Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang
Aku terbangun oleh suara jeritan dan isak tangis. Saat mataku perlahan terbuka, aku menyadari bahwa aku berada di semacam gudang terbengkalai—tempat yang mengerikan dan berdebu, penuh coretan grafiti dan serangga, bahkan mungkin ada tikus. Kaki dan tanganku terikat, mulutku tertutup lakban. Di sebelahku ada sekitar tujuh perempuan, semuanya muda; aku bisa melihat mereka semua cantik atau bertubuh indah.
Jeritan itu datang dari ruangan di sebelah. Terdengar rintihan dan isak, "kumohon, jangan sakiti aku, aku tak mau, lepaskan aku, tolong lepaskan." Lalu terdengar satu jeritan yang sangat keras, disusul tawa beberapa pria. Sudah jelas apa yang sedang terjadi: para babi keparat itu tengah memperkosa seseorang di ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka keluar. Pria bertampang menjijikkan, sedang membetulkan celana dan kemejanya, dengan seringai di wajahnya. Ketika ia melihatku memperhatikannya, ia mendekat. Dengan napas bau rokok dan cognac pahit, ia berkata:
"Kau yang akan jadi tuan putri berikutnya. Jangan khawatir, kau pasti akan menyukainya—kau bahkan akan memohon lebih padaku. Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu di metro."
Ann baru menyadarinya: pria itu adalah bajingan dari metro. Ia telah menguntitnya. Gara-gara pria itulah ia berakhir di sini, dan ia semakin membencinya.
Dari ruangan itu keluar pria lain, bertubuh besar dan bertampang preman. Ia membetulkan celananya lalu membentak rekannya.
"Rick, apa-apaan kau? Bukankah sudah kubilang kau tak boleh menyentuh mereka—tidak sampai si Rosa yang tolol itu datang memeriksa mereka. Kita takkan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Mereka bisa lebih mahal kalau belum dipakai. Dan kalaupun yang ini bukan perawan, kali ini aku yang mengambilnya lebih dulu. Kau sudah dapat yang sebelumnya, sekarang giliranku. Kalau kau begitu bernafsu, lampiaskan saja pada si tolol yang ada di dalam kamar itu."
Rick menyeringai; ia berharap bisa menyentuh Ann sebelum menjualnya. Ia kembali ke ruangan, dan dari dalam terdengar jeritan, "jangan, kumohon, jangan lagi." Pria itu menutup pintu, dan para gadis di luar mulai menangis. Betapa menyedihkan nasib yang menanti mereka di tangan para binatang itu.
Menjelang senja, seorang wanita muda muncul. Ia mengenakan seragam perawat dan menatap kami dengan secuil rasa bersalah, tapi tak berkata apa-apa. Rick menghampirinya dan memintanya memeriksa kami. Wanita itu menurut: ia memeriksa tubuh setiap gadis, melihat payudara mereka, mengambil sampel darah, dan akhirnya melakukan pemeriksaan ginekologi.
Ketika giliranku diperiksa, aku merasa dinodai. Wanita itu tak punya setitik pun rasa iba. Ia mengambil darahku, dan saat memeriksaku, aku bisa merasakan tangannya menyusup di antara kedua kakiku hingga sedikit melukaiku. Sungguh mengerikan disentuh oleh wanita itu.
Setelah selesai memeriksa semuanya, ia memanggil pria yang satu lagi—Ann tahu namanya Joan. Ketika Joan mendekat, perawat itu menunjuk tiga gadis, termasuk Ann, dan mengatakan bahwa mereka masih perawan. Joan menatap Ann dengan geram, tapi Ann justru merasa lega. Setidaknya untuk saat ini ia aman.
Perawat itu pergi, lalu Rick muncul membawa makanan: piring-piring berisi ayam dan nasi. Ia meletakkannya di depan kami dan berkata:
"Aku akan melepas ikatan dan lakban kalian supaya bisa makan. Jangan macam-macam. Kalau ada yang berani menjerit atau sekadar mencoba sesuatu, kutembak—atau lebih parah, aku sendiri yang akan menyeretnya ke kamar sebelah, dan dia takkan cuma diperkosa olehku, tapi oleh semua anak buahku. Paham?"
Kami semua mengangguk. Ia melepas lakban dan ikatan kami. Kami makan dalam diam, dan setelah selesai, ia mengikat kami kembali. Syukurlah ia tak memasang lakban itu lagi, tapi rasa takut begitu mencekam hingga kami tak sanggup bersuara.
Beberapa jam kemudian perawat itu kembali membawa hasil analisis darah dan menyerahkannya kepada Joan. Joan memeriksanya, lalu menjambak rambut salah satu gadis di sebelahku dan menyeretnya keluar dari gudang. Terdengar jeritan gadis itu, disusul sebuah tembakan, dan Joan kembali seorang diri dengan tangan berlumur darah. Segalanya menunjukkan bahwa ia telah membunuh gadis itu.
Rick bergegas keluar dari ruangan, sedang membetulkan celananya lagi, dan dengan panik bertanya pada Joan:
"Apa-apaan kau? Apa yang barusan kaulakukan?"
"Jalang itu mengidap HIV," jawab Joan. "Dia tak ada gunanya buat kita. Klien tak sudi membeli barang yang sakit, apalagi yang begituan."
"Aku tahu, tapi dia seksi," sahut Rick. "Aku bahkan sempat berpikir untuk menidurinya."
Ann mulai menangis tanpa suara. Apa yang akan terjadi padanya sekarang? Ia nyaris tak bisa memejamkan mata, dicekam ketakutan yang teramat sangat.
"Bagaimana aku bisa berakhir di neraka ini? Tuhan, kumohon selamatkan aku. Aku tak mau mati di sini, aku tak mau para babi itu menyentuhku. Keluarkan aku dari tempat ini."