Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 25 - Sesuatu Yang Tak Beres
"Bukankah kamu sudah mendengarnya langsung dari Ashlyn, Dia adalah istriku," ucap Ethan.
Kalimat itu Ethan ucapkan dengan begitu tenang, namun menciptakan dampak yang sangat besar bagi Nadine.
Nadine sampai membeku, untuk beberapa detik ia bahkan sampai lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Senyum yang tadi masih tersisa di wajah Nadine kini sepenuhnya menghilang, digantikan oleh tatapan tidak percaya yang begitu jelas.
"Istrimu?" ulang Nadine lirih.
Ethan tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap Nadine dengan ekspresi datar, karena baginya jawaban yang diberikan tadi sudah lebih dari cukup.
Namun bagi Nadine, satu kalimat itu justru membuka seribu pertanyaan lainnya.
"Bagaimana bisa?" Suara Nadine terdengar sedikit bergetar. "Wanita itu benar-benar istrimu?"
"Iya."
Jawaban singkat Ethan kembali membuat dada Nadine terasa sesak. Nadine mencoba tersenyum kecil, benar-benar ingin menepis ucapan Ethan tersebut. Nadine tak ingin percaya sebelum semuanya jelas, sejelas-jelasnya.
"Sejak kapan?" tanya Nadine akhirnya.
"Itu bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui," balas Ethan. Jawabannya begitu dingin hingga Nadine kembali terdiam untuk beberapa saat.
Selama bertahun-tahun, Nadine sudah terbiasa dengan sikap Ethan yang tidak banyak bicara. Ia tahu pria itu dingin, sulit didekati, bahkan terkadang terlalu tegas. Namun kali ini terasa begitu berbeda.
Ada jarak yang begitu jelas.
Seolah-olah Ethan sedang berdiri di balik sebuah dinding yang sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mendekat.
"Ethan, aku_"
"Aku mengatakan ini sekali saja." Ethan memotong perkataannya. Tatapannya berubah semakin tajam, tidak ada lagi sedikit pun kelembutan di wajahnya. "Jangan mengusik kehidupan pribadiku."
Nadine terdiam.
"Termasuk pernikahanku dengan Ashlyn."
Jari-jari Nadine yang berada di sisi tubuhnya perlahan mengepal.
Pernikahanku dengan Ashlyn.
Ethan mengatakannya dengan begitu mudah. Seolah-olah pernikahan tersebut memang sesuatu yang sudah final dan tidak bisa diganggu siapa pun.
"Tapi..." Nadine berusaha menahan emosinya. "Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Itu bukan urusanmu."
"Ethan, aku hanya ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak ada yang perlu kamu pahami." Nada bicara Ethan tetap rendah, tetapi justru itulah yang membuat perkataannya terasa semakin menekan.
"Ashlyn adalah istriku. Kehidupannya sekarang berada di bawah tanggung jawabku. Aku tidak ingin siapa pun mengganggunya," tegas Ethan.
Nadine menatap Ethan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Terutama kamu," ucap Ethan lagi.
Dan dua kata itu membuat wajah Nadine seketika kehilangan warna.
Ethan sebenarnya tidak berniat memperpanjang kebohongan ini. Namun Ethan mengetahui jelas bagaimana Nadine, jika ia memberikan celah sedikit saja maka wanita itu akan kembali mencari alasan untuk mendekatinya.
Ethan sudah melihat sendiri bagaimana Nadine datang ke mansion hanya untuk mendapatkan kesempatan berbicara dengannya, setelah dengan jelas Ethan menolak perjodohan tersebut.
Ethan tidak ingin masalah ini jadi semakin berlarut-larut.
Karena itulah untuk pertama kalinya Ethan menggunakan pernikahan palsu ini sebagai batas yang tidak boleh dilewati Nadine.
"Orang yang mengetahui tentang pernikahanku hanya orang-orang yang aku percaya," lanjut Ethan. "Sekarang kamu pun mengetahuinya juga."
Nadine menatapnya dalam diam.
"Aku tidak ingin kabar ini tersebar." Nada suara Ethan berubah semakin tegas. "Jika berita mengenai pernikahanku sampai tersebar luas sebelum aku sendiri memutuskan untuk mengumumkannya, aku akan mencari tahu dari mana berita itu berasal."
Tatapan Ethan mengunci mata Nadine.
