Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertandingan Voli Dan Tatapan Yang Menggetarkan

Saat Yena tiba di rumah, pintu depan langsung terbuka. Kenzo yang dari tadi sudah menunggu di ruang tamu langsung berlari menghampirinya, wajahnya tampak bersemangat.

"Kak, minggu depan Kakak sibuk nggak?" tanya Kenzo 

Yena meletakkan tasnya di sofa, lalu tersenyum melihat tingkah adiknya. "Pasti kamu mau nyuruh Kakak datang ke pertandingan voli kan?"

"Loh? Kok Kakak tahu?" Kenzo membelalakkan mata, wajahnya bingung bercampur senang.

"Tahu dong, soalnya tadi udah dikasih tahu sama Juvan," jawab Yena pelan, lalu duduk di tepi sofa sambil melepas sepatu.

"Kakak makin hari kayaknya makin dekat aja ya sama Juvan," ledek Kenzo sambil duduk di sebelah kakaknya, menatap wajah Yena yang seketika memerah sedikit.

Bukan dekat lagi, tapi udah resmi pacaran, batin Yena, senyum tipis tak sengaja terukir di bibirnya.

"Tuh kan! Tiap kali bahas Juvan, pasti senyum-senyum sendiri," Kenzo tertawa kecil menunjuk wajah kakaknya. "Jadi... Kakak mau kan datang di pertandingan voli aku minggu depan?"

Yena menoleh, menatap mata adiknya yang berbinar penuh harap. Ia mengusap kepala Kenzo pelan, lalu mengangguk mantap.

"Iya, Kakak bakalan datang kok. Kakak janji, nggak akan telat dan nggak akan pergi sebelum pertandingan selesai."

"Wah asyik! Makasih Kak!" 

Yena mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya. Di dalam hati, ia berdoa — semoga pertandingan itu berjalan lancar. 

Hari pertandingan voli pun tiba. Di sekolah SMA Tunas Bangsa, para pemain sudah berkumpul di lapangan. Suara sorak-sorai penonton yang memenuhi tribun sudah terdengar sejak lama, membuat suasana terasa begitu hidup dan meriah. Tak lama kemudian, Yena pun tiba di lokasi.

"wah ternyata serame ini," gumam Yena takjub melihat keramaian di sekeliling lapangan. Ia lalu berjalan menuju tribun penonton dan duduk di barisan nomor dua, tempat yang cukup bagus untuk melihat seluruh lapangan dengan jelas.

Di tengah lapangan, Juvan yang sedang melakukan pemanasan terus celingak-celinguk mencari keberadaan Yena di tribun. Matanya berkeliling, seolah tak tenang sebelum menemukan sosok yang ia tunggu-tunggu. Yena yang menyadari hal itu langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi agar mudah dikenali.

"Nah itu dia! Kak Yena... ternyata dia beneran datang," ucap Juvan penuh semangat, wajahnya berseri-seri, seolah kehadiran Yena saja sudah menjadi energi tambahan baginya.

Sementara itu, beberapa siswi yang duduk di samping Yena mulai berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya.

"Eeh guys, katanya sih perempuan itu pacarnya Juvan ya?"

"Cantik banget ya... pantesan Juvan mau."

"Aku jadi ngerasa insecure banget deh sama pacarnya Juvan, dia secantik itu ternyata."

"Kayak bidadari cuy..."

Bisik-bisik itu terdengar samar, namun Yena hanya tersenyum tipis, tak memedulikannya. Baginya, yang penting ada di lapangan sana.

Pertandingan pun dimulai. SMA Tunas Bangsa melawan SMA Swasta Mentari. Yena agak sedikit kaget ternyata Kenzo dan ketiga temannya — Marsel, Sean, dan Zeo — satu tim dengan Juvan. Ternyata mereka semua bermain bersama!

"Bro, kita harus menang! Jangan biarkan tim sebelah yang menang!" ujar Kenzo dengan semangat membara. Sebagai ketua tim, ia memimpin rekan-rekannya dengan penuh keyakinan.

Menit-menit terakhir berjalan begitu menegangkan. Skor kedua tim terpaut tipis, selisih hanya satu poin. Juvan menggenggam bola erat, detak jantungnya berirama cepat sejalan dengan hitungan waktu yang makin menipis.

"Juvan, ini yang terakhir!" ujar Marsel singkat namun tegas.

Juvan mengangguk mantap, matanya menatap tajam ke arah ring. Dengan napas yang diatur tenang, ia melangkah lebar, melompat tinggi, dan melepaskan tembakan. Bola melayang sempurna di udara, berputar halus, lalu... masuk tepat saat peluit akhir berbunyi!

Lapangan pun meledak oleh sorakan penonton. Juvan dan teman-temannya langsung berpelukan sambil tertawa lepas, menikmati momen kemenangan yang manis itu. SMA Tunas Bangsa memenangkan pertandingan!

Mata Juvan langsung melirik ke arah tribun. Di sana, Yena melambaikan tangan dengan senyum manisnya yang paling tulus. Juvan yang melihat itu langsung salting, tersenyum malu sambil menggaruk lehernya yang tak gatal — kebiasaan lamanya yang tak pernah hilang.

