Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Brummm.
Dua hari berlalu dengan sangat cepat dan malam yang paling ditunggu-tunggu oleh para konglomerat ibu kota akhirnya tiba.
Mobil Range Rover putih milik Raka melaju pelan memasuki area parkir bawah tanah sebuah hotel super mewah di pusat Jakarta.
Kali ini Raka yang menyetir sendiri mobilnya dengan Sasa duduk di kursi penumpang sebelahnya.
Cittt.
Raka memarkirkan mobilnya dengan rapi di celah sempit antara dua mobil sport keluaran Eropa yang harganya selangit.
Ia mematikan mesin lalu menoleh ke arah Sasa yang malam ini tampil luar biasa anggun dengan gaun sutra berwarna biru malam.
"Sudah siap menguras dompet anak manja itu malam ini bos cantik?" tanya Raka memutar kunci mobil di jarinya.
Sasa merapikan riasan wajahnya sedikit di kaca spion dalam mobil lalu membalas senyuman Raka dengan tatapan tajam.
"Tentu saja aku siap Raka, aku sudah menyusun rencana ini bersamamu sejak kemarin malam."
"Bagus, ingat tugas Anda cuma mengangkat papan harga setinggi mungkin dengan wajah paling panik yang bisa Anda buat," pesan Raka santai.
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju lift khusus VIP yang dijaga oleh beberapa pria berjas hitam.
Raka malam ini kembali memakai setelan jas biru navy mahalnya yang membuat penampilannya benar-benar menyatu dengan para konglomerat di sana.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas hotel tersebut yang seluruh ruangannya telah disewa khusus untuk acara pelelangan rahasia ini.
Penjagaan di lantai ini sangat ketat, bahkan setiap tamu harus melewati alat pemindai logam dan menyerahkan ponsel mereka pada panitia.
"Maaf Tuan dan Nona, demi menjaga privasi pemenang lelang, tidak boleh ada alat perekam di dalam aula," ucap petugas keamanan yang berjaga.
Raka dan Sasa menyerahkan ponsel mereka tanpa banyak protes lalu melangkah masuk ke dalam aula pelelangan yang megah.
Ruangan itu didesain menyerupai teater kuno dengan deretan kursi beludru merah yang menghadap ke sebuah panggung terang di depan.
Puluhan konglomerat dari berbagai macam industri sudah duduk di kursi mereka masing-masing sambil berbincang pelan.
"Kita duduk di barisan tengah saja Raka, biar Kevin bisa melihat wajah kita dengan sangat jelas dari kursi depannya," bisik Sasa mengarahkan jalan.
Raka mengangguk setuju lalu mengikuti Sasa duduk di kursi deretan kelima dari panggung utama.
Benar saja tebakan Sasa, Kevin sudah duduk pongah di barisan paling depan dengan setelan jas putih mencolok andalannya.
Merasakan kehadiran Raka dan Sasa, Kevin memutar kepalanya ke belakang lalu memberikan senyuman meremehkan yang sangat lebar.
Kevin bahkan sengaja mengangkat sebuah papan lelang bernomor 07 miliknya ke udara seolah menantang mereka berdua.
"Lihat gaya tengilnya itu, rasanya tanganku gatal mau melempar sepatu ke wajahnya," gumam Raka melipat kedua tangan di dada.
"Biarkan saja dia sombong sekarang Raka, sebentar lagi dia akan menangis darah menyadari kebodohannya sendiri," balas Sasa tertawa pelan.
Teng teng teng.
Suara bel perunggu dipukul tiga kali menandakan bahwa acara pelelangan elit malam ini akan segera dimulai.
Seorang pria paruh baya memakai jas berekor naik ke atas panggung dengan langkah tegap dan senyum profesional.
Ia adalah juru lelang terbaik di kota ini yang terkenal bisa memanipulasi emosi para pembeli untuk menaikkan harga setinggi mungkin.
"Selamat malam para hadirin yang terhormat, selamat datang di acara lelang rahasia malam musim panas ini," sapa juru lelang itu menggunakan mikrofon.
"Malam ini kita punya sepuluh barang pusaka dan benda seni langka yang siap berpindah tangan ke brankas Anda sekalian."
Acara dimulai dengan pelelangan beberapa barang antik seperti lukisan kuno dan vas keramik peninggalan dinasti masa lalu.
Raka hanya menguap bosan melihat orang-orang kaya itu berebut vas bunga rongsokan dengan harga belasan miliar rupiah.
"Gila juga ya orang-orang ini, vas jelek begitu dibeli lima belas miliar cuma buat pajangan di ruang tamu," bisik Raka menggelengkan kepalanya.
