Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan
POV F
Alarm ponsel menyala nyaring tepat pukul 5 pagi. Kuusap wajahku dengan kasar, kepala ini masih terasa berat akibat dari minuman beralkohol semalam. Mataku terbuka perlahan, silau rasanya. Aku memang tidak terbiasa tidur dengan lampu menyala seperti ini, mungkin Geri lupa mematikannya saat selesai mengantarku ke kamar, pikirku.
Kududukkan tubuhku, aku heran mengapa rasanya tubuhku begitu jauh dari lantai. Tunggu, apakah ini kamarku? Seingatku di kamarku hanya ada kasur lantai, bukan kasur dengan dipan tinggi seperti ini.
Aku menoleh sekeliling. Ya Tuhan, ternyata aku tidur di kamarku dulu! Mengapa aku bisa kembali ke rumah ini, bukankah semalam aku sudah memutuskan untuk pergi dari sini? Lalu siapa yang membawaku kesini? Aku ingat sekali bahwa semalam aku mabuk, tapi aku tidak ingat apa saja yang aku lakukan setelah mabuk. Semoga aku tidak melakukan hal yang buruk di rumah ini. Tapi, mengapa ruangan ini sangat berantakan?
Aku turun dari tempat tidurku, terlihat kemejaku tergeletak begitu saja di lantai. Pikiranku menerka kemana-mana, kecemasanku bertambah ketika kurasakan banyak luka perih di wajah, leher, tangan, dan dadaku. Apa yang kulakukan sehingga seseorang mencakarku di banyak tempat? Apakah aku telah melukai seseorang?
Dira. Seketika otak ini mengingat Dira. Apakah Dira yang melawanku semalam? Ya Tuhan, semoga apa yang terlintas di pikiranku saat ini salah.
Gegas kubuka pintu kamarku, ternyata terkunci dari luar. Kupanggil nama Dira berulang kali namun tidak ada sahutan. Sial, tidak ada jendela di kamar ini padahal aku ingin segera memastikan keadaaan Dira. Kuambil ponsel lalu kutekan kontak Dira, namun sayang nomornya tidak aktif. Kutelepon kontak lain, Geri. Di seberang sana Geri mengatakan akan segera menghampiriku 30 menit lagi.
Sembari menunggu kedatangan Geri, kuputuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi kamarku.
Seusai mandi, aku terduduk kembali di tepi tempat tidurku. Sekelebat bayangan dan suara teriakan terlintas di benakku.
“Mas Fariq tolong jangan sentuh aku!!!”
“Mas, tolong jangan lakukan itu. Tolooong, toloooong!!!!”
“Aku mohon mas, aku istri adikmu. Aaaaaaarrrggghh!!!”
Aku ingat sekarang, itu suara seorang wanita yang melawanku semalam. Tidak salah lagi, pasti itu Dira! Ya Tuhan, bagaimana keadaannya sekarang? Aku gusar menantikan Geri yang tak kunjung tiba, berkali-kali kucoba menelepon Dira tapi tetap tidak tersambung. Apakah Dira pergi dari rumah ini?
Geri datang setelah 20 menit aku mendapatkan ingatanku. Tak kuhiraukan sapaannya, terburu aku ke kamar Dira untuk memastikan semuanya. Kosong. Dira tidak ada di kamarnya, juga di ruangan lain. Geri terlihat bingung menyaksikanku berlarian, aku pun tak kalah bingungnya mendapati rumah begitu sunyi.
Kemana Dira? Kuputuskan kembali ke kamarnya lalu membuka lemari pakaian yang ada disana. Tepat, seluruh pakaiannya telah tiada di dalam kotak penyimpan pakaian itu. Kakiku melemah, tanpa perlu ditanyakan lagi semua bukti sudah menjawab apa yang terjadi semalam
“Riq, lo kenapa?” Tanya Geri yang ternyata mengikutiku sampai di pintu kamar Dira.
“Dira pergi, Ger.” Jawabku datar.
“Maksudnya?”Geri semakin penasaran.
“Gue.. Melecehkannya semalam. Saat gue mabuk, gue berbuat lancang ke Dira. Dan sekarang, dia pergi.” Jawabku terbata-bata. Ada sesal yang terungkap di setiap kalimatku, namun kenyataannya sesal itu sama sekali tidak bernilai di mata siapapun, termasuk aku. Aku menyayangkan kebodohanku.
“Gila, lo!” Geri ikut memakiku.
“Antar gue, Ger.” Ajakku saat suatu tempat terlintas di benakku.
“Kemana?”
“Ke rumah orang tua Dira.” Jawabku singkat.
“Hah?”
