Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam Enam Empat Puluh Lima

Minggu kedua kuliah, aku sadar sesuatu yang agak memalukan untuk diakui: aku hafal jadwal Cahaya lebih baik daripada jadwalku sendiri.

Bukan karena aku sengaja menghafalnya. Lebih karena jadwalnya jadi semacam kerangka yang menentukan kapan aku harus berangkat, kapan aku bisa istirahat, kapan aku boleh menunda mengerjakan tugas sampai malam. Senin dan Rabu dia ada kelas jam tujuh pagi, jadi aku harus bangun lebih awal dari biasanya kalau mau berangkat bareng. Selasa dan Kamis kelasnya baru mulai jam sembilan, jadi ada waktu lebih santai buat sarapan. Jumat kosong sampai siang, satu-satunya hari di mana aku bisa tidur sampai jam yang manusiawi.

Jadwalku sendiri? Aku harus buka aplikasi kalender dulu buat mastiin, dan bahkan setelah itu aku masih suka salah hari, seperti minggu lalu waktu aku datang ke kelas Struktur Data yang ternyata sudah dipindah ke hari Kamis sejak dua minggu sebelumnya, dan aku baru tahu setelah berdiri sepuluh menit di depan ruangan kosong sambil bertanya-tanya kenapa tidak ada satu pun mahasiswa lain yang datang.

Ini bukan hal baru, sebenarnya. Kalau dipikir-pikir, pola ini sudah ada sejak SD, ketika aku menghafal jam les piano Cahaya supaya tahu kapan dia bisa main dan kapan tidak, atau ketika SMP aku hafal jadwal ekskul basketnya biar bisa nunggu di gerbang tanpa harus nanya dulu. Cuma sekarang bentuknya beda. Sekarang bentuknya jadwal kuliah, konteksnya kampus, tapi mekanismenya sama persis, seakan-akan otakku sudah punya semacam folder khusus untuk urusan jadwal Cahaya yang otomatis update tanpa perlu aku input manual.

Aku cuma baru sadar itu sekarang, di minggu kedua, sambil menunggu di persimpangan gang jam enam empat puluh lima seperti biasa.

Persimpangan itu sudah jadi titik temu resmi kami, meski tidak ada yang pernah secara eksplisit menetapkannya sebagai "titik temu resmi". Itu cuma terjadi begitu saja, sejak hari pertama PKKMB, dan sekarang, tiga minggu kemudian, sudah jadi bagian dari rutinitas yang kalau dilanggar bakal terasa aneh, semacam melewatkan sarapan atau lupa memakai jam tangan, sesuatu yang kecil tapi bikin seluruh harinya terasa tidak pada tempatnya.

Pagi itu aku sampai jam enam empat puluh dua, lebih awal lima menit dari biasanya karena tidurku kepagian semalam, bukan cepat tidur, cuma kelelahan lebih awal dari biasa setelah begadang dua malam berturut-turut buat tugas struktur data yang, ironisnya, sekarang aku sadar kelasnya sudah pindah hari jadi tugas itu sebenarnya belum perlu dikumpul secepat itu. Aku berdiri di bawah pohon mangga kecil di sudut persimpangan, satu-satunya pohon yang cukup rindang buat naungan pagi, sambil mengecek ponsel dan menghitung berapa banyak notifikasi grup PKKMB yang belum kubaca. Delapan belas.

Cahaya muncul jam enam empat puluh lima tepat, seperti jadwal kereta yang tidak pernah terlambat. Rambutnya masih agak basah di bagian ujung, tanda dia baru selesai mandi tidak lama sebelum keluar rumah, dan dia menenteng roti bakar setengah dimakan di tangan kiri, tas ransel warna krem di punggung yang sudah mulai terlihat agak kotor di bagian bawah karena sering diletakkan sembarangan di lantai kelas.

"Pagi," katanya, mulut masih penuh roti.

"Kamu telat mandi lagi?"