"Dan jika ternyata sumbernya adalah kamu, aku sendiri yang akan datang menemuimu."
Nadine menahan napas, Itu jelas sebuah ancaman yang ia terima dari Ethan. Hati Nadine hancur sekali, sampai air mata benar-benar menjatuhi pipinya. Hubungan baik mereka selama ini seperti tak ada artinya, karena gadis asing itu semuanya benar-benar rusak.
"Jangan mencoba menguji kesabaranku, Nadine," ucap Ethan lagi, suaranya rendah tetapi setiap katanya terasa begitu jelas.
Nadine tidak mampu menjawab, semua kata di dalam benaknya seketika menghilang begitu saja.
Namun satu hal yang ia yakini, posisi yang semula memang miliknya kini telah direbut oleh Ashlyn. Entah dengan cara kotor apa.
Sampai detik ini Nadine masih terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa masih ada kesempatan. Ia mengira penolakan Ethan terhadap perjodohan hanyalah karena pria itu membutuhkan waktu. Nadine bahkan berpikir jika dirinya datang lebih sering, menunjukkan ketulusan, atau membuat Ethan menyadari bahwa mereka cocok, semuanya jelas akan berubah.
Tapi waktunya pun telah direbut juga oleh wanita asing itu.
Nadine menarik nafasnya perlahan, jelas ada sesuatu yang tidak beres di sini. Karena tak mungkin Ethan sebegitunya pada seorang wanita. Namun meminta penjelasan sekarang justru membuatnya terlihat semakin buruk di mata Ethan.
Nadine akhirnya menundukkan wajah. Memang ada rasa sakit yang perlahan memenuhi dadanya, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula harapan lain. Asal wanita asing itu pergi maka semuanya akan kembali seperti semula, posisinya akan tetap sama.
"Aku mengerti," ucap Nadine akhirnya, meski suaranya terdengar sangat pelan.
"Pelayan," panggil Ethan yang tak ingin ada basa basi lagi.
Seorang pelayan yang sejak tadi menunggu di luar segera masuk.
"Antarkan Nona Nadine keluar," titah Ethan.
"Baik, Jenderal."
Pelayan itu membungkuk hormat, kemudian memberikan isyarat kepada Nadine. "Nona."
Nadine masih berdiri diam, masih tak menyangka lagi-lagi Ethan akan mengusirnya seperti ini. Bahkan setelah Nadine datang sendiri ke mansion. Namun tidak satu pun kata berhasil keluar dari bibir Nadine.
Pada akhirnya Nadine hanya menarik napas panjang, kemudian berbalik mengikuti pelayan menuju pintu.
Langkahnya terasa sangat berat dibanding ketika ia datang tadi pagi. Begitu melewati ambang pintu, Nadine sempat berhenti dan menoleh sekali lagi.
Ternyata Ethan sudah membelakanginya, pria itu bahkan tidak melihatnya lagi. Seolah-olah pembicaraan mereka memang sudah selesai.
Nadine akhirnya melangkah keluar dari mansion. Namun begitu berada di teras, pikirannya kembali dipenuhi wajah Ashlyn.
Gadis dengan gaun yang begitu indah.
Tatapan polos.
Senyum seperti anak kecil.
Dan kalimat sederhana yang diucapkannya dengan penuh keyakinan. 'Ashlyn adalah istri Jenderal Ethan Harold.'
Nadine menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa?" gumamnya lirih. "Kenapa Ethan bisa menikahi wanita seperti itu?"
Mengapa bukan dirinya?
Apa sebenarnya yang dimiliki Ashlyn sampai Ethan bersedia melindunginya sedemikian rupa?
Begitu banyak pertanyaan di dalam kepala Nadine. Ia bahkan menatap kembali mansion yang perlahan semakin jauh setelah ia berjalan menuju mobil.
"Siapa sebenarnya kamu, Ashlyn?" Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.
Bahkan saat mobil mulai melaju meninggalkan area mansion pertanyaan itu masih terus terbayang. 'Kata Ashlyn mereka bertemu di perbatasan,' batin Nadine. Asal ia mengirim seseorang untuk pergi ke perbatasan Nadine yakin diapun akan mendapatkan informasi siapa sebenarnya gadis bernama Ashlyn tersebut.
"Benar, aku harus kirim seseorang ke sana," gumam Nadine, ia yakin betul ada sesuatu yang tak beres.
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn