Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni

Suasana rumah sudah kembali tenang setelah lamaran Moza dan Egha. Jingga sedang bersiap untuk bekerja.

Notifikasi grup WhatsApp muncul di layar ponsel Jingga.

Satu grup berisi lima orang—teman-teman lamanya semasa kuliah. Walaupun dulu hubungan mereka penuh persaingan, entah kenapa sampai sekarang mereka tetap menjaga komunikasi, lebih ke formalitas silaturahmi.

Dinda:

> “Guys, jadi kan weekend ini kita adain pertemuan?”

Vivi:

> “Gas lah! Udah hampir 3 tahun kita nggak ketemu, gila kangen banget!”

Aluna:

> “Gue sih ayo aja. Nanti gue izin dulu sama suami gue, hehe~” Aluna menuliskan kalimatnya dengan emoji centil. Seperti biasa, dia seakan harus selalu menonjol, apalagi di depan Jingga.

Rara:

> “Iya iya, si paling ‘punya suami’,” balasnya dengan emoji ngakak.

Jingga:

> “Gue ikut aja. Nanti kabarin tempatnya aja.”

Balasan singkat, dingin, sekadar formalitas. Sebenarnya Jingga malas sekali berada di grup itu—terutama karena Aluna. Dari dulu, Aluna selalu merasa bersaing dengannya dalam hal apa pun.

Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan mereka akan bertemu di sebuah restoran elit di bawah naungan Thama Grup.

> “Ya ampun, kenapa harus di sana? Kalau tiba-tiba ketemu bocah itu gimana coba…”

Jingga menggerutu dalam hati.

---

Siang harinya, di kantin perusahaan, Jingga sedang makan bersama sahabat karibnya, Arin.

“Kenapa lagi sih Ji? Wajah lo kusut terus tiap hari,” goda Arin sambil menyendok supnya.

Jingga mendesah. “Tadi pagi, grup temen kuliah gue ngajak ketemuan. Katanya udah tiga tahun nggak kumpul.”

“Terus? Masalahnya di mana? Tinggal ketemu aja kali, simple banget.”

“Masalahnya…” Jingga meletakkan sendoknya, wajahnya serius. “Gue males banget ada si Aluna di situ. Dari dulu dia selalu nganggep gue rival. Mulai dari prestasi, pertemanan, bahkan soal cowok pun dia harus selalu unggul.”

Arin menaikkan alisnya. “Serius segitunya?”

“Parah, Rin. Yang paling nyakitin itu waktu gue cerita soal Kak Bram. Dia tau banget gue suka sama Bram, gue sering curhat sama dia. Tapi ternyata diam-diam dia juga suka. Dan… akhirnya dia yang nikah sama Bram.” Jingga menghela napas berat, matanya menerawang. “Gue bukan sakit hati karena cowoknya diambil, tapi… karena dia tega banget nusuk gue dari belakang.”

Arin melotot kaget. “Gila, jahat banget itu orang! Eh tapi Ji…” Arin mendekat, wajahnya penuh ide nakal. “Besok lo ajak aja Levin. Liat aja, gue yakin tuh Aluna langsung kejang-kejang tau lo calon istrinya pewaris orang terkaya se-Asia.”

Jingga langsung menatap Arin dengan tatapan setengah jengkel. “Rin, kalo Levin tau, dia bisa makin besar kepala. Gue males banget sumpah.”

Arin ngakak sampe hampir keselek minumannya. “Hahahaha… ya nggak apa-apa lah Ji. Sekali-kali bikin Aluna jatuh mental. Biar dia tau lo sekarang di level yang udah nggak bisa disaingin.”

Jingga menahan senyum. Ada sedikit rasa puas membayangkan wajah Aluna terdiam untuk sekali saja.

----

Hari reuni akhirnya tiba. Restoran elit di bawah naungan Thama Grup tampak ramai. Interiornya mewah, dengan lampu kristal berkilauan dan aroma kopi premium memenuhi udara.

