Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTRI KECIL DI PERKARANGAN BUNGA
Lima kali musim dingin telah berlalu di Hutan Kelam. Salju yang tadinya membekukan pekarangan gubuk kayu kini telah meleleh sepenuhnya, berganti menjadi hamparan padang rumput hijau yang dipenuhi bermekaran bunga lavender dan tulip emas.
Gubuk kayu milik Kayy dan Alya kini tampak lebih hidup dan berwarna. Di teras depan, terdapat ayunan kayu kecil yang tergantung rapi di bawah dahan pohon pinus rindang—sebuah karya pertukangan khas dari skill [Fortify] milik Kayy.
"Elena! Jangan lari cepat-cepat, Nanti jatuh, Sayang!" seru Alya dari tepi teras.
Mantan Saintess itu kini terlihat makin anggun dan memancarkan kehangatan seorang ibu sejati. Ia mengamati pekarangan seraya memegang cangkir teh hangat racikan suaminya.
Di tengah pekarangan wortel emas, seorang anak perempuan berusia lima tahun sedang berlari-lari kecil dengan tawa yang sangat renyah. Anak itu adalah Elena.
Elena tumbuh menjadi gadis kecil yang amat menggemaskan. Rambut cokelat keemasannya yang bergelombang diikat dua dengan pita kain merah, sementara sepasang mata jernihnya memancarkan kepolosan khas anak-anak. Ia mengenakan gaun katun putih berenda tebal yang dibuat khusus oleh Alya.
"Lihat, Ibu! Kupu-kupunya warna emas!" teriak Elena girang, jemari mungilnya berusaha menggapai serangga sihir yang terbang di atas bunga wortel.
Di sisi lain pekarangan, Kayy sedang berlutut memegang cangkul kayu. Pria berusia dua puluh lima tahun itu mengenakan celemek petaninya yang legendaris. Meskipun di luar sana namanya dianggap sebagai sosok entitas misterius berkuasa mutlak, di sini Kayy hanyalah seorang ayah bucin yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan putri kecilnya.
"Hati-hati, Elena. Nanti lututmu tergores rumput," kata Kayy dengan nada super protektif seraya mengawasi setiap jengkal pergerakan Elena dengan indra INT MAX-nya.
Namun, Elena tidak mendengarkan. Langkah kaki mungilnya justru berbelok menuju ke dalam semak-semak lebat di perbatasan segel luar Hutan Kelam—wilayah yang biasanya menjadi tempat berkeliarannya monster-monster hutan.
GROAARRR!
Dari balik semak-semak pinus yang gelap, muncul seekor serigala es raksasa berbulu putih perak. Monster tingkat A-Rank itu memiliki taring sepanjang lengan manusia dan mata merah yang menyala tajam. Serigala itu melompat keluar, mendarat tepat tiga meter di hadapan Elena.
"Elena!" jerit Alya panik, cangkir teh di tangannya hampir saja terjatuh.
Kayy yang berada di ujung pekarangan langsung memasang posisi siaga. Kilatan emas berkedip di matanya. Hanya butuh satu jentikan jari dengan skill [Precision Kinetic] untuk membuat kepala monster itu hancur berhamburan.
Namun, sebelum Kayy sempat mengibaskan tangannya, sebuah kejadian ajaib mendadak terjadi.
Elena bukannya ketakutan atau menangis, ia justru memiringkan kepalanya dengan polos. Mata jernihnya menatap lurus ke arah mata merah serigala es raksasa tersebut.
BZZZZT!
Sebuah pendar aura hijau keemasan yang sangat lembut memancar dari tubuh Elena. Itu adalah [Absolute Animal Affinity]—sebuah bakat pasif bawaan lahir yang tercipta dari perpaduan aura damai pekarangan Kayy dan sihir suci murni Alya. Bagi seluruh monster di Hutan Kelam, sosok Elena memancarkan aroma kehangatan yang amat menenangkan.
Monster serigala es yang tadinya meraung buas mendadak menghentikan ancamannya. Mata merahnya berubah menjadi redup dan lembut. Serigala raksasa setinggi tiga meter itu perlahan berlutut, menundukkan kepalanya yang berbulu lebat tepat di depan kaki mungil Elena.
"Wahhh! Anjing besar!" seru Elena girang tanpa rasa takut sedikit pun.
Jemari mungil Elena mengelus hidung basah serigala es itu. Monster terkuat di Hutan Kelam itu malah mendengkur pelan bagaikan anak kucing yang sedang dimanja, mengibas-ngibaskan ekor raksasanya hingga menciptakan angin sepoi-sepoi di pekarangan.
Kayy dan Alya membeku seketika di tempat mereka berdiri.
"D-Dia... menjinakkan monster A-Rank hanya dengan sentuhan tangan?" gumam Alya tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kayy menarik napas panjang, menepuk dahinya sendiri seraya menghela napas pasrah. "Dasar anak ini... sifat santainya benar-benar mirip denganku."
