Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Itu Mama-ku
Andri membawa pertanyaannya pulang, tetapi Karina tidak mengetahuinya.
Dua minggu setelah perjalanan Ciater, usia kandungannya mendekati lima bulan. Perutnya sudah sulit disembunyikan, dan gerakan kecil kadang terasa seperti gelembung yang pecah dari dalam.
Siang itu, Karina membawa kotak makan ke Universitas Nusantara. Nathan punya dua kelas berturut-turut dan mengeluh makanan kantin terlalu berminyak. Karina memasak sesuai menu dr. Silvia, lalu meminta sopir mengantarnya ke gerbang kampus.
Ia baru turun ketika sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter di depan. Seorang perempuan keluar dengan kacamata gelap, gaun merah sederhana, dan sepatu hak yang terlalu tinggi untuk trotoar kampus.
Perempuan itu tampak paling banyak berusia pertengahan tiga puluhan. Rambutnya jatuh mengilap di bahu, wajahnya cantik dengan mata menyerupai kelopak persik. Mahasiswa yang lewat otomatis menoleh.
Nathan muncul dari gedung fakultas.
Perempuan itu langsung berlari kecil, merentangkan tangan, lalu memeluknya. "Sayang, anak Mama!"
Ia memegang wajah Nathan dengan kedua telapak, mencium pipinya, lalu mengacak rambut abu-abunya. Nathan membiarkannya selama beberapa detik sebelum mencoba melepaskan diri.
Kotak makan di tangan Karina terasa berat.
Pemandangan itu berubah menjadi pintu hotel, KTP Andri, dan perempuan hamil yang berdiri terlalu dekat. Nalar mengatakan Nathan mungkin punya kerabat. Luka lama berkata laki-laki selalu menemukan perempuan yang lebih muda, lebih cantik, atau lebih sesuai.
"Nathan."
Suaranya tidak keras, tetapi Nathan langsung menoleh.
Ekspresinya berubah ketika melihat mata Karina. Ia melepaskan tangan perempuan itu dan berjalan cepat.
"Kenapa kamu datang sendiri?" tanyanya.
"Aku bawa makan siang." Karina menatap perempuan di belakangnya. "Sepertinya kamu sudah punya teman."
Nathan mengikuti tatapannya, lalu menatap Karina lagi. Sesuatu seperti kegembiraan nakal sempat muncul, tetapi menghilang ketika setetes air mata jatuh.
"Jangan menangis." Ia mengambil kotak makan, lalu memeluk bahu Karina. "Itu Mama-ku."
Karina membeku. "Mama?"
Perempuan berbaju merah mendekat sambil melepas kacamata. Mata ambernya hampir sama dengan mata Nathan.
"Kamu istrinya?" tanyanya.
Nathan berdiri di antara mereka. "Ma, ini istriku, Karina. Karin, ini Anastasia Hartawan. Mamaku."
Rasa malu membakar wajah Karina. "Maaf, Tante. Saya salah paham."
"Jangan panggil Tante." Perempuan itu memeriksa wajah Karina, lalu perutnya. "Panggil Cik Anna. Aku belum siap menjadi tante, apalagi mama mertua."
Nathan mendengus. "Mama sudah punya menantu dan tiga cucu."
"Status boleh berubah, wajah jangan."
Cik Anna memeluk Karina dengan hati-hati. Wangi bunga putih mengelilinginya, lembut dan mahal.
"Aku ingin datang sejak menerima video USG," katanya. "Tapi ada urusan di luar kota. dr. Silvia melapor kalian berdua cukup patuh."
"Dia melaporkan kami?" tanya Nathan.
"Tentu. Kalau hanya mengandalkanmu, menantuku mungkin diberi mi instan dan video balapan sebagai terapi."
Karina tertawa meski air mata masih melekat. Cik Anna mengusapnya dengan ujung jari.
"Kamu cemburu padaku?" tanyanya.
"Saya benar-benar minta maaf."
"Tidak perlu. Berarti anakku masih cukup menarik setelah menikah."
Nathan membawa mereka ke lantai dua kantin yang memiliki ruang privat. Mahasiswa memotret dari jauh, tetapi dia meminta pengelola menutup tirai. Kotak makan dibuka di tengah meja.
