Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Api dan Darah
Aku tiba di loft Damian bagai hantu. Kerikil dari taman rumah orang tuaku masih terasa menempel di lututku yang lecet, dan gema kata "jalang" berdengung di telingaku bagai bunyi nyaring yang tak mau berhenti. Aku tak punya kunci, jadi kududuk di lantai depan pintu logam itu, memeluk kedua kakiku, menyembunyikan wajah di antara lutut, sementara gaun hijau zamrud yang kini tinggal robekan kotor melilit pergelangan kakiku.
Ketika lift industri terbuka dengan derit logam yang memekakkan, aku tak perlu menoleh untuk tahu bahwa itu dia. Udara berubah menegang, seolah dialiri listrik.
"Alessandra."
Suaranya bukan sapaan, melainkan sebuah vonis. Damian melangkah ke arahku, dan sebelum aku sempat berkata sepatah kata pun, ia mengangkatku dari lantai seolah aku tak punya berat sama sekali. Ia menahanku sesaat di udara sebelum membuka pintu dan masuk sambil menggendongku. Ia meletakkanku di atas meja marmer dapur, di bawah cahaya tajam lampu-lampu gantung.
"Sudah kubilang jangan pergi ke sana." Suaranya begitu pelan hingga membuat bulu kudukku meremang.
"Itu barang-barangku, Damian... nenekku..." Suaraku pecah.
Ia tak mendengarkan dalihku. Mata hitamnya, yang kini menjelma dua sumur kebencian murni, terpaku pada lenganku. Ia mengulurkan tangan, lalu dengan kelembutan yang berlawanan dengan amarah yang menguar dari setiap pori tubuhnya, ia memutar lenganku untuk melihat bekas keunguan jejak jari ayahku.
"Siapa yang melakukan ini?" Ia bertanya. Keheningan yang mengikuti pertanyaannya terasa sepekat kuburan.
"Ayahku. Dia mencengkeramku untuk mengusirku. Mereka menghinaku habis-habisan, Damian... Bianca menyebutku..." Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku. Tangis mencekik tenggorokanku.
Damian mengepalkan tinjunya, dan kudengar buku-buku jarinya berderak. Ia berbalik dan meninju dinding sekuat itu hingga lukisan yang tergantung di sana jatuh dan pecah di lantai. Ia tak berteriak. Ia tetap membelakangiku, bahunya menegang, bernapas bagai binatang terluka yang baru saja menemukan mangsanya.
"Apa yang mereka katakan padamu, Alessandra? Katakan kata-katanya persis." Ia memberi perintah sambil berbalik perlahan. Wajahnya berubah total; urat di lehernya berdenyut, dan matanya berkilat oleh haus darah yang membuatku gemetar.
"Bahwa aku jalang. Bahwa aku menjual diriku cuma-cuma. Bahwa aku daging lelang yang sudah busuk..." Aku terisak, menutupi wajahku dengan kedua tangan.
Damian mendekat hanya dalam dua langkah lebar. Ia memaksa tanganku turun, lalu memegang pinggangku dan menarikku rapat ke tubuhnya. Tubuhnya bagai tembok batu yang panas.
"Tak seorang pun, sama sekali tak seorang pun, boleh menghinamu seperti itu lalu hidup untuk menyombongkannya," desisnya dekat bibirku. "Ayahmu mengira dirinya tak tersentuh hanya karena punya nama keluarga dan beberapa pelabuhan. Dia akan belajar bahwa di duniaku, menyentuh apa yang jadi milikku dibayar dengan nyawa."
"Damian, jangan... aku tak mau masalah lagi..."
"Tak ada lagi masalah, Sayang. Yang ada solusi." Ia menarik ponsel dari saku dan menekan sebuah nomor, matanya tak sekali pun lepas dariku. "Igor. Kerahkan semua orang. Aku mau alamat semua gudang Valente di pelabuhan. Ya, semuanya. Dan siapkan mobil. Kita akan menyalakan api yang akan terlihat sampai ke mansion babi-babi itu."
Ia memutus sambungan, lalu memegang wajahku dengan kekuatan yang penuh nafsu memiliki.
"Besok, ayahmu akan berlutut memohon agar kukembalikan sisa perusahaannya. Dan adikmu... si pirang kosong itu akan kuajari apa arti sesungguhnya terlempar ke jalanan."
"Kenapa kau melakukan semua ini untukku?" tanyaku, mencari sisa kemanusiaan dalam tatapan bajanya.
Damian membungkuk dan menciumku, ciuman yang terasa seperti kepemilikan, seperti besi, seperti sebuah janji yang gelap.
"Karena kamu wanitaku, Alessandra. Dan siapa pun yang menyebutmu jalang, pertama-tama harus belajar bicara tanpa lidah."
Ia mengangkatku lagi dan membawaku ke kamar tidur. Ia menanggalkan pakaianku dengan sebuah desakan yang bukan gairah, melainkan kebutuhan untuk menghapus setiap jejak keluargaku dari kulitku. Malam itu ia memilikiku dengan amarah yang melindungi, menandai tubuhku dengan tangan dan mulutnya, seakan ingin menuliskan namanya di setiap lekuk tubuhku agar tak seorang pun berani menyentuhku lagi.
"Tidurlah," bisiknya berjam-jam kemudian, saat ia mengenakan pakaian serba hitam dan memasang senjatanya di sarung di punggungnya. "Besok nama Valente takkan bernilai bahkan seharga kertas tempatnya tertulis."
Kulihat ia keluar melewati pintu, sebuah bayangan mematikan yang siap menghancurkan masa laluku. Malam itu, sementara kobaran api melahap gudang-gudang ayahku, aku akhirnya paham bahwa Damian Smirnov bukanlah penyelamatku. Ia pemilikku. Dan harga dari perlindungannya adalah kekacauan yang mutlak.