Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah Sama Dupa
Hasil laboratorium sampel tanaman yang menghitam di kebun Mang Hari akhirnya keluar seminggu setelah pengambilan sampel. Razka datang membawa berkas hasil pemeriksaan itu dengan wajah yang tampak bingung sekaligus penasaran, sesuatu yang jarang terlihat dari lelaki yang biasanya begitu percaya diri dengan pengetahuan pertaniannya.
"Ini aneh banget, Mang. Hasil labnya nggak nemuin kandungan penyakit atau hama spesifik apapun. Struktur tanahnya juga normal, cuma ada kandungan mineral asing yang sebenernya nggak lazim ada di lahan sini," jelas Razka sambil menyerahkan berkas itu pada Mang Hari yang duduk di teras bersama Bik Tati dan Raya.
"Mineral asing gimana maksudnya, Kang?" tanya Bik Tati penasaran.
"Jadi ada kandungan semacam serbuk besi campur bahan organik yang nggak biasa dipake di pertanian, Bu. Kayak... entahlah, saya sendiri bingung ini asalnya dari mana. Kalau dari pupuk kimia biasa mah nggak mungkin, komposisinya beda jauh. jawab Razka jujur, menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kebingungan.
Raya yang mendengarkan penjelasan itu merasakan firasat buruknya kembali menguat. Serbuk besi campur bahan organik yang tak lazim, entah kenapa terdengar begitu mirip dengan gambaran benda-benda yang biasa digunakan dalam praktik perdukunan yang pernah ia dengar dari cerita Ustad Ahmad.
"Kang, kalau misalnya ini bukan dari bahan kimia atau alam biasa, kira-kira bisa jadi karena ulah orang nggak ya?" tanya Raya hati-hati, mencoba memancing tanpa harus membeberkan kecurigaannya secara langsung.
Razka menatap Raya dengan raut sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Maksud Neng, sengaja ditaburin gitu? Bisa aja sih secara teori, tapi buat apa juga orang sengaja ngerusakin tanaman warga kayak gini? Nggak ada untungnya juga, apalagi cuma separo-separo." jawab Razka bingung, meski tak sepenuhnya menutup kemungkinan itu.
"Mungkin aja ada yang iri sama hasil panen Mang Hari dan beberapa warga lain. " celetuk Bik Tati asal, mencoba mencari penjelasan logis yang lebih masuk akal.
Raya hanya mengangguk pelan, tak berani melanjutkan kecurigaannya lebih jauh di depan orang lain. Namun malam itu juga, ia kembali menghubungi Ustad Ahmad, menceritakan hasil laboratorium yang begitu ganjil tersebut.
"Innalillahi, Neng. Kalau bener ada campuran logam kayak gitu, itu ciri khas media pengantar sihir jarak jauh. Biasanya dicampur sama tanah kuburan atau abu kemenyan, tapi kalau diteliti secara ilmiah mah cuma kebaca sebagai mineral asing biasa," jelas Ustad Ahmad melalui telepon, suaranya terdengar semakin waspada, "Neng harus lebih hati-hati sekarang. Sepertinya orang yang ngirim gangguan itu udah tau persis Neng ada di mana."
Mendengar penjelasan itu, tubuh Raya kembali dingin. Ketakutan yang sempat mereda selama beberapa minggu terakhir kini merayap kembali, membawa serta bayangan-bayangan mengerikan yang selama ini coba ia lupakan.
🌾🌾🌾🌾
Meski dibayangi kecemasan, kedekatan Raya dan Razka justru semakin bertambah erat seiring berjalannya waktu. Lelaki itu kini semakin sering menawarkan diri untuk mengantar Raya berkeliling desa, entah untuk sekadar membeli kebutuhan dapur Bik Tati atau menemani Raya mencari sinyal internet yang lebih stabil di dekat kantor kecamatan demi keperluan lamaran kerja.
"Kalau boleh saran, Neng Raya bisa coba apply ke kantor pajak daerah sini, kebetulan lagi buka lowongan buat lulusan akuntansi. Kalaupun Neng cuma sementara di sini, seenggaknya bisa nambah pengalaman kerja lewat pengalaman magang." saran Razka.