Jingga masuk dengan dress modern sederhana tapi tetap classy. Rambutnya diikat rapi, riasannya tipis namun elegan. Meski terlihat santai, hatinya deg-degan bukan karena reuni, tapi karena kemungkinan besar si Aluna bakal nyolot.

Begitu masuk, terdengar suara Vivi melambai dari meja.

“Ji! Sini sini!”

Semua sudah berkumpul: Dinda, Vivi, Rara, dan… tentu saja, Aluna.

Aluna tampil glamor dengan dress mencolok, seakan mau kondangan, bukan sekadar reuni. Begitu melihat Jingga, senyumnya penuh makna lebih mirip ejekan terselubung.

“Wow… Jingga. Akhirnya kita bisa ketemu lagi.”

Nada suaranya manis, tapi tatapannya menusuk.

Jingga tersenyum tipis. “Iya, udah lama banget ya.”

Mereka mulai ngobrol basa-basi. Suasana agak canggung, karena setiap kali Jingga cerita sesuatu, Aluna selalu punya cara untuk menyelipkan saingan.

Misalnya ketika Jingga bilang,

“Aku sekarang sibuk bantu-bantu di perusahaan.”

Aluna langsung menimpali, “Wah sama dong, suami aku kan juga punya perusahaan. Bahkan dia lagi buka cabang baru sekarang. Hehe.”

Lengkap dengan tatapan gue lebih hebat ke arah Jingga.

Rara yang duduk di sebelah hampir ngakak, tapi ditahan sambil pura-pura minum.

Suasana agak canggung, sampai akhirnya Dinda mencondongkan tubuh ke arah Jingga.

“Eh Ji, gimana nih? Kapan kamu ngenalin calon suami lo ke kita?” tanyanya sambil kedip-kedip jahil.

Jingga tertawa kecil, canggung. “Hahahah… nanti deh, Din.”

Rara ikut nyeletuk, “Kamu udah ada calon kan Ji?”

Jingga meneguk minumannya pelan sebelum tersenyum. “Hmmm… sudah.”

Rara dan Dinda langsung heboh, Vivi ikut menyorongkan wajah penasaran.

“Waduh, siapa coba? Jangan-jangan orang terkenal ya?”

Belum sempat Jingga menjawab, Vivi kebetulan menoleh ke dinding restoran. Ada lukisan besar interior dengan wajah Levin terpampang sebagai model iklan branding restoran.

“Oh my God…” Vivi bersuara setengah teriak. “Kalian liat nggak? Itu yang ada di poster. Gila ya, itu Levin cakep banget, karismatik, fix tipe idaman semua wanita deh. Kalau jadi suami, pasti rebutan tuh.”

"Bener banget dia itu lagi jadi bahan peebincangan  di kalangan anak muda, apalagi di IG sekali postingan jutaan cewek yang like". Sambung rara yang  mengaguminya.

"Dan itu alasan gue rekomendasiin tempat ini, ya berharap ketemu si pemiliknya" Dinda ikut menimpali.

Aluna yang mendengar spontan ikut melirik poster itu. Bibirnya menipis, matanya menyipit. Ada rasa nggak nyaman yang sulit disembunyikan.

Sementara itu Jingga cuma bisa menahan tawa kecil, pura-pura sibuk dengan minumannya. Dalam hati ia bergumam, Ya ampun… kalau tau yang kalian maksud itu calon suami gue, bisa kebakar nih restoran.

Dan seolah semesta ingin memberi kejutan Semua mata sontak terbelalak.

Sang “pemilik” yang mereka bicarakan dengan penuh khayal kini berdiri di depan mereka Levin Putra Artama, dengan setelan rapi, aura dingin, dan senyum tipis penuh percaya diri.

semua teman Jingga langsung terpaku. Aluna bahkan refleks merapikan rambutnya, seolah berharap Levin memperhatikannya.

Tapi dalam hitungan detik, kejutan lebih besar terjadi.

Levin melangkah mantap ke arah Jingga, lalu tanpa aba-aba duduk di sampingnya.

“Sayang…” suaranya terdengar hangat tapi tegas. “Maaf aku telat, tadi ada meeting sama client.”

