[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Menemui Evelyn
"VAMPIR!" teriaknya kemudian, kali ini dengan suara pecah yang dipenuhi rasa ngeri yang teramat sangat.
Ketakutan mengalahkan rasa lemasnya. Elisa bangkit berdiri dengan tergesa-gasa. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah luar hutan, menuju perbatasan pusat kota. Persetan dengan sepeda bututnya yang tertinggal jauh di belakang sana.
Sebelum makhluk penghisap darah itu berubah pikiran dan kembali untuk menghabisinya hingga kering, ia harus menyelamatkan nyawanya sendiri terlebih dahulu. Ia belum boleh mati sekarang—tidak saat Ibu Iris dan belasan adik pantinya masih terancam digusur.
Sesampainya di pinggiran kawasan kota yang ramai, Elisa akhirnya berhenti. Napasnya memburu layaknya orang yang baru saja dikejar monster—yang mana memang benar terjadi. Ia menumpu kedua tangannya di atas lutut, menunduk dalam sembari berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang terasa terbakar.
Setelah debaran jantungnya sedikit lebih tenang dan ritme napasnya kembali normal, ia melangkah dengan gontai menuju sebuah bangku taman panjang di pinggir jalan raya. Ia menghempaskan tubuhnya yang lelah di sana, lalu mulai mengipas-ngipas wajahnya yang memerah menggunakan topi bulat bertepi lebar miliknya.
"Kurang ajar. Benar-benar hari tersial dalam delapan belas tahun hidupku," gerutunya dengan nada pedas dan penuh kekesalan.
"Sudah jatuh tertimpa tangga, sekarang leherku harus terluka gara-gara makhluk astral penghisap darah itu!"
Elisa meraba bekas dua lubang gigitan di lehernya yang masih terasa berdenyut hangat. Ia buru-buru membetulkan kerah gaun lengan panjang hitamnya, menariknya ke atas setinggi mungkin untuk menyembunyikan luka mengerikan itu agar tidak memicu kegemparan di tengah kota.
Setelah merapikan penampilannya sebisanya, ia kembali berdiri dan melanjutkan berjalan kaki.
Ia melangkah memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang dipenuhi oleh mansion-mansion megah, hingga akhirnya langkah kakinya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi dan dijaga ketat. Ini adalah rumah Evelyn Moonshade, satu-satunya sahabat sejati yang ia miliki di dunia manusia.
Ting nong!
Elisa memencet bel interkom di samping gerbang sebanyak dua kali. Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita paruh baya datang berjalan cepat dan membuka pintu gerbang kecil.
"Maaf mengganggu waktunya, Bi. Saya ingin menemui Evelyn. Apakah dia sedang ada di rumah saat ini?" tanya Elisa, mencoba bersikap sesopan mungkin.
Pelayan itu mengangguk dengan senyuman ramah, langsung mengenali gadis panti yang sering berkunjung itu.
"Silakan masuk, Nona Elisa. Nona Evelyn sedang bersantai di lantai atas, saya panggilkan dulu ya."
Elisa mengikuti langkah kaki pelayan itu melewati halaman rumah yang luas dan asri. Namun, alih-alih masuk ke dalam ruang tamu mewah yang berkilau, Elisa memilih untuk duduk menunggu di kursi rotan yang ada di teras saja, merasa sadar diri dengan pakaiannya yang agak kusut.
Tak butuh waktu lama, seorang gadis cantik berambut hitam sebahu dengan manik mata hijau zamrud yang indah muncul dari balik pintu utama dengan wajah ceria.
"El! Masuklah ke dalam, kenapa malah duduk di luar sini?" ajak Evelyn riang.
Elisa berdiri dari kursinya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan canggung.
"Ah, sepertinya tidak perlu masuk ke dalam, Eve. Aku hanya sebentar di sini, ada hal penting yang ingin kubicarakan."
Evelyn melangkah mendekat, namun senyuman cerianya perlahan memudar saat ia mengamati kondisi fisik sahabatnya dari dekat. "Astaga, ada apa denganmu? Kau terlihat sangat kacau dan pucat, El. Apa kau baik-baik saja?"
Gadis bermata zamrud itu menuntun Elisa untuk duduk kembali di kursi rotan sembari menatapnya dengan binar cemas yang kentara. Keringat dingin rupanya masih tampak bercucuran di sekitar pelipis Elisa.
