Indonesia
NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Rafa mengikuti Aluna keluar dari ruangan tempat pesta sedang berlangsung. Lelaki itu terus mengikuti langkah Aluna yang terlihat tidak bertenaga.

Ia lalu berhenti di belakang Aluna saat melihat gadis itu duduk di tengah anak tangga pintu darurat.

Dengan cepat Rafa berjalan ke hadapan Aluna yang tidak menyadari kehadirannya karena gadis itu tengah melamun.

"Nikah sama aku saja, Aluna."

Ucapan itu membuat lamunan Aluna buyar, berganti dengan perasaan terkejut karena kehadiran Rafa yang tiba-tiba dan ajakannya yang membingungkan.

"Ka-kamu bilang apa, Rafa?" Tanya Aluna, meragukan pendengarannya sendiri.

Rafa kemudian memajukan wajahnya tepat di depan wajah Aluna. Ia hanya menyisakan sedikit ruang di antara mereka yang membuat jarak keduanya begitu dekat. Bahkan, Aluna bisa merasakan hembusan napas hangat Rafa di wajahnya.

"Aku bilang, menikahlah denganku, Aluna." Kata Rafa setengah berbisik di hadapan wajah Aluna.

***

Aluna menggulung dirinya bersama selimut tebal di atas ranjang, menyembunyikan seluruh tubuhnya karena terus memikirkan kata-kata Rafa seminggu lalu di pesta.

"Aku bilang, menikahlah denganku, Aluna."

Ucapan Rafa tersebut terus terngiang di telinganya. Semakin dalam ia menyembunyikan dirinya di balik selimut, semakin nyaring pula suara itu menggema di dalam ingatannya.

Seminggu yang lalu, Aluna dan sahabat-sahabatnya membuat pesta penyambutan untuk kepulangan Rafa. Sudah lima tahun sejak Rafa pergi untuk berkuliah dan belajar bisnis di Singapura, tempat ayahnya tinggal. Selama itu pula, mereka tidak pernah bertemu.

Rafa dan Aluna adalah sahabat yang begitu dekat. Mereka tumbuh besar bersama, bahkan keduanya bersekolah di tempat yang sama sejak taman kanak-kanak hingga SMA.

Persahabatan mereka yang awalnya hanya terdiri dari mereka berdua semakin bertambah saat keduanya duduk di bangku SMA.

Saat notifikasi panggilan grup berbunyi di ponselnya, Aluna segera keluar dari balik selimut dan meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Dengan cepat ia bergabung dalam panggilan video tersebut setelah memastikan hanya sahabat perempuannya saja yang sudah bergabung.

"Al, ke mana aja sih? Dari kemarin kita kumpul, kok nggak ikutan?" Tanya seorang gadis yang sebaya dengan Aluna. Gadis itu bernama Lila.

"Tau nih, si Rafa juga jadi malas gabung karena nggak ada lo." Timpal gadis lainnya yang bernama Dinda.

Deg.

Saat nama Rafa disebut, jantung Aluna berdetak tidak karuan. Bukan karena perasaan tertentu, melainkan karena kata-kata Rafa di pesta waktu itu yang membuat posisinya terasa canggung.

"Hello, Alunaa. Kok ngelamun sih?" Suara lembut seorang gadis bernama Dea dari seberang sana menyadarkannya.

"Nggak apa-apa kok, guys. Lagi nggak enak badan aja." Kilah Aluna sekaligus menjawab pertanyaan mereka.

"Lo sakit? Kok nggak ngabarin sih, Al? Kan kita bisa jenguk lo." Protes Lila yang sejatinya memang paling dekat dengan Aluna.

"Kalian kan sibuk, gue nggak enak kalau ganggu kalian kerja." Jawabnya sembari tersenyum untuk meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.

"Ya ampun, Al. Seperti sama siapa aja sih." Cebik Lila yang masih merasa kesal karena dirinya tidak tahu sahabatnya itu sedang sakit.

Aluna menatap wajah ketiga sahabatnya di layar ponsel dengan perasaan bersalah karena telah membohongi mereka.

"Thanks, guys, udah khawatir sama gue." Ucap Aluna. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah berpura-pura sakit.

"Udah seharusnya dong, kita kan sahabat-sahabat lo, Aluna."

Gadis itu merasa terharu sekaligus bersyukur mendengar betapa tulusnya sahabat-sahabatnya.

***

Mereka berempat tertawa bersama di depan layar ponsel masing-masing, lalu kembali melanjutkan obrolan mereka dalam panggilan grup tersebut.

"Oh iya, nanti malam katanya Juna ngajak makan malam di restonya. Datang ya, Al." Kata Dea saat mengingat hanya Aluna saja yang belum ia beri tahu tentang rencana makan malam mereka malam ini.

