Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
yang bisa di ucapkan
Dimas sudah menunggu di depan studio ketika alya kembali menyeberang jalan, amplop dari reza masih di tangannya. Ia tidak langsung bertanya apa-apa, hanya membuka pintu studio dan membiarkan alya masuk lebih dulu, seperti tahu bahwa alya butuh waktu sebentar sebelum bercerita semuanya dengan runtut.
Rani sudah pulang sore itu, jadi studio itu kosong selain mereka berdua hanya lampu meja kerja alya yang menyala, menyinari sisa-sisa mood board klien yang tersebar dari hari-hari sibuk minggu ini.
Alya duduk di sofa kecil dekat jendela, meletakkan amplop itu di meja, dan mulai bercerita soal permintaan maaf reza, soal rencana resign-nya, soal pembatalan NDA yang selama ini jadi rantai tak terlihat yang membuatnya takut menggunakan bagian dari dirinya sendiri.
Dimas mendengarkan tanpa memotong, duduk di sofa seberangnya, matanya tak lepas dari wajah alya yang bercerita dengan nada yang campur aduk lega, tapi juga masih menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai.
"Kamu percaya dia?" tanya dimas akhirnya, setelah Alya selesai bercerita.
"Aku nggak tau," jawab alya jujur. "Bagian dari aku mau percaya, karena rasanya capek banget nyimpen amarah itu terus-terusan. Tapi bagian lain masih inget gimana rasanya waktu dia dulu nggak peduli sama sekali ke aku delapan tahun itu nggak bisa langsung ilang cuma karena satu permintaan maaf di kafe."
"Kamu nggak harus langsung maafin dia," kata Dimas pelan. "Atau bahkan nggak harus maafin sama sekali kalau kamu nggak mau. Yang penting kamu udah nggak lagi hidup dalam bayang-bayang dia Itu yang keliatan beda dari kamu sekarang, dibanding kamu yang aku kenal minggu lalu."
Alya menatapnya, sesuatu di matanya melunak. "Kamu selalu tau cara ngomong yang bikin aku ngerasa nggak harus buru-buru nyelesain semuanya."
"Karena aku belajar itu dari kamu," kata dimas, tersenyum kecil. "Kamu yang ngajarin aku, nggak semua kalimat butuh dibalas segera."
Mereka duduk diam sebentar, hanya suara kipas angin studio dan lalu lintas samar dari jalan di luar alya menatap amplop di meja, lalu menatap Dimas lagi.
"Aku mau tanya sesuatu," katanya, "dan aku pengen kamu jujur, bukan cuma bilang yang enak didenger."
"Oke," kata dimas, duduk lebih tegak.
"Minggu ini," kata alya, "kamu ngeliat sisi paling berantakan dari aku bukan cuma soal krisis bisnis, tapi soal masa lalu yang aku sembunyiin bahkan dari kamu selama enam bulan kita deket kamu nggak kabur. Kamu malah tetep di sini, bantuin aku hadepin semuanya." Ia menghela napas. "Kenapa?"
Dimas diam sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti tahu jawaban ini penting untuk dijawab dengan benar, bukan sekadar kalimat manis.
"Karena aku nggak jatuh cinta ke versi kamu yang sempurna dan nggak punya masalah," katanya akhirnya. "Aku jatuh cinta ke cara kamu kerja keras bangun sesuatu meski kamu punya luka yang belum sembuh ke cara kamu tetep milih jujur minggu ini, walaupun itu jauh lebih gampang buat terus sembunyi minggu ini bukan bikin aku ragu sama kamu, alya Ini justru bikin aku makin yakin."
Alya menatapnya lama, matanya mulai berkaca untuk kesekian kalinya minggu ini, tapi kali ini bukan karena lelah atau takut.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku juga makin yakin, dimas."
Dimas bergeser mendekat, duduk di sofa yang sama dengan alya, tangannya meraih tangan alya yang masih memegang ujung amplop dari reza.
"Jadi," katanya, "gimana kalau kita anggep amplop ini bukan cuma penutup satu bab masa lalu kamu tapi juga awal dari bab baru yang bener-bener kamu yang nulis sendiri dan kalau kamu mau, aku pengen jadi bagian dari bab itu, bukan cuma sebagai rekan bisnis."
Alya tersenyum, senyum penuh yang jarang muncul di wajahnya sejak semua kekacauan minggu ini dimulai. "Kamu ngajak aku pacaran di tengah-tengah studio yang berantakan bekas krisis seminggu, Dimas?"
"Aku nggak pernah bilang aku romantis," kata Dimas, tertawa kecil, meski matanya serius. "Tapi aku juga nggak mau nunggu momen yang 'lebih pas', karena minggu ini ngajarin aku, kadang momen yang pas itu nggak pernah dateng kalau kita terus nunggu."
Alya menatapnya lama, lalu menggenggam tangan Dimas lebih erat.
"Iya," katanya sederhana. "Aku mau."
Di luar jendela studio, lampu-lampu Sudirman mulai menyala satu per satu seiring senja turun, dan untuk pertama kalinya sejak nama Vertex Capital muncul dalam hidup mereka, baik alya maupun dimas merasa mereka punya waktu untuk bernapas bukan karena semua masalah sudah selesai sepenuhnya, tapi karena mereka menghadapinya bersama dan itu mereka berdua sadar adalah kemenangan yang jauh lebih berarti dari sekadar mempertahankan klien.