"Aku... aku baru saja berlari sekuat tenaga dari pinggiran distrik karena ingin segera menemuimu, Eve. Ini masalah yang sangat mendesak," ucap Elisa pelan.
Ia sengaja menyimpan rapat-rapat kejadian traumatis tentang serangan vampir di hutan cemara tadi. Ia tidak ingin Evelyn menganggapnya sudah gila atau berhalusinasi, lagipula waktu tiga jam yang diberikan Louis sudah berjalan satu jam.
Waktunya terlalu sempit untuk membahas hal mistis.
"Masalah apa? Ceritakan saja padaku, El. Jika ada hal yang bisa kubantu, aku pasti akan membantumu," tutur Evelyn tulus.
"Aku... aku butuh tempat tinggal darurat untuk Ibu Iris dan adik-adik panti. Hari ini juga, Eve. Aku hanya punya waktu kurang dari dua jam lagi sebelum rumah kami diruntuhkan. Kami akan diusir paksa oleh pemilik tanah."
Evelyn tertegun, lalu menghela napas panjang yang sarat akan rasa prihatin. Sebagai sahabat, ia sudah hafal betul bagaimana beratnya perjuangan hidup yang dialami Elisa selama ini.
Ia merasa sangat iba dan ingin menolong, namun di sisi lain, ia hanyalah seorang remaja biasa yang belum menghasilkan uang sendiri dan masih bergantung sepenuhnya pada kekayaan orang tuanya.
"Bagaimana ya... kalau untuk menyewa flat instan, aku juga bingung harus mencari ke mana dalam waktu secepat itu," gumam Evelyn sembari mengetuk-ngetuk dagunya. Namun tiba-tiba, sepasang mata hijau zamrudnya berbinar terang seperti baru saja mendapatkan pencerahan.
"Oh! Benar juga! Aku baru ingat sesuatu, El! Aku mendengar kabar bahwa ada sebuah keluarga aristokrat kaya di pusat kota yang memiliki rumah megah seperti istana kuno. Mereka adalah keluarga terkaya di distrik ini, kepemilikan tanahnya ada di mana-mana. Dan denger-dengar, mereka juga mendanai sekaligus mengelola sebuah yayasan panti asuhan yang sangat mewah dengan fasilitas kelas satu yang terjamin."
Secercah harapan instan langsung muncul di wajah Elisa yang tadinya kuyu. "Benarkah ada tempat seperti itu? Aku tahu kompleks rumah mewah di pusat kota itu, Eve! Jadi... menurutmu, apakah ada peluang aku bisa meminta bantuan atau mengajukan permohonan pada mereka?"
"Mungkin saja ada peluang, El. Kebetulan sekali aku mengenal anak perempuan mereka. Dia adalah adik kelasku saat di SMP dulu, namanya Scarlett. Aku akan mencoba menghubunginya sekarang juga untuk menanyakan hal ini," ucap Evelyn bersemangat sembari mengeluarkan ponsel pintar berlogo mahal dari saku gaun rumahan yang ia kenakan.
Setelah beberapa menit melakukan percakapan yang terdengar cukup serius dan intens lewat telepon, Evelyn akhirnya menurunkan ponselnya. Sebuah senyuman lebar yang melegakan terukir di wajah cantiknya.
"Bagaimana hasilnya, Eve?" tanya Elisa dengan kedua tangan bertaut di depan dada, penuh harap.
"Kabar baik, El! Scarlett bilang, kau dan seluruh anak-anak panti asuhanmu bisa dipindahkan dan tinggal di panti asuhan mewah milik yayasan orang tuanya! Tapi, ada syaratnya. Kau harus datang langsung ke kediaman mereka sekarang juga. Orang tua Scarlett ingin mendengar penjelasan situasi daruratmu secara langsung, dan mungkin mereka akan mengirim tim untuk meninjau kondisi panti lamamu sebelum memberikan tanda tangan persetujuan."
"Yang benar? Ya Tuhan... terima kasih banyak, Eve! Kau benar-benar sahabat terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan untukku!"
****
Sedikit info, Buku ini adalah sekuel ketiga dari novel fantasi saya yang sebelumnya.
Baca juga sekuel pertamanya: Pegasus From Diamond Planet. Buku kedua kebetulan belum di publish. Buku keempat judulnya: The Emerald And Her Four Mates. Buku kelima Melodi Air mata Samudera.
Saran untuk para pembaca: kalau mau tahu alur dan silsilah keluarga immortal ini silakan baca sekuel pertamanya dulu ya biar gak bingung!