" Oh ada loker magang ya, Kang? "
" Ada Neng, saya punya teman di sana. Nanti saya kenalin sama dia, siapa tau bukan cuma magang, tapi bisa diterima kerja di sana. "
" Hatur nuhun ya Kang. "
Dalam perjalanan pulang, motor trail Razka melaju pelan menyusuri jalan setapak yang mulai gelap karena senja mulai turun. Raya yang duduk di boncengan tanpa sadar memegang erat bagian belakang jaket Razka karena jalanan yang cukup berliku dan berbatu.
"Pegangan yang bener, Neng. Ini jalannya emang nggak keliahatan kalau udah mulai gelap." ucap Razka mengingatkan.
Raya akhirnya memberanikan diri memegang pinggang Razka dengan sedikit lebih erat, wajahnya memerah menahan malu meski gelapnya senja cukup menyamarkan rona di pipinya.
Sesampainya di depan rumah Bik Tati, keduanya turun dengan canggung, suasana di antara mereka terasa berbeda dari biasanya, dipenuhi ketegangan manis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Makasih ya, Kang, udah anter aku pulang." ucap Raya pelan.
"Sama-sama, Neng. Eh... Neng," panggil Razka sebelum Raya sempat masuk ke rumah, membuat gadis itu menoleh penasaran.
"Kenapa, Kang?"
Razka tampak ragu sejenak, menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum akhirnya melanjutkan.
"Nanti pas acara Panen Raya, Neng mau nggak jadi pasangan saya buat lomba tumpengan antar RW? Biasanya emang harus berpasangan soalnya " tanya Razka, meski alasan sebenarnya tersirat jelas dari nada suaranya yang sedikit gugup.
Raya tersenyum kecil mendengar ajakan itu, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran soal teror yang mungkin kembali mengintai.
"Mangga aja atuh Kang. " jawabnya akhirnya, memilih untuk sejenak menikmati kebahagiaan kecil yang ditawarkan kehidupan, di tengah kegelapan yang mungkin masih mengintai dari kejauhan.
Razka tersenyum lebar mendengar jawaban itu, matanya berbinar bahagia sebelum akhirnya berpamitan pulang dengan hati yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Namun tanpa mereka berdua sadari, di balik rimbunnya semak di seberang jalan, Mbok Darsih kembali mengintai dari kejauhan, mengamati interaksi hangat antara Raya dan Razka dengan tatapan dingin penuh perhitungan, sebelum akhirnya mengetikkan pesan singkat lainnya kepada Ujang malam itu juga.
[Mbok Darsih: Target deket sama cowok lokal, PNS pertanian. Kayaknya mereka ada hubungan istimewa.Ini bisa jadi senjata baru buat lemahin dia. Kabarin Neng Manda!]
[Mang Ujang : Siap!]
Raya merebahkan tubuhnya di kasur lantai, ia kepikiran sama kejadian aneh yang sudah menimpa Mang Hari dan petani lain sekitar rumah sini. Apa mungkin sihir itu sudah menemukan jalannya untuk menyerang kembali?
" A, kenapa sih Aa harus ketemu sama perempuan ular itu? Hidup Neng jadi berantakan, A. Padahal Neng sudah punya rencana mau ngelamar kerja di sana, tapi malah terdampar di tempat yang jauh. " gumam Raya.
Raya sudah berangsur-angsur ikhlas atas jalan hidup mereka yang tak bisa bersama. Keberadaan Razka membuat ia perlahan lupa akan sakit kehilangan harapan bersama Jaka.
Hidup harus tetap berjalan, entah menua dengan dia atau tanpa peran dia sama sekali.
Dan pada akhirnya Raya harus bangkit untuk dirinya sendiri. Ia harus segera menghapus seluruh mimpi dan cinta yang sempat ia jalin bersama Jaka.
Nyatanya bukan Jack yang akan jadi masa depan Raya. Cintanya Raya-Jaka tak sekuat Romi dan Juliet, cinta mereka masih kalah sama dupa.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target