Pagi itu kami berdua benar-benar ke Madiun, rumah orang tua Dira. Aku pernah kesana sebelumnya beberapa kali saat masih dekat dengan Jeni dan saat ada tujuan tertentu. Semoga Dira benar-benar ada disana, semoga Dira baik-baik saja meski aku yakin dia pasti sangat muak melihatku.
**
Lamunanku terhenti, ponsel yang sedari tadi tersimpan di dalam saku jaket berbunyi nyaring. Ada telepon masuk rupanya.
"Ya." Sahutku saat benda pipih itu kudekatkan ke telinga.
"Mas Fariq lagi ngapain?" Suara adik perempuanku, Febi.
"Lagi kerja." Jawabku singkat.
"Ih, bohong banget. Barusan aku telpon Mas Farhan katanya Mas Fariq nggak di kantor." Febi mencecarku di seberang sana. Sebagai anak bungsu dia memang seringkali manja padaku maupun Farhan. Meski kini telah menjadi seorang ibu, Febi masih saja sering menelponku untuk sekedar bertanya apa yang sedang kulakukan.
"Ya kerja kan nggak harus di kantor, Feb. Mas ada di Taman Bungkul, ada kerjaan yang harus Mas Fariq tangani." Ucapku berbohong.
"Yaaah, sayang banget padahal Riana pengen ketemu sama pakdhe-pakdhe nya ini. Tadi tanya Mas Farhan juga katanya masih kerja, sekarang tanya Mas Fariq juga sama." Keluh Febi sambil membawa nama anaknya untuk dijadikan alasan bertemu.
"Memangnya kamu dimana sekarang?"
"Rumah mama, Mas. Aku baru sampai ini. Rumah sepi banget nggak ada Mbak Dira." Aku tertegun dengan satu nama yang disebut Febi. Dira telah pergi dari rumah orangtuaku, entah Dira sempat menghubungi mama atau tidak sebelum memutuskan keluar dari rumah itu. Dan entah apa alasan yang dikatakan Dira jika memang ia sempat berpamitan.
"Dira kemana?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Kata Mas Farhan sih Mbak Dira pulang ke rumah ibunya, karena ibunya sakit. Aku mau hubungin Mbak Dira tapi kayaknya nomernya ganti, atau kalau nggak gitu ya pas nggak ada sinyal. Nanti deh aku coba hubungin lagi. Soalnya Mama udah kangen banget ini sama menantu kesayangannya."
Aku memijit keningku sambil memejamkan mata, berusaha mengurai satu persatu masalah yang akan aku hadapi setelah ini. Belum usai keterkejutanku tentang kehamilan Dira, kini aku baru ingat jika ada Mama yang sangat menyayangi Dira. Semoga tidak terjadi hal buruk di kemudian hari jika Mama mengetahui semuanya, mengingat Mama pernah menjadi pasien stroke.
"Ya mungkin Dira sekarang lagi sibuk jagain ibunya. Udah kamu disitu dulu aja. Besok kalau urusan Mas udah selesai kita jalan-jalan bareng, ya. Udah lama Mas nggak ngajak Mama keluar." Ucapku setelah menghembuskan nafas dengan keras, sedikit lega rasanya.
"FYI ya Mas Fariq yang ganteng, adekmu yang cantik ini cuma seminggu disini, jangan sampai PHP kayak yang udah-udah ya bilang mau keluar tapi ternyata cuma mampir minum ke rumah!" Protes adik bungsuku, aku yang diprotes pun tersenyum kecil mendengarnya. Ya, seringkali kepercayaan diriku hilang saat berada di rumah Mama. Tentu saja karena ada Dira dan Farhan yang sangat serasi di mataku. Aku seringkali memilih pergi supaya tidak bersitatap dengan Dira, karena jujur hati ini masih berdesir ketika melihatnya.
"Iya Mas janji deh kita bakal keluar bareng, Mas kabarin kalau mau kesana." Ucapku berjanji.
"Oke deh ditunggu kabar baiknya Pak Bos. Ingat jangan keasikan kerja, ada seorang ibu yang nggak sabar diajak sowan ke calon besan soalnya. Hahahahhaha." Febi tertawa keras di seberang sana, hatiku ikut terkekeh merenungi nasibku.
Kukembalikan ponsel ke saku jaket seperti semula, setelah ini aku harus meninjau pekerjaan yang ada di Surabaya Timur. Nanti akan aku pikirkan bagaimana caranya untuk bisa menemui Dira kembali. Yang pasti aku harus bisa membuatnya yakin bahwa aku akan selalu ada untuknya, meski bukan sebagai siapapun dalam hidup wanita itu.