Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan deras mengguyur kota, membasahi kaca depan mobil sport hitam yang terparkir di tepi jalan yang sepi.
Di luar, gemericik air meluruhkan pandangan, namun di dalam kabin, suasana begitu hening.
Musa menyandarkan kepalanya pada jok kulit, jemarinya meremas kuat lingkar kemudi.
Ia memejamkan mata. Setiap kali suara hujan menghantam atap mobil, ingatan itu kembali hadir—jelas, tajam, dan tak pernah pudar sedikit pun meski satu tahun telah berlalu.
Jalanan ini. Di titik yang sama inilah, nyawanya hampir terenggut.
Satu tahun lalu.
Malam itu tak kalah pekat. Ban mobil Musa meletus akibat jebakan ranjau paku yang dipasang oleh musuh-musuh dari dunia bawah tanahnya.
Begitu mobilnya terhenti tak berdaya, seorang pria berparas dingin berlari ke arahnya.
DOR!
Mereka menembak lengan Musa yang baru turun dari mobil.
Rasa panas menyengat langsung menjalar di lengan kiri Musa saat sebuah