Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI SANG KAISAR
Setelah menemui Kaisar, aku kembali ke ruangan yang diberikan kepadaku di dalam istana.
Aku mulai memikirkan alasan sebenarnya mengapa Kaisar mengirim putrinya, Elinor, untuk pergi bersamaku.
Kenapa dia sampai mengirim putrinya sendiri ke wilayah timur? Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Kaisar?
Namun, daripada terus memikirkan sesuatu yang belum tentu penting, aku mengalihkan pikiranku pada hal yang lebih mendesak.
Kekuatan Kekaisaran Varellion... apakah mereka benar-benar mampu bertahan jika aliansi dari wilayah barat menyerang dengan kekuatan penuh?
Beberapa menit kemudian, sebuah rencana muncul di kepalaku.
Aku segera memutuskan untuk membantu Kaisar.
Aku keluar dari ruangan dan menemui Kaisar secara tertutup.
"Maaf, Yang Mulia, karena aku menemui Anda selarut malam ini."
Kaisar yang masih berada di ruangannya menoleh kepadaku.
"Tidak masalah. Ada apa? Mengapa kau ingin menemuiku selarut ini?"
Aku menjawab dengan tenang.
"Aku ingin memberikan dukungan untuk menghadapi pasukan musuh di wilayah barat."
Kaisar tampak terkejut.
"Memberikan bantuan? Apa maksudmu? Bukankah kau sedang sibuk menangani wilayah timur?"
Aku menjawab dengan datar.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari wilayah timur, Yang Mulia. Pasukanku sudah berhasil membangun kembali Benteng Kedua, Ketiga, dan Keempat."
Kaisar terdiam mendengarkan penjelasanku.
"Bantuan ini merupakan bukti kesetiaanku kepada Kekaisaran Varellion."
Aku kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Kaisar.
"Yang Mulia... kita memiliki ambisi yang sama. Aku berharap kita bisa melangkah bersama untuk menyatukan seluruh benua."
Kaisar langsung melirikku dengan tatapan serius.
"Jelaskan rencanamu."
"Aku akan mengirim beberapa orang untuk membantu Yang Mulia. Aku akan mengirim beberapa jenderal terkuatku ke medan perang."
Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Namun, sebagai gantinya, aku membutuhkan bantuan Yang Mulia berupa prajurit yang akan dipimpin oleh para jenderal yang kukirim."
Kaisar mengangkat alis.
"Jadi, kau memiliki banyak orang hebat di bawahmu? Sampai-sampai kau hanya perlu mengirim beberapa jenderal?"
Aku mengangguk.
"Kekuatan orang-orang yang akan kukirim setara dengan Ksatria Rank S. Bahkan, beberapa dari mereka jauh lebih kuat daripada Rank S Kekaisaran."
Kaisar terdiam.
Ia tampak memikirkan perkataanku selama beberapa menit.
Akhirnya, ia mengangguk.
"Baiklah. Aku menyetujui permintaanmu."
Aku juga segera menambahkan satu hal.
"Namun, aku ingin pertemuan kita malam ini dirahasiakan, Yang Mulia."
"Tentu saja."
Aku kemudian mengeluarkan beberapa benda dari penyimpanan.
"Aku juga ingin memberikan hadiah kepada Yang Mulia."
Aku menyerahkan sebuah cincin.
"Ini adalah Cincin Pelindung Rank S. Cincin ini mampu menetralkan racun apa pun. Dengan benda ini, racun jenis apa pun tidak akan berguna bagi Yang Mulia."
Mata Kaisar sedikit membesar.
Kemudian aku menyerahkan sebuah zirah.
"Ini adalah Zirah Pelindung Rank S. Serangan fisik maupun tebasan pedang biasa tidak akan mampu menembusnya."
Setelah itu, aku memberikan sebuah pedang.
"Dan ini adalah Pedang Mithril Rank S. Pedang ini mampu mengeluarkan cahaya suci, sehingga dapat memblokir mantra hitam sekaligus menangkis sihir kegelapan."
Kaisar membuka matanya lebar-lebar ketika melihat ketiga benda tersebut.
"Benarkah kau akan memberikan barang-barang langka seperti ini kepadaku?"
Aku hanya menjawab dengan tenang.
"Tentu. Itu demi keamanan Yang Mulia sendiri."
Aku kemudian menambahkan,
"Aku juga akan mengirimkan pengawal pribadi untuk melindungi Yang Mulia, Kaisar."
Kaisar hanya menatapku dengan ekspresi senang.
Kemudian ia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di pundakku.
"Iyan..."
Tatapannya berubah serius.
"Aku ingin meminta satu hal kepadamu."
"Apa itu, Yang Mulia?"
"Lindungilah putriku... Elinor."
Aku terdiam sejenak.
Kaisar kemudian mulai membuka rahasia yang selama ini ia simpan.
"Kekaisaran saat ini telah dimasuki oleh banyak penyusup. Bahkan aku sendiri merasa bahwa beberapa bangsawan mungkin telah mengkhianati Kekaisaran."
Aku hanya mendengarkan dengan saksama.
Kaisar menceritakan semua kekhawatiran yang selama ini membebani pikirannya.
Keadaan Kekaisaran Varellion ternyata jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.
Bahkan, Kaisar sendiri merasa bahwa jika keadaan terus seperti ini, kerajaan yang telah ia bangun bisa saja runtuh dalam waktu yang tidak lama lagi.
Kemudian Kaisar berjalan menuju balkon di lantai paling atas kastil megah tersebut.
Aku mengikutinya.
Sesampainya di balkon, Kaisar berdiri menghadap seluruh wilayah Kekaisaran.