Elena yang sedang asyik mengelus serigala es tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mendongak menatap serigala itu dengan mata berbinar-binar.
"Anjing besar, aku mau perlihatkan trik sihir yang diajarkan Ibu dan Ayah!" kata Elena bersemangat.
Elena melangkah mundur dua langkah. Anak perempuan berusia lima tahun itu membusungkan dadanya yang mungil, lalu mengangkat kedua tangan kecilnya ke udara. Ia mulai mencoba menyatukan energi sihir elemen dasar yang terkandung di dalam tubuhnya.
"Elemen Cahaya... Elemen Api... bersatu!" cicit Elena membacakan mantra buatan sendiri dengan suara pelat yang lucu.
Dari telapak tangan kanan Elena, muncul bola sihir [Holy Light / Sihir Cahaya] berwarna emas terang bawaan dari darah Saintess Alya. Sementara dari telapak tangan kirinya, muncul percikan kecil [Spark Fire / Sihir Api] merah keemasan.
"Lihat ini! Kembang api!" seru Elena seraya melemparkan kedua elemen sihir dasar itu ke arah langit Hutan Kelam.
Secara teori, gabungan sihir cahaya dan api tingkat dasar milik anak usia 5 tahun harusnya hanya menghasilkan percikan redup yang menghilang di udara.
Namun, Elena tidak menyadari satu hal: Darah milik Kayy mengalir kuat di dalam tubuhnya.
Kapasitas pemrosesan mana dan efisiensi energi mutlak dari status MAX milik Kayy menyatu sempurna dengan sihir elemen dasar tersebut. Saat bola cahaya dan api itu terlontar dari tangan Elena...
WUUUSHHH! BRRRRUUUMMM!
Dua percikan sihir kecil itu mendadak membesar seribu kali lipat! Sebuah gelombang ledakan sihir elemen kombinasi meletus di udara, menciptakan pendar cahaya emas-merah yang amat menyilaukan dan membakar awan-awan di atas Hutan Kelam hingga membentuk lingkaran kembang api raksasa!
BOOOMMMM!
Tekanan angin dari ledakan sihir elemen Elena berhembus kencang, merontokkan dedaunan pohon pinus di sekeliling hutan dan membuat tanah pekarangan bergetar halus.
Serigala es raksasa yang ada di dekat Elena langsung telungkup di atas tanah dengan telinga terlipat ketakutan, sementara Elena hanya bertepuk tangan gembira melihat indahnya kembang api buatannya di langit.
"Yayy! Kembang apinya meletus tinggi sekali!" seru Elena melompat-lompat girang.
Di teras gubuk, Kayy cepat-cepat menggerakkan tangannya, mengaktifkan [Sanctuary Domain] untuk meredam gelombang kejutan sihir Elena agar tidak terpancar keluar Hutan Kelam dan memicu kegemparan di Kerajaan.
Kayy berjalan mendekati putri kecilnya seraya mengusap tengkuk lehernya yang mendadak pegal.
"Elena..." panggil Kayy seraya berlutut di tumpuan kaki putri kecilnya.
Elena menoleh, menyunggingkan senyum paling polos tanpa dosa. "Ayah! Lihat kan? Sihir elemen dasar Elena hebat tidak?"
Kayy menatap Elena, lalu beralih menatap langit hutan yang masih menyisakan pendar sihir raksasa. Pria bercelemek itu tersenyum hangat, mengelus lembut kepala putri kecilnya.
"Iya, hebat sekali, Sayang..." ucap Kayy terkekeh pelan. Dalam hati ia bermonolog, “Sihir elemen dasar dari mananya... Itu tadi daya hancurnya sudah setara sihir tingkat tinggi Kerajaan!”
Alya berjalan mendekati mereka berdua, lalu merangkul bahu Kayy seraya menatap Elena penuh kasih sayang. "Tapi Elena tidak boleh sembarangan melempar sihir elemen seperti itu lagi ya? Kasihan anjing besarnya ketakutan."
Elena menoleh ke arah serigala es yang masih gemetaran di tanah, lalu mengangguk pelan. "Maaf ya, Anjing Besar..."
Serigala es itu menjilat pipi Elena pelan, membuat anak kecil itu tertawa geli.
Kayy menggendong Elena ke dalam dekapan hangatnya, merangkul pinggang Alya dengan tangan satunya seraya berjalan kembali menuju gubuk kayu mereka.
"Yuk, kita masuk. Ayah sudah buatkan kue wortel emas kesukaanmu," ajak Kayy ramah.
"Asyik! Kue wortel!" sorak Elena gembira di dalam gendongan ayahnya.
Di bawah naungan kehangatan matahari musim semi, keluarga kecil itu melangkah masuk ke dalam rumah. Kehidupan damai sang pemilik status MAX, mantan Saintess, dan putri cilik berbakat ajaib mereka kini terasa makin sempurna dan penuh warna di tengah Hutan Kelam.