Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31.Tidak sengaja

Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima memantulkan pendar cahaya kemerahan dan keemasan, menyinari lautan manusia berbusana haute couture yang tengah menikmati alunan musik klasik lembut. Para pebisnis elit, sosialita berbalut berlian, hingga awak media tampak berkerumun di berbagai sudut ruangan.

Namun, perhatian sebagian besar undangan seketika teralih begitu pintu utama ballroom terbuka lebar, menampilkan sosok Damar Diksara yang melangkah masuk dengan menggandeng seorang wanita bergaun emerald green yang memancarkan pesona luar biasa.

Itu adalah Naya.

Meskipun dalam benaknya Naya terus merapalkan doa agar lantai marmer di bawah kakinya tiba-tiba ambles supaya ia bisa langsung pulang, postur tubuhnya tetap ditegakkan anggun. Sentuhan tata rias profesional dan gaun malam berpotongan pas badan itu membuat kecantikan aslinya terpancar tanpa cela. Bisik-bisik kekaguman mulai terdengar dari para tamu undangan yang terpesona melihat kemunculan perdana Naya di hadapan publik sosialita.

Di sisi lain, Damar yang berdiri tepat di sampingnya bisa merasakan jemari Naya sedikit dingin di dalam balutan lengannya. Pria itu menoleh sekilas, menangkap ekspresi tegang di wajah sang istri.

"Tarik napas, hembuskan perlahan," bisik Damar tepat di dekat telinga Naya dengan suara bariton yang rendah dan menenangkan, berusaha meredakan ketegangan gadis itu tanpa melepaskan senyuman formal khas seorang CEO di hadapan para kolega bisnis yang mulai mendekat.

Naya mendengkus pelan, melirik tajam ke arah suaminya dengan sebelah alis terangkat. "Gampang banget ngomongnya, emangnya kaki kamu yang pegal karena harus berdiri pakai sepatu hak tinggi berjam-jam sambil senyum-senyum sok akrab kayak sales asuransi!" balas Naya berbisik tajam, meski ia tetap mempertahankan senyuman manis di bibirnya agar tidak dicurigai oleh wartawan.

Damar mendengkus geli, nyaris tertawa jika saja seorang rekan bisnis senior dari korporasi properti terbesar tidak segera datang menghampiri mereka untuk memberikan ucapan selamat malam.

Sepanjang acara jamuan makan malam formal tersebut, Naya terpaksa memainkan peran sebagai istri sosialita yang baik. Ia berdiri di sisi Damar, melempar senyum formal, dan sesekali mengangguk sopan saat diperkenalkan kepada para petinggi perusahaan. Meskipun terasa melelahkan, Naya merasa cukup puas karena sejauh ini ia berhasil melewati ujian sosial level tinggi tersebut tanpa membuat skandal memalukan.

Menjelang tengah malam, acara jamuan resmi akhirnya usai. Udara malam kota metropolitan menyambut kedatangan mereka begitu mobil SUV mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi meluncur meninggalkan pelataran hotel, membawa Damar dan Naya kembali menuju keheningan mansion Diksara.

Suasana di dalam kabin mobil terasa senyap. Lampu jalanan kota yang berpendar cepat di luar jendela menciptakan garis-garis cahaya yang menari di wajah Damar yang fokus menyetir, sementara Naya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memejamkan mata lelahnya.

Begitu mobil tiba di halaman mansion dan mereka masuk ke dalam kamar utama, Naya langsung melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan kasar, mengeluh panjang sambil memijat-mijat pergelangan kakinya yang terasa hampir patah.

"Aduh... ampun banget deh! Sumpah, kalau tahu bakal disuruh ikut acara formal kayak tadi, mendingan aku lembur nulis draf novel atau nimbun cilok di kamar!" gerutu Naya kesal, berjalan pincang menuju sofa kamar utama sambil melempar pouch kecilnya ke atas meja.

Damar, yang baru saja melepaskan jas formal dan melonggarkan dasinya di dekat lemari pakaian, melirik ke arah Naya dengan tatapan meledek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring.

"Bawel sekali," komentar Damar datar. "Padahal tadi di depan para investor, akting kamu sebagai istri teladan nyaris terlihat sempurna. Hampir saja saya percaya kalau kamu memang menikmati acara itu."

Naya mendengkus, mendelik tajam ke arah suaminya. "Akting, Mas! Itu mah murni tuntutan profesionalisme kerjaan istri kontrak! Kalau aktingku jelek, yang ada nama baik keluarga Diksara tercemar dan kamu bakal pecat aku dari posisi istri bayaran, kan?"

Mendengar kata "istri bayaran" yang meluncur begitu saja dari bibir Naya, sorot mata Damar mendadak meredup. Ada kilatan tidak suka yang melintas di balik manik mata gelap pria itu. Tanpa sadar, langkah kaki Damar membawanya mendekati sofa tempat Naya duduk memijat kakinya.

Pria itu berdiri tepat di hadapan Naya, menundukkan sedikit tubuhnya. "Sampai kapan kamu akan terus membahas soal kontrak dan status bayaran itu, Naya?" tanya Damar dengan suara rendah yang tiba-tiba berubah serius, begitu intens hingga membuat Naya tertegun.

Naya mendongak, mendapati jarak di antara wajah mereka kini sudah terpangkas begitu dekat. Aroma parfum maskulin bercampur udara malam menguar dari tubuh Damar, membuat detak jantung Naya seketika berdegup lebih cepat dari batas normal.

Namun, di detik yang sama, bagian terdalam dari kesadaran Naya langsung membunyikan alarm bahaya besar di dalam kepalanya.

Tunggu! Ingat posisimu! batin Naya menjerit memperingatkan dirinya sendiri. Jangan baper! Jangan sampai hanyut! Kamu ini cuma jiwa dari dunia nyata yang terjebak masuk ke dalam tubuh tokoh novel fiksi ini! Nanti kalau kontrak habis, kamu mau cabut jadi janda kaya, bukan malah jadi budak cinta dari CEO fiktif berdarah dingin ini!

Menyadari situasi mulai berbahaya bagi pertahanan mentalnya, Naya buru-buru memasang ekspresi sinis dan mendorong pelan dada bidang Damar dengan kedua telapak tangannya.

"Ya wajarlah diingat-ingat! Supaya aku nggak lupa sama tujuan utama kita!" elak Naya dengan suara yang sengaja dilebay-lebaykan, berusaha menutupi kegugupannya setengah mati. "Empat bulan lagi, kontrak beres, cek dua miliar cair, aku cabut jadi janda kaya! Titik, nggak pakai koma!"

Damar tidak mundur. Pria itu justru semakin memangkas jarak, seolah tertantang dengan penolakan keras yang ditunjukkan oleh istrinya. Dengan gerakan cepat yang tidak sempat diantisipasi oleh Naya, tangan kokoh Damar mencengkeram lembut tengkuk leher Naya, menahan pergerakan gadis itu agar tidak bisa menghindar lagi.

"Kamu pikir hidup saya semainan itu, Naya?" bisik Damar tepat di depan bibir Naya, suaranya terdengar serak, memabukkan, dan penuh tuntutan. "Kamu pikir saya sudi membiarkan kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi?"

Naya menahan napas. Matanya membelalak kaget melihat wajah Damar yang semakin mendekat. Jantungnya sudah berdegup bagaikan tabuhan genderang perang. Ia ingin mendorong pria itu sekuat tenaga, tetapi tubuhnya mendadak lemas kehilangan daya tahan di bawah tatapan menghipnotis itu.

Dan di detik berikutnya—

Kecelakaan kecil yang sama sekali tidak terduga terjadi.

Saat Naya berniat memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan maut itu secara mendadak, sementara Damar berniat menghentikan perlawanan Naya dengan mendekatkan wajahnya... bibir mereka akhirnya bersentuhan secara telak.

Bukan ciuman romantis yang lembut dan direncanakan. Itu adalah benturan bibir yang canggung, cepat, namun menghasilkan sengatan listrik ribuan volt yang langsung menjalar ke seluruh tubuh seketika.

Deg!

Waktu seakan berhenti berputar selama sepersekian detik di dalam kamar utama yang luas itu.

Naya membelalakkan matanya lebar-lebar, membeku bagaikan patung batu. Sensasi hangat dan lembut dari bibir Damar menempel pas di bibirnya, meninggalkan jejak rasa manis yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dari sosok seorang CEO kulkas dua pintu.

Sementara Damar sendiri langsung menegang kaku. Pria yang terbiasa memegang kendali atas segala hal di dunia bisnis itu kini mendadak kehilangan akal sehatnya. Matanya ikut membelalak kaget sebelum perlahan menutup rapat, merasakan kelembutan bibir Naya yang memicu letupan emosi asing di dalam dadanya—sesuatu yang jauh melampaui rasa penasaran atau sekadar gengsi.

Untuk sepersekian detik, keduanya sama-sama terdiam dalam posisi bibir yang saling bersentuhan, membiarkan debaran jantung yang menggila mengambil alih kesadaran mereka.

Namun, detik berikutnya, kesadaran harafiah sebagai "transmigrator" menyambar kepala Naya bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Gawat! Gawat besar! Aku kan nggak boleh baper! Ini cuma novel! Ini cuma fiksi! Kalau aku baper, habislah sudah skenario jadi janda kaya mandiri!

Dengan sisa-sisa tenaga dan kepanikan yang luar biasa, Naya langsung mendorong dada Damar dengan sekuat tenaga hingga pria itu terdorong mundur dua langkah ke belakang.

Plak! (suara tangan Naya menepis udara panik)

Naya melompat berdiri dari sofa dengan wajah yang sudah memerah padam hingga ke ujung telinga. Napasnya memburu tidak teratur, matanya melotot tajam ke arah Damar dengan ekspresi salah tingkah bercampur marah yang amat kentara.

"M-modus ya kamu, hah?!" seru Naya histeris, menunjuk-nunjuk wajah Damar dengan jari telunjuk yang gemetar hebat, berusaha menutupi rasa malunya yang luar biasa. "Sengaja banget ya memanfaatkan situasi pas kaki aku lagi pegal-pegalnya?! Nggak profesional banget jadi suami kontrak!"

Damar, yang baru saja tersadar dari ketergantungannya, langsung merengut kaku. Pria berdarah dingin itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke samping, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan canggung yang mati-matian ia sembunyikan di balik topeng angkuhnya. Gengsi tingkat dewanya langsung meroket naik menembus awan untuk menutupi fakta bahwa jantungnya sendiri kini sedang berdetak tak kalah kencang dari milik Naya.

"Jangan kegeeran, Naya," balas Damar dengan suara dingin yang sengaja ditegas-tegas kan, meski telinganya tampak sedikit memerah. "Itu murni kecelakaan akibat kamu yang ceroboh tidak bisa diam. Siapa juga yang berniat mencium perempuan cerewet sepertimu?"

Naya mendengkus kesal setengah mati, melipat kedua tangannya di dada dengan dada yang masih naik turun karena panik.

"Kecelakaan your head! Jelas-jelas muka kamu tadi majuin duluan kayak siput kelaparan!" seru Naya ngegas, lalu segera berbalik badan dan ngibrit lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu dengan kencang.

Brak!

Di dalam kamar mandi, Naya menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup rapat. Ia memegang dadanya sendiri yang berdegup kencang luar biasa, lalu menepuk-nepuk pipinya yang panas membara.

Ya ampun, Naya! Sadar, woy! Jangan sampai pertahanan jiwamu runtuh cuma gara-gara ciuman nggak sengaja sama CEO novel fiksi! Target kita cuma satu: empat bulan lagi ambil cek dua miliar, lalu kabur jadi janda kaya! Titik! batin Naya meronta-ronta panik di dalam kamar mandi.

Sementara di luar kamar mandi, Damar berdiri sendirian di tengah kamar. Pria itu menyentuh bibirnya sendiri perlahan, menyunggingkan senyuman miring yang sangat tipis di balik ekspresi datarnya, sementara rasa penasaran dan debaran di dadanya semakin membara tanpa bisa ia hentikan lagi.

_Bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!