Dari tempat itu, aku bisa melihat luasnya wilayah Varellion yang diterangi cahaya bulan.
Kaisar mulai menunjuk berbagai wilayah yang telah berhasil ia satukan satu per satu.
"Aku sudah menyaksikan kekejaman dunia sejak masih kecil. Bahkan ketika aku masih menjadi putra mahkota."
Ia terdiam sejenak.
"Namun, sebesar apa pun usahaku untuk menyelamatkan orang lain... pada akhirnya, mereka tetap mati."
Aku hanya diam mendengarkan.
Kaisar melanjutkan kisahnya.
"Aku sudah lama kehilangan keluargaku. Ayahku... kakekku... semuanya mati di medan perang."
Tangannya mengepal.
"Ketika aku meratapi kematian mereka, aku akhirnya menyadari satu hal."
"Waktu tidak akan pernah berputar kembali."
Kaisar berdiri tegak di balkon.
Rambut putih panjangnya diterpa angin malam. Mahkota di kepalanya memantulkan cahaya bulan, membuat sosoknya terlihat begitu agung.
Aku menatapnya dengan kagum.
Apakah seperti ini seorang Kaisar yang sesungguhnya?
Bukan hanya seorang penguasa yang duduk di atas takhta.
Namun seseorang yang telah kehilangan begitu banyak hal, tetapi tetap berdiri dan terus memimpin.
Aku kemudian menghampirinya.
"Yang Mulia."
Kaisar menoleh.
"Aku akan membereskan para pengkhianat itu."
Tatapan Kaisar menjadi tajam.
"Namun, aku membutuhkan dukungan dari Yang Mulia."
Aku melanjutkan dengan suara rendah.
"Seberapa besar pun kerusakan yang mungkin terjadi akibat tindakanku dan bawahanku ketika membantai para pengkhianat itu..."
Aku menatap mata Kaisar.
"Pura-puralah tidak melihatnya."
Kaisar terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menoleh kepadaku dan berkata dengan tegas,
"Selama kau melindungi putriku, Elinor, Kekaisaran Varellion akan selalu mendukungmu, Baron Iyan."
Aku mengulurkan tanganku.
Kaisar menggenggam tanganku.
Kami pun berjabat tangan.
Sebuah kesepakatan telah dibuat.
"Terima kasih atas bantuan dan hadiah yang telah kau berikan kepadaku, Iyan."
"Sama-sama, Yang Mulia."
Aku kemudian membungkukkan tubuh.
"Kalau begitu, izinkan aku undur diri."
"Beristirahatlah. Kau akan membutuhkan tenaga untuk perjalananmu."
Aku mengangguk dan meninggalkan ruangan.
Beberapa menit kemudian, aku berjalan kembali menuju kamarku.
Ketika aku membuka pintu...
Selena ternyata sudah menunggu di tempat tidur.
"Selena? Kau di sini?"
Selena tersenyum.
"Tentu saja, Tuan. Karena hanya aku yang memiliki akses untuk melindungi Tuan dari jarak sedekat ini."
Aku hanya menggaruk kepalaku.
"Baiklah..."
Aku kemudian berbaring di tempat tidur.
Selena yang mengenakan pakaian tidur mulai mengelus kepalaku seperti biasa.
Perlahan, rasa lelah mulai menguasai tubuhku.
Namun, sebelum tidur, aku membuka hologram sistem.
Aku ingin melihat perkembangan Benteng Keempat.
Di dalam layar hologram, aku melihat Serof sedang memimpin pasukan pohon dan para skeleton yang telah berkumpul di Benteng Keempat.
Mereka membangun banyak parit di sekitar benteng.
Sebagian prajurit berjaga di atas tembok.
Sebagian lainnya menjaga gerbang.
Bahkan beberapa prajurit ditempatkan di menara-menara tinggi untuk mengawasi pergerakan musuh dari kejauhan.
Aku memperhatikan kondisi Benteng Keempat.
Ternyata Benteng Keempat jauh lebih besar dibandingkan Benteng Ketiga, Kedua, dan Pertama.
Semakin jauh aku mempertahankan wilayah timur dan semakin dalam aku bergerak ke wilayah tersebut, semakin besar pula ukuran benteng yang kutemukan.
Aku juga melihat orang-orang yang telah diselamatkan dari Benteng Keempat.
Mereka kini mulai berbaur dengan penduduk lainnya.
Tanpa kusadari... aku sudah memiliki cukup banyak penduduk.
Aku kemudian memberikan perintah kepada clone-ku yang berada di Benteng Keempat.
"Persiapkan semuanya untuk perang berikutnya."
Target selanjutnya adalah Benteng Kelima.
Aku memperkirakan peperangan akan dimulai bulan depan.
Aku juga memutuskan untuk memberikan perlengkapan terbaik kepada clone-ku.
Aku mengenakan zirah Rank SSR full-body kepadanya, membuat seluruh tubuhnya tertutup oleh armor.
Bukan hanya zirah.
Pedang, perisai, jubah hitam, helm perang, dan seluruh perlengkapannya juga merupakan item Rank SSR.
Bahkan helmnya memiliki tanduk naga.
Ketika clone-ku mengenakan seluruh perlengkapan tersebut, sosoknya benar-benar terlihat seperti seorang Raja Iblis.
Aku tersenyum melihat penampilannya.
Hahaha...
Itu benar-benar cocok untuk clone-ku.
Akhirnya, aku merasa sudah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.
Aku menutup hologram sistem.
Perlahan, mataku mulai terpejam.
Dan akhirnya...
Aku tertidur dalam pelukan Selena.