Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Sopir yang Diremehkan

Hujan tipis mengguyur Jakarta ketika Raka Wijaya berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Wijayakusuma, memegang payung untuk melindungi mobil, bukan dirinya sendiri.

"Raka! Kenapa mobilnya belum dipanaskan? Ibu mau ke kantor sekarang!" bentak Handoko Wijayakusuma dari teras, suaranya menggelegar seperti biasa.

"Segera, Pak." Raka membungkuk sedikit, nadanya datar, tanpa emosi. Ia sudah tiga tahun menjadi sopir pribadi di rumah ini, dan tiga tahun itu cukup untuk membiasakan diri dengan hinaan yang dilontarkan seolah angin lalu.

Dulu, nama "Naga Hitam" membuat seluruh jaringan kriminal Asia Tenggara gentar. Sekarang, namanya hanya "sopir itu" — orang yang bahkan tidak pantas duduk semeja dengan keluarga istrinya sendiri.

Cinta Wijayakusuma, istrinya, turun dari tangga dengan wajah cemas. Diam-diam ia menyelipkan payung ke tangan Raka saat melewati pintu, matanya berbicara lebih banyak daripada mulutnya yang tak berani buka suara di depan ayahnya.

"Kamu nggak apa-apa?" bisiknya, cepat, saat masuk ke mobil.

"Aku baik-baik saja," jawab Raka singkat, menyalakan mesin. Ia sudah lama berhenti menghitung berapa kali ia mengucapkan kalimat itu.

Perjalanan ke kantor keluarga berjalan sunyi. Handoko duduk di kursi belakang, menerima telepon demi telepon dengan nada tegas seorang konglomerat yang membangun kerajaannya dari nol. Sesekali matanya melirik ke kaca spion, menatap punggung menantunya dengan tatapan yang tak pernah berubah: rendah, meremehkan, seolah Raka hanyalah perabotan yang kebetulan bisa menyetir.

Ketika mobil berhenti di lampu merah dekat kawasan bisnis Sudirman, tiga motor berhenti mengapit mobil dari kiri dan kanan. Raka merasakannya sebelum melihatnya — perubahan tekanan udara, cara motor-motor itu memposisikan diri terlalu presisi untuk sekadar pengendara biasa.

"Pak, tunduk," kata Raka pelan, tanpa menoleh.

"Apa—"

Kaca jendela belakang pecah sebelum Handoko sempat menyelesaikan kalimatnya. Seorang pria bertopeng menjulurkan tangan bersenjata ke dalam kabin, mengincar tas kerja Handoko yang berisi dokumen merger perusahaan — dokumen yang, tanpa diketahui siapa pun di keluarga itu, sudah diincar oleh lebih dari satu pihak selama seminggu terakhir.

Yang terjadi selanjutnya berlangsung kurang dari empat detik.

Tangan Raka bergerak dari setir ke pergelangan pria bertopeng itu, memutar dengan sudut yang membuat senjata jatuh sebelum sempat ditembakkan. Pintu mobil terbuka, satu tendangan, dan pria kedua yang mencoba mendekat dari sisi lain terlempar ke aspal. Semuanya senyap, efisien, tanpa satu kata pun — gerakan yang hanya bisa dimiliki seseorang yang pernah dilatih untuk membunuh dalam hitungan napas.

Motor ketiga tancap gas, menghilang ke tikungan sebelum sempat menjadi saksi lebih jauh.

Raka menutup pintu, duduk kembali di kursi kemudi seolah tidak terjadi apa-apa, napasnya bahkan tidak naik.

Di kursi belakang, Handoko duduk membeku, mulutnya terbuka tanpa suara. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia menatap menantunya bukan dengan rasa jijik — tapi dengan sesuatu yang lebih asing: rasa takut yang bercampur tanya.

Cinta menggenggam tangan Raka dari kursi tengah, matanya berkilat campuran antara cemas dan sesuatu yang hampir seperti kebanggaan yang terlalu lama ia tahan.

"Lampu sudah hijau, Pak," kata Raka datar, menginjak gas seolah baru saja tidak melakukan apa pun selain menyetir.

Tapi di kepalanya, satu pikiran berputar tajam: dokumen merger itu bukan target acak. Dan siapa pun yang mengirim tiga orang untuk merampoknya di siang bolong, di jalan seramai itu, bukan orang sembarangan.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!