Sebelum Jingga sempat bereaksi, Levin sudah condong mendekat dan mengecup pipi Jingga dengan santai, seolah-olah hal itu biasa mereka lakukan di depan umum.

Deg.

Seluruh meja langsung hening. Vivi sampai hampir tersedak minuman, Dinda melongo nggak percaya, Rara nutup mulut menahan teriakan, sementara Aluna… ekspresinya campur aduk antara kaget, malu, dan jelas-jelas panas hati.

Jingga sendiri? Wajahnya merah padam, ingin sekali menendang kaki Levin di bawah meja karena pria itu bertindak tanpa aba-aba. Tapi di sisi lain, hatinya deg-degan nggak karuan.

Setelah mengecup pipi Jingga dengan percaya diri, Levin meraih gelas di meja lalu menatap sekeliling, ke arah sahabat-sahabat lama Jingga yang masih melongo tak percaya.

Dengan senyum karismatiknya, ia berkata tenang,

“Perkenalkan, saya Levin Putra Artama.” Ia menatap ke arah mereka satu per satu. “Calon suaminya Jingga.”

Seketika meja itu kembali hening.

Dinda langsung bereaksi cepat, “Hah? Calon suami Jingga??” matanya membesar seperti habis lihat artis Korea.

Vivi menambahkan, “Astaga Ji… jangan bercanda, ya Tuhan… ini kan… ini kan Levin Artama! CEO Thama Group yang wajahnya sering nongol di majalah bisnis itu kan??”

Rara, yang biasanya paling cuek, sampai menjatuhkan sendoknya. “Gue kira Ji cuma lagi jaim doang tadi… ternyata calon lo tuh the one and only Levin Artama?? Gilak sih… lo beuntung banget Ji”

Sementara itu, Aluna hanya bisa tersenyum kaku. Matanya berkilat menahan panas, tapi mulutnya berkata manis, “Oh… jadi ini ya, calon kamu, Ji. Wah… luar biasa sekali. Selamat ya…”

Levin, tanpa sadar membaca situasi, malah menambahkan dengan wajah datar:

“Bukan soal beruntung. Justru aku yang bersyukur punya Jingga. Dia lebih dari apa pun yang aku cari.”

Vivi hampir nangis terharu, Dinda nahan senyum, dan Rara udah nggak kuat—dia sembunyiin ketawanya di balik gelas.

Aluna hanya bisa tersenyum kaku, jelas terlihat kesal tapi tidak bisa menunjukkannya terang-terangan.

Jingga yang sedari tadi merah padam hanya bisa melirik tajam ke Levin seolah ingin berkata “dasar cowok gila, bikin gue panas dingin aja”.

Tapi Levin malah terlihat makin puas, seolah sengaja ingin menunjukkan ke semua orang bahwa Jingga adalah miliknya.

Obrolan pun semakin cair. Tiba-tiba Vivi dengan wajah berbinar berkata,

“Eh guys, aku ada kabar bahagia. Aku bakal menikah akhir tahun ini!”

Sontak semuanya bersorak kecil memberi selamat.

“Wihhh, akhirnyaa!” seru Rara.

“Ciyeee calon pengantin baru,” tambah Dinda sambil menepuk-nepuk tangan Vivi.

Levin yang dari tadi santai sambil merangkul bahu Jingga, ikut tersenyum sopan.

“Wah, selamat ya. Itu kabar bagus sekali.”

Vivi menatap Levin dengan sedikit ragu tapi penuh harap, “Aku sih berharap banget kalian berdua bisa datang. Apalagi Ji, ya masa sahabat nggak hadir. Dan… kalau nggak keberatan, Mas Levin juga, boleh kan?”

Levin mengangguk ringan. “Tentu saja. Hari penting kamu, aku dan Jingga pasti datang.” Ia lalu melirik mesra ke arah Jingga. “Iya kan, sayang?”

Jingga hanya bisa tersenyum kaku, pipinya semakin panas karena dari tadi dipanggil “sayang” di depan teman-temannya.

Lalu, tanpa diduga, Levin menambahkan dengan nada tenang tapi bikin semua orang ternganga,

“Kalau kamu belum fix tempat resepsinya, kamu bisa pakai salah satu hotelku. Gratis. Anggap saja hadiah dariku untuk sahabat Jingga.”

“Haah?? GRATIS?!” seru Rara kaget.

Dinda menutup mulutnya tak percaya. “Ya ampun, beneran Mas Levin?”

Sementara Vivi sampai memegang dadanya sendiri. “Serius?? Itu terlalu berharga, aku… aku nggak tahu harus bilang apa.”

Levin hanya tersenyum tipis, lalu tanpa sadar semakin merapatkan pelukannya pada Jingga. Tangannya yang kokoh menempel di pinggang Jingga membuatnya makin sulit bergerak.

“Anggap saja keluarga. Lagipula, apa pun yang bikin Jingga bahagia… pasti aku dukung.” ucapnya lembut, tapi cukup keras untuk didengar satu meja.

Aluna tersenyum kaku, matanya jelas menyimpan rasa panas. Gratis hotel bintang lima?? Serius? Dalam hati ia menjerit, membandingkan suaminya dengan Levin yang baru saja membuat semua orang terpana.

Jingga sendiri hanya bisa berdecak dalam hati. Astaga, cowok ini bener-bener bikin aku jadi pusat perhatian.

Levin mengangkat tangan seolah memberi aba-aba.

“Nanti biar sekretaris saya yang mengatur semuanya,” ucapnya tenang.

Dari meja tak jauh, Roy sekretaris pribadinya segera berdiri menghampiri.

“Iya, Tuan?”

Tanpa menoleh, Levin berkata mantap, “Tolong uruskan venue pernikahan Vivi. Pastikan dapat ballroom terbaik di hotel kita, konsepnya elegan, sesuai permintaan calon pengantin.”

Roy mencatat cepat di tabletnya. “Baik, Tuan. Nanti saya koordinasikan langsung dengan pihak dekorasi dan event organizer.”

Semua mata di meja itu membelalak, saling pandang, seolah tak percaya dengan yang mereka saksikan.

Dinda berbisik pada Rara, “Astaga… segampang itu ya, langsung perintah sekretaris? Kayak di drama Korea asli…”

Rara hanya bisa mengangguk, matanya tak lepas dari sosok Levin yang begitu berwibawa.

Vivi sendiri sampai menatap Jingga dengan wajah terharu. “Ji… aku nggak nyangka. Calon suami kamu… bener-bener luar biasa. Aku berutang budi banget sama kalian, terima kasih banyak.”

Levin hanya tersenyum tipis, jemarinya meremas lembut tangan Jingga di bawah meja, membuat Jingga spontan menoleh dengan tatapan protes. Tapi Levin malah menambahkan kalimat yang sukses bikin jantung Jingga makin berdebar dan membuat Aluna menelan ludah pahit.

“Untuk sahabat calon istriku… saya pasti memeberikan yang terbaik.”

Setelah cukup lama berbincang, suasana meja mulai mereda. Para pelayan masuk membawa piring kosong tanda acara makan siang sudah selesai.

“Wah, seru banget hari ini. Kayak nostalgia masa kuliah, ya,” ucap Vivi sambil tersenyum puas.

“Iya, walaupun ada yang bikin pangling sih…” Rara melirik ke arah Levin dan Jingga dengan tatapan penuh kode. “Ternyata Ji nyimpen kejutan besar.”

Jingga hanya bisa nyengir canggung, sementara Levin dengan tenang merangkul bahu Jingga.

“Mohon doanya aja ya… semoga hubungan kami lancar,” ucapnya santun namun penuh wibawa.

“Ya ampun, aku ikut seneng banget!” seru Dinda sambil menepuk-nepuk tangan Jingga.

“Pokoknya kalian berdua harus jadi pasangan berikutnya setelah Vivi, ya.”

Akhirnya mereka semua berdiri di depan restoran, saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Mobil-mobil mulai keluar satu persatu.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!