Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Petikan senar gitar mengalun lembut, menyatu dengan kesunyian malam yang melingkar di sekelilingnya. Keira berdiri di balkon kamarnya, menatap langit yang tampak kelabu tanpa bintang, seakan hatinya yang kini tak tenang.
Berita yang baru saja didengarnya dari Bibi, wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang sejak kecil, membuatnya tertegun tak sanggup berkata-kata.
Keluarganya akan segera pulang kembali ke rumah ini. Kabar yang seharusnya menjadi kabar gembira justru menimbulkan kebingungan yang tak terlukiskan di hati Keira.
Mengapa mereka kembali? Mengapa tidak tetap menetap di tempat yang selama ini mereka sebut sebagai rumah?
Bukankah di sana mereka telah hidup tenang dan bahagia? Lantas, alasan apa yang mendesak mereka pulang tiba-tiba seperti ini?
Seribu tanya berputar tak henti di kepalanya, namun tak satu pun yang mampu ia temukan jawabannya.
"Kalau begini... apa yang harus kulakukan?" gumamnya pelan, menatap bayangannya sendiri di permukaan kaca jendela yang gelap. Ia tak tahu bagaimana seharusnya bersikap saat mereka benar-benar tiba di hadapannya nanti.
Akhirnya, rasa lelah yang membebani pikirannya pun mengalah. Keira melangkah masuk, merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa begitu luas dan sepi. Tak butuh waktu lama sebelum ia terlelap, seakan membiarkan momen yang berat itu tertunda sejenak hingga pagi menjelang.
***
Sinar matahari menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menyentuh wajahnya dan membangunkannya dari tidur yang singkat.
Dari lantai bawah terdengar suara riuh yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Keira mengucek matanya yang masih terasa berat, lalu bangkit dan bersiap secepatnya.
Hari ini adalah hari Minggu, hari yang biasanya ia lalui dengan tenang dan damai, namun kini hatinya tak henti berdebar tak menentu.
Ia pun turun perlahan menuju ruang tengah, sambil menatap layak-layak sang Bibi yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.
"Entah masakan apa yang Bibi siapkan hari ini..." gumamnya pelan sembari melangkah mendekat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Sebuah kesadaran menyergap pikirannya seketika.
"Tunggu... bukankah mereka seharusnya baru tiba nanti? Mungkinkah mereka sudah ada di bawah?"
Dengan jantung yang berpacu kencang, Keira melangkah tergesa-gesa menuju ruang tamu. Di sana, ia melihat sosok-sosok yang selama ini hanya ia temui dalam surat dan foto.
Seluruh keluarganya telah pulang. Hanya saja, tak satu pun dari mereka yang tampak menyadari kehadirannya berdiri di ambang pintu.
'Apa yang harus kulakukan sekarang?' batinnya, menahan diri agar tak melangkah lebih jauh.
Saat pandangannya jatuh ke hadapan, napasnya seketika tertahan. Di sana, berdiri sosok yang tak asing baginya, kembarannya sendiri, Keyna. Gadis itu menatap ke arahnya dan tersenyum ramah, seakan mereka telah bersahabat sejak lama.
"Halo... kau pasti Keira, bukan?" sapanya lembut. "Aku Keyna. kembaran mu. Ayah sering menceritakan tentangmu padaku."
Keira hanya mengangguk pelan, tak mampu menyembunyikan rasa canggung yang mendalam. Ia belum terbiasa, dan tak tahu pula apakah ia akan pernah bisa terbiasa bersanding dengan orang-orang yang kini menjadi keluarganya.
"Ayo, duduklah bersama kami," ajak Keyna ramah. Ia pun menggandeng tangan Keira lembut menuju sofa yang berada tepat di tengah ruangan. Keira membiarkan dirinya dituntun, tak berdaya melawan rasa canggung yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.
Seorang pemuda yang tampak lebih tua berdiri perlahan. Wajahnya tampak tegas dan tenang. "Keira?" tanyanya singkat. Itulah Arya, kakak laki-laki mereka yang baru saja menginjak usia tujuh belas tahun.
Keira kembali mengangguk tanpa bersuara. Ia menatap wajah kakaknya itu dengan hati yang berdebar. Mengapa tak satu pun dari mereka menyambutnya dengan pelukan hangat? Bukankah mereka rindu padanya? Atau baginya, keberadaannya tak begitu berarti?
Keira memiliki dua orang kakak: Arya, kakak laki-laki yang pendiam dan tegas, serta Sekar, kakak perempuan yang tampak sama sekali tak menyukainya.
Tatapan mata Sekar begitu dingin dan tak ramah, seakan kehadiran Keira di sana adalah sesuatu yang tak pernah ia harapkan.
"Keyna, ayo naik ke kamar. Ibu sudah menyiapkan semuanya di atas," ucap wanita yang melahirkannya. Ia menyapa nama Keyna dengan penuh kasih sayang, seakan lupa bahwa di sana berdiri pula putra lainnya yang tak kalah rindu akan sapaan itu.
Keira menatapnya dengan harapan yang masih tersisa. Namun tak ada pelukan, tak ada senyum yang tulus tertuju kepadanya.