Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan sahabat
"Wah juragan Karta membangun pagar? memang bagus Karta karena rumah kamu ini dekat dengan hutan" ungkap seorang lelaki menghampiri Karta yang sedang mengawasi para tukang di depan rumahnya.
"Iya juragan Tama, beberapa hari yang lalu rumah saya kemasukan binatang buas, apa ada urusan penting yang membawa juragan Tama ke sini?" tanya Karta karena tidak biasanya juragan ternak itu datang ke tempatnya apalagi datang secara langsung.
"Tentu saja, aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu" jawab Tama
"Mari silahkan masuk, Hatta juga kebetulan pulang, tapi karena hari ini hari pertama sekolah anak anak dia mengantar anak anak ke sekolah dulu" ajak Karta merangkul Tama.
Tama adalah seorang juragan sapi di kampung itu, dia tak hanya mengurus sapi tapi juga kambing dan ayam, dia termasuk juragan yang sukses juga di kampung itu bahkan di kampung duku tempat dia tinggal saat ini bersama istrinya karena mertuanya sedang sakit.
"Bagaimana kabar istri dan anak juragan?" tanya Karta
"Mereka baik, tapi pernikahan Tisya sama sekali tidak baik, dia di pulangkan suaminya kemarin" jawab Tama terlihat sedih.
"Innalillahi, tapi kan Tisya itu baru menikah tiga bulan, kenapa di pulangkan?" tanya Karta
"Suaminya ternyata kasar, aku mendapati Tisya sedang di tampar saat aku berkunjung ke kota tempat suaminya itu tinggal, anakku dia pukuli hanya karena Tisya tidak tahu tentang sejarah perkebunan milikmu" jawab Tama membuat Karta terkejut.
Karta heran, apa hubungannya perkebunan miliknya dengan keharmonisan pernikahan anak dari Tama yang merupakan sahabat Karta, bahkan Karta heran kenapa suami Tisya yang merupakan orang kota tahu tentang perkebunan miliknya.
"Kenapa dia bertanya tentang perkebunan milikku?" tanya Karta
"Aku juga tidak tahu, tapi Tisya bilang suaminya itu selalu menanyakan tentang siapa saja keluarga kamu, ada berapa anggota keluarganya, dan apa saja yang sering terjadi di perkebunan milikmu, anakku tidak bisa menjawabnya karena Anakku juga kan sekolah di kota, tapi dia tidak mau terima dan memukuli Tisya, aku menegurnya tapi dia malah memulangkan Tisya dengan alasan kalau anakku tidak bisa menjadi istri yang di harapkan Joseph" jawab Tama
Karta memberikan air minum terlebih dahulu pada Tama supaya perasaannya lebih tenang, bahkan Karta juga meminta Tama untuk jangan khawatir karena yang salah dalam pernikahan putrinya itu adalah menantunya sendiri, bukan kesalahan Tisya.
"Aku ke sini untuk bertanya apakah kamu mengenal Joseph sebelumnya?" tanya Tama
"Tidak, saat menghadiri pernikahan Tisya waktu itu, aku baru pertama kali melihat suaminya, kamu tahu sendiri di kampung ini jarang sekali ada seorang lelaki keturunan luar negri seperti Joseph, hanya Kharissa istrinya Dirga dan Zeeshan suaminya Delisha yang merupakan darah campuran" jawab Karta
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tisya bilang dia menyebut kamu sebagai kacung keluarga Varden" jawab Tama
Kacung, lagi lagi kata itu yang di dengar oleh Karta, dia bukan kacung, semua keluarganya adalah orang yang berada bahkan kakeknya seorang pemilik perkebunan kelapa terbesar di salah satu kota dulu sebelum perkebunan itu di jual dan kakeknya membeli lahan di kampung curug demi bisa tinggal bersama istri dan keluarganya.
"Kamu tahu sejarah keluargaku kan, aku bukan kacung siapapun" ungkap Karta
"Ya, aku juga mengatakan itu pada Tisya, keluarga Wihardja adalah keluarga terpandang sejak dulu, tidak mungkin kalian jadi kacung keluarga Varden yang berada jauh di luar negri" ungkap Tama
"Keluarga Varden, siapa nama lengkap Joseph?" tanya Karta
"Joseph Elias Varden" jawab Tama.