"Enggak telat. Cuma mepet." Dia menggigit roti lagi, jalan mulai bergerak ke arah kampus, dan aku menyesuaikan langkah seperti biasa, dua langkah di belakangnya sebelum akhirnya sejajar setelah beberapa meter. "Semalem aku begadang nonton drama."

"Drama apa?"

"Yang aku ceritain minggu lalu. Yang settingnya rumah sakit."

Aku mencoba mengingat, gagal total, karena jujur aku memang tidak terlalu memperhatikan waktu dia cerita soal drama Korea yang dia tonton, sama seperti dia juga sering tidak terlalu memperhatikan waktu aku cerita detail lore anime sampai lima menit lebih dari yang dia minta. Ini semacam kesepakatan tidak tertulis di antara kami: kami tetap dengerin cerita satu sama lain, meski tidak selalu benar-benar menyerap detailnya, dan itu tidak pernah jadi masalah karena yang penting bukan detailnya, tapi bahwa ada yang mau dengerin.

"Yang dokternya ganteng itu?" tebakku, asal, karena setahuku semua drama yang pernah dia ceritakan selalu ada elemen dokter ganteng di dalamnya.

"Semua drama Korea dokternya ganteng, Ren. Itu bukan ciri khas yang bisa dipake buat nebak drama mana yang aku maksud."

"Kalau gitu aku enggak bisa nebak."

"Ya udah, enggak usah nebak." Dia menghabiskan sisa roti bakarnya, menjilat ujung jarinya sedikit, gestur yang sudah sangat familiar buatku sampai aku bahkan tidak lagi memperhatikannya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan, seperti cara aku tidak lagi memperhatikan suara motor lewat atau kokok ayam tetangga di pagi hari. "Kamu kelas jam berapa hari ini?"

"Jam delapan. Algoritma."

"Aku jam sembilan. Psikologi Umum, tapi bukan jurusanku, mata kuliah pilihan."

"Kenapa ambil itu?"

"Karena aku pikir bakal berguna buat baca orang." Dia melirikku, sedikit menyeringai, ekspresi yang sudah kukenal sebagai tanda dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar jawaban biasa. "Terutama buat baca orang tertentu yang susah banget dibaca."

Aku tahu siapa yang dia maksud tanpa perlu ditanya lebih lanjut, dan aku memutuskan untuk tidak menanggapi itu secara langsung, karena kalau aku tanggapi, percakapan ini bisa berlanjut ke arah yang aku tidak siap navigasikan jam segini pagi, dengan otak yang baru dua puluh persen aktif karena belum sempat sarapan apa pun selain segelas air putih.

Rute jalan kami ke kampus sudah punya pola tetap yang, kalau dipetakan, kemungkinan besar sama persis setiap hari: keluar gang, belok kiri di warung Bu Marni yang selalu ramai jam segini karena orang-orang beli sarapan sebelum kerja, lewat jembatan kecil di atas selokan yang selalu bau agak tidak enak kalau musim kemarau, masuk ke jalan utama yang lebih ramai dengan motor dan angkot yang saling salip, lalu belok kanan ke gerbang kampus yang gerbangnya besar dan selalu dijaga dua satpam yang sepertinya menghafal wajah kami karena tidak pernah lagi menanyakan kartu identitas.

Total sekitar dua puluh menit jalan kaki, dan sepanjang itu, percakapan kami biasanya mengalir tanpa arah tertentu, dari topik satu ke topik lain tanpa transisi yang jelas, seperti percakapan dua orang yang sudah tidak perlu basa-basi untuk membuka obrolan baru.

Hari itu, misalnya, kami mulai dari drama Korea, pindah ke keluhan Cahaya soal salah satu dosen yang katanya galak banget kalau ada yang telat lebih dari lima menit, pindah lagi ke pembahasan kenapa harga nasi uduk di kantin naik seribu rupiah minggu ini, dan berakhir di diskusi cukup panjang soal apakah nasi uduk lebih enak dimakan pagi atau malam.

"Pagi jelas lebih enak," kata Cahaya, dengan nada yang seolah ini adalah fakta ilmiah yang tidak perlu dibantah. "Karena nasi uduknya masih anget, sambelnya masih fresh."

