Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 13
Kata-kata itu menghantam ulu hati Zivana bagaikan godam besi. Klien luar kota. Sekali lagi, pria itu memilih kebohongan manis dibanding kejujuran yang pahit. Zivana memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kain roknya hingga kusut. Air mata keharuan dan kepedihan menumpuk tebal di pelupuk matanya.
"Mas..." bisik Zivana pelan, suaranya bergetar menahan rintihan.
"Tidak ada hal lain yang mau Mas ceritakan padaku?"
Aidil tersentak pelan. Pria itu menatap samping wajah Zivana dengan pandangan panik, jantungnya berdegup gila-gilaan.
"Cerita apa, Ziva? Tidak ada... Semuanya biasa saja."
Zivana perlahan menoleh, menatap lurus ke dalam iris mata Aidil. Pandangan matanya begitu hancur, penuh luka, namun sarat akan penantian yang sia-sia.
"Maksudku... tentang pekerjaan kemarin," sambung Zivana dengan nada suara paling pilu, memberi Aidil pancingan terakhir.
"Atau... tentang siapa pun yang Mas temui kemarin malam? Tidak ada yang perlu Mas jujurkan padaku?"
Aidil mematung. Tatapan mata Zivana seolah mampu menelanjangi seluruh rahasianya. Namun, bayangan Stela dan ketakutan akan hancurnya rumah tangga ini justru menyegel mulutnya. Aidil menggeleng pelan, mengumbar tawa canggung yang terdengar sangat dipaksakan.
"Tidak ada, Sayang... Sungguh," bohong Aidil lagi, memegang bahu Zivana dengan tangan yang bergetar dingin.
"Mas cuma bertemu klien bisnis. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu tidak percaya padaku?"
Satu tetes air mata akhirnya lolos dan luruh membasahi pipi Zivana.
Harapan itu runtuh sepenuhnya. Kesempatan terakhir yang ia berikan terbuang sia-sia oleh kebohongan Aidil yang tak bertepi. Pria itu bukan hanya membagikan cintanya kembali pada Stela, tetapi juga secara sadar memilih membodohi istri yang telah tulus merawat anak-anaknya.
"Percaya, Mas..." jawab Zivana lirih, sebuah senyuman paling hancur dan pahit terukir di bibirnya.
"Aku percaya... kalau tempatku memang tidak pernah ada di hatimu."
"Ziva, apa maksudmu bicara begitu?!" seru Aidil panik, mencoba merengkuh tubuh istrinya.
"Mas mencintaimu! Mas tidak pernah bohong soal perasaan Mas ke kamu!"
Zivana berdiri dari sofa, menepis halus tangan Aidil. Ia menatap Aidil dengan raut wajah pasrah, raut wajah seorang wanita yang telah menyerah sepenuhnya pada keadaan.
"Kalau Mas memang mencintaiku... Mas tidak akan membiarkan aku berdiri di sini, menunggu sebuah kejujuran yang tidak akan pernah Mas berikan," bisik Zivana parau, tangisnya pecah tanpa suara.
Tanpa menunggu balasan Aidil dan tanpa membongkar rahasia video panas itu, Zivana berbalik melangkah menuju kamar tamu di lantai bawah. Pintu kamar terkunci pelan, meninggalkan Aidil yang berdiri terpaku di ruang keluarga, didera rasa panik dan kebingungan yang mencekam tanpa menyadari bahwa kebohongan yang ia genggam erat justru telah menghancurkan kepercayaan istrinya secara permanen.
Di balik pintu kamar guest house yang terkunci pelan, keheningan merayap begitu dingin dan pekat. Zivana berdiri mematung di sisi ranjang single, mendengarkan ketukan pintu yang panik dari luar disusul suara gagang pintu yang diutar kasar berulang kali.
"Ziva... buka pintunya, Sayang. Mas mohon..." suara Aidil terdengar serak di balik pintu, sarat akan ketakutan yang mencekam.
"Jangan seperti ini, Ziva. Mas minta maaf kalau Mas buat kamu terluka. Bicarakan baik-baik, ya?"
