Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 29 — Jangan Percaya Bahkan Pada Suamimu

Kalimat itu terus berputar di kepala Clara.

Jangan percaya siapa pun.

Bahkan suamimu sendiri.

Tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat.

Tatapannya tertuju pada Fedro.

Pria yang selama ini selalu berada di sisinya.

Pria yang berkali-kali melindunginya.

Pria yang bahkan rela mempertaruhkan nyawanya ketika Clara berada dalam bahaya.

Namun sekarang…

untuk pertama kalinya, sebuah keraguan muncul.

Bagaimana jika semua itu hanya bagian dari rencana?

“Clara?”

Suara Fedro membuatnya tersadar.

Clara segera memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Tidak apa-apa.”

Fedro memperhatikan wajahnya.

“Kamu berbohong.”

Clara terdiam.

Fedro mendekat.

“Aku tahu ekspresi itu.”

Clara mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu membuat Fedro berhenti.

Tatapannya berubah.

“Kamu takut padaku?”

Clara tidak menjawab.

“Clara.”

“Aku tidak tahu harus percaya siapa.”

Suara Clara bergetar.

“Bahkan sekarang aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu.”

Raka dan Rafael yang berada tidak jauh dari mereka ikut terdiam.

Fedro menatap Clara beberapa detik.

Tidak ada kemarahan di wajahnya.

Justru ada luka.

“Karena pesan itu?”

Clara mengangguk.

“Ya.”

“Pesan yang mengatakan jangan percaya suamimu?”

“Ya.”

Fedro menghela napas panjang.

“Kalau aku memang pengkhianat, menurutmu aku akan membiarkanmu membaca pesan itu?”

Clara tidak langsung menjawab.

“Mungkin itu bagian dari rencanamu.”

Fedro terdiam.

Raka melirik Clara.

“Clara, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.”

Clara menatapnya.

“Aku tidak sedang mengambil kesimpulan.”

Ia menunjuk rumah mereka.

“Gabriel diculik dari kamar.”

“CCTV dihapus.”

“Pelayan ditembak sebelum menyebut nama pelakunya.”

“Dan orang yang membawa Gabriel adalah seseorang yang tinggal di rumah ini.”

Clara menarik napas.

“Artinya pengkhianat itu sangat dekat dengan kita.”

Rafael menyilangkan tangan.

“Benar.”

Clara menatapnya.

“Termasuk kamu.”

Rafael tidak tersinggung.

“Aku tahu.”

“Dan termasuk Fedro.”

Fedro menatapnya.

“Aku juga tahu.”

Aria yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Kak Clara…”

Clara menoleh.

“Apa?”

Aria menggenggam ujung bajunya.

“Aku tidak percaya Fedro.”

Clara terkejut.

Fedro ikut menatap Aria.

Aria melanjutkan dengan suara pelan.

“Kalau Kak Fedro memang jahat, dia tidak akan pernah melindungi kita dari Black Viper.”

Raka mengangguk.

“Aria benar.”

Namun Clara masih gelisah.

“Masalahnya bukan apakah Fedro pernah melindungiku.”

Ia menatap suaminya.

“Masalahnya adalah… apakah semua yang dia lakukan selama ini benar-benar karena mencintaiku?”

Fedro terdiam.

Pertanyaan itu seperti menghantam tepat ke dadanya.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Fedro berjalan mendekati Clara.

Ia berhenti tepat di hadapannya.

“Aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu.”

“Tapi aku tahu satu hal.”

Fedro menggenggam tangan Clara.

“Aku mencintaimu.”

Clara menatap matanya.

“Aku tidak akan pernah memaksamu percaya padaku.”

Fedro melepaskan tangannya.

“Kalau suatu hari nanti kamu menemukan bukti bahwa aku berbohong kepadamu…”

Ia menatap Clara dalam-dalam.

“Jangan percaya kata-kataku.”

Clara terdiam.

“Percayalah pada bukti.”

Setelah mengatakan itu, Fedro berbalik.

Namun Clara justru semakin bingung.

Pria itu terlalu tenang.

Terlalu yakin.

Dan itu membuatnya semakin sulit membaca pikirannya.

 

Di ruang bawah tanah, Raka memasang ulang sistem keamanan.

“Semua kamera mati tepat pukul dua puluh satu lewat tiga belas.”

Rafael berdiri di belakangnya.

“Berapa lama?”

“Tiga menit dua belas detik.”

Raka menggeleng.

“Bukan gangguan biasa.”

Clara mendekat.

“Jadi seseorang sengaja mematikannya?”

“Ya.”

“Dari mana?”

Raka menunjuk layar.

“Dari dalam rumah.”

Semua terdiam.

Aria memeluk dirinya sendiri.

“Berarti orang itu memiliki akses ke sistem.”

Raka mengangguk.

“Dan mengetahui kode utama.”

Clara menatap Fedro.

“Siapa saja yang memiliki akses?”

Fedro menjawab,

“Aku.”

Raka menambahkan,

“Aku juga.”

Rafael berkata,

“Adrian.”

Clara terdiam.

“Papi?”

Rafael mengangguk.

“Sebagian sistem lama masih terhubung ke akses keluarga.”

Clara menatap Raka.

“Siapa lagi?”

Raka mengetik sesuatu.

Kemudian wajahnya berubah.

“Ada satu akses lain.”

“Siapa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Clara mendekat.

“Raka.”

Raka menunjukkan layar.

Satu nama muncul.

AMARA EVELLYN.

Clara membeku.

“Mami?”

Amara yang baru masuk ke ruangan langsung terdiam.

Semua mata tertuju kepadanya.

“Kenapa?”

Clara menatap ibunya.

“Mami memiliki akses ke sistem keamanan?”

Amara tidak menjawab.

“Mami.”

Amara menutup mata.

“Ya.”

Clara merasakan dadanya kembali sesak.

“Kenapa Mami tidak pernah bilang?”

“Karena sistem itu dibuat sebelum kalian lahir.”

“Dan Mami masih bisa menggunakannya?”

Amara mengangguk perlahan.

“Ya.”

Clara mundur.

“Jadi Mami bisa mematikan CCTV?”

“Bisa.”

Raka langsung berdiri.

“Kenapa baru mengaku sekarang?”

Amara menatapnya.

“Karena aku takut.”

“Takut pada siapa?”

Amara tidak menjawab.

Clara mendekat.

“Apakah Mami yang membawa Paman Gabriel?”

“Tidak!”

Jawaban Amara terlalu cepat.

Clara memperhatikan wajahnya.

“Mami yakin?”

“Aku bersumpah.”

Clara menghela napas.

“Lalu siapa yang masuk ke rumah?”

Amara menatap Clara.

“Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba—

BIP!

Salah satu komputer berbunyi.

Raka langsung melihat layar.

“Ada koneksi baru.”

“Dari mana?”

Raka memperbesar peta.

Wajahnya berubah pucat.

“Dari rumah ini.”

Clara mendekat.

“Di mana?”

Raka menunjuk satu titik.

“Lantai tiga.”

Semua saling menatap.

Lantai tiga sudah lama tidak digunakan.

Tidak ada kamar yang ditempati.

Raka mengambil senjata.

“Kita naik.”

 

Mereka bergerak menuju lantai tiga.

Koridor gelap.

Hanya cahaya lampu dinding yang menerangi jalan.

Clara berjalan di tengah Fedro dan Raka.

Rafael berada di belakang bersama Aria.

Amara tidak ikut.

Ia tetap berada di lantai bawah.

Ketika sampai di ujung koridor, Raka berhenti.

“Di sini.”

Sebuah pintu kayu tua berdiri di hadapan mereka.

Clara mengerutkan kening.

“Aku tidak pernah melihat pintu ini.”

Fedro mengamati gagangnya.

“Karena pintu ini tidak pernah dibuka.”

Raka menyentuhnya.

Terkunci.

Clara teringat sesuatu.

Ia mengeluarkan kunci burung dari sakunya.

Rafael langsung berkata,

“Jangan.”

Clara menoleh.

“Kenapa?”

“Itu mungkin jebakan.”

Clara menggenggam kunci tersebut.

“Semua yang kita lakukan sekarang adalah jebakan.”

Kemudian ia memasukkan kunci itu ke lubang kecil di pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Udara dingin langsung keluar.

Clara bergidik.

Di dalam ruangan terdapat sebuah meja.

Sebuah komputer.

Dan puluhan foto.

Clara berjalan perlahan.

Ia melihat foto dirinya ketika masih bayi.

Kemudian foto Alena.

Aria.

Amara.

Adrian.

Gabriel.

Rafael.

Bahkan Fedro.

Clara membeku ketika melihat satu foto terakhir.

Foto dirinya dan Fedro saat pertama kali bertemu.

Di belakang foto itu tertulis:

SUBJEK C-01 BERHASIL MENEMUKAN PASANGANNYA.

Clara langsung merasakan tubuhnya dingin.

“Subjek?”

Fedro mendekat.

“Apa itu?”

Clara menyerahkan foto tersebut.

Fedro membacanya.

Wajahnya berubah.

“Clara…”

“Kamu tahu?”

“Tidak.”

Clara menatapnya tajam.

“Jangan bohong.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Raka mengambil foto itu.

“Ini bukan foto biasa.”

Ia membaliknya.

Ada kode lain.

C-01 + F-09

Clara menatap Fedro.

“F-09?”

Fedro menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Rafael tiba-tiba berbicara.

“Bukan kode.”

Semua menoleh.

Rafael mengambil foto itu.

“Ini nomor subjek.”

Clara membeku.

“Subjek apa?”

Rafael menatap layar komputer.

“Proyek E-17.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Clara mendekati komputer.

Layar menampilkan sebuah folder.

E-17 — THREE BLOODLINES

Di bawahnya terdapat tiga nama.

CLARA EVELLYN.

ALENA EVELLYN.

ARIA EVELLYN.

Namun di bawah tiga nama itu terdapat satu nama lagi.

F-09 — FEDRO ALEXSANDER.

Clara mundur.

Fedro menatap layar.

“Aku…”

Ia tidak melanjutkan.

Clara menatapnya.

“Sekarang jelaskan.”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu terdaftar dalam proyek E-17.”

“Aku tidak pernah tahu.”

“Kenapa namamu ada di sana?”

Fedro menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Clara merasakan air matanya mulai jatuh.

Pesan itu kembali terngiang.

Jangan percaya bahkan suamimu sendiri.

“Berarti mereka benar.”

Fedro menatapnya.

“Clara…”

“Kamu terlibat.”

“Tidak.”

“Kamu terlibat dalam E-17.”

“Aku tidak tahu!”

Fedro meninggikan suara untuk pertama kalinya.

Semua terdiam.

Kemudian layar komputer tiba-tiba menyala sendiri.

Sebuah video diputar.

Suara seorang wanita terdengar.

Suara yang sangat Clara kenal.

Ibunya.

“Kalau kalian melihat rekaman ini…”

Clara menahan napas.

“…berarti kunci itu sudah membuka pintu.”

Video memperlihatkan wajah ibunya.

Namun wanita itu terlihat jauh lebih muda.

“Clara, jika kamu sedang bersama Fedro, jangan panik.”

Clara menatap layar.

Fedro juga terpaku.

“Fedro bukan musuh kalian.”

Clara membeku.

Rafael mengerutkan kening.

Kemudian suara wanita itu melanjutkan.

“Namun dia juga bukan orang yang sepenuhnya bebas dari E-17.”

Fedro mengepalkan tangan.

“Apa maksudnya?”

Video terus berjalan.

“Fedro adalah salah satu anak yang pernah menjadi bagian dari proyek tersebut.”

Clara menatap suaminya.

Fedro terlihat sama terkejutnya.

“Dia tidak mengingatnya.”

Clara menutup mulut.

“Tidak mengingat?”

Suara wanita itu terdengar semakin pelan.

“Karena ingatan itu juga telah dihapus.”

Video berhenti.

Layar menjadi hitam.

Clara menatap Fedro.

“Jadi…”

Air matanya jatuh.

“Kamu juga korban?”

Fedro tidak menjawab.

Ia hanya menatap layar.

Namun tiba-tiba—

BRAK!

Pintu ruangan tertutup.

Raka berbalik.

“Siapa?”

Lampu padam.

Kegelapan memenuhi ruangan.

