Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 Ada Koko di Rumah
"Kemeja itu."
Keira menunjuk kemeja biru pucat yang tergantung di pintu lemari. Di sebelahnya sudah ada gaun berpotongan sederhana dengan warna serupa, lengkap dengan tas kecil dan sepatu hak rendah.
Nathan, yang baru keluar dari kamar mandi, mengikuti arah jarinya. "Baju pasangan?"
"Baju yang kebetulan senada."
"Kalau dipakai suami istri, namanya baju pasangan."
Keira menutup kotak perhiasan dan memasang cincin ular di jari manisnya. "Kalau kamu masih berdebat, aku ganti gaun."
Nathan segera mengambil kemeja itu. "Aku sangat setuju dengan definisi kebetulan."
Di ruang tengah, tiga kotak seserahan yang sudah dipilih Vivian menunggu di dekat pintu. Nathan sempat ingin membawa lebih banyak, tetapi Keira menahan jumlahnya. Pertemuan hari ini bukan upacara resmi. Hanya makan siang dua keluarga yang tertunda, lalu kunjungan singkat ke rumah keluarga Halim besok.
Setidaknya, itulah versi sederhana yang terus ia ulang sejak bangun.
Ketika mobil berbelok memasuki jalan rindang di Menteng, jari Keira tetap berada di atas punggung tangan Nathan. Sentuhan itu ringan, tetapi tidak dilepas.
"Gugup?" tanya Nathan.
"Sedikit."
"Karena Mama?"
"Karena semua orang akan berada dalam satu rumah."
Nathan memahami bagian yang tidak ia ucapkan. Mariana, Herman, dan Fabian. Keluarga yang selama dua belas tahun terasa utuh, sekaligus penuh sesuatu yang tak pernah diberi nama.
Ia membalik telapak tangannya dan menggenggam Keira. "Kalau tidak nyaman, kita pulang."
"Hari ini bukan tentang lari."
"Baik. Kalau begitu, aku duduk di sebelahmu."
"Itu memang tempatmu."
Jawaban itu membuat sudut bibir Nathan terangkat sepanjang sisa perjalanan.
Pintu utama rumah Sutanto sudah terbuka ketika mereka tiba. Herman berdiri paling depan dengan kemeja batik cokelat, tampak seperti sudah menunggu cukup lama. Begitu melihat Keira, wajahnya langsung cerah.
"Kei, akhirnya pulang."
Keira memeluknya. "Papa sehat?"
"Sehat. Masuk, masuk. Mama dari tadi periksa meja makan tiga kali."
Herman lalu menatap Nathan. Mereka pernah bertukar salam singkat melalui panggilan video, tetapi ini pertama kalinya keduanya berdiri berhadapan sebagai mertua dan menantu.
Nathan menundukkan kepala sedikit. "Selamat pagi, Papa. Maaf baru bisa datang dengan benar."
Herman berkedip. Ada rasa canggung singkat di matanya, lalu ia menepuk bahu Nathan dengan telapak yang hangat.
"Tidak apa-apa. Sekarang ada Koko di rumah. Kei tidak sendirian lagi."
Nathan menahan senyum. Keira justru menoleh tajam kepada ayahnya.
"Papa, dia lebih muda dariku."
"Bukan umur maksud Papa." Herman mengambil salah satu kotak dari tangan sopir. "Suami itu harus jadi teman, pelindung, juga keluarga. Koko bukan selalu soal umur."
Nathan mengangguk khidmat. "Saya akan mengingatnya."
"Jangan senang dulu," gumam Keira.
Mariana menyambut mereka di ruang tamu. Matanya lebih dulu memeriksa pakaian senada itu, kemudian cincin di tangan Keira, baru berpindah ke tiga kotak seserahan.
"Kalian tidak perlu membawa sebanyak ini."
"Mama saya yang memilih," kata Nathan. "Kalau saya kurangi, beliau akan mengirim sisanya sendiri."
"Vivian memang begitu. Duduklah. Fabian masih menerima telepon di atas."
Nama itu menurunkan suhu di balik kulit Nathan. Namun tangannya tetap tenang ketika menuang teh untuk Keira.
Fabian turun beberapa menit kemudian. Kemeja putihnya rapi, senyumnya pun tidak memiliki retak sedikit pun.
"Kei."
Ia berhenti satu langkah dari sofa, memandang warna pakaian pasangan itu, lalu mengalihkan perhatian kepada Nathan.
"Selamat datang di rumah kami."
"Terima kasih, Ko Fabian."
Panggilan itu terdengar sopan. Jarak di antara keduanya tidak.
Makan siang berlangsung di bawah pengawasan Mariana. Ia menanyakan hari libur Keira, jadwal kerja Nathan, lalu tanggal dan lokasi resepsi. Keira menjawab satu per satu sambil sesekali memeriksa Nathan, memastikan ia tidak tiba-tiba mengumumkan rencana menyewa seluruh pulau.
