Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahami perasaanmu sebelum terlambat
Rangga yang sedang bingung dengan masalahnya bahkan tidak peduli dengan langkah kaki yang perlahan mendekat kearahnya.
"Hei! Jangan melamun terus. Keburu dingin tu kopi!" seru Revan, salah satu pelayan di Cafe itu sekaligus satu-satunya teman dekat Rangga. Mereka sudah lama berteman sejak pertama kali Rangga langganan di Cafe itu.
"Ah, kau ini mengganggu saja," ucap Rangga kesal saat kehadiran sahabatnya itu semakin membuatnya pusing.
"Habis ku lihat, sejak tadi melamun terus. Lagi ada masalah ya?" Revan menarik kursi di depan Rangga dan mendudukinya setelah melihat-lihat kalau bosnya tidak ada di tempat. Bisa kena masalah dia kalau ketahuan duduk santai seperti sekarang ini. Revan tidak ingin ayahnya semakin menambah hukumannya. Kalau dia sampai di pecat dari Cafe ini, maka sia-sia saja pengorbanannya selama ini.
"Kurasa kau tahu apa masalahku." jawab Rangga yang bahkan tidak lagi heran dengan kelakuan Revan setiap dia ke Cafe ini.
"Masalah istri dan kekasihmu lagi ya?" tanya Revan lagi yang menebak tepat sasaran. Rangga hanya bisa mengangguk lemah. Revan adalah sahabat Rangga yang bisa dibilang tahu tentang semua masalah hidup Rangga, karena memang Rangga sendiri yang menceritakan semuanya pada dirinya. Terlihat seperti tanpa privasi, tapi Rangga benar-benar merasa aman menceritakan hal se penting itu pada Revan. Rangga bahkan sudah menganggap Revan layaknya saudara kandungnya sendiri.
"Memangnya ada apa? Kenapa dengan mereka?"
"Aku merasa ada yang aneh dengan diriku... Van, apa menurutmu aku terlalu jahat pada Nisa?" Rangga yang terlihat putus asa mencoba menanyai pendapat temannya itu yang terlihat datar dan santai.
"Aku nggak tau! Dia kan istrimu. Tapi kalau boleh jujur, kau memang sudah bersikap jahat padanya. Kau selalu membawa Tiwi ke tempat-tempat indah, termasuk kesini. Tapi kulihat kau tidak pernah sekali pun membawa istrimu. Aku yakin, Nisa bahkan tidak tahu ada Cafe sebagus ini disini." jawab Revan yang tidak lupa dengan kalimat narsisnya di akhir. Mungkin sekalian promosi Cafenya ya.
Mengabaikan kalimat Revan, Rangga menghelakan nafas beratnya.
"Aku merasa sangat bingung sekarang. Entah kenapa, sekarang aku lebih suka memandang senyumnya Nisa." Rangga mengungkapkan apa yang sedari tadi bergelayut dalam hatinya
.
"Apa! Oh... Pantas ku lihat kamu jarang ketemuan sama Tiwi sekarang. Biasanya kalian akan kesini tiga kali dalam seminggu, tapi sudah dua minggu ini aku lihat kamu hanya ketemuan sekali dengannya. Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta pada istrimu!"
"Apa! Ah... Jangan ngaco deh, Van. Aku lagi pusing sekarang, jadi kau jangan menambah rasa pusingku. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Nisa." sanggah Rangga cukup cepat. Reaksinya jelas-jelas mencoba untuk bersikap kalau dia memang tidak menyukai Nisa lebih dari rasa suka seorang sahabat.
"Yah, itu kan hanya pendapatku. Pendapat terbaik yang bisa ku berikan. Ya sudah! Aku harus segera kembali bekerja. Banyak mata tajam yang memandangku sebagai mangsa sekarang..." ujar Revan sembari menatap sekelilingnya dimana sesama rekan kerjanya mulai menatap kearahnya tidak suka. Bagaimana bisa dia yang juga bekerja malah selalu mencuri waktu untuk duduk santai bercengkrama dengan pelanggan.
"Tapi saranku sih, pahami perasaanmu segera sebelum semuanya terlambat. Aku pergi dulu" lanjut Revan saat sebelumnya sudah bangkit dari kursi, namun masih menyempatkan diri untuk memberi saran pada teman baiknya. Sebelum akhirnya dia benar-benar pergi kembali pada pekerjaannya.