Cik Anna mencicipi ayam kukus buatan Karina, lalu mengangguk setuju. "Nathan waktu kecil menolak sayur sampai aku menggambar wajah di wortelnya."
"Ma."
"Istrimu perlu tahu riwayat kejahatanmu."
Karina mulai santai. Ia bercerita tentang mual yang baru benar-benar mereda dan rasa takut setiap kali satu gejala berubah. Cik Anna mendengarkan tanpa memberi nasihat kosong.
"Waktu mengandung Nathan, aku muntah hampir empat bulan," katanya. "Aku masih sembilan belas dan berada di luar negeri. Aku pikir hidupku selesai."
Nathan menatap ibunya, seolah kisah itu jarang dibicarakan.
"Ayah Nathan ada di sana?" tanya Karina hati-hati.
Cik Anna mengaduk teh. "Keadaannya rumit. Aku merasa sendirian meski banyak orang di sekelilingku. Setelah keluarga membawaku pulang, aku bahkan sulit bangun dari tempat tidur. Bukan hanya mual. Pikiranku gelap."
"Cik mengalami depresi?"
"Dokter menyebutnya gangguan suasana hati selama hamil. Saat itu orang-orang lebih suka berkata aku kurang bersyukur." Senyumnya tipis. "Jadi kalau suatu hari kamu takut atau sedih tanpa alasan, bicara. Jangan bersembunyi demi terlihat kuat."
Karina merasakan tenggorokannya menegang. "Saya sering merasa tidak pantas berada di keluarga Nathan."
"Kamu membawa tiga cucuku, tapi itu bukan alasan utama kamu pantas." Cik Anna menatapnya lurus. "Nathan memilihmu. Kamu memilihnya. Yang lain bisa mengajukan pertanyaan, bukan mencabut keputusan kalian."
Nathan meraih tangan Karina di bawah meja. Kata-kata itu begitu sederhana, tetapi datang dari orang yang paling ia takutkan akan menolaknya.
"Mama tidak keberatan aku pernah menikah?" tanya Karina.
"Aku keberatan mantanmu membuang delapan tahun hidupmu. Tapi status janda bukan penyakit."
"Perbedaan usia kami?"
"Nathan keras kepala sejak lahir. Perempuan seusianya mungkin sudah melemparnya dari balkon."
"Aku mendengar itu," kata Nathan.
"Bagus."
Cik Anna meminta melihat hasil pemeriksaan terakhir. Karina membuka video USG. Tiga denyut kecil terdengar dari speaker. Wajah perempuan itu berubah; kemewahan dan kelucuannya luruh, menyisakan seorang ibu yang matanya mulai basah.
"Aku hanya punya Nathan," katanya pelan. "Sekarang suara keluarga kita bertambah tiga sekaligus."
Nathan menyentuh bahunya. "Mama akan membuat mereka terlalu manja."
"Itu hak nenek."
"Tadi katanya tidak mau dipanggil mama mertua."
"Aku mau dipanggil nenek oleh bayi, bukan tua oleh kalian."
Cik Anna membuka tas dan mengeluarkan tiga pasang kaus kaki bayi, masing-masing dibungkus kain berbeda. Satu berwarna biru gelap, satu hijau, dan satu kuning muda.
"Aku belum tahu jenis kelaminnya, jadi jangan menafsirkan warna," katanya. "Aku menjahit inisial sementara di bagian dalam. A, B, dan C, sesuai catatan dokter."
Karina menyentuh jahitan kecil itu. "Cik membuat sendiri?"
"Aku desainer. Jangan terdengar terlalu terkejut."
Nathan mengambil satu pasang dan mencoba memasukkannya ke jari. "Kecil sekali."
"Kamu juga sekecil itu dulu." Cik Anna memandang putranya lebih lama. "Aku takut menyentuhmu karena merasa semua yang kusentuh akan rusak. Popo yang mengajariku memandikanmu. Engkong berjalan keliling rumah setiap malam saat kamu menangis."
"Aku tidak pernah dengar cerita itu."
"Karena kamu lebih suka berpura-pura lahir sudah bisa mengendarai mobil."