"Tanggal enam belas November," kata Keira. "Pemberkatan dan resepsi keluarga di Halimun Resort."
"Terlalu dekat," ujar Fabian.
"Undangan dan vendor utama sudah disiapkan keluarga Halim," balas Keira. "Aku juga tidak mau menunggu terlalu lama."
Fabian merapatkan jari pada sendoknya.
Dua belas tahun lalu, gadis enam belas tahun yang baru masuk rumah ini duduk di tempat yang hampir sama. Rambutnya masih sebahu, tubuhnya kurus karena berbulan-bulan membantu Herman di warung, dan ia menolak mengambil udang terakhir sebelum Mariana menyuruh dua kali.
Fabian yang berusia dua puluh saat itu hanya berniat menjadi anak baik bagi ibunya. Ia menunjukkan kamar, mengajari Keira memakai mesin kopi, dan mengantar gadis itu ke sekolah baru.
Lalu kebiasaan kecil berubah menjadi kebutuhan.
Ia ingin menjadi orang pertama yang dicari Keira saat takut, orang terakhir yang diingat sebelum tidur, satu-satunya laki-laki yang dianggap aman. Ketika perasaan itu akhirnya diberi nama, ia sudah terlambat untuk mundur.
"Ko Fabian?"
Suara Keira mengembalikannya ke meja makan.
Fabian tersenyum. "Aku hanya berpikir acaranya akan sangat sibuk."
Setelah hidangan utama, ia masuk ke dapur dan kembali membawa dua mangkuk mi kuah. Aroma kaldu ayam, bawang goreng, dan seledri segera memenuhi meja.
"Aku ingat kamu selalu makan ini kalau sedang tegang," katanya sambil meletakkan satu mangkuk di depan Keira.
Keira menatapnya sebentar. "Aku sudah kenyang."
"Coba sedikit saja. Aku membuat kuahnya seperti dulu."
Nathan menarik mangkuk itu ke hadapannya. "Kalau begitu, aku coba."
Ia mengambil sumpit sebelum siapa pun sempat mencegah. Satu suapan masuk, lalu satu sendok kuah. Rasanya cukup enak, meski garamnya terlalu banyak.
"Bagaimana?" tanya Herman, berusaha menetralkan udara.
"Enak. Terima kasih, Ko Fabian."
Fabian menatap sumpit yang berada di tangan Nathan. "Itu untuk Kei."
"Suami istri berbagi makanan," jawab Nathan ringan. "Keira juga tidak suka dipaksa makan saat kenyang."
Keira menyentuh pergelangan tangannya di bawah meja. Bukan untuk menghentikan, melainkan mengingatkan bahwa ia ada di sana.
Nathan membalik telapak dan menggenggam ujung jarinya.
Menjelang sore, Mariana membawa Keira ke ruang kerja untuk melihat beberapa dokumen. Herman ikut masuk setelah meminta staf menyiapkan teh. Nathan seharusnya menunggu di ruang tamu bersama Fabian, tetapi ia tiba-tiba menekan pelipis.
"Pusing?" Keira menoleh.
"Sedikit. Mungkin anggurnya."
Fabian melihat gelas anggur makan siang Nathan yang nyaris tak tersentuh. "Kamar tamu ada di atas."
"Pakai kamar lamamu saja," kata Mariana kepada Keira. "Lebih dekat."
Keira mengantar Nathan sampai pintu kamar yang pernah menjadi miliknya. Begitu tertutup dari pandangan orang lain, Nathan langsung berdiri tegak.
"Kamu tidak mabuk."
"Aku mencium gelasnya dua kali."
"Jadi?"
"Aku ingin melihat kamar masa kecil istriku."
Keira menyipitkan mata. "Lima menit. Jangan buka laci."
"Sepuluh."
"Lima."
"Baik, Ci."
Setelah Keira pergi ke ruang kerja, Nathan memandangi ruangan yang sudah lama tidak dihuni. Rak buku masih menyimpan novel sekolah dan buku gambar. Di meja terdapat kotak pensil kusam, sebuah piala lomba seni, dan foto keluarga bertahun-tahun lalu.
Ia tidak menyentuh laci. Ia hanya membuka satu buku bersampul kulit yang terselip di antara dua album foto pada rak terbuka.
Tulisan tangan di halaman pertama bukan milik Keira.
Tanggal-tanggal tercatat rapi. Di bawahnya ada kalimat tentang makanan yang disukai Keira, teman laki-laki yang berbicara dengannya, waktu kepulangan, serta pakaian yang ia kenakan.
Nathan membalik dua halaman lagi. Rahangnya mengeras.
"Orang normal mana yang menulis diary seperti ini?"
Daun pintu bergerak.
Fabian masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.
"Aku mau bicara."
Nathan menutup buku itu perlahan.
"Bicara saja."