Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Malam bertambah pekat ketika angin laut yang dingin menembus celah-celah pilar beton di dermaga tua pinggiran kota.

Suara gelombang yang menghantam tiang-tiang pancang terdengar bersahut-sahut dengan decitan deretan peti kemas yang berderet kaku di bawah remang lampu temaram.

Di dalam sebuah bangunan bekas gudang penyimpanan garam yang sudah terlantar, Sofia merapatkan jaket kusamnya. Jemarinya yang dingin mengapit erat sebuah tabung silinder kecil berbahan plastik keras.

Di dalam tabung itulah tersimpan lembaran kertas resep asli yang ditulis oleh Dr. Arthur Pendelton sebelas tahun silam.

Sofia menatap layar ponsel tua tanpa akses internet di tangannya. Sebuah pesan singkat masuk sepuluh menit yang lalu melalui saluran yang telah disepakati.

Gedung gudang tua nomor 4. Sepuluh menit lagi.

Keringat dingin membasahi telapak tangan Sofia. Sebagai seorang wanita yang menghabiskan bertahun-tahun di dalam sel tahanan, ia memahami betapa murahnya harga sebuah nyawa di balik perebutan kekuasaan orang-orang berpengaruh.

Namun, ingatan akan keteguhan mata Sienna saat mereka berbagi impian di balik jeruji besi membakar sisa-sisa keberaniannya.

Srettt...

Suara gesekan ban mobil berat di atas permukaan tanah berkerikil mendadak memecah keheningan malam di luar gudang. Sofia seketika berdiri, menyembunyikan tabung plastik itu di balik lipatan jaketnya seraya melangkah mundur ke area bayangan di dekat tumpukan peti kayu tua.

Dua lampu tembak berwarna putih tajam menyala menerobos celah-celah pintu besi gudang yang sedikit terbuka. Pintu seng berkarat itu kemudian terdorong pelan, menimbulkan derit nyaring yang memilu telinga.

Sesosok pria bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk membelah kegelapan. Nicolas Vance berjalan tenang dengan langkah yang terukur, didampingi oleh Matteo yang memegang koper peretas sinyal portátil.

Di belakang mereka, empat orang pengawal bersenjata berdiri siaga di dekat ambang pintu, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan di luar.

"Nona Sofia," pimpin Nicolas memecah keheningan, suaranya bass, bernada berat, dan menggema dingin di dalam ruang gudang yang luas.

"Saya menghadiri pertemuan ini secara pribadi, sebagaimana kesepakatan yang Anda sampaikan melalui Nona Sienna Sinclair."

Sofia melangkah keluar secara perlahan dari balik tumpukan peti kayu, berusaha menjaga jarak aman sepuluh meter dari posisi Nicolas berdiri.

Matanya yang tajam meneliti setiap detail penampilan pria di hadapannya, pria yang selama belasan tahun ini menjadi sumber penderitaan bagi Sienna.

"Terima kasih atas kedatangan Anda yang tepat waktu, Tuan Vance," ujar Sofia dengan bahasa tutur yang formal namun tegas.

"Namun, sebelum saya menyerahkan apa yang Anda cari, saya membutuhkan kepastian atas jaminan keselamatan yang Anda janjikan."

Nicolas menyilangkan kedua tangannya di balik punggung, menatap Sofia dengan pendar mata kelabu yang sulit ditafsirkan. "Jaminan keselamatan Anda telah berlaku sejak saya melangkah masuk ke dalam ruangan ini. Seluruh personel keamanan yang mengelilingi area ini berada di bawah kendali langsung saya. Tidak ada pihak luar yang diizinkan menyentuh Anda."

Sofia menghembuskan napas panjang, lalu perlahan merogoh saku dalam jaketnya dan mengeluarkan tabung silinder plastik tersebut. "Di dalam tabung ini tersimpan kertas resep medis asli dari Dr. Arthur Pendelton. Senyawa arsenik murni ini diberikan secara bertahap kepada Nyonya Christina Vance sebelum malam tragedi penembakan itu terjadi."

Iris mata Nicolas meredup seketika. Untuk pertama kalinya, ada riak emosi yang sangat halus melintas di wajah tegapnya yang biasanya kaku bagaikan batu karang.

"Serahkan dokumen tersebut kepada saya," perintah Nicolas rendah.

"Tidak sesederhana itu, Tuan Vance," potong Sofia mantap.