"Ya, sana kembali bekerja. Pendapatmu bukannya membuatku tercerahkan malah membuatku tambah pusing!" seru Rangga yang kemudian memegang kedua sisi kepalanya dan membenturkan perlahan ke meja. Dia benar-benar diliputi kebingungan sekarang ini dengan dirinya sendiri. Apa sebenarnya perasaannya terhadap Nisa dan juga terhadap Tiwi. Rangga bahkan tidak berani untuk menyimpulkan lebih terhadap rasa dihatinya.
Revan yang masih saja memperhatikan Rangga dari jauh hanya bisa tersenyum memandangnya. Dia selalu berharap yang terbaik untuk sahabatnya itu. Andai Rangga mau menyadari perasaannya lebih cepat, maka pria itu tidak akan menyesal di kemudian hari. Tapi Revan tidak punya hak untuk memaksa Rangga.
🍀🍀🍀
Hari sudah menjelang sore saat Nisa kini sedang duduk di balkon rumah bertingkat miliknya dan Rangga sambil memegang bros hadiah pemberian suaminya dulu dan juga sebuah bingkai foto keluarganya yang kini berada dalam pangkuannya.
Nisa sedang menunggu suaminya pulang , karena biasanya Rangga pulang di jam sekarang kalau tidak sedang pergi menemui kekasihnya. Tapi kendati begitu, Nisa tetap saja terus berpikir positif. Mungkin Rangga bekerja lembur hari ini, karena itulah mengapa suaminya belum terlihat pulang sekarang ini.
Perlahan air mata kembali meluncur menuruni pipinya yang mulai terlihat tirus saat matanya memandang foto keluarganya yang terdiri dari orang tua, kakak, dan adiknya. Pelan-pelan ingatan Nisa kembali terkenang ke saat dimana dia memberitahukan kesalahannya pada keluarganya. Saat itu ayahnya marah besar setelah mengetahui dia berhubungan di luar nikah. Ayahnya bahkan memukul, menampar, dan menjambak rambutnya yang tertutupi kerudung. Rasa kecewa yang besar membuat ayahnya kehilangan kendali yang memukulnya dengan membabi buta disertai dengan kata-kata penuh kemarahan disetiap lisannya. Nisa hampir saja mati hari itu jika saja kakaknya tidak turun tangan menenangkan sang ayah.
"Maafkan aku ayah!" Nisa menangis mengingat bagaimana ayahnya hilang kendali saat mengetahui anak gadisnya sudah ternoda dan itu akibat diri putrinya sendiri. Kesedihan itu semakin menjadi saat tidak lama setelah pernikahannya dengan Rangga, sang ayah meninggal dunia akibat faktor usia. Meninggalkannya bersama saudara-saudaranya dan bertemu kembali dengan sang ibu yang sudah lebih dulu meninggalkannya saat dia berumur sembilan tahun.
Tangisan Nisa tidak berhenti disitu. Matanya kemudian beralih memandang kearah gambar sang adik, Anita Handayani
"Maafkan kakak, Nita" air matanya terus saja turun saat nisa ingat bagaimana sang adik menghujatnya sebagai wanita murahan yang menyedihkan. Tapi Annisa juga sangat bersyukur, sekarang adiknya menempuh pendidikan di Belanda. Nisa berpikir, mungkin Nita memilih pendidikan di luar negeri agar tidak perlu bertemu dengannya. Dia jelas paham seberapa besar rasa kecewa dan marahnya sang adik padanya. Karena bagaimana pun adiknya Nita begitu mengidolakannya dulu saat kecil, tapi apa yang terjadi setelah dia lulus kuliah. Nisa malah terjerumus dalam dosa besar yang benar-benar tidak pernah terpikir gadis sepertinya akan melakukan hal gila itu.
Dan terakhir, pandangan Nisa beralih pada gambar sang kakak yang terlihat begitu tampan di foto keluarga mereka, Aliandra Handan
"Maafkan aku, kak Ali" ucapnya sambil menyentuh wajah sang kakak di foto. Sosok kakak yang begitu disayanginya dan juga begitu menyayanginya, kakak yang selalu menguatkannya serta kakak yang selalu melindunginya. Tanpa sang kakak, Nisa bahkan tidak tahu apakah masih ada manusia yang peduli padanya di dunia ini.
.
.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean