Indonesia
NovelToon NovelToon
Bunga Untuk Keanu

Bunga Untuk Keanu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Orang Disabilitas
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Tak lama kemudian, Adrian mengetuk pintu lalu masuk membawakan dua porsi makanan bungkusan beraroma harum dari restoran ternama. Setelah meletakkannya di atas meja sofa ruang kerja Keanu, Adrian membungkuk sopan dan pamit mundur kembali ke mejanya.

Keanu beranjak dari kursi kebesarannya, melangkah menuju area sofa. Ia melirik Bunga yang masih duduk ragu di meja kerjanya.

"Kenapa masih di sana? Kemari dan makan," panggil Keanu seraya melonggarkan ikatan dasinya.

Bunga segera bangkit, melangkah pelan mendekati sofa. Ia duduk di sisi sofa yang berlawanan dari Keanu, memberikan jarak yang cukup aman. Jemarinya meraih kotak makan berisi nasi hangat, sup daging lembut, dan tumis sayuran segar yang memang sengaja dipesankan khusus untuk memulihkan kesehatannya.

Saat Bunga hendak menyantap makanannya, ia menyadari Keanu hanya membuka kotak makan berisi steak sapi medium rarenya tanpa menyentuh air mineral atau peralatan makannya. Keanu justru tampak melamun menatap makanan itu dengan raut wajah yang mendadak keruh.

Bunga mengamati perubahan raut wajah suaminya. Ia teringat cerita dari Bi Ratih di rumah, bahwa Azka dulu selalu memastikan Keanu makan tepat waktu saat mereka bekerja bersama, dan steak adalah makanan favorit mendiang suaminya itu jika sedang lembur.

Bunga meraih buku catatan kecil dan pulpen dari saku rok nya. Jemarinya bergerak cepat menari di atas kertas, lalu menyodorkannya ke hadapan Keanu.

'Kak Keanu... makanannya dihabiskan. Jangan biarkan maag Kakak kumat. Mas Azka dulu selalu bilang kalau Kakak sering lupa makan kalau sudah sibuk.'

Deg!

Pandangan Keanu terkunci pada nama yang tertera di kertas tersebut. Rahangnya membeku, dan sepasang matanya menatap tulisan Bunga dengan kilatan emosi yang campur aduk, ada kepedihan, kerinduan, sekaligus amarah yang tertahan.

"Jangan pernah membawakan nama Azka di depanku!" suara Keanu berdesir tajam dan rendah, membuat Bunga tersentak kaget.

Keanu mengepalkan tangannya di atas meja sofa. "Kau tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami, Bunga. Jadi jangan berpura-pura seolah kau sangat mengenalku hanya karena cerita dari almarhum!"

Bunga menunduk dalam-dalam, merasa bersalah karena telah menyentuh luka lama di hati pria itu. Jemarinya yang bergetar kembali memegang pulpen, menuliskan satu kata dengan cepat:

'Maaf...'

Keanu menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya yang sempat meletup. Melihat raut ketakutan di wajah Bunga, ada rasa bersalah yang menusuk benaknya. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa, meraih pisau dan garpu, lalu mulai memotong dagingnya.

"Makan makananmu," ujar Keanu dengan suara yang kembali memelan, meski tetap dingin. "Jangan sampai Papah menyalahkan ku lagi kalau kau mendadak pingsan di kantor."

Bunga mendongak pelan, mengangguk pasrah seraya menyuap makanannya. Di balik sikap serba membenteng dan kalimat tajam Keanu, Bunga semakin menyadari satu hal, Keanu bukannya membencinya, melainkan pria itu sedang bersusah payah membentengi hatinya sendiri dari rasa kehilangan yang mendalam atas kematian seorang adik yang amat dicintainya.

*

*

Menjelang sore hari, mobil Keanu akhirnya membelah halaman luas Mansion Alexander. Suasana rumah megah itu tampak hening dan sepi, pertanda Tuan Alexander belum pulang dari urusan bisnisnya di luar kota.

Setibanya di dalam, Bunga bergegas naik ke lantai dua menuju kamar utama untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lelah usai seharian bekerja. Sementara itu, Keanu melangkah menuju kamar lamanya, ruangan tersendiri tempat ia biasa menyendiri dan meredam seluruh kepenatannya.

Selesai mandi dan mengenakan pakaian santai serta hijabnya, Bunga berjalan keluar kamar. Rasa jenuh yang melingkupi mansion yang sepi membuat langkah kakinya perlahan berbelok menuju kamar yang dulu pernah ia tempati bersama Azka. Di ruangan itulah Bunga menyimpan seluruh peralatan melukisnya.