Setelah pertandingan selesai, Juvan menunggu Yena di taman sekolah sambil duduk di bangku kayu, mengipasi dirinya yang masih kepanasan setelah berjuang di lapangan. Tak lama kemudian, langkah kaki yang ia kenal mendekat. Yena datang membawakan handuk kecil dan sebotol air putih dingin.

"Sayang, minum ini. Kamu pasti haus banget ya," ucap Yena lembut sambil menyodorkan botol itu.

Juvan langsung menerimanya dengan senang hati dan meminumnya hingga tandas, seolah air itu adalah minuman paling nikmat di dunia. Sementara itu, Yena duduk mendekat dan mulai mengelap pelan keringat di dahi serta leher Juvan dengan handuk kecil itu. Jantung Juvan berdegup kencang tak karuan dengan jarak sedekat ini. Ia bisa melihat jelas setiap inci wajah kekasihnya — mata yang lembut, hidung mancung, bibir yang selalu tersenyum hangat.

"Kamu tadi mainnya keren banget loh. Aku nggak nyangka kalau kamu bisa sejago itu main voli," puji Yena tulus, matanya menatap lekat mata Juvan.

Juvan tersenyum malu-malu, menunduk pelan seolah tak sanggup menatap balik begitu dalam. "Biasa aja kok, Kak..."

"Kamu kenapa kok tangan kamu gemetar gitu?" tanya Yena pelan, menatap tangan Juvan yang bergetar halus di sisi tubuhnya.

 

Juvan menelan ludah, menunduk sedikit tak berani menatap mata Yena terlalu lama. "Jarak ini... terlalu dekat, bikin aku jadi salting," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.

 

Seketika tawa Yena pecah, terdengar renyah dan manis di telinga Juvan. "Kirain kenapa tadi! Lagian ngapain salting sih, sama pacar sendiri juga," ucapnya sambil tersenyum geli.

 

Namun kehangatan itu terputus seketika saat terdengar suara berdehem berulang kali — "Hemm, hem, hem!" — secara bergantian.

 

Yena dan Juvan menoleh bersamaan. Di belakang mereka, Kenzo beserta Marsel, Sean, dan Zeo berdiri sambil menyilangkan tangan di dada, wajah mereka dipenuhi senyum jahil. Mereka yang tiba-tiba muncul tanpa disadari.

 

"Keringat Juvan doang nih yang dielap, keringat aku nggak dielap. Padahal keringat aku lebih banyak loh dibanding keringat Juvan!" ucap Kenzo dengan nada pura-pura cemburu.

 

"Iya nih, kita juga mau dielapin sama Kak Yena!" sambung Zeo tak mau kalah.

 

"Maksud kamu apa?" tanya Juvan agak bingung dan sedikit kaget dengan omongan Kenzo. Ia memang belum tahu kalau Kenzo itu adalah adik kandung Yena.

 

Yena tersenyum tipis, lalu menatap Juvan lembut. "Sayang, maaf ya aku nggak sempat cerita sama kamu. Sebenarnya... Kenzo ini adik aku."

 

Juvan membelalakkan mata, lalu langsung menoleh ke arah Kenzo. "Ooh... adik! Hehe maaf Ken, aku tadi sempet salah paham sama kamu," ucap Juvan canggung namun tulus.

 

"Tunggu—tunggu—tunggu! Kakak bilang apa tadi... SAYANG?" pekik Kenzo kencang, matanya membulat tak percaya. "Kalian berdua... pacaran ya?!"

 

Suara Kenzo begitu lantang hingga membuat beberapa orang yang lewat menoleh ke arah mereka. Marsel, Sean, dan Zeo langsung bersorak heboh. 

 

"Tiba-tiba pacaran,jyujyur janggal!"ucap sean yang masih tak percaya

Juvan hanya bisa menggaruk lehernya yang tak gatal, wajahnya memerah padam menahan malu sekaligus bahagia. 

 

"Kamu harus jaga Kakak aku baik-baik ya! Kalau berani nyakitin dia, siap-siap aja sama aku!"ancam kenzo

" dedek jangan gitu ih"ucap yena pada kenzo

"Hehe maaf kak bercanda doang kok, tapi beneran deh kalau sampai ada cowok yang nyakitin kakak, aku akan maju paling depan  buat melindungi kakak"

"Kamu tenang aja ken aku bakalan ngejaga dan mencintai kak yena dan aku gk akan bikin dia kecewa ataupun sakit hati, apalagi bikin dia nangis" ucap juvan sambil menatap yena dengan penuh cinta

"Hmm bagus-bagus gue suka itu. Udah ah, aku mau pergi. Di sini cuma jadi nyamuk doang. Eeh lu bertiga, mau ikut gue atau mau menyaksikan kisah cinta mereka berdua nih?" ucap Kenzo pada ketiga temannya sambil melangkah pergi.

 

"Ikut lu aja, Ken!" jawab mereka serempak.

 

"Dada Kakak cantik, aku pergi dulu ya!" ucap Marsel sambil melambaikan tangan pada Yena.

