuah mobil sedan Alphard hitam mengkilap berhenti tepat di pinggir jalan depan KUA.

​Pintu mobil terbuka, dan seorang pria paruh baya mengenakan jas kustom berharga ratusan juta melangkah keluar dengan terburu-buru. Wajahnya tampak sangat panik dan dipenuhi keringat dingin. Pria itu adalah Asisten Pribadi kepercayaan Arka yang bertugas mengurus operasional harian Nusantara Group.

​Pak Gunawan dan Rian langsung mengenali wajah pria berjas tersebut. Mata mereka terbelalak lebar.

​"I-itu... Pak Wijaya!" bisik Rian dengan suara gemetar. "Tangan kanan dari CEO Nusantara Group! Kenapa orang paling berpengaruh di dunia perbankan bisa datang ke KUA tempat kumuh ini?!"

​Pak Gunawan seketika melupakan rasa sakit di tangannya. Ia melepaskan cengkeramannya dari Arka dan berbalik, memasang senyum paling manis dan membungkuk hormat menyambut kedatangan pria berjas tersebut.

​"Pak Wijaya! Suatu kehormatan yang luar biasa!" sapa Pak Gunawan dengan suara gemetar penuh kegembiraan. "Apakah Anda datang atas perintah Bapak CEO untuk membahas investasi dengan Wibowo Group?!"

​Pak Wijaya berjalan cepat menaikkan tangga. Matanya langsung menangkap sosok Arka yang berdiri di samping Maya. Namun, sebelum Pak Wijaya sempat membungkuk sembilan puluh derajat untuk memberi hormat kepada bos besarnya, mata Arka mengunci pandangan sang asisten.

​Arka memberikan satu gelengan kepala yang sangat tipis dan mengacungkan ibu jarinya ke arah celana jeansnya,sebuah isyarat rahasia yang menginstruksikan sang asisten untuk tidak membongkar penyamarannya saat ini juga.

​Pak Wijaya yang sudah terlatih puluhan tahun langsung memahami situasi dalam hitungan detik. Ia mengerem langkahnya, mengubah ekspresi wajahnya dari penuh kepanikan menjadi raut wajah yang sedikit ketus.

​Pak Wijaya berjalan melepasi Pak Gunawan yang membungkuk, lalu berhenti tepat di depan Arka. Dengan akting yang sangat sempurna, ia menepuk bahu Arka cukup keras.

​"Aduh, Arka! Dari tadi dicariin di bengkel malah mendekam di sini!" seru Pak Wijaya berpura-pura menjadi pemilik bengkel tempat Arka bekerja.

"Ini gaji harian kamu seratus lima puluh ribu rupiah sama uang lembur kemarin! Jangan bolos terus, nanti saya potong gajinya!"

​Pak Wijaya merogoh dompetnya dan melempar dua lembar uang seratus ribuan ke arah tangan Arka.

​Sisca dan Rian yang menyaksikan hal tersebut langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak.

​"Tuh kan, benar!" cemooh Sisca sambil menunjuk uang dua ratus ribu di tangan Arka. "Cuma buruh harian lepas yang gajinya seratus lima puluh ribu sehari! Hahaha, kasihan sekali!"

​Pak Gunawan mengelus dadanya, merasa kelegaannya kembali. "Bagus, Maya. Kamu berhasil mempertahankan warisan Kakek untuk sementara dengan menikah secara sah. Tapi ingat, kita lihat saja di RUPS minggu depan. Berapa lama kamu dan suami gembelmu ini bisa bertahan hidup tanpa modal!"

​Pak Gunawan melambaikan tangan ke arah anak buahnya, lalu berjalan pergi menuju mobilnya bersama Sisca dan Rian dengan penuh tawa kemenangan.

​Setelah rombongan itu menghilang dari pandangan, suasana di tangga KUA kembali hening. Pak Wijaya berdiri gemetar di samping Arka, tidak berani mendongak sedikit pun karena takut membuat kesalahan kedua di depan bos besarnya.

​Maya mengembuskan napas panjang yang sangat berat. Ia menoleh ke arah Arka, menatap uang dua ratus ribu di tangan suaminya dengan perasaan yang sangat enak hati.

​"Maafkan aku ya, Arka," kata Maya tulus, matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam. "Gara-gara membantuku, kamu jadi ikut dihina dan direndahkan seperti itu oleh keluargaku."

​Maya merogoh tas tangannya, mengambil beberapa lembar uang merah ratusan ribu dari dompetnya dan menyodorkannya pada Arka.

​"Uang lima ratus juta di cek tadi tetap milik kamu penuh," lanjut Maya lembut. "Ini ada uang saku tambahan untukmu. Mulai malam ini, kamu bisa tinggal di rumahku. Kita jalani pernikahan kontrak ini bersama-sama."

​Arka melihat lembaran uang yang disodorkan Maya, lalu beralih menatap wajah cantik istrinya. Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Ia menerima uang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kaus oblongnya.

​"Tidak masalah," jawab Arka dengan suara beratnya yang menenangkan. "Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu."

1
Jamayah Tambi
Lanjut Athur,Dian ambil peluang atas nama darah dan keluarga,sombingvtan tau diri.Umur masih setahun jagung
Jamayah Tambi
Hah,kata dah tamat tp ceritanya bersambung
Jamayah Tambi
Takut kau yg terbunuh Pak Surya Wijaya.Tak masuk di akal sihat dan waras ku bila pulak Arka dan Mayavtinggal di kontrakan.Sebelum tu kan tinggal dirumah peninggalan ayah Maya..
Jamayah Tambi
Dah Arka sendiri yg pimpinan tertinggi Nusantara Group
Jamayah Tambi
Kau hentan je Rian tu.Belagak sangat.
Jamayah Tambi
Arka cepat terus terang .Maya sangat penasaran tu
Jamayah Tambi
Cepat cari tau,agar tidak penasaran terus Maya
Jamayah Tambi
Kalau ketahuan nanti kau jgn marah Maya.Kau yg menawarkan penikahan pada Arka masa itu.Jgn pula kau anggap penipu.Tidak ada untungnya bagi Arka..Kamu yg beruntung Maya,dapat harta karun
Jamayah Tambi
Maya,main saja ikut aturan Arka,nanti tau kok rahsianya
Jamayah Tambi
Rasain.Nak sangat ambil harta anak yatim kan.
Jamayah Tambi
Bola nak sampai pejabat notaris,kok masih di KUA
Jamayah Tambi
Gila, demi harta warisan.Siapa juga mau seluruh harta warisa ayah dan datuknya jatuhbke tangan pamannya dan sepupunya yg serakah itu.Bukan nak tolong anak yatim puatu
itu.
Wawan
Clue yang menarik .... Nyimak ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!