Nama yang begitu asing tapi Karta meyakini satu hal, Joseph mungkin punya dendam padanya makanya dia sengaja menikahi Tisya untuk mencari tahu tentang Karta sekeluarga, tapi rencananya gagal dan sekarang dia tidak membutuhkan Tisya lagi setelah berhasil mengetahui tentang Karta sekeluarga lewat sosok putih yang selalu mengawasi rumah juga perkebunan miliknya.
"Anakku Karta, kamu tahu sendiri kan bagaimana parahnya cap warga di sini tentang janda yang di kembalikan suaminya? apalagi pernikahan mereka baru tiga bulan" ucap Tama
"Tenanglah Tama, kita pikirkan cara supaya warga tidak tahu kalau Tisya di pulangkan suaminya" bujuk Karta karena Tisya juga sudah seperti anaknya sendiri.
"Apa ada tempat untuk anakku di Bandung? Aku ingin Tisya pergi ke Bandung saja untuk bekerja" tanya Tama
"Aku akan tanyakan pada Hatta nanti, mungkin dia bisa membantu Tisya" jawab Karta
Tama merasa sedikit lebih tenang, sekarang di hanya ingin agar anaknya itu tidak terguncang mentalnya karena tiba tiba saja di pukuli dan di ceraikan suaminya hanya karena masalah sepele, Tama ingin anaknya itu tetap kuat meskipun dia tidak lagi di inginkan suaminya, karena Tisya masih punya kedua orang tuanya yang akan selalu mendukung hidupnya.
"Opa... Keluarga Varden, kami pernah mendengar nyonya meneer mengatakan tentang Varden itu bahkan nenek juga" bisik Rian
"Apa yang di katakan nenek kalian tentang keluarga itu?" tanya Karta
"Mereka jahat karena sudah mencuri dari nenek dan kakek" jawab Rian
"Mencuri.... Aku harus mencari tahu, tapi bagaimana caranya, aku tidak punya keluarga lain sekarang selain Hatta" batin Karta
••••••••••
Di sekolah Dirga.
Sekolah Dirga sekarang sudah memiliki beberapa kelas untuk anak TK dan SD, bahkan SMP juga ada dan semua guru di datangkan Dirga dari pesantren Adrian dengan dirinya sebagai kepala sekolah dan Bimantara, Khanza, Kharissa sebagai wakil kepala sekolah dan staf sekolah yang mengurus administrasi sambil membantu jika ada guru yang absen masuk.
"Ini mirip pesantren juga hanya saja tidak menginap, Dirga lebih suka kalau para murid tetap pulang setelah ashar" ungkap Dirga
"Ya, aku juga lebih setuju seperti itu, selain anak anak belajar mandiri di sekolah dengan banyak kegiatan, mereka juga bisa pulang untuk beristirahat di rumah bersama keluarga mereka" ucap Hatta melambaikan tangannya pada Hannah yang sedang bermain dengan Bisma.
"Hannah tidak mau di daftarkan sekalian kak?" rayu Dirga
"Kamu jangan merayuku, nanti bapak malah merengek Hannah juga harus di sini seperti kakak kakaknya, dan Husna juga tidak mau ikut aku ke Bandung" keluh Hatta dan Dirga terkekeh.
"Kan yang di Bandung bisa di pegang Om Zakariya" ucap Dirga
"Kasihan ayah kalau hanya di sana sendirian" jawab Hatta
"Ya carikan pasangan dong kak supaya Om Zakariya semangat lagi" jawab Dirga langsung di jewer Hatta karena Zakariya sudah tidak mau menikah lagi setelah istrinya meninggal.
"Ko ada murid bule di sini?" tanya Hatta menunjuk seorang murid berambut pirang yang sedang bermain dengan anak anak lain, bahkan murid itu tidak memakai hijab meskipun seragam miliknya sama dengan yang lain.
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