Juna adalah salah satu sahabat mereka. Lucunya, Juna dan Dea belum lama ini menjalin hubungan yang awalnya berniat mereka sembunyikan. Namun, pada akhirnya hubungan itu ketahuan juga oleh sahabat-sahabat mereka.

"Rafa ikut?" Tanya Aluna refleks.

"Ikut dong, Gema juga. Juna nggak mau tahu, katanya harus lengkap malam ini." Jawab Dea menyampaikan pesan Juna kepada Aluna.

Lila yang paling peka di antara mereka dapat melihat ekspresi wajah Aluna ketika gadis itu menanyakan kehadiran salah satu sahabat mereka.

"Lo berantem ya sama Rafa, Al?" Tebak Lila yang langsung mengenai sasaran.

"Nggak kok." Aluna dibuat begitu panik karena Lila dapat menangkap gerak-geriknya.

"Terus waktu di pesta lo tiba-tiba pulang itu kenapa? Setahu gue, Rafa nyusul lo keluar. Terus nggak lama Rafa masuk sendirian dan lo udah nggak balik lagi. Sempat menghilang lagi seminggu ini." Tutur Lila, memberikan pertanyaan tentang menghilangnya Aluna sejak pesta penyambutan kepulangan Rafa ke negara mereka.

Aluna terdiam sejenak, memutar otaknya untuk mencari alasan.

"Nggak kok. Waktu itu Papa telepon soalnya baru pulang dari perjalanan bisnisnya, jadi gue pulang tanpa pamit sama kalian."

Lagi dan lagi, Aluna mengeluarkan kebohongan dari mulutnya.

Ia merutuki dirinya dalam hati karena setiap kali membuka mulut, hanya kebohongan yang keluar. Rasa bersalah pun terus bertumbuh karena kali ini ia terlalu banyak berbohong kepada sahabat-sahabatnya yang sebenarnya tengah mengkhawatirkannya.

"Oh, pantas aja. Ternyata Papanya princess kita pulang waktu itu." Ucap Dinda yang dari tadi hanya menyimak. Berkatnya, suasana pun kembali mencair.

"Apasih." Kesal Aluna yang selalu dipanggil princess oleh mereka.

Dea hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat Aluna yang masih merasa kesal dan salah tingkah setiap kali disebut princess oleh mereka.

"Ingat ya, nanti malam." Kata Dea mengingatkan lagi rencana mereka.

"Oke." Jawab ketiganya kompak.

Aluna memutuskan panggilan saat sahabat-sahabatnya berpamitan untuk kembali bekerja karena jam istirahat kantor mereka sudah selesai.

Ia satu-satunya yang tidak bekerja karena tidak diberi izin oleh kedua orang tuanya. Bukan tanpa alasan ia dijuluki princess di dalam circle-nya.

Aluna adalah anak perempuan satu-satunya. Ia memiliki dua kakak laki-laki.

Keluarga mereka adalah salah satu keluarga terkaya di negara ini. Berulang kali Aluna meminta izin untuk merasakan bagaimana rasanya bekerja, tetapi Papanya selalu melarang keras dirinya untuk bekerja. Kedua orang tua Aluna sangat memanjakannya. Kakak tertuanya pun begitu memperhatikannya.

Namun, bukan berarti di rumah itu semua orang menyukainya.

Berbeda dengan kakak tertuanya dan kedua orang tuanya, kakak keduanya justru sangat tidak menyukainya. Alasannya karena Aluna dianggap terlalu dimanjakan oleh keluarga mereka. Bahkan, kakek dan nenek mereka memberikan seluruh sahamnya kepada Aluna, membuat kakak keduanya semakin tidak menyukainya.

Berbeda dengan Aluna yang dimanjakan, kedua kakaknya justru dilatih dari bawah sebelum memegang jabatan penting di perusahaan keluarga mereka.

Kakak pertamanya menerima keputusan yang sudah ditetapkan oleh Papa mereka dan benar-benar belajar tentang bisnis hingga sekarang dipercaya memegang jabatan sebagai wakil direktur.

Berbeda dengan kakak keduanya yang selalu berontak, membuat Papanya masih mempertimbangkan untuk memberi jabatan lebih tinggi lagi kepada putranya itu.

Saat ini, kakak keduanya masih menduduki jabatan sebagai manajer di salah satu tim di perusahaan mereka.

***

Sore harinya, Aluna bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama para sahabatnya. Ia mengenakan mini dress yang simpel, tetapi tetap menunjukkan sisi elegannya sebagai tuan putri dari keluarga terpandang di negara mereka.

"Semoga saja Rafa nggak bisa ikut makan malam ini." Pintanya sambil berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar.

Saat menuruni anak tangga, pandangan beberapa orang yang berada di ruang tamu beralih ke arah tangga tempat Aluna turun dari kamarnya.

Deg.

Baru saja ia berdoa agar Rafa tidak bisa ikut makan malam mereka.

Kini, pria itu sudah ada di rumahnya.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!