SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Serangan balik di?
BAB 23: "SERANGAN BALIK DI PUSAT KOTA"
Hujan deras makin menjadi-jadi, meluapkan air di sepanjang jalanan protokol Jakarta. Di tengah kepungan badai malam, raungan mesin puluhan motor sport geng Averus membelah sunyinya jalur arteri menuju pusat kota.
Langit memimpin barisan paling depan dengan motor hitam besarnya, sementara Aira duduk rapat di jok belakang, merengkuh pinggang Langit erat-erat sambil memegang pelontar suar dan senapan taktis ringkas di balik jaket kulitnya.
Di belakang mereka, Kenzo dan Galang mengawal barisan dengan koordinasi penuh melalui saluran komunikasi helm.
"Galang! Gimana kondisi markas sama penthouse?!" teriak Aira menembus deru angin dan raungan mesin melalui radio helm.
"Aman, Ra!" suara Galang terdengar sibuk berpacu dengan suara ketukan papan ketik. "Sistem peledak yang dipasang anak buah Bramantara itu cuma gertakan jarak jauh pake frekuensi nirkabel! Gue udah meretas pemancar sinyal mereka dan mematikan detonatornya dari jauh sepuluh detik yang lalu!"
Aira menyunggingkan senyum miring yang puas.
"Kerja bagus, Kutu Buku! Sekarang giliran kita kasih kejutan balik ke Pak Tua itu!"
Tujuan mereka malam ini bukan lagi tempat bersembunyi atau bertahan, melainkan markas komando utama Vanguard Holdings—sebuah gedung pencakar langit megah berlantai lima puluh di kawasan segitiga emas Jakarta.
Bramantara Adhitama berpikir dia bisa mengendalikan permainan dari balik kaca tebal dan pendingin udara gedungnya, tanpa menyadari kalau malam ini dua anak muda yang diremehkannya sedang membawa neraka langsung ke depan pintunya.
SREEEKKK!
Langit mengerem mendadak tepat di depan pelataran megah Menara Vanguard. Ban motornya menciptakan cipratan air tinggi. Puluhan anggota Averus menyusul, mengepung area lobium utama yang dijaga ketat oleh belasan sekuriti elit berjaket taktis.
Para penjaga di lobi langsung memasang posisi siaga, mencengkeram tongkat listrik dan pistol stun. "Dilarang masuk! Ini area privat—"
Sebelum penjaga itu menyelesaikan kalimatnya, Aira sudah melompat turun dari motor, berlari kencang menerjang pintu kaca lobi utama!
BAM!
Aira melayangkan tendangan terbang (flying kick) yang mendarat telak di dada penjaga terdepan hingga pria berbadan bongsor itu terlempar menabrak pintu kaca otomatis sampai retak! Tanpa memberi jeda, Aira memutar tubuhnya, meraih lengan penjaga kedua, memuntirnya ke belakang, dan menghantamkan kepala pria itu ke meja resepsionis marmer—
BUAK!
"Masuk!" teriak Aira pada Langit dan pasukan Averus.
Langit menerobos masuk bagaikan badai. Bersama Kenzo dan anggota elit lainnya, mereka melumpuhkan sisa sekuriti lobi dalam hitungan kurang dari dua menit. Suara alarm keamanan gedung mulai meraung-raung nyaring, menyalakan lampu sirine merah di seluruh ruangan.
"Galang, kunci semua lift eksekutif!" perintah Langit sambil membetulkan letak sarung tangan taktisnya. "Buka akses lift pribadi yang langsung menuju ruangan Bramantara di lantai lima puluh!"
"Akses dibuka, Bos! Tapi hati-hati, lantai empat puluh sembilan itu lantai pertahanan khusus milik pasukan inti Vanguard!" peringat Galang dari radio.
Langit menoleh ke arah Aira yang sedang mengelap percikan darah tipis di sudut bibirnya. "Lu siap, Shena?"
Aira mengokang senapan ringkas di tangannya dengan gerakan mantap dan luwes, menyunggingkan senyuman savage yang penuh antusiasme. "Gue udah nunggu momen ini dari pertama kali terlempar ke dunia ini, Kanebo. Ayo
kita selesaikan!"
Mereka berdua bersama empat anggota elit Averus melangkah masuk ke dalam lift khusus berlapis baja. Pintu lift tertutup rapat, dan angka digital di atas pintu mulai bergerak naik dengan cepat: 1... 10... 25... 40...
Atmosfer di dalam lift terasa sangat pekat oleh ketegangan dan adrenalin. Langit mengulurkan tangan kirinya, menggenggam erat jemari tangan kanan Aira. Genggaman yang dingin tapi memberikan kepastian tak tergoyahkan.
"Setelah ini... semua konflik bakal berakhir," bisik Langit, menatap lurus ke mata Aira.
"Iya," balas Aira pelan. "Dan kita bakal hidup tenang tanpa ada benalu atau pak tua gila yang ngatur-ngatur kita lagi."
TING!
Lift berhenti di lantai empat puluh sembilan. Pintu baja terbuka lebar.
Pemandangan di luar lift langsung disuguhi oleh koridor luas berlantai marmer gelap yang sudah ditunggui oleh delapan prajurit inti Vanguard berpakaian armor berat dan memegang perisai huru-hara!
"DIBERHENTIKAN DI TEMPAT!" raung pimpinan prajurit inti.
"Diberhentikan pala lu!" balik berteriak Aira seraya melemparkan bom asap ringan yang dibawanya tepat ke tengah barisan perisai musuh!
PSSSSHHH!
Asap putih tebal mendadak memenuhi koridor, memutus pandangan musuh seketika.
Aira dan Langit melesat maju berdampingan ke dalam kepulan asap! Aira memanfaatkan tubuh rampingnya untuk menyelusup ke bawah celah perisai musuh, menyabet pergelangan kaki musuh dengan pisaunya hingga mereka kehilangan keseimbangan. Sementara Langit menggunakan kekuatan murninya untuk menghantam perisai baja musuh dengan lutut dan tinjunya hingga penyangga besi itu terlepas dan menghantam wajah prajurit di belakangnya!
BUAK! TRANG! BAM!
Pertarungan di lantai empat puluh sembilan berlangsung singkat namun sangat brutal. Kombinasi ketangkasan taktis Aira dan kekuatan mematikan Langit membuat pasukan armor berat yang dibanggakan Bramantara tumbang tak berdaya satu per satu di koridor yang kini dipenuhi bekas tembakan dan asap.
Aira berdiri di atas tubuh pimpinan prajurit yang pingsan, mengeringkan peluh di dahinya. "Satu lantai lagi menuju lantai puncak."
Langit menatap tangga darurat berpelapis besi yang menuju langsung ke pintu ganda ruangan kerja Bramantara di lantai lima puluh. Matanya berkilat penuh tekad yang dingin.
"Ayo, Aira. Waktunya menemui dalang dari segala kekacauan ini."
makasih para readers yg masih nungguin cerita ini ,padahal udah beberapa hari ngak update ,ada kesibukan di real life maaf ya ,untuk besok2 bakalan update terus,pantau terus cerita nya
see you next bab. 24
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?