Entah atas dorongan apa, sore ini keberanian mendadak membakar dadanya. Bayangan pria paruh baya dengan bekas luka kecil di pelipis kirinya, pria yang ia lihat di rumah sakit dan terekam jelas dalam malam kelam pembunuhan orang tuanya, begitu nyata menari-nari di ingatannya Bunga.

"Ayo Bunga, kamu tidak boleh takut! Kamu harus berani melakukan semua ini demi keadilan kedua orang tuamu!" batinnya menyemangati diri sendiri seraya mengepalkan tangan penuh tekad.

Bunga mengambil sebuah kanvas yang masih putih bersih dari sudut ruangan, meletakkannya di atas standar lukis, lalu meraih kuas dan cat. Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, ia mulai menggoreskan warna. Dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian tinggi, Bunga melukis setiap garis wajah pria tersebut, membentuk sketsa rupa sang pembunuh semirip mungkin dengan ingatan traumatisnya.

Sementara itu, di kamar lamanya, Keanu sedang berbaring terlentang di atas tempat tidur. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang tinggi. Kesunyian sore itu perlahan membawa pikirannya melayang.

Secara tidak sadar, bayangan wajah Bunga mendadak terlintas jelas di benaknya.

Ia teringat senyuman tulus Bunga saat merapikan berkas, raut ketakutannya saat bermimpi buruk semalam, hingga momen ketika rambut hitam tergerai wanita itu membingkai kulit putihnya yang seputih susu. Kenangan-kenangan kecil yang baru tercipta beberapa hari terakhir ini mendadak menyusup ke sudut hatinya yang paling dalam, mengusik benteng dingin yang selama ini ia bangun rapat-rapat.

"Kenapa wajah wanita itu terus bermunculan di kepalaku?" gumam Keanu lirih pada dirinya sendiri seraya memijit pelipisnya, merasa bingung sekaligus gusar atas gejolak asing yang mulai merayapi perasaannya.

Gelisah dengan pikirannya sendiri, Keanu akhirnya memutuskan bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya membawa dirinya keluar dari kamar lama, berniat mencari udara segar atau sekadar mengambil minum di lantai bawah. Namun saat melewati koridor, ia mendapati pintu kamar lama Azka dan Bunga sedikit terbuka, memperlihatkan cahaya jingga sore yang menerobos dari dalam.

Rasa penasaran mengalahkan gengsinya. Keanu melangkah pelan mendekat, lalu berdiri di ambang pintu tanpa suara.

Di dalam ruangan, Bunga berdiri membelakangi pintu. Jemari mungilnya memegang kuas dengan cermat, memoleskan warna gelap pada kanvas di hadapannya. Raut wajah Bunga tampak begitu fokus, tegas, dan dipenuhi emosi yang mendalam. Keanu terpaku, ini pertama kalinya ia melihat Bunga begitu larut dalam sebuah karya dengan pancaran mata yang tidak lagi menyiratkan kepasrahan, melainkan keberanian.

Namun, saat mata Keanu beralih ke atas kanvas, raut wajahnya seketika memudar.

Di atas kain putih itu, lukisan sesosok pria paruh baya berwajah tegas dengan bekas luka kecil yang amat rinci di pelipis kirinya mulai terbentuk sempurna. Tatapan mata pria dalam lukisan itu tampak dingin dan kelam, persis seperti gambaran sosok berbahaya.

Deg!

Keanu teringat catatan kecil Bunga tempo hari: 'Pria di rumah sakit tadi... ada bekas luka di pelipis kirinya. Dia salah satu pembunuh orang tuaku.'

Menyadari Bunga benar-benar melukis sosok terduga pelaku tragedi kelam belasan tahun lalu, Keanu melangkah masuk dengan cepat. Suara langkah kakinya yang berat mengejutkan Bunga.

Kuas di tangan Bunga terlepas dan jatuh ke lantai. Bunga berbalik kaget, menatap Keanu dengan mata bulatnya yang berbinar panik. Refleks, Bunga berdiri menghadang di depan lukisannya, seolah ingin menyembunyikan gambar tersebut dari pandangan suaminya.

Keanu tidak memperdulikan kepanikan Bunga. Ia menggeser tubuh Bunga secara perlahan namun tegas, lalu berdiri tepat di hadapan lukisan yang catnya masih basah itu. Mata tajam Keanu meneliti setiap inci garis wajah yang dilukis Bunga.

"Ini... pria yang kau lihat di rumah sakit kemarin?" suara berat Keanu memecah keheningan, bernada amat serius tanpa ada sedikit pun ejekan.