"Bagi mereka itu bukan sekadar vas Raka, tapi simbol status sosial untuk dipamerkan pada saingan bisnis mereka," jelas Sasa dengan sabar.
Satu jam berlalu dengan sangat membosankan bagi Raka sampai akhirnya juru lelang itu mengubah nada suaranya menjadi lebih misterius.
"Hadirin sekalian, sekarang kita masuk ke acara puncak malam ini."
Dua orang wanita cantik membawa sebuah kotak kaca pelindung berukuran sedang dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja panggung.
Di dalam kotak kaca itu, terbaring sebuah akar keriput yang bentuknya menyerupai manusia kecil berwarna cokelat tanah.
Lampu sorot panggung langsung diarahkan tepat ke kotak kaca tersebut membuat cincin urat pada akar itu terlihat sangat jelas.
Suara gumaman kagum langsung terdengar dari seluruh penjuru aula melihat barang yang sangat legendaris di dunia medis tersebut.
"Ini adalah Ginseng Liar Berdarah Murni yang usianya dipastikan lebih dari seribu tahun!" seru juru lelang itu dengan suara menggelegar.
"Barang ini didapatkan dari sumber yang sangat rahasia dan kualitasnya benar-benar sempurna tanpa cacat sehelai rambut pun."
Kevin yang duduk di barisan depan langsung menegakkan punggungnya dan menatap ginseng itu dengan pandangan penuh ambisi.
"Ginseng ini bukan cuma mitos, benda ini bisa menyelamatkan nyawa orang yang sedang sekarat dan memperpanjang umur," tambah juru lelang memanas-manasi suasana.
"Harga pembukaan untuk pusaka alam ini dimulai dari angka satu miliar rupiah!"
Tok!
Palu kayu diketuk keras ke meja menandakan sesi tawar-menawar yang mematikan akhirnya resmi dibuka.
Sasa langsung mengangkat papan nomor 15 miliknya tinggi-tinggi ke udara.
"Lima miliar rupiah," ucap Sasa dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh ruangan.
Para tamu lain langsung menelan ludah mendengar lompatan harga yang sangat gila dari Sasa di awal tawar-menawar.
Tapi Kevin tidak mau kalah, ia langsung mengangkat papannya dengan senyum mengejek ke arah belakang.
"Sepuluh miliar rupiah untuk ginseng itu," tawar Kevin menaikkan harga dua kali lipat dengan sangat santai.
Ruangan aula langsung riuh oleh suara bisik-bisik para tamu yang menyadari ada perang harga antara dua naga bisnis besar malam ini.
Banyak konglomerat lain yang awalnya berniat ikut menawar langsung mengurungkan niat mereka dan memilih jadi penonton saja.
Sasa melirik Raka sejenak meminta persetujuan untuk melanjutkan rencana gila mereka berdua.
Raka mengangguk pelan memberikan isyarat agar Sasa terus memancing ego pemuda berjas putih di depan sana.
"Lima belas miliar," sahut Sasa kembali mengangkat papannya dengan raut wajah yang sengaja dibuat sedikit tegang.
"Dua puluh miliar," potong Kevin bahkan sebelum juru lelang sempat mengulang angka dari Sasa.
Juru lelang di atas panggung tersenyum sangat lebar hingga giginya terlihat semua melihat komisi lelangnya akan melonjak tajam malam ini.
"Tuan Kevin dari Grup Naga Mas menawar dua puluh miliar! Apakah ada yang berani memberikan harga lebih tinggi untuk pusaka ini?" teriak sang juru lelang.
Sasa meremas ujung gaunnya pura-pura terlihat sangat panik dan putus asa.
"Dua puluh lima miliar!" teriak Sasa dengan nada suara yang sedikit bergetar seolah itu adalah sisa uang terakhir di perusahaannya.
Mendengar suara panik Sasa, Kevin tertawa terbahak-bahak tanpa mempedulikan sopan santun di aula elit tersebut.
"Kasihan sekali kau Clarissa, apa kas perusahaan farmasimu sudah mulai mengering sekarang?" ejek Kevin dengan suara keras.
Kevin berdiri dari kursinya lalu mengangkat papannya tinggi-tinggi ke arah panggung.
"Tiga puluh lima miliar rupiah! Biar aku selesaikan penderitaan Nona Clarissa malam ini juga!" seru Kevin dengan sombongnya.
Angka tiga puluh lima miliar untuk sebuah akar tanaman benar-benar memecahkan rekor pelelangan di hotel tersebut selama sepuluh tahun terakhir.
Orang-orang bertepuk tangan kagum melihat betapa dalam dan tebalnya kantong kekayaan milik Grup Naga Mas.