"Malam juga bisa anget kalau baru dimasak."

"Tapi biasanya malem itu sisa siang, Ren. Kamu enggak sadar itu?"

"Aku enggak pernah mikirin asal-usul nasi uduk sedetail itu."

"Makanya kamu enggak punya preferensi soal apa pun."

Aku berpikir sebentar, mencoba membela diri. "Aku punya preferensi. Cuma enggak sekuat kamu."

"Contoh preferensimu apa?"

"Aku suka manga fisik dibanding baca digital."

"Itu doang?"

"Itu cukup kuat kok. Aku pernah jalan ke tiga toko buku beda cuma buat cari satu volume yang stoknya abis di toko pertama, terus abis juga di toko kedua, dan akhirnya nemu di toko ketiga yang lokasinya jauh banget dari rumah."

Cahaya menatapku dengan ekspresi yang susah kubaca, campuran antara geli dan sesuatu yang lain yang aku tidak punya kata tepat untuk mendeskripsikannya. "Itu bukan preferensi biasa, Ren. Itu obsesi level tinggi."

"Aku lebih suka menyebutnya dedikasi."

"Terserah kamu mau nyebut apa." Dia tertawa kecil, dan kami sampai di gerbang kampus tepat waktu, seperti biasa, dengan jam menunjukkan tujuh lewat sepuluh menit, cukup untuk aku jalan santai ke gedung Fakultas Teknik sementara dia harus buru-buru ke gedung sebelah yang jaraknya lebih jauh, sekitar lima menit jalan kaki cepat.

"Ketemu jam makan siang," katanya, sudah setengah berlari ke arah gedungnya, tas ransel krem itu bergoyang-goyang di punggungnya.

"Meja pojok?"

"Meja pojok!" teriaknya dari kejauhan, tanpa menoleh lagi.

Dia tidak perlu bilang jam berapa atau di mana persisnya, karena "meja pojok" sudah jadi kode yang cukup untuk kami berdua, kode yang kalau didengar orang lain mungkin terdengar seperti dua orang yang punya rahasia besar, padahal cuma soal meja di kantin sayap kanan yang kebetulan jadi favorit kami sejak minggu pertama karena posisinya paling jauh dari keramaian utama dan paling dekat dengan kipas angin yang masih berfungsi.

Kelas Algoritma pagi itu diisi oleh dosen bernama Pak Hartono, yang caranya mengajar cukup baik meski agak monoton, dengan kebiasaan mengulangi kata "nah" di awal hampir setiap kalimat sampai aku diam-diam menghitungnya di catatan pinggir, dan angkanya sudah mencapai dua puluh tiga sebelum jam menunjukkan pukul setengah sembilan.

Bimo duduk di sebelahku seperti biasa, mencatat dengan gaya yang jauh lebih rapi dari punyaku, semua poin penting digarisbawahi dengan spidol warna berbeda sesuai kategori, dan di sela dosen menjelaskan kompleksitas algoritma sorting, dia berbisik.

"Kamu tau enggak, aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Kamu tiap istirahat pasti ke arah gedung Komunikasi. Tiap hari. Kayak jam alarm, presisi banget."

Aku menoleh, sedikit defensif. "Itu buat makan siang."

"Tau. Cuma aneh aja liat konsistensinya. Kayak GPS yang cuma punya satu tujuan, enggak pernah nyasar ke tempat lain."

"Itu bukan aneh. Itu efisien. Aku udah tau tempat mana yang makanannya enak dan enggak terlalu penuh."

"Atau," Bimo menatapku dengan senyum yang mulai terlihat jahil, "kamu udah tau ke mana harus pergi buat ketemu orang tertentu, dan tempat makannya cuma alasan."

Aku tidak langsung menjawab itu, karena Pak Hartono kebetulan melirik ke arah bangku kami dengan ekspresi yang cukup jelas artinya, dan kami berdua diam-diam kembali fokus ke papan tulis sampai lima menit berikutnya, sebelum akhirnya Bimo melanjutkan bisikannya lagi dengan topik yang berbeda, untungnya, soal tugas praktikum minggu depan yang katanya bakal susah banget.

Tapi komentar tadi tetap menempel sedikit di kepalaku, tidak sepenuhnya hilang, seperti kerikil kecil di sepatu yang tidak cukup mengganggu untuk berhenti jalan tapi tetap terasa setiap kali melangkah.

Jam dua belas siang, aku sampai di meja pojok kantin sayap kanan lebih dulu dari Cahaya, seperti biasanya, karena kelasku selesai lebih cepat sepuluh menit dari kelasnya.

Aku memesan menu yang sama seperti hampir setiap hari, nasi ayam geprek level dua, karena level tiga terlalu pedas dan level satu terasa kurang, dan duduk di meja yang sudah jadi milik kami secara tidak resmi, meja paling pojok dekat jendela, cukup jauh dari keramaian kantin utama tapi cukup dekat dengan konter makanan supaya tidak perlu jalan jauh kalau mau nambah es teh.

Ibu kantin yang biasa melayani kami, namanya Bu Sri, sudah hafal pesananku sampai-sampai kadang dia langsung menyiapkan nasi ayam geprek level dua begitu melihatku antre tanpa perlu aku sebutkan lagi, dan itu sesuatu yang, kalau dipikir, cukup menggambarkan seberapa konsisten pola makan siangku selama tiga minggu terakhir.

Sasa muncul lebih dulu dari Cahaya, membawa nasi padang dengan lauk yang terlihat berlebihan untuk ukuran makan siang normal, rendang, ayam pop, dan sambal ijo yang porsinya nyaris menutupi separuh piring.

"Cahaya kemana?" tanyanya, duduk di seberangku, langsung mengambil sendok dan mulai makan tanpa menunggu.

"Masih kelas."

"Psikologi Umum kan? Yang dosennya suka molor jamnya?"

"Kayaknya."

Sasa mulai makan, dan sambil mengunyah, dia menatapku dengan ekspresi yang aku kenali sebagai tanda dia sedang mempersiapkan pertanyaan yang lebih dari sekadar basa-basi, ekspresi yang sama seperti waktu dia bertanya soal insiden jahit kostum di UI Fest beberapa minggu lalu.

"Ren, aku boleh nanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu sama Cahaya tiap hari emang selalu makan siang bareng?"

"Iya."

"Selalu di meja ini?"

"Iya, kenapa emang?"

"Dan kalian jalan bareng ke kampus, pulang bareng, chat tiap malem?"

Aku berhenti mengunyah sebentar, meletakkan sendok. "Kamu tau dari mana soal chat malem?"

"Cahaya cerita." Sasa mengangkat bahu, seolah itu informasi biasa yang tidak perlu dipermasalahkan. "Dia bilang kalian selalu chat antara jam delapan sampe sembilan. Konsisten banget katanya, kayak jadwal siaran TV yang enggak pernah ganti jam."

Aku tidak tahu harus merespons apa untuk itu, karena, jujur, aku tidak pernah menyadari bahwa pola itu terlihat cukup jelas dari luar sampai perlu dijelaskan ke orang lain sebagai fakta yang menarik untuk dibahas, seperti cuaca atau statistik pertandingan bola.

"Itu emang udah kebiasaan," jawabku akhirnya. "Dari kecil."

"Dari kecil kalian udah chat tiap malem?"

"Bukan chat. Dulu telepon rumah, atau ketemu langsung kalau lagi main bareng di rumah salah satu." Aku mengaduk nasi di piring, mencoba menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah aku jelaskan ke siapa pun dengan sedetail ini. "Cuma pola waktu itu udah ada dari lama. Sekarang bentuknya beda doang, medianya beda, tapi waktunya kurang lebih sama. Mama aku dulu bahkan sampe hafal, kalau jam segitu telepon rumah bunyi, pasti Cahaya."