 

Yena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli melihat tingkah adik dan teman-temannya.

 

"Sayang, untuk merayakan kemenangan kamu... gimana nanti malam kita makan bareng? Aku yang traktir," ucap Yena pada Juvan.

 

"Aku mau! Tapi yang bayar aku aja," jawab Juvan mantap.

 

"Ihh kok gitu sih..."

 

"Kak... eh maksud aku, Sayang, sekarang kita udah pacaran, jadi semuanya aku yang bayar ya. Kamu mau makan atau mau beli apa aja, semuanya biar aku yang bayar. Aku kan cowok," ucap Juvan tulus, matanya berbinar serius.

 

"Wiih banyak duit ya kamu," ledek Yena sambil tertawa kecil.

 

"Iya nih... tapi duit Ayah aku hehe."

 

Mereka berdua pun tertawa lepas, tawa yang terdengar begitu bahagia di sore itu.

 

"Oh iya, tadi kamu bilang Bunda sama Ayah kamu mau datang. Di mana mereka?" tanya Yena tiba-tiba teringat.

 

"Itu... Bunda sama Ayah nggak jadi datang katanya, ada pekerjaan mendadak gitu. Tapi nggak apa-apa, yang penting di sini ada Kakak. Aku jadi semangat banget tadi. Makasih ya udah datang," jawab Juvan tulus.

 

"Iya Sayang, sama-sama."

 

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap, menandakan malam telah tiba. Juvan dan Yena pun memutuskan untuk mencari tempat makan malam, menelusuri jalan menggunakan motor Juvan.

 

"Sayang... aku lagi pengen makan makanan di pinggir jalan," ucap Yena dengan nada manja. Gadis itu memang sangat berpengalaman membuat sang pacar salting, berbeda dengan Juvan yang masih terbilang malu-malu.

 

"Kamu mau makan apa?" tanya Juvan lembut.

 

"Aku pengen ketoprak."

 

Juvan mengangguk dan mulai mencari penjual ketoprak di pinggir jalan. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ketemu. Mereka langsung memesan dua porsi ketoprak. Sembari menunggu pesanan, Juvan duduk berhadapan dengan Yena yang tengah sibuk dengan ponselnya.

 

"Aku nggak nyangka ternyata kamu suka ya makan makanan di pinggir jalan," ucap Juvan, membuat Yena kembali fokus padanya dan meletakkan ponselnya.

 

"Aku sering kok makan di pinggir jalan kayak gini. Memangnya kenapa? Kok kamu kayak kaget gitu?"

 

"Ya kaget sedikit. Soalnya kamu orang kaya, cantik... kebanyakan cewek di luar sana pada nggak mau makan di pinggir jalan."

 

"Aku sih mau-mau aja, asalkan bareng kamu, hehe."

 

Lagi-lagi gombalan dari Yena membuat Juvan salting, pipinya sedikit memerah hingga ke telinga. Tak lama kemudian pesanan mereka tiba — dua porsi ketoprak dan dua es teh manis. Juvan memakan ketoprak sembari sesekali menatap gadis cantik di depannya dengan tatapan sayang.

 

"Fokus ke makanan kamu, Sayang. Jangan fokus ke aku," ucap Yena sambil tersenyum menggoda.

 

Setelah beberapa menit, makan malam pun selesai.

 

"Habis ini kamu mau kemana lagi?" tanya Juvan.

 

"Pulang aja."

 

Dengan berat hati akhirnya Juvan mengantar Yena pulang. Jujur saja, sebenarnya Juvan masih ingin menghabiskan waktu bersama Yena lebih lama lagi.

 

Saat tiba di depan rumah Yena, Yena turun dari motor dan Juvan membantu melepaskan helm dari kepalanya dengan lembut.

 

"Sekali lagi makasih ya, kamu udah nyempetin hari ini buat aku. Hari ini aku seneng banget," ucap Juvan tulus.

 

"Aku seneng kalau kamu seneng," jawab Yena lembut.

 

Juvan yang masih berdiri di tempat hanya tersenyum manis dan menatap lekat wajah kekasihnya, seolah tak sanggup berpamitan begitu saja.

 

"Loh kok masih berdiri di situ? Kamu nggak mau pulang?" ucap Yena pelan.

 

"Ya udah, kalau gitu aku pulang ya..."

 

Saat Juvan berbalik badan, tiba-tiba Yena memegang pergelangan tangannya. Sebelum Juvan sempat menoleh sepenuhnya, tanpa aba-aba Yena mendekat dan mendaratkan ciuman lembut tepat di bibir Juvan. Mata Juvan terbelalak kaget, tubuhnya kaku seketika — itu adalah ciuman pertama yang mereka berikan satu sama lain dengan penuh kesadaran dan cinta.

 

"Kaget ya? Maaf ya..." bisik Yena pelan sambil tersenyum malu, lalu mengelap pelan bibir Juvan yang terkena sedikit lipstik miliknya.

 

Juvan hanya diam terpaku, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya. Bibirnya masih terasa hangat dengan sentuhan tadi, dan ia tahu... momen itu akan tersimpan selamanya di hatinya.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!