Humor itu tidak sepenuhnya menutupi kesedihan lama. Karina mulai memahami mengapa keluarga Nathan menjaganya dengan cara yang terkadang terasa berlebihan. Mereka pernah melihat seorang ibu muda tenggelam dalam ketakutan tanpa bahasa untuk meminta pertolongan.
"Apakah keluarga Cik marah waktu itu?" tanyanya.
"Tentu. Mereka marah pada keadaan, pada ayah Nathan, dan pada diriku. Tapi kemarahan tidak membuat mereka meninggalkanku." Cik Anna menutup kembali tas. "Keluarga bisa kecewa dan tetap memilih berdiri di sampingmu. Itu yang perlu kamu ingat saat bertemu Engkong malam ini."
"Bagaimana kalau mereka tidak menerima saya?"
"Engkong akan mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Popo akan menyuruhmu makan. Keduanya akan berpura-pura tidak tersentuh, lalu diam-diam berebut membeli kereta bayi."
Nathan tersenyum. "Prediksi yang sangat akurat."
Cik Anna juga meminta Karina menyimpan nomor pribadinya. Ia tidak ingin semua komunikasi melalui Nathan atau dr. Silvia.
"Kalau anakku membuatmu kesal, telepon aku. Kalau aku membuatmu kesal, telepon juga. Kita bicara langsung, tidak lewat grup keluarga."
"Mama sendiri jarang menjawab teleponku," protes Nathan.
"Karena kamu menelepon untuk meminta mobil atau mengeluh. Karina pasti punya hal lebih penting."
Karina menyimpan kontak itu dengan nama Cik Anna. Sebelum layar padam, pesan pertama sudah masuk: foto lama Nathan berusia sekitar lima tahun, telanjang dada dan menangis karena rambutnya dipotong terlalu pendek.
"Ini bahan perlindungan diri," kata Cik Anna.
Nathan berusaha merebut ponsel, tetapi Karina menahannya di dada sambil tertawa. Untuk beberapa menit, ia lupa bahwa perempuan di hadapannya berasal dari keluarga yang kekayaannya membuat Sky Palace terasa biasa. Mereka hanya dua perempuan yang menemukan sekutu melalui rahasia memalukan seorang lelaki.
Setelah makan, Cik Anna memeriksa kotak makan dan memuji Karina karena tidak memakai terlalu banyak garam. Ia juga menegur Nathan karena membiarkan Karina datang ke kampus.
"Aku tidak tahu dia mau datang," bela Nathan.
"Mulai sekarang kirim orang mengambil makanan kalau dia ingin memasak."
Karina menyela, "Saya tidak sakit, Cik Anna. Saya boleh keluar menurut dokter."
Cik Anna tersenyum puas. "Bagus. Jangan biarkan anakku mengatur napasmu."
"Mama berpihak pada siapa?"
"Pada yang benar. Biasanya bukan kamu."
Di luar kantin, beberapa mahasiswa masih memperhatikan. Cik Anna menggandeng lengan Karina, sengaja menunjukkan kedekatan mereka. Nathan berjalan di sisi lain sambil membawa semua barang.
Karina bertanya mengapa Cik Anna langsung datang ke kampus, bukan ke Sky Palace.
"Aku ingin mengejutkan anakku. Dan memastikan dia masih kuliah setelah menikah." Ia melirik Nathan. "Ternyata aku justru membuat istrinya cemburu."
"Tolong lupakan itu."
"Tidak mungkin. Ini cerita yang bagus untuk resepsi."
Karina menutup wajah. Nathan tertawa dan menarik tangannya turun.
"Aku suka kamu cemburu," bisiknya. "Berarti setidaknya kamu tidak benar-benar ingin aku pergi."
Karina hendak membantah, tetapi Cik Anna sudah membuka pintu mobil dan meminta mereka masuk.
"Malam ini pulang ke rumah Engkong," katanya. "Bawa Karina. Popo sudah menyiapkan makan malam sejak tahu aku mendarat."
Karina kembali tegang. Bertemu ibu Nathan saja sudah menghabiskan seluruh keberaniannya. Kini ia harus menghadapi kakek-nenek pemilik nama keluarga yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
Cik Anna memandang perutnya dengan senyum penuh rahasia. "Cucu-cucu Engkong bakal bikin rumah itu heboh."