Sasa menatapku lama, mengunyah pelan, dan aku bisa melihat dia sedang menyusun sesuatu di kepalanya yang tidak langsung dia ucapkan, matanya bergerak sedikit ke atas seperti sedang menghitung sesuatu.

"Itu bukan pola persahabatan biasa, Ren," katanya akhirnya, nadanya lebih pelan dari biasa.

"Maksudnya?"

"Enggak, maksudnya... ya udah lah. Nanti aja aku jelasinnya kalo perlu." Dia kembali fokus ke nasi padangnya, mengambil potongan rendang besar, seolah ingin mengakhiri topik itu secepat mungkin.

Sebelum aku sempat menanyakan lebih lanjut apa maksudnya, Cahaya sampai di meja, membawa nampan berisi soto ayam, wajahnya sedikit lelah tapi tetap ceria seperti biasa, rambutnya sudah kering sempurna sekarang dan dikuncir asal ke belakang.

"Sori telat. Dosennya beneran molor, sampe lima belas menit."

"Udah biasa," kata Sasa, kembali ke nada ringan seperti sebelumnya, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi, dengan kecepatan transisi yang membuatku sendiri hampir tidak sadar dia baru saja mengganti topik.

Cahaya duduk, mulai makan, mencelupkan sendok ke kuah soto yang masih mengepul, dan percakapan bergeser ke topik lain, tugas kelompok yang harus dikerjakan minggu ini, gosip kampus soal mahasiswa tingkat tiga yang katanya baru putus, rencana akhir pekan yang belum jelas, dan aku ikut dalam percakapan itu meski sebagian pikiranku masih menempel di komentar Sasa tadi, yang tidak sepenuhnya dia jelaskan dan yang entah kenapa terasa penting untuk dipahami lebih jauh, seperti potongan puzzle yang aku tahu ada tapi belum tahu ke mana harus menaruhnya.

Tapi aku tidak bertanya lagi. Kadang lebih mudah membiarkan sesuatu mengambang daripada mengejarnya sampai jelas, terutama waktu makan siang, ketika soto ayam sudah mulai dingin dan perutku lebih tertarik untuk diisi daripada dibebani pertanyaan yang belum siap dijawab.

Sore itu, sepulang kelas, aku dan Cahaya jalan pulang seperti biasa, melewati rute yang sama, dan di tengah jalan, dia berhenti di depan warung Pak Udin untuk beli es teh, ritual yang sudah jadi bagian tetap dari perjalanan pulang kami sejak dulu, bahkan sebelum kami cukup besar untuk membawa uang jajan sendiri.

"Satu lagi," katanya ke Pak Udin, menunjuk ke arahku, seperti biasa, tanpa perlu aku minta.

Pak Udin, tanpa perlu diminta konfirmasi lebih lanjut, langsung menyiapkan dua gelas, karena rupanya dia juga sudah hafal pola ini setelah bertahun-tahun, tangannya bergerak otomatis mengambil dua gelas plastik dari tumpukan, menuang es dari ketinggian yang tidak perlu tapi selalu terlihat memuaskan untuk ditonton.

"Kalian ini," kata Pak Udin, sambil menuang es teh dengan gerakan yang sudah dia lakukan ribuan kali, "dari kecil sampe sekarang, jalan bareng terus ya. Dari kalian masih pake baju seragam SD sampe sekarang udah mahasiswa."

"Dari TK, Pak," jawab Cahaya, tersenyum, menerima gelasnya.

"Awet ya. Jarang lho anak-anak sekarang setia sama satu temen aja. Rata-rata pindah geng tiap ganti sekolah."

Cahaya tertawa kecil, menerima gelas es tehnya, dan aku juga menerima punyaku, membayar untuk keduanya seperti biasa karena giliranku minggu ini, dan kami berjalan lagi meninggalkan warung Pak Udin, matahari mulai turun di belakang deretan atap rumah, memberi warna oranye lembut ke seluruh gang, memantul di genangan air kecil bekas hujan tadi siang.

"Komentar Pak Udin tadi," kataku, setelah beberapa langkah diam, "kayaknya bukan yang pertama kali kita denger."