Zivana tidak menjawab. Ia mengusap air matanya yang terus menetes, lalu perlahan memutar kunci dari dalam. Ketika pintu terdorong terbuka, Aidil yang tadinya bersandar pasrah hampir tersungkur ke depan.
Mata Aidil yang merah dan basah langsung menangkap sosok istrinya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Aidil maju dua langkah dan merengkuh tubuh Zivana ke dalam dekapannya secara mendadak. Ia memeluk pinggang Zivana begitu erat, menyembunyikan wajahnya di celah leher sang istri, seolah jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja, Zivana akan menguap hilang.
"Jangan pergi, Ziva..." bisik Aidil terendat-endat, bahunya berguncang hebat oleh tangis penyesalan.
"Mas mohon... jangan diamkan Mas seperti ini. Mas takut sekali..."
Zivana membeku. Ia tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak menepisnya. Kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuhnya. Ia membiarkan Aidil menuntun langkah mereka yang kaku menuju tepi ranjang, merubuhkan tubuh mereka bersama dalam posisi miring.
Di atas pembaringan yang sempit itu, Aidil melingkarkan kedua lengannya makin protektif melingkupi dada Zivana dari belakang. Ia menyusupkan jemarinya di antara jemari dingin Zivana, menggenggamnya erat-erat, seolah berusaha menyalurkan seluruh kehangatan tubuhnya untuk mencairkan dinding es yang membentang di antara mereka.
"Mas di sini, Ziva... Mas selalu ada di sini," bisik Aidil pelan di telinga Zivana, suaranya parau dan bergetar.
"Maafkan Mas yang tidak berguna ini... Maafkan Mas yang selalu buat kamu ragu..."
Zivana memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap embusan napas hangat Aidil yang menerpa tengkuknya justru terasa bagai belati yang mengiris-iris dadanya. Bayangan video ciuman panas di apartemen Stela kembali berputar liar di dalam ingatannya, kebohongan demi kebohongan yang diucapkan pria ini dengan wajah polos dan suara lembut.
Air mata Zivana mengalir deras tanpa henti, membasahi bantal bunga-bunga di bawah kepalanya. Ia membiarkan Aidil memeluknya semalaman, menikmati sisa-sisa kehangatan tubuh pria itu. Mungkin ini adalah pelukan terakhir kita, Mas, batin Zivana merintih dalam keheningan malam yang menyiksa. Pelukan dari pria yang membagikan cintanya untuk wanita lain, sementara hatiku hancur tak berbekas.
"Ziva..." panggil Aidil lirih, mencium lembut pelipis Zivana yang basah oleh air mata.
"Kamu dengar Mas, kan? Mas sayang sekali sama kamu... Kamu ibu terbaik untuk Khaisar dan Amora. Mas tidak bisa bayangkan rumah ini tanpa kamu..."
Zivana menarik napas yang terasa begitu patah-patah dan berat. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap jemari Aidil yang bertaut di jemarinya.
"Mas..." bisik Zivana pelan, suaranya bergema begitu pasrah dan hampa di tengah kegelapan kamar.
"Iya, Sayang? Mas di sini," sahut Aidil cepat, menyapukan pipinya ke pipi Zivana yang dingin.
"Terima kasih untuk pelukan ini," ucap Zivana lirih, sebuah senyuman pahit yang tak terlihat terukir di bibirnya.
"Terima kasih... sudah berpura-pura mencintaiku malam ini."
"Ziva! Mas tidak berpura-pura!" potong Aidil panik, cengkeramannya pada jemari Zivana kian mengencang.
"Mas sungguh-sungguh! Kenapa kamu bicara begitu?!"
Zivana tidak menjawab lagi. Ia kembali memejamkan mata, membiarkan isak tangisnya yang tanpa suara terus mengalir bersama pekatnya malam. Di balik pelukan erat Aidil yang terasa hangat namun penuh kepalsuan, Zivana tahu bahwa secara emosional, ia telah benar-benar melangkah pergi.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home