Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang Tumbuh
Sinar matahari sore yang mulai meredup memancarkan warna keemasan melintasi kaca depan mobil sedan putih milik Maya. Kendaraan itu melaju perlahan di tengah kepadatan arus lalu lintas kota. Maya yang berada di balik kemudi berkali-kali melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya.
Arka duduk bersandar dengan sangat santai. Pria itu mengamati pemandangan gedung-gedung tinggi di balik jendela mobil sambil memangku tas dokumen milik Maya. Walaupun hanya mengenakan kemeja polos dan celana kain sederhana, cara duduk dan ketenangan Arka membuat suasana di dalam mobil terasa berbeda.
Maya memegang lingkar kemudi semakin erat. Kejadian di kantor tadi pagi serta rentetan peristiwa aneh sepanjang seminggu terakhir terus berputar di dalam kepalanya bagaikan teka-teki yang kehilangan potongan utamanya.
"Arka," panggil Maya memecah kesunyian di dalam kabin mobil.
Arka menoleh dengan tatapan mata yang tenang. "Ada apa, Maya?"
Maya menghentikan mobilnya tepat di belakang jajaran kendaraan yang tertahan lampu merah. Ia memutar tubuhnya sedikit ke arah Arka, menatap suaminya dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Kemarin waktu acara makan malam di hotel, tim asisten dari Nusantara Group datang membawa berkas akuisisi saham," kata Maya dengan suara yang dipelankan. "Dokumen audit yang mereka bawa sangat detail. Mereka bahkan tahu titik-titik penggelapan dana yang dilakukan Paman Gunawan sampai ke transaksi terkecil."
Arka mengangguk pelan tanpa ekspresi terkejut. "Bukannya itu bagus? Berkas itu membuat Paman Gunawan tidak bisa berkutik lagi di depan para komisaris."
"Iya, itu memang menyelamatkanku," lanjut Maya dengan nada menuntut. "Tapi audit forensik keuangan semacam itu butuh waktu berminggu-minggu, bahkan bulan. Tim akuntan terbaik pun tidak akan bisa menyusun laporan sepresisi itu hanya dalam hitungan jam setelah kita menikah."
Arka tersenyum tipis, merapikan posisi duduknya. "Mungkin Nusantara Group sudah lama mengincar saham Wibowo Group dan memantau Paman Gunawan dari jauh. Pernikahan kita kemarin cuma momen yang pas untuk mereka mengeksekusi rencananya."
Maya menyipitkan matanya, mengamati setiap celah dari raut wajah Arka. Penjelasan itu memang terdengar sangat masuk akal bagi orang awam. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya.
"Lalu bagaimana dengan sikap Pak Wijaya?" cecar Maya lagi. Lampu lalu lintas berganti hijau, dan Maya kembali menginjak pedal gas perlahan. "Pak Wijaya adalah orang kepercayaan pimpinan tertinggi Nusantara Group. Sikapnya pada para pengusaha besar di ruangan itu sangat dingin dan acuh. Tapi waktu dia berdiri di depanmu..."
Maya menggantungkan kalimatnya sejenak, mengingat kembali detail kejadian malam itu.
"Waktu dia berdiri di depanmu, langkah kakinya sempat berhenti dan dia terlihat sangat gugup," lanjut Maya sambil menatap lurus ke jalan raya. "Bahkan saat dia berpura-pura menjadi pemilik bengkel dan melempar uang dua ratus ribu padamu, gerakannya kelihatan kaku dan terpaksa. Seperti orang yang sedang ketakutan."
Arka tertawa kecil, suara tawa beratnya terdengar sangat alami di dalam kabin mobil.
"Kamu terlalu banyak menonton drama, Maya," ujar Arka santai sambil mengibaskan tangannya. "Pak Wijaya itu pengusaha kelas atas yang biasa berhadapan dengan transaksi triliunan rupiah. Wajar saja kalau dia merasa canggung saat harus berpura-pura kenal dengan montir serabutan sepertiku di depan umum."
