Indonesia
NovelToon NovelToon
Nicholas

Nicholas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Badboy / Tamat
Popularitas:31.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Clarissa icha

Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP


Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.

Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Bantuan apa.?" Sisil terlihat curiga menatap Nicho. Manik matanya terlihat intens menatap wajah datar Nicho dengan tatapan yang aneh. Jelas saja Sisil menaruh kecurigaan, karna raut wajah Nicho tidak seperti biasanya.

"Ikut pulang ke rumahku dan bilang kalau kita lagi sedang dekat." Ujar Nicho datar, namun terdengar memohon.

"Semua kafe ku akan di tutup kalau dalam waktu dekat tidak ada wanita yang aku kenalkan pada mereka,," Nicho langsung menjelaskan maksud dan tujuannya. Dia berharap Sisil mau membantunya untuk saat ini.

"Hahaha,,," Sisil tertawa geli. Dia langsung mengatupkan mulutnya rapat - rapat saat mendapat tatapan tajam dari Nicho. Siapa yang tidak kesal jika ditertawakan saat sedang bicara serius.

"Maaf,," Ujar Sisil, namun dia seperti masih menahan tawa. Permintaan Nicho seolah jadi lelucon untuknya.

"Jadi maksud kakak aku kayak harus pura - pura jadi pacar kak Nicho.?" Tanya Sisil. Wajah seriusnya mulai memudarkan kekesalan Nicho.

"Hemm.!" Nicho mengangguk cepat.

"Aku akan membelikan apapun yang kamu mau sebagai imbalannya,," Ujarnya lagi. Nicho benar - benar sudah membulatkan tekatnya untuk membawa Sisil dalam rencananya. Setidaknya dengan membawa Sisil ke rumah, dia tidak akan kehilangan kafe yang sudah susah payah dia bangun.

Menurut Nicho, permintaan Papa Alex terkesan tidak masuk akal karna tidak memberikan keuntungan apapun untuk sang Papa. Entah apa tujuan Papa Alex yang sebenarnya, sampai harus menyuruhnya membawa wanita pulang ke rumah.

"Apapun.?" Tanya Sisil memastikan. Nicho mengangguk yakin.

"Tapi aku tidak butuh apapun lagi,,," Ujar Sisil dengan entengnya. Nicho langsung mendelik kesal.

Dia sudah salah dalam memberikan imbalan, Sisil tentu saja sudah memiliki semua yang dia inginkan.

"Jangan bawa - bawa aku kalau mau sandiwara, sesuatu yang dimulai dari kebohongan itu tidak akan baik kedepannya." Jelas Sisil dengan wajah serius dan suara yang tegas. Nicho seolah tidak punya harapan untuk mengajak Sisil bekerja sama.

"Meskipun kak Nicho itu ganteng, aku nggak akan mau jadi pacar pura - pura. Kalau nanti aku baper tapi nggak bisa bersama, yang ada malah nyiksa diri sendiri. Niat mau bantu orang lain malah jadi kita sendiri yang terluka,,," Raut wajah Sisil semakin serius saja dan membuat harapan Nicho seketika pupus.

Nicho berdecak kesal. Wanita di hadapannya itu terlalu banyak memiliki pertimbangan dan terlalu realistis, tidak bisa di ajak untuk sandiwara.

"Kamu itu terlalu memakai logika.! Cuma mau pura - pura aja sampe di permasalahin." Keluh Nicho geram. Sepertinya Sisil bukan tipe wanita yang bisa di ajak main - main.

"Ya memang bagusnya seperti itu kan, pakai logika dulu sebelum berbuat sesuatu. Apa lagi ini menyangkut perasaan." Tegasnya.

"Kalau kita ngaku sebagai pasangan di depan keluarga kakak, secara otomatis aku akan ada dalam lingkar kehidupan kak Nicho yang entah sampai kapan."

"Aku bisa jatuh cinta nantinya kalau sampai terbawa suasana. Jadi untuk menghindari hal - hal yang tidak di inginkan, aku menolak keras.!" Seru Sisil dengan lantang tanpa keraguan. Dia membentu tanda silang dengan menggunakan kedua tangannya, tepat di depan dada. Kemudian menyengir kuda pada Nicho.

Nicho menarik nafas dalam. Sepertinya dia tidak akan bisa membujuk Sisil untuk pura - pura menjadi pacarnya.

"Kalau begitu nggak perlu sandiwara, nggak masalah kalau kamu bilang kita hanya sebatas kenal karna tetanggaan, asal kamu tetap mau ikut ke rumah."

"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karna aku sudah menolong kamu dari pacar kamu yang bajing*n itu.!"

"Kali ini giliran kamu yang harus menolongku. Dan tidak ada penolakan.!" Serunya tegas. Nicho bicara seperti itu sebelum Sisil memprotesnya lagi.

Tidak ada pilihan. lain selain Sisil. Setidaknya Nicho tau kalau Sisil termasuk wanita baik - baik dan terlihat cukup berada. Paling tidak dengan membawa Sisil menemui Papa Alex, kafe miliknya akan tetap berjalan.

"Kok begitu.? Itu sih pemaksaan namanya,,!" Sisil masih saja protes. Dia terlihat tidak nyaman untuk melakukannya meski Nicho memperbolehkannya untuk jujur tentang kedekatan mereka yang hanya sebatas tetangga saja.

Nicho hanya mengangkat kedua bahunya acuh, dia meletakan minuman kaleng di meja dan bergegas pergi.