Kemudian terdengar suara dari speaker.

Suara pria.

Dingin.

Tenang.

“Bagus.”

Clara menegang.

“Siapa kau?”

Pria itu tertawa kecil.

“Kalian akhirnya menemukan jawabannya.”

Rafael mengangkat senjata.

“Keluar!”

Suara itu kembali terdengar.

“Kalian mencari ayah kandung Clara, bukan?”

Clara membeku.

“Di mana dia?”

“Dekat.”

“Siapa?”

“Orang yang selama ini kalian anggap keluarga.”

Clara menahan napas.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian layar komputer kembali menyala.

Sebuah video muncul.

Kali ini memperlihatkan ruangan lain.

Alena duduk terikat di sebuah kursi.

Wajahnya penuh air mata.

Di belakangnya berdiri seorang pria.

Wajahnya masih tidak terlihat jelas.

Clara langsung berteriak.

“ALENA!”

Alena mengangkat kepala.

“Kak Clara!”

Clara mendekati layar.

“Alena! Kamu di mana?”

Alena menangis.

“Jangan datang!”

“Siapa yang bersamamu?”

Alena menatap ke belakang.

Tubuhnya gemetar.

Kemudian pria di belakangnya membungkuk mendekati telinga Alena.

Alena langsung memejamkan mata.

“Dia…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Clara menahan napas.

“Siapa?”

Alena membuka matanya.

“Dia bilang…”

Alena menatap kamera.

“…dia ayah kita.”

Clara membeku.

Pria itu perlahan berjalan mendekati kamera.

Wajahnya mulai terlihat.

Sedikit demi sedikit.

Clara menatap layar dengan jantung berdebar.

Namun sebelum wajah itu terlihat sepenuhnya—

layar mati.

Suara pria tersebut terdengar untuk terakhir kalinya.

“Temui aku, Clara.”

“Bawa Fedro.”

Clara menegang.

“Kenapa?”

Pria itu tertawa.

“Karena hanya kalian berdua yang bisa membuka pintu terakhir E-17.”

Kemudian terdengar satu kalimat yang membuat seluruh tubuh Clara membeku.

“Dan setelah pintu itu terbuka…”

Suara itu berhenti sesaat.

“…kalian akan tahu kenapa kalian dipertemukan sejak kecil.”

Layar padam.

Clara menatap Fedro.

Fedro menatapnya kembali.

Untuk pertama kalinya, keduanya sama-sama tidak memiliki jawaban.

Namun di bawah lantai ruangan itu, terdengar suara mekanisme bergerak.

KLIK.

Kemudian lantai perlahan terbuka.

Sebuah tangga menuju ruang bawah tanah muncul.

Raka menyorotkan lampu.

Di dinding tangga terdapat tulisan besar berwarna merah:

E-17 — RUANG ASAL.

Clara menatap tulisan itu.

Rafael tiba-tiba mundur.

Wajahnya pucat.

Clara menyadarinya.

“Rafael?”

Rafael tidak menjawab.

“Kamu tahu tempat ini?”

Rafael menatap Clara.

Kemudian dengan suara bergetar ia berkata,

“Aku pernah berada di bawah sana.”

Clara membeku.

“Kapan?”

Rafael menelan ludah.

“Tujuh belas tahun lalu.”

Clara menatapnya.

“Dengan siapa?”

Rafael menutup mata.

“Dengan ayah kandung kalian.”

Clara tidak mampu berkata apa-apa.

Fedro menatap Rafael tajam.

“Siapa dia?”

Rafael membuka matanya.

Namun sebelum menjawab—

terdengar suara langkah kaki dari bawah tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Seseorang sedang naik.

Semua bersiap.

Clara menggenggam kunci burung.

Kemudian sebuah suara pria terdengar dari kegelapan.

Suara yang membuat Rafael langsung pucat.

“Sudah lama sekali, Rafael.”

Rafael membeku.

Clara menatap ke arah tangga.

Sosok pria itu perlahan muncul.

Dan ketika wajahnya akhirnya terkena cahaya—

Clara kehilangan napas.

Karena pria itu…

adalah seseorang yang selama ini mereka yakini sudah mati.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!