"Benarkah hanya karena itu?" gumam Maya ragu.
"Tentu saja," jawab Arka pasti. Ia menoleh menatap profil wajah Maya dari samping, pandangannya melunak. "Aku paham kamu sedang tertekan karena masalah perusahaan dan pengkhianatan Rian. Tapi kamu tidak perlu mencurigai semua hal di sekitarmu, terutama hal-hal baik yang datang membantumu."
Maya menghela napas panjang. Kata-kata Arka berhasil menenangkan gejolak emosinya untuk sementara. Namun jauh di dalam hatinya, benih kecurigaan itu tidak padam begitu saja.
Beberapa menit kemudian, mobil sedan putih itu berbelok memasuki halaman rumah tua keluarga Wibowo. Gerbang besi terbuka pelan, dan Maya memarkir kendaraannya di selasar depan.
Saat Maya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama, matanya mendadak menangkap sebuah benda asing yang terparkir di bawah pohon rindang di sudut halaman.
Sebuah sepeda motor sport berkapasitas mesin besar berwarna hitam legam terparkir rapi di sana. Bodi kendaraan itu mengkilap sempurna tanpa ada satu pun goresan, dipadukan dengan knalpot khusus dan pelat nomor istimewa. Nilai motor tersebut jelas mencapai ratusan juta rupiah.
Maya menghentikan langkahnya, menunjuk kendaraan mewah itu dengan raut wajah heran.
"Arka, itu motor siapa?" tanya Maya kaget. "Kenapa ada motor mahal terparkir di halaman rumah kita?"
Arka yang berjalan di belakang Maya sempat menghentikan langkahnya sejenak. Matanya berkilat cepat saat mengenali kendaraan operasional khusus milik salah satu tim pengawal pribadinya yang bertugas memantau area rumah dari jauh. Pengawalnya pasti memarkir kendaraan itu di dalam area halaman karena ada instruksi darurat dari Pak Wijaya.
Namun, dalam hitungan detik, ekspresi Arka kembali berubah menjadi tenang dan polos.
"Oh, itu motor milik teman bengkelku," jawab Arka santai sambil berjalan mendekati motor sport tersebut dan menepuk tangkinya ringan. "Dia meminjamkannya padaku karena motor bebek tuaku sedang masuk servis besar sore ini."
Maya melangkah mendekat, mengamati lekukan bodi kendaraan yang sangat modern dan mewah tersebut.
"Teman bengkelmu punya motor semahal ini?" tanya Maya dengan nada penuh keheranan. "Ini bukan motor biasa, Arka. Harganya bisa buat beli rumah."
Arka terkekeh pelan sambil merogoh kunci dari saku celananya. "Temanku itu penggila otomotif. Dia mengumpulkan spare part bekas selama bertahun-tahun dan merakitnya sendiri di bengkel sampai bentuknya mirip motor mahal. Kelihatannya saja mewah, tapi sebenarnya mesin di dalamnya biasa saja."
Maya menatap suaminya dengan pandangan menelisik. Alasan itu kembali terdengar sangat logis di telinga orang awam, namun kebetulan demi kebetulan yang hadir di sekitar Arka makin lama makin tidak masuk akal.
"Sudah sore, ayo masuk," ajak Arka lembut sambil membukakan pintu depan untuk Maya, mengalihkan perhatian istrinya dari pembahasan kendaraan tersebut. "Aku akan siapkan makan malam untuk kita."
Maya melangkah masuk ke dalam rumah dengan pikiran yang makin bercabang. Setiap kali ia mencoba menggali latar belakang Arka, pria itu selalu memiliki jawaban yang sangat rapi untuk menutupi jejaknya. Maya mengepalkan jemarinya pelan di dalam saku gaunnya. Ia yakin, lambat laun rahasia besar yang disembunyikan oleh suami serabutannya ini pasti akan terkuak juga.
itu.