Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
***
Suasana di Aula Keagungan Agung masih dibalut ketegangan setelah insiden tulang bebek berlemak yang mengotori jubah mewahnya Pangeran Ke-4. Wajah sang Putra Mahkota tampak begitu kelam, seolah badai besar siap meledak dari balik matanya.
Melihat Pangeran Ke-4 terpukul mundur dan dipermalukan secara konyol, Xiu Mei tidak tinggal diam. Ia segera melangkah maju ke tengah aula dengan senyuman lembut yang dipaksakan, membungkuk hormat di hadapan Kaisar Yang Mulia dan Ibu Suri.
"Yang Mulia Kaisar yang Agung, Ibu Suri yang terhormat," suara Xiu Mei terdengar selembut bisikan angin malam. "Untuk mengembalikan kesegaran dan kebahagiaan di hari yang suci ini, hamba memohon izin untuk mempersembahkan sebuah pertunjukan bakat dari para wanita dan istri pangeran."
Ibu Suri mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya ke takhta. "Usul yang bagus, Nona Xiu. Musik dan tarian selalu bisa mencairkan suasana."
Xiu Mei tersenyum penuh kemenangan. Ia mengambil tempat di sudut panggung, duduk di balik sebuah kecapi kayu cendana berukir naga emas. Jari-jemari lentiknya mulai memetik senar-senar kecapi dengan sangat terampil. Nada-nada merdu bergema di seluruh aula, berpadu dengan tarian gerak lentur tubuhnya yang begitu anggun.
Seluruh pejabat dan tamu undangan terpukau, memberikan tepuk tangan meriah saat petikan senar terakhir bergema.
"Luar biasa! Petikan kecapi Nona Ketiga benar-benar menenangkan hati!" puji beberapa menteri di barisan depan.
Xiu Mei berdiri, menunduk anggun, lalu melirik ke arah meja Istana Ke-7 dengan mata berkilat merendahkan.
"Terima kasih atas pujian para menteri," ucap Xiu Mei ramah, sebelum dengan sengaja mengalihkan pandangannya pada Xiu Ying. "Namun hamba mendengar, Adik Kesembilan hamba Istri Pangeran Ke-7 juga memiliki banyak bakat tersembunyi. Bukankah akan sangat menyenangkan jika Adik Kesembilan juga mempersembahkan pertunjukan untuk menghibur Ibu Suri?"
Nyonya Besar dan para pengikut Putra Mahkota tersenyum licik. Mereka tahu betul bahwa selama tinggal di Halaman Barat, Xiu Ying tidak pernah diajari bermain kecapi, melukis, atau menari. Ini adalah jebakan terang-terangan untuk memaksanya mempermalukan diri sendiri di hadapan seluruh istana.
Namun, di meja Istana Ke-7, Xiu Ying sama sekali tidak terusik. Wajah cantiknya sangat tenang, seolah nada-nada kecapi Xiu Mei hanyalah dongeng pengantar tidur. Ia bahkan tidak memandang Xiu Mei, melainkan sibuk merapikan lengan baju Zhen Yu dan menyuapkan sepotong kue beras manis ke mulut suaminya.
"Pangeran, makanlah pelan-pelan. Mulutmu belepotan gula lagi," puji Xiu Ying lembut, memusatkan seluruh perhatiannya untuk memanjakan sang suami.
"Emm! Manis! Kakak Cantik, Yu-er mau lagi!" celoteh Zhen Yu riang, mengunyah dengan pipi menggembung seperti tupai, sama sekali mengabaikan tatapan tajam ratusan orang di aula.
Melihat sikap acuh tak acuh Xiu Ying yang menganggap pertunjukan cantiknya bagai angin lalu, wajah Xiu Mei seketika memerah menahan malu dan murka.
Xiu Ying mendongak santai, menatap Ibu Suri dengan keanggunan yang tenang. "Ibu Suri yang agung, hamba hanyalah seorang wanita yang lebih suka fokus menjaga kesehatan suami dan mengurus kediaman. Bakat terbesar hamba adalah memastikan Pangeran Ke-7 hidup bahagia dan kecantikan Ibu Suri terjaga. Saya rasa, petikan kecapi Kakak Ketiga sudah cukup menghibur aula ini."
