Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan sang Dewa Perang
Malam berikutnya, badai angin menghantam dinding kaca Gedung Utama Megah Pratama Group. Gedung berlantai lima puluh itu kini tampak remang dan sepi. Seluruh karyawan telah dipulangkan, meninggalkan pimpinan tertinggi mereka sendirian di tengah kemegahan yang mendadak terasa seperti kuburan.
Surya Wijaya duduk bersandar di kursi kebesarannya. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak seperti orang tua renta yang kehilangan seluruh daya. Di atas meja mahoninya, puluhan surat sita eksekusi dari Pengadilan Negeri dan panggilan pemeriksaan dari pihak kepolisian menumpuk rapi.
Ia menuangkan minuman keras ke dalam gelas kristal dengan tangan yang gemetar hebat.
Brak!
Pintu besi berteknologi keamanan tinggi di ruang kerjanya mendadak terlempar terbuka. Suara pengunci elektronik berbunyi kencang, menandakan sistem keamanannya telah dilumpuhkan total dari luar.
Surya tersentak kaget. Gelas kristal di tangannya terlepas dan pecah berhamburan di atas karpet.
Dari balik kegelapan lorong, sesosok pria melangkah masuk dengan tenang.
Arka.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam tanpa celak sedikit pun. Langkah kakinya yang mantap di atas lantai marmer bergema begitu tegas di dalam ruangan yang hening.
"Kamu..." suara Surya bergetar kencang, dipenuhi kombinasi antara amarah dan ketakutan yang mencekik. "Bagaimana bisa kamu menembus puluhan penjaga keamanan di bawah?!"
Arka tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah mendekati meja kerja Surya, menatap pria tua itu dengan iris mata yang sangat dingin—tatapan seorang penguasa tertinggi yang memandang serangga di bawah telapak kakinya.
"Penjaga keamananmu sudah tidur nyenyak di lantai dasar, Surya," jawab Arka tenang, nadanya datar tanpa emosi.
Surya meremas tepi mejanya, mencoba menatap Arka dengan sisa-sisa keberaniannya.
"Jangan berlagak sombong, Arka!" bentak Surya serak. "Aku tahu kamu punya koneksi kuat di militer dan Nusantara Group! Tapi menghancurkan Megah Pratama Group tidak akan membuatmu bisa menyentuhku secara pribadi! Aku punya pengacara terbaik di negeri ini!"
Arka menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin di sudut bibirnya. Ia menarik kursi kulit di hadapan Surya, lalu duduk dengan santai seraya melipat kakinya.
"Kamu masih berpikir aku menghancurkan bisnismu menggunakan koneksi orang lain, Surya?" tanya Arka pelan.
Arka merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah stempel perak berukir lambang naga menyilang—simbol kekuasaan tertinggi Konsorsium Nusantara yang hanya dipegang oleh satu orang di dunia ini: Sang Penguasa Puncak.
Arka meletakkan stempel perak itu dengan denting halus di atas meja mahoni, tepat di hadapan Surya.
Mata Surya Wijaya membelalak lebar. Manik matanya bergetar hebat saat mengenali lambang naga menyilang tersebut. Sebagai salah satu pengusaha papan atas, ia sangat tahu bahwa stempel perak itu bukan milik direktur utama atau dewan komisaris... melainkan milik pemilik misterius yang mendirikan seluruh imperium bisnis Nusantara Group!
"Ka... kamu..." napas Surya mendadak tertahan di tenggorokan. Lidahnya kufur kata-kata. "Kamu... adalah Executive Chairman yang asli?!"
"Aku memberi kesempatan padamu untuk bertarung secara jujur di meja bisnis," kata Arka dengan suara dingin yang menusuk hingga ke tulang. "Tapi kamu memilih menyentuh istriku dan mengirim pembunuh bayaran malam itu. Kamu sudah melanggar batas paling mendasar dalam permainanku."
Surya tersungkur jatuh dari kursi kebesarannya, berlutut di atas karpet dengan wajah yang pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh kesombongannya hancur luluh dalam sekejap. Pria yang selama ini diincarnya dan dikatainya sebagai montir jalanan ternyata adalah raja tertinggi di dunia bisnis dan militer—sosok berkuasa yang mampu melenyapkannya hanya dengan satu ketikan jari!
"Tuan... Tuan Arka!" jerit Surya dengan suara memohon yang teramat sengsara. "Ampuni saya! Saya buta! Saya tidak tahu identitas Asli Anda! Tolong beri saya kesempatan kedua!"
Arka berdiri dari kursinya, meraih kembali stempel perak di meja, lalu merapikan lipatan jasnya.
"Pengadilan bisnismu sudah selesai, Surya," kata Arka dingin seraya membalikkan badan. "Sekarang saatnya pengadilan hukum yang bekerja."
Tepat saat Arka melangkah menuju pintu keluar, suara sirine puluhan mobil polisi dan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggema di luar gedung. Belasan petugas bersenjata lengkap masuk ke ruangan kerja Surya dengan surat penangkapan resmi atas dugaan penipuan skala besar, penggelapan pajak, dan percobaan pembunuhan berencana.
Surya Wijaya dipapah keluar dengan borgol melingkar di kedua tangannya, melambaikan penyesalan terakhir di puncak kehancurannya.
Satu jam kemudian.
Arka menyusuri koridor rumah kontrakan sederhananya. Ia membuka pintu depan secara perlahan agar tidak membangunkan istrinya.
Namun di dalam ruang tamu yang remang, Maya ternyata masih duduk di sofa menunggu kepulangannya. Wanita itu mengenakan gaun tidur kasual berwarna lembut, menatap Arka dengan pandangan lega tatkala melihat suaminya pulang tanpa luka sedikit pun.
"Arka... kamu baru dari mana?" tanya Maya pelan seraya berdiri menghampiri suaminya.
Arka menyunggingkan senyum hangatnya yang biasa, menutupi seluruh aura kejam yang baru saja dibawanya dari gedung Megah Pratama.
"Hanya menyelesaikan sedikit urusan sisa di luar, Maya," jawab Arka lembut. "Surya Wijaya sudah ditangkap polisi malam ini. Megah Pratama Group resmi dinyatakan pailit."
Maya terpana kaget. "Surya Wijaya... ditangkap?"
Arka mengangguk pelan, lalu merengkuh lembut jemari Maya. "Sekarang tidak ada lagi yang bisa mengganggu Wibowo Group atau mengancam keselamatanmu."
Maya menatap mata suaminya dengan lekat. Di balik rasa lega yang luar biasa, benih-benih cinta dan rasa percaya yang mendalam kini telah bertunas sepenuhnya di dalam dada Maya. Ia tidak peduli lagi rahasia apa yang masih disimpan oleh pria di hadapannya ini—yang ia tahu, Arka adalah suaminya yang siap memasang badan untuk melindunginya dari segala badai.
Maya menyandarkan kepalanya pelan di dada bidang Arka, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang.
"Terima kasih, Arka..." bisik Maya lembut. "Tetaplah di sisiku."
Arka membalas dekapan itu, mengusap helai rambut istrinya dengan penuh kehangatan.
"Aku akan selalu ada di sisimu, Maya."
itu.