"Dokumen ini adalah satu-satunya pelindung bagi nyawa Sienna dan saya sendiri. Saya hanya akan menyerahkannya jika Anda berjanji untuk melakukan pengujian keaslian kertas dan tinta ini di laboratorium independen yang tidak berada di bawah pengaruh keluarga Ophelia."

Nicolas menatap Sofia dalam diam selama beberapa detik sebelum memberi isyarat pelan pada Matteo. Matteo melangkah maju seraya membawa sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.

"Saya telah menyiapkan prosedur pengujian forensik yang netral, Nona Sofia," tutur Nicolas.

"Dokumen tersebut akan langsung dibawa oleh kurir khusus menuju laboratorium toksikologi internasional malam ini juga, di bawah pengawasan perwakilan hukum yang independen."

Sofia menatap mata Nicolas, mencari keraguan atau kebohongan di sana. Namun yang ditemukannya hanyalah kegelapan yang dalam dan tekat yang dingin. Saat Sofia mengayunkan langkahnya untuk menyerahkan tabung plastik tersebut.

Dor!

Suara tembakan berperedam suara memecah udara malam! Sebuah peluru bersarang tepat di permukaan tanah marmer dua inci di depan kaki Sofia, memercikkan batu dan debu.

"Tuan tiarap!" jerit Matteo seraya menarik tubuh Nicolas ke balik tumpukan beton gudang.

Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi kekacauan yang mengerikan. Empat pria berpakaian serba hitam dengan topeng taktis mendobrak masuk melalui jendela-jendela atas gudang, menggunakan tali perosot.

Senjata otomatis bersilencer di tangan mereka langsung mengarah secara brutal, bukan hanya kepada para pengawal Nicolas, melainkan difokuskan sepenuhnya ke arah Sofia.

"Ambil dokumen itu dan lenyapkan wanitanya!" seru salah satu penyerang dengan suara serak yang memancarkan kekejaman murni.

Dor! Dor! Dor!

Hujan peluru menghujani area tumpukan peti kayu. Sofia melompat panik ke balik dinding bata tua, memeluk tabung silinder plastik itu erat-erat di dalam dadanya.

Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan persendiannya tatkala melihat para penyerang itu bergerak maju tanpa memedulikan kehadiran Nicolas Vance

"Tuan Nicolas, ini adalah unit pembunuh bayaran profesional!" seru Matteo seraya membalas tembakan menggunakan pistol semi-otomatisnya.

"Mereka tidak memedulikan keselamatan kita. Target utama mereka adalah memusnahkan bukti tersebut."

Nicolas menyipitkan matanya. Wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan tatkala menyadari kebenaran dari situasi ini.

Pihak yang mengutus para pembunuh ini tahu betul bahwa jika kertas resep itu jatuh ke tangannya, seluruh kebohongan belasan tahun akan hancur seketika.

Claudia Ophelia telah bertindak lebih jauh dari yang ia perkirakan, wanita itu berani menyerang di depan matanya sendiri.

"Matteo! Amankan sektor kanan!" perintah Nicolas dengan suara bagaikan guruh.

Tanpa memedulikan bahaya peluru yang berhamburan, Nicolas merendahkan fisiknya dan menerobos hujan tembakan, bergerak cepat menuju sudut bayangan tempat Sofia berlindung.

Dengan satu gerakan tangkas yang bertenaga, Nicolas menarik jaket Sofia dan menghempaskan tubuh wanita itu ke balik dinding beton tebal yang aman dari jangkauan tembakan.

"Tuan Vance..." cicit Sofia terengah-engah, matanya membelalak ketakutan seraya memeluk tabung dokumennya.

Nicolas berlutut di samping Sofia, napasnya teratur namun sepasang mata kelabunya menyala dipenuhi aura pembunuh yang amat mematikan. "Berikan dokumen itu kepadaku sekarang, jika kau ingin keluar dari tempat ini dalam keadaan bernapas!"

Sofia menatap wajah tegap Nicolas yang kini diliputi kemarahan murni atas pengkhianatan yang baru saja disaksikannya. Tanpa ragu lagi, Sofia menyerahkan tabung silinder plastik itu ke dalam genggaman tangan Nicolas.

Nicolas menerima tabung tersebut, menyimpannya rapat di balik saku dalam jas hitamnya, lalu menarik pistol dari pinggangnya.

"Matteo! Lindungi jalur evakuasi belakang!" teriak Nicolas seraya melepaskan tembakan balasan yang tepat merobohkan salah satu pembunuh bayaran yang mencoba mendekati barikade mereka.

Tembak-menembak sengit berlanjut di tengah kegelapan gudang pelabuhan yang dipenuhi asap mesiu.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!