Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antar berkas ke kantor lain

Pagi itu, Raka memanggil Laras langsung ke ruang kerjanya lewat telepon internal, sesuatu yang jarang terjadi mengingat biasanya ia hanya berkomunikasi lewat sekretaris atau memo tertulis.

"Larasati, ke ruangan saya sekarang," katanya singkat lewat telepon, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Laras bergegas naik ke lantai dua puluh tiga dengan jantung berdebar, tidak tahu kesalahan apa lagi yang mungkin ia buat kali ini. Begitu masuk ke ruangan, ia mendapati Raka sedang menyiapkan sebuah map tebal berisi dokumen-dokumen penting.

"Ini dokumen kerja sama dengan PT Andalan Sejahtera," kata Raka, menyerahkan map itu tanpa basa-basi. "Harus diantar langsung hari ini juga, ditandatangani direktur mereka."

"Baik, Pak. Saya kirim lewat kurir sekarang."

"Nggak," potong Raka cepat. "Kamu antar sendiri. Langsung ke kantornya di Bekasi."

Laras mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan instruksi itu. "Bekasi, Pak? Itu kan jauh, dan biasanya dokumen sepenting ini dikirim lewat kurir khusus perusahaan."

"Ada masalah?" Raka menatapnya tajam, seolah menantang Laras untuk membantah.

"Nggak ada masalah, Pak. Cuma... ini di luar jam kerja normal, dan saya belum familiar sama rute ke sana."

"Pakai aplikasi peta, seharusnya nggak susah," jawab Raka dingin. "Ini penting, dan saya percayakan langsung ke kamu. Jangan sampai terlambat, deadline penandatanganan jam empat sore."

Laras menatap jam dinding—sudah menunjukkan pukul satu siang, sementara perjalanan ke Bekasi dari kantor bisa memakan waktu dua jam lebih dengan kemacetan Jakarta yang terkenal parah.

"Baik, Pak. Saya berangkat sekarang."

Ia keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk, kembali merasakan kejanggalan dalam instruksi yang diberikan Raka. Biasanya, dokumen sepenting ini selalu ditangani oleh kurir khusus atau setidaknya staf senior yang sudah berpengalaman, bukan staf baru seperti dirinya yang bahkan belum genap sebulan bekerja.

Perjalanan menuju Bekasi ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan Laras. Kemacetan parah membuat waktu tempuh molor hingga tiga jam, ditambah lagi ia harus berganti moda transportasi beberapa kali karena tidak familiar dengan rute tersebut. Ketika akhirnya sampai di kantor PT Andalan Sejahtera, jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, tersisa waktu tiga puluh menit sebelum deadline yang ditentukan.

"Maaf, saya dari PT Wibisono Group, mau mengantarkan dokumen kerja sama untuk ditandatangani," katanya kepada resepsionis, napasnya masih terengah-engah karena berlari dari halte terakhir.

"Mohon tunggu sebentar, saya panggilkan sekretaris Direktur."

Beberapa menit kemudian, seorang sekretaris menghampirinya dengan wajah yang tampak sedikit terburu-buru. "Anda dari Wibisono Group? Kami sudah menunggu dari tadi. Direktur kami ada rapat penting jam empat, jadi harus segera ditandatangani sekarang."

Laras menyerahkan map itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena kelelahan, bersyukur dalam hati karena berhasil tiba tepat pada waktunya meski dengan perjuangan yang luar biasa melelahkan.

Setelah proses penandatanganan selesai, Laras kembali ke Jakarta dengan perasaan lega bercampur lelah yang teramat sangat. Namun begitu sampai kembali di kantor, ponselnya berdering—nomor kantor, ternyata dari sekretaris Raka.

"Laras, Pak Raka nanya kenapa laporan konfirmasi penandatanganan belum masuk," kata suara di seberang telepon.

"Saya baru aja sampai kantor lagi, Mbak. Saya langsung buat laporannya sekarang."

Ia bergegas menuju mejanya, menyusun laporan singkat mengenai proses penandatanganan yang baru saja selesai, kemudian mengirimkannya ke email Raka. Namun tidak lama kemudian, panggilan telepon internal kembali berbunyi.

"Ke ruangan saya sekarang," suara Raka terdengar dingin seperti biasa.

Laras menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan energi yang tersisa untuk kembali naik ke lantai dua puluh tiga. Sesampainya di sana, ia mendapati Raka duduk di belakang mejanya, menatap layar laptop dengan ekspresi serius.

"Kenapa laporannya baru masuk sekarang? Ini udah jam lima lebih," tanya Raka tanpa basa-basi.

"Maaf, Pak. Perjalanan ke Bekasi tadi macet parah, jadi saya baru bisa kembali ke kantor untuk buat laporan."

"Seharusnya kamu bisa kirim laporan singkat lewat telepon begitu dokumen ditandatangani, nggak perlu nunggu sampai kembali ke kantor."

Laras menahan diri untuk tidak membantah, meski dalam hatinya ia merasa instruksi itu tidak pernah disampaikan sebelumnya. "Baik, Pak. Lain kali saya akan langsung laporan lewat telepon."

Raka menatapnya lama, matanya menyapu wajah Laras yang tampak lelah, keringat masih membasahi dahinya, rambutnya sedikit berantakan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya melihat kondisi itu—perasaan bersalah yang mulai sulit ia tepis.

"Kamu udah makan siang?" tanyanya tiba-tiba, nadanya sedikit melunak.

Pertanyaan itu mengejutkan Laras. "Belum sempat, Pak. Langsung berangkat abis terima dokumen tadi."

Raka terdiam sejenak, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu. "Ya udah, kamu boleh pulang. Besok pastikan lebih efisien kalau ada tugas serupa."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Laras keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk, kelelahan fisik yang luar biasa bercampur dengan kebingungan menghadapi sikap Raka yang terus berubah-ubah antara kekejaman dan kepedulian yang samar-samar muncul di saat-saat tertentu.

Di dalam ruangannya, Raka menatap pintu yang baru saja tertutup dengan perasaan bersalah yang semakin membesar. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pemesanan makanan, memesan beberapa menu makanan sehat untuk dikirim ke alamat kos yang sempat ia lihat dari data kepegawaian Laras—sesuatu yang jelas melanggar batas profesionalisme yang seharusnya ia jaga, namun dorongan untuk memastikan Laras baik-baik saja terlalu kuat untuk ia abaikan.

Namun begitu pesanan itu hampir selesai diproses, ia membatalkannya dengan gerakan cepat, seolah tersadar dari sesuatu yang hampir membuatnya kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

Apa yang aku lakuin? batinnya frustrasi, menatap layar ponsel yang kini kembali kosong. Aku nyiksa dia seharian, terus sekarang mau perhatian kayak gini? Nggak masuk akal.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang kalut. Setiap hari, pola yang sama terus berulang—ia memberikan tugas-tugas berat kepada Laras, seolah ingin membuatnya menderita sebagai bentuk balasan atas kepergiannya lima tahun lalu, namun di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang justru semakin khawatir, semakin peduli, semakin ingin memastikan bahwa Laras baik-baik saja di tengah semua tekanan yang ia berikan.

Ini nggak sehat, pikirnya, menyadari kontradiksi dalam dirinya sendiri yang semakin sulit ia pahami. Aku harus mutusin, mau benci dia beneran, atau berhenti nyiksa diri sendiri dengan pura-pura benci.

Namun keputusan itu tidak semudah yang ia pikirkan. Luka lima tahun yang lalu masih terlalu dalam, kemarahan yang telah menjadi bagian dari identitasnya terlalu sulit untuk dilepaskan begitu saja, meski jauh di dalam hatinya, benih-benih pertanyaan mulai tumbuh—pertanyaan tentang kebenaran di balik kepergian Laras yang selama ini ia yakini sebagai pengkhianatan tanpa alasan, namun mungkin, hanya mungkin, menyimpan cerita yang jauh berbeda dari yang selama ini ia percayai.

Malam itu, Raka pulang ke rumah dengan pikiran yang jauh lebih berat dari biasanya, meninggalkan kantor yang sunyi dengan satu pertanyaan yang terus menghantuinya sepanjang perjalanan pulang—pertanyaan yang, cepat atau lambat, akan memaksa dirinya menghadapi kebenaran yang selama ini ia hindari dengan sekuat tenaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!