"Enggak," jawab Cahaya, menyeruput es tehnya. "Udah sering. Dari SMP kayaknya orang-orang udah mulai komentar soal itu. Guru BK bahkan pernah nanya kenapa kita selalu bareng, kayak nyangka ada masalah keluarga atau apa."

"Kamu keberatan?"

Dia diam sebentar, menatap ke depan, langkahnya sedikit melambat. "Enggak. Cuma..." Dia berhenti, seperti mencari kata yang tepat, menggeser gelas es teh dari satu tangan ke tangan lain. "Kadang aku mikir, orang-orang liat kita dari luar dan langsung nyimpulin sesuatu. Padahal mereka enggak tau gimana rasanya dari dalem."

"Rasanya gimana emangnya? Dari dalem."

Cahaya melirikku sebentar, lalu kembali menatap ke depan, dan aku tidak yakin apakah dia akan menjawab pertanyaan itu atau mengalihkannya seperti yang sering dia lakukan akhir-akhir ini kalau percakapan mulai mengarah ke area yang lebih personal.

"Nyaman," katanya akhirnya, singkat, seolah kata itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. "Cuma nyaman."

Aku mengangguk, meski aku merasa ada sesuatu di balik kata "nyaman" itu yang tidak sepenuhnya terucap, sesuatu yang lebih besar dari sekadar kenyamanan biasa, tapi aku tidak mendesak lebih jauh, karena sore itu terasa terlalu tenang untuk dirusak oleh pertanyaan yang mungkin belum siap dijawab siapa pun, termasuk diriku sendiri.

Sampai rumah, aku menghabiskan sisa sore dengan rutinitas biasa, mandi, ganti baju, membuka laptop untuk sekadar mengecek apakah ada tugas yang perlu dikerjakan malam ini, dan ternyata ada satu, ringkasan bacaan untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Komputer yang deadline-nya besok siang.

Aku mengerjakannya sambil sesekali melirik ponsel, bukan menunggu apa-apa secara spesifik, cuma kebiasaan yang entah sejak kapan terbentuk, memeriksa layar setiap beberapa menit meski tidak ada notifikasi baru.

Ibuku memanggil untuk makan malam sekitar jam tujuh, dan sepanjang makan, dia bertanya soal kuliah, soal teman baru, soal apakah aku sudah mulai terbiasa dengan jadwal yang lebih padat dari SMA. Aku menjawab seperlunya, karena sebagian pikiranku masih ada di komentar Sasa siang tadi yang tidak selesai dijelaskan.

"Cahaya gimana kabarnya?" tanya ibuku, di sela makan.

"Baik. Sama kayak biasa."

"Kalian masih jalan bareng terus?"

"Iya."

Ibuku tersenyum kecil, tidak berkomentar lebih jauh, tapi ada sesuatu di senyumnya yang membuatku bertanya-tanya apakah dia juga menyimpan pemikiran yang sama seperti Pak Udin, seperti Sasa, seperti orang-orang lain yang belakangan ini sering berkomentar soal pola kedekatan kami tanpa pernah menyelesaikan kalimatnya.

Malam itu, seperti biasa, antara jam delapan dan sembilan, ponselku bergetar.

"Ren, kamu masih inget enggak drama yang aku ceritain tadi pagi?"

"Yang settingnya rumah sakit?"

"Iya. Aku baru nonton episode terbarunya. Sedih banget, Ren, aku sampe nangis."

"Kenapa sedih?"

"Enggak bisa dijelasin tanpa spoiler. Tapi intinya ada karakter yang nunggu orang yang dia suka terlalu lama, dan pas akhirnya dia mau ngomong, orangnya udah keburu deket sama orang lain."

Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas, karena entah kenapa deskripsi itu terasa lebih berat dari sekadar rangkuman plot drama biasa, lebih berat dari yang seharusnya untuk sekadar chat malam santai.

"Itu emang tema umum drama sih. Miskomunikasi timing."

"Iya sih. Tapi tetep sedih aja liatnya."

"Kenapa karakternya enggak ngomong dari awal?"

Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya masuk, lebih lama dari biasanya, sampai aku sempat memeriksa apakah koneksi internetku bermasalah.

"Kadang orang enggak selalu berani ngomong dari awal, Ren. Kadang mereka nunggu waktu yang tepat, tapi waktu yang tepat itu enggak pernah dateng, atau udah kelewat pas mereka sadar."

Aku membaca pesan itu dua kali, mencoba mencerna apakah ada makna lain di baliknya selain sekadar komentar soal plot drama, tapi aku tidak cukup yakin untuk menyimpulkan apa pun, jadi aku membalas dengan jawaban yang lebih aman.

"Itu berat juga ternyata buat drama yang katanya settingnya rumah sakit doang."

"Rumah sakit tuh biasanya emang penuh drama, Ren. Bukan cuma soal penyakit."

"Kamu ngomong kayak orang yang udah nonton banyak drama medis."

"Aku emang udah nonton banyak. Riset."

"Riset buat apa?"

"Buat hidup, Ren. Buat hidup."

Aku tidak sepenuhnya paham maksud balasan terakhir itu, dan sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, satu stiker masuk, karakter kucing yang sekarang sudah jadi favoritnya, kali ini dengan ekspresi mengantuk, mata setengah tertutup.

"Tidur dulu ya. Besok kelas pagi."

"Oke. Malem."

"Malem, Ren."

Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit kamar, memikirkan kembali percakapan hari ini, dari pagi di persimpangan sampai malam ini, semua potongan kecil yang, satu per satu, terasa biasa saja, tapi kalau disusun berurutan mulai membentuk pola yang aku belum sepenuhnya paham.

Rutinitas kami sudah begitu solid sekarang. Jam enam empat puluh lima di persimpangan. Meja pojok jam dua belas. Es teh dari Pak Udin setiap sore. Chat antara delapan dan sembilan malam.

Semua itu terasa begitu alami, begitu given, sampai aku hampir tidak pernah berhenti untuk benar-benar melihatnya sebagai sesuatu yang, mungkin, tidak seharusnya dianggap begitu saja, seperti udara yang kamu hirup tanpa pernah benar-benar menyadari kehadirannya sampai suatu hari kamu berada di tempat yang udaranya berbeda.

Aku memikirkan komentar Sasa siang tadi, yang tidak selesai dia jelaskan. Aku memikirkan komentar Pak Udin soal betapa jarangnya anak-anak sekarang setia sama satu teman. Aku memikirkan drama yang Cahaya ceritakan, soal karakter yang menunggu terlalu lama sampai waktunya kelewat, dan cara dia menjelaskannya yang entah kenapa terdengar lebih personal dari sekadar rangkuman episode.

Aku tidak tahu apakah semua itu ada hubungannya satu sama lain, atau apakah aku cuma terlalu banyak mikir karena kelelahan setelah hari yang panjang, karena besok pagi masih ada kelas jam delapan dan aku belum sepenuhnya menyelesaikan ringkasan bacaan tadi.

Tapi ada satu hal yang aku sadari malam itu, sesuatu yang sederhana tapi entah kenapa terasa penting untuk diakui, meski cuma ke diri sendiri, di kamar yang gelap dengan hanya cahaya dari layar ponsel yang perlahan meredup: aku tidak pernah membayangkan hari-hariku tanpa pola-pola kecil itu di dalamnya. Persimpangan jam enam empat puluh lima. Meja pojok. Es teh Pak Udin. Chat malam yang selalu datang di jam yang sama.

Kalau salah satu dari itu tiba-tiba hilang, aku tidak yakin harinya akan terasa sama.

Aku mematikan lampu, menarik selimut, dan mencoba tidur, meski butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk benar-benar berhasil, pikiranku masih berputar pelan di antara persimpangan gang, meja pojok kantin, dan satu kalimat dari Cahaya yang terus terngiang tanpa alasan jelas.

Kadang mereka nunggu waktu yang tepat, tapi waktu yang tepat itu enggak pernah dateng.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!