Bunga meremas jemarinya yang teroles noda cat. Setelah ragu sejenak, ia mengangguk pelan namun mantap. Ia meraih papan jalan kecil dan spidol di atas meja melukisnya, lalu menuliskan kalimat singkat:

'Ini wajah pembunuh orang tuaku, Kak. Aku mengingat setiap detail lukanya.'

Keanu menatap tulisan itu, lalu kembali menatap sketsa realistis di hadapannya. Keraguan di hati Keanu perlahan runtuh saat melihat ketelitian dan detail emosi pada lukisan tersebut. Wanita ini tidak sedang berhalusinasi, ia menyimpan ingatan visual yang luar biasa tajam.

"Kau melukisnya sangat detail," ujar Keanu pelan, mengusap dagunya dengan raut berpikir keras.

Bunga menatap Keanu dengan pandangan memohon, kembali menorehkan tinta:

'Bisakah Kak Keanu bantu aku mencari tahu siapa dia? Aku hanya ingin keadilan untuk almarhum ayah dan ibuku...'

Keanu menghela napas panjang. Pria yang dilukis Bunga tampak bukan orang sembarangan, pakaian dan gesturnya dalam ingatan Bunga mengindikasikan kelas sosial tertentu. Jika pria ini memang berkeliaran di kota ini dan bahkan mendatangi rumah sakit tempat Bunga dirawat, bahaya nyata sedang mengintai Bunga.

Keanu merogoh ponsel dari saku celananya, lalu mengarahkan kamera ke arah lukisan tersebut dan mengambil beberapa foto beresolusi tinggi dari berbagai sudut.

Bunga terpaku menatap tindakan Keanu, matanya berbinar tak percaya.

"Aku akan minta Adrian untuk melacak identitas pria ini lewat jaringan koneksi kita dan pencocokan wajah," tegas Keanu seraya memasukkan kembali ponselnya. Ia menatap Bunga tajam, namun kali ini ada cahaya perlindungan di matanya.

"Tapi dengar Bunga, simpan lukisan ini di tempat aman dan jangan pernah sekali pun memperlihatkannya pada orang lain, termasuk para pekerja di rumah ini. Kau mengerti?"

Bunga mengangguk cepat seraya memegang dadanya. Air mata haru menetes pelan mengaliri pipinya. Tanpa menggerakkan bahasa isyarat atau tulisan, pandangan mata Bunga menyampaikan rasa terima kasih yang teramat mendalam atas kesediaan Keanu mempercayai lukanya.

Bersambung...

1
Teh Yen
ternyata itu bukan tuan Alexander yg aslinyp kembarannya
Nar Sih
sdh mulai terlihat jls mslh disini ,gila harta dan tahta mebuat saudara jdi tega dan gila mecari pesugihan korban nya saudara sendiri
fatmawati (pipit)
ternyata papa alexander punya kembar identik yang sangat terobsesi pada ritual pada dewa darun untuk kekayaannya.
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
Mom Ilham
kejutan bgt thor👍/Casual/🤭
Nadja 🎀
Clarissa tobat bisa dpt jodoh lbh baik dr keanu semangat ya!!
vania larasati
lanjut kak
Arw
plot twist nya ini ternyata...benar2 saudara yg jahat padahal kembar indentik...
Muft Smoker
aduuuuh demi harta dn kekuasaan ,,
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,




🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waaaah apa ini ,, kejutan apa lgii ni kak eliiiii ,,
aq padamu pokokny😉😉😉
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
Muft Smoker
jgn2 ni bpa ny bunga ,, msh hidup tp di sekap😱
Muft Smoker
aduuuuh jd horror begini kak ,,
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
cerita kali ini menegang kan kak,ada drama romatis juga ada horor nya
Teh Yen
Clarisa d sekap oleh tuan Alexander lalu itu ketemu siapa yah ?
Teh Euis Tea
othorku, jujur aku takut baca cerita KK yg ini, ntah kenapa aku kurang suka baca cerita mafia atau cerita horor
tegang aku bacanya
Teh Euis Tea: di Usain ya kak🙏
total 2 replies
Oma Gavin
makin seru cerita nya
fatmawati (pipit)
cerita lebih horor dimana seorang papa yang tega menumbalkan anak kandung demi mendapatkan kekayaan yang berlimpah /Sob//Sob//Sob//Sob/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak
total 1 replies
fatmawati (pipit)
ayo keanu kamu pasti bisa mengungkap kebenaran ini, untuk clarissa apa bapak tua ini ayah kandung dari bunga 🤔🤔🤔🤔🤔
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander
fatmawati (pipit)
novel kk yg ini ada misteri dari sebuah perusahaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!