Ibu Suri terkekeh renyah, merasa jawaban Xiu Ying sangat bijaksana. "Jawaban yang sangat baik! Seorang istri yang fokus pada kesejahteraan suaminya adalah perhiasan sejati."
Rencana Xiu Mei untuk mempermalukan Xiu Ying runtuh begitu saja, memaksanya kembali ke kursi dengan gigi menggeretak menahan kemarahan.
Sementara itu, di meja Putra Mahkota, amarah Pangeran Ke-4 telah mencapai puncaknya. Ia merasa reputasi dan martabatnya dikoyak-koyak oleh pasangan dari Istana Ke-7.
Pangeran Ke-4 memberi isyarat mata yang teramat tipis pada kasim kepercayaannya yang berdiri di belakangnya, Kasim Wu.
Kasim Wu membungkuk pelan mendekati telinga sang Putra Mahkota.
"Pastikan mereka tidak melangkah keluar dari aula ini dengan kepala tegak," desis Pangeran Ke-4 dengan suara bergetar menahan dendam. "Gunakan Bubuk Jiwa Lumpuh."
"Baik, Yang Mulia," bisik Kasim Wu licik.
Bubuk Jiwa Lumpuh adalah racikan obat rahasia yang tidak berbau dan tidak berasa. Obat ini tidak membunuh seketika, namun akan membuat korbannya kehilangan kontrol atas otot-otot tubuh secara perlahan, menyebabkannya kejang-kejang konyol, memuntahkan isi perut, dan akhirnya pingsan memalukan di depan publik.
Tak lama kemudian, giliran penyerahan piala anggur kekaisaran dimulai. Kasim Wu dengan langkah anggun membawa nampan perak berisi teko emas dan cawan-cawan kristal, bertugas menuangkan anggur kehormatan untuk para pangeran.
Saat mendekati meja Istana Ke-7, jemari Kasim Wu yang tersembunyi di balik lengan baju mewahnya menekan mekanisme rahasia di gagang teko, membubuhkan racun berwujud cairan bening ke dalam dua cawan yang akan disajikan untuk Zhen Yu dan Xiu Ying.
"Yang Mulia Pangeran Ke-7, Istri Pangeran, harap menikmati anggur kehormatan dari Kaisar," ucap Kasim Wu manis sambil menyodorkan dua cawan anggur beraroma harum.
Namun, indra penciuman dan ketajaman refleks Zhen Yu yang terlatih sebagai pimpinan Jaringan Bayangan Mistik langsung menangkap perubahan samar pada aroma anggur tersebut. Ada jejak asam tipis yang tak kasat mata di dalam cairan beralkohol itu.
Mata Zhen Yu berkilat mematikan drambut panjangnya. Ingin bermain racun denganku di depan istriku? batin Zhen Yu dingin.
Tiba-tiba, saat Kasim Wu masih membungkuk menyodorkan nampan, Zhen Yu melompat berdiri di atas kursinya dengan raut wajah sangat bersemangat dan polos!
"Wah! Ada kupu-kupu! Kupu-kupu terbang di baju Paman Kasim!" teriak Zhen Yu dengan suara tinggi kekanak-kanakan.
"Y-Yang Mulia Pangeran?!" Kasim Wu kaget setengah mati saat Zhen Yu mendadak mengayunkan tangannya yang besar secara ceroboh.
Brak!
Siku tangan Zhen Yu yang kekar "secara tidak sengaja" menyenggol nampan perak itu dengan sangat keras. Cawan anggur berisi racun milik Zhen Yu terbalik dan menumpahi seluruh jubah Kasim Wu. Tak hanya itu, ujung jari Zhen Yu yang keras bak besi dengan sengaja menyenggol titik saraf di lengan bawah Kasim Wu!
Clek!
"Aaghh!" jerit Kasim Wu tertahan saat lengan tangannya mendadak lumpuh dan gemetar hebat akibat tusukan rahasia Zhen Yu.
"Aduh! Kupu-kupunya kabur!" celoteh Zhen Yu sambil bertepuk tangan, pura-pura tidak tahu bahwa ia baru saja menggagalkan pembunuhan terselubung.
Di saat bersamaan, Xiu Ying yang memiliki mata super tajam sejak awal sudah mencurigai gerak-gerik Kasim Wu yang terlalu tegang. Ketika perhatian seluruh orang tersedot pada aksi konyol Zhen Yu yang menumpahkan anggur, Xiu Ying dengan kecepatan tangan yang sangat halus meraih cawan anggurnya yang masih terisi racun di atas meja.
Dengan sapuan lengan baju sutranya yang lebar, Xiu Ying memutar tubuhnya seolah ingin membantu merapikan meja. Dalam sekejap mata yang tak menyita perhatian orang banyak, ia menukar cawan anggur beracun itu dengan cawan milik Pangeran Ke-8 yang duduk di meja sebelah—pangeran yang sejak tadi paling lantang menyindir dan menertawakan suaminya.
"Pangeran Ke-8," ucap Xiu Ying dengan senyum manis yang sangat memikat saat menyerahkan cawan anggur yang baru ditukarnya. "Suami saya tidak sengaja merusak suasana. Sebagai gantinya, izinkan saya mempersembahkan cawan anggur yang masih utuh ini untuk Yang Mulia."
Pangeran Ke-8 yang terpikat oleh kecantikan dan senyuman langka Xiu Ying seketika merasa teranjung. "Ooh! Istri Pangeran Ke-7 sungguh sopan! Terima kasih atas anggurnya!"
Pangeran Ke-8 tanpa curiga sedikit pun langsung mengangkat cawan emas itu dan meminum seluruh isinya dalam satu tegukan besar!
Xiu Ying kembali duduk di samping Zhen Yu, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan mematikan. Di sampingnya, Zhen Yu yang pura-pura takut dimarahi karena menumpahkan anggur, menyembunyikan wajahnya di bahu Xiu Ying sambil menyunggingkan seringai dingin yang teramat puas.
Hanya dalam hitungan tiga puluh detik kemudian...
Pangeran Ke-8 yang tadinya tertawa lebar mendadak menghentikan tawaannya. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, lalu berubah menjadi kebiruan. Matanya membelalak lebar, dadanya naik turun memburu seolah kehabisan napas.
"Uhuk! Uh... C-Cairan ini... A-Apa..." ganjal Pangeran Ke-8 parau.
Brak!
Pangeran Ke-8 mendadak kejang-kejang di atas kursinya, menjatuhkan piring-piring perak ke lantai hingga pecah berantakan. Tubuhnya merosot ke tanah, memuntahkan anggur dan makanan dari mulutnya, sambil mengerang kesakitan saat otot-otot tubuhnya mendadak lumpuh total di hadapan seluruh istana!
"Pangeran Ke-8! Yang Mulia Pangeran Ke-8 kejang!" teriak para pengawalnya panik.
Seluruh aula seketika gempar dan kacau balau! Para menteri berdiri ketakutan, para wanita menjerit histeris.
"Tabib! Cepat panggil Tabib Kekaisaran! Pangeran Ke-8 keracunan!" seru Kasim Utama dengan suara melengking panik.
Di tengah kekacauan yang membahana di Aula Keagungan, Pangeran Ke-4 berdiri mematung dengan wajah pucat pasi dan mata melotot horor. Ia mengenali gejala racun itu—itu adalah Bubuk Jiwa Lumpuh miliknya sendiri yang seharusnya diminum oleh Pangeran Ke-7 atau Xiu Ying!
Pangeran Ke-4 menoleh tajam ke arah meja Istana Ke-7 dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Di sana, Xiu Ying sedang duduk anggun memegang cangkir teh hangatnya, menatap kekacauan itu dengan pandangan dingin dan penuh ejekan. Di sebelahnya, Pangeran Zhen Yu mendekap lengan istrinya dengan raut pura-pura takut yang sangat menggemaskan, namun matanya yang tersembunyi menatap sang Putra Mahkota dengan janjikan kehancuran yang mutlak.
Senjata racun milik Putra Mahkota baru saja memakan korbannya sendiri, memicu skandal berdarah yang siap mengguncang seluruh kekuasaan istana.
(Bersambung)