"Ingat.! Minggu depan,,,!!" Teriakan Nicho sampai terdengar di dapur.

Sisil menghela nafas kesal. Dia benar - benar di paksa oleh Nicho untuk melakukan hal yang menurutnya tidak seharusnya di lakukan.

Bukan tanpa alasan, Sisil hanya takut terbawa perasaan jika terlalu dekat dengan Nicho hingga membuatnya harus mengenal keluarga Nicho.

Jujur saja, selama ini dia begitu mengagumi Nicho karna sangat mirip dengan sosok yang sangat dia kagumi. Tidak ada perasaan lebih dari sekedar kekaguman.

...****...

Nicho masuk ke dalam apartemennya. Dia menatap jijik sofa panjang yang ada di ruang tamu. Sofa mahal yang sudah di kotori oleh Alvin dan wanita yang entah dia dapatkan dari mana.

"Dasar bajing*n,,!" Nicho menendang sofa dengan perasaan geram. Bayangan Alvin yang sedang bercint* kembali muncul di kepalanya.

Sepupunya itu benar - benar gila. Sepertinya terlalu bernafsu sampai lupa untuk mengunci pintu.

Nicho merogoh ponselnya, dia langsung menghubungi Alvin.

"Heh,,, Bangs*t.!! Jangan sampe lu balik kesini lagi malam ini.!" Seru Nicho begitu panggilan telfonnya terhubung.

"Besok gantiin sofa gue.!!" Geramnya. Nicho langsung mematikan telfonnya sebelum Alvin bicara.

Saat akan menyimpan ponsel, Nicho melihat sekilas ada pesan dari Fely. Dia baru sadar kalau sampai sekarang belum menghapus ataupun memblokir nomornya.

Nicho yang awalnya ingin mengabaikan pesan itu, mengurungkan niatnya saat Fely kembali mengirimkan pesan.

'Kamu akan membiarkan aku menikah dengan orang lain.? Hanya sebatas itu kamu memiliki perasaan padaku.? Memutuskan hubungan begitu saja setelah semua ini terjadi padaku.

Aku mengaku salah, tapi aku juga tidak menginginkan ini terjadi padaku. Kenapa kamu tidak berusaha untuk mengerti bagaimana perasaanku saat ini.?'

Pesan yang dikirimkan Fely begitu panjang dan begitu dalam hingga sampai ke hati.

'Aku benar - benar minta maaf karna tidak mendengarkan kamu,'

Nicho menarik nafas dalam setelah membaca pesan terakhir dari Fely. Perasaannya kembali berkecambuk. Rasa sesak di hatinya kembali menyeruak setelah beberapa hari dia sudah merasa jauh lebih tenang.

Perasaannya bimbang, mulai ragu dengan keputusan yang sudah dia ambil. Keputusan yang awalnya dia yakini adalah keputusan yang tepat.

Melepaskan dan merelakan orang yang kita cintai dan kita jaga selama bertahun-tahun, nyatanya tidak semudah yang dibayangkan.

Ada penyesalan terbesar dalam dirinya karna merasa tidak bisa menjaga dan melindungi Fely, meski semua itu terjadi bukan karna dirinya.

Nicho pergi ke kamarnya. Dia kembali butuh ketenangan.

Kalau saja dia tau bahwa Fely akan pergi malam itu, selangkah pun Nicho tidak akan membiarkan Fely keluar dari apartemen.

"Aku bahkan tidak sanggup membayangkanmu tidur dengan laki - laki lain,,," Nicho mengepalkan kedua tangannya. Otot - otot di tangannya bahkan sampai terlihat. Rahangnya terlihat mengeras dengan wajah yang memerah.

Nicho menjatuhkan diri di atas ranjang. Tidur terlentang dengan kedua mata yang menerawang menatap langit- langit kamar.

Haruskah hubungannya berakhir begitu saja setelah 4 tahun bersama.?

Atau haruskah dia mempertahan hubungan dan memperjuangkannya kembali agar sang Papa mau merestuinya.?

Tapi Nicho tidak yakin bisa menghapus kekecewaan yang ada di hatinya.

"Aaaarrrgghhhh,,,,!!!" Suara geraman Nicho menggema di kamarnya. Dia mengusap kasar wajahnya dengan perasaan yang berkecambuk.

...*****...

Maaf baru up. Agustusan masih lnjut 🤣

My sugar jg libur dulu, 😁

kalo nnti mlem ada wktu, di usahain ngebut ngetiknya biar bisa up.

1
liaa
seruu
Sitinor Holisah
coba gaush pkek pov pasti cerita nya lebih seru
aroem
bagus
Ira Suryadi
Luar Biasa
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
Nathan n Sisil memang punya jiwa besar🌹
pipi gemoy
mama Shinta noh👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹👻
pipi gemoy
vote buat nich n Sisil✌🏼
pipi gemoy
welcome baby boy Kevin ☕👏🏼👍🏼🙏🏼
pipi gemoy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣si Sisil satu frekuensi sama kakak n adik👻
pipi gemoy
pinter Sisil 🌹
pipi gemoy
papa alex👻🌹
pipi gemoy
pinter nick🌹
pipi gemoy
hadir Thor
nobita
aku jadi tegang 🤭
Candle_SHe
😍😍😍
arsita
ceritanya tu terlalu berbelit"
Yudi Jebaru
menarik/Rose/
Sofie Ariyani
nicho gendeng 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!