Indonesia
NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Akar dalam Kegelapan

Keesokan harinya...

Pagi di akhir pekan menyelimuti desa kecil di pinggiran kota dengan udara dingin dan keheningan yang kental. Arya berdiri di depan sebuah rumah panggung kayu beratap seng yang sudah lapuk dimakan usia.

Rumah tua peninggalan almarhum kakek dan neneknya ini telah kosong selama hampir belasan tahun sejak kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat Arya masih berusia tujuh tahun.

Di sampingnya, Iptu Farhan menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil dinasnya yang terparkir di bawah pohon nangka. Polisi senior itu sengaja menemani Arya setelah pemuda itu memberanikan diri meminta izin untuk menyelidiki masa lalunya sendiri.

"Kamu yakin akar jawabannya ada di dalam rumah ini, Arya?" tanya Farhan seraya mengamati sekeliling pekarangan yang dipenuhi semak belukar.

"Saya tidak tahu pasti, Pak Farhan," jawab Arya pelan. Tangannya memegang kunci besi tua yang berkarat. "Sejak krisis mental minggu lalu, ada satu ingatan masa kecil yang terus berulang di dalam mimpi saya. Sebuah kamar beraroma kemenyan tua dan suara nisan batu yang ditatah. Saya tidak pernah mengingatnya sebelum kemampuan magis ini bangkit."

Arya memutar kunci besi itu. Dengan suara decitan kayu yang keras, pintu depan terbuka, menyemburkan aroma debu tebal dan kelembapan tanah yang terperangkap bertahun-tahun.

Mereka berdua melangkah masuk menembus lantai papan yang berderit di bawah pijakan sepatu. Arya berjalan lurus menuju kamar paling belakang, kamar kakeknya, Mbah Broto, seorang pria tua pendiam yang semasa hidupnya dikenal oleh warga desa sebagai seorang juru kunci makam tua dan pemandian jenazah desa.

Di sudut kamar yang gelap, tergeletak sebuah peti kayu jati berukir rumit yang terkunci rapat dengan gembok kuningan tebal.

Arya berlutut di depan peti itu. Tanpa merogoh kunci, ia memegang gembok kuningan tersebut dengan jari telanjangnya.

SZZZZT!

Sensasi hangat, bukan dingin seperti saat menyentuh jenazah, mengalir pelan masuk ke dalam kesadarannya. Sebuah bayangan visual singkat muncul di benak Arya: Mbah Broto sedang menyembunyikan sebuah kunci kecil di bawah selipan papan dinding tepat di atas bingkai pintu kamar!

Arya mendongak, lalu meraih selipan papan dinding tersebut, dan menemukan sebuah kunci kuningan kecil.

KLIK!

Gembok kuningan terbuka. Arya mengangkat penutup peti kayu yang berat itu. Di dalamnya tidak ada perhiasan atau harta benda, melainkan tumpukan kitab berbahasa Jawa kuno bertuliskan tangan, sebilah keris tua tanpa sarung, dan sebuah buku harian bersampul kulit kerbau yang sudah menghitam.

Farhan berlutut di samping Arya saat pemuda itu membuka lembaran buku harian bersampul kulit tersebut. Tulisan tangan di dalamnya menggunakan tinta Cina hitam dengan kaligrafi Jawa dan Latin yang rapi.

Arya membalik halaman demi halaman hingga pandangannya terhenti pada tulisan tertanggal 14 November 2004 tahun di mana orang tua Arya meninggal dunia.

"Garis keturunan trah Penjalin Wesi tidak pernah padam. Sejak zaman kerajaan, leluhur kami dianugerahi 'Tingal Warana', mata batin yang mampu membaca sisa rasa dari jiwa yang telah lepas dari raga. Kemampuan ini bukan berkah, melainkan beban sumpah untuk menjaga rahasia para leluhur."

"Aku bersyukur anakku (ayah Arya) melahirkan Arya tanpa tanda trah tersebut. Kemampuan ini terlalu berat untuk seorang anak kecil. Biarlah mata batin ini mati bersamaku di pemakaman tua ini."

Arya menahan napasnya. "Trah Penjalin Wesi... Tingal Warana..."

"Jadi ini benar-benar kemampuan turun-temurun dari silsilah keluargamu?" gumam Farhan seraya membaca baris demi baris catatan itu. "Kakekmu sengaja menyembunyikan fakta ini dari orang tuamu?"

"Tunggu, Pak... ada halaman berikutnya," sela Arya dengan suara bergetar. Ia membalik halaman bertanggal 20 Desember 2004, beberapa hari setelah kecelakaan maut yang menewaskan orang tua Arya.

"Takdir tidak bisa ditawar. Kecelakaan di jurang lereng utara telah merenggut nyawa anak dan menantuku. Namun cucuku, Arya... anak itu bertahan hidup selama tiga hari di dasar jurang, terperangkap di dalam bangkai mobil yang hancur bersama jasad kedua orang tuanya yang sudah kaku."

"Saat aku menemukannya di dasar jurang, tangan kecil Arya sedang memegang erat jemari ibunya yang sudah dingin. Dalam kondisi koma dan kritis, segel 'Tingal Warana' dalam darahnya yang tertidur mendadak pecah terpaksa akibat trauma hebat bersentuhan dengan jasad ibunya sendiri selama 72 jam."

"Anak ini selamat, tapi jiwanya telah meresap ingatan terakhir ibunya. Aku terpaksa mengunci ingatan traumatis itu dan menyegel kemampuannya menggunakan minyak pusaka leluhur agar otaknya yang masih kecil tidak hancur. Namun aku tahu... segel ini hanya bersifat sementara. Begitu Arya dewasa dan memegang jenazah dalam tugasnya, pintu itu akan terbuka kembali..."

Buku harian di tangan Arya gemetaran hebat. Air mata pun menetes tanpa bisa ditahan, membasahi lembaran kertas tua itu.

Kecelakaan itu... tiga hari terperangkap di dasar jurang bersama jasad ibunya...

Potongan-potongan ingatan maut yang terbelenggu di dasar otak Arya selama belasan tahun mendadak meledak runtuh!

Arya mengingat dinginnya malam di dasar jurang, aroma bensin dan darah yang menyengat, serta hangatnya genggaman tangan ibunya yang perlahan-lahan berubah menjadi dingin kaku saat nyawanya melayang.

Di dalam kegelapan jurang itulah, trauma ekstrem dan silsilah darah leluhurnya menyatu, membuka secara paksa kemampuan magis yang kini dimilikinya!

"Jadi... ini bukan cuma warisan darah," bisik Arya dengan suara parau menahan rasa sakit di dadanya. "Tapi juga luka masa kecil yang memaksa kemampuan ini bangun..."

Farhan merangkul bahu Arya dengan erat, memberikan dorongan kekuatan bagi pemuda itu. "Sekarang kamu tahu kebenarannya, Arya. Kemampuanmu bukan keanehan tanpa alasan. Ini adalah warisan leluhurmu untuk melindungi kebenaran, dan kamu bertahan hidup dari tragedi itu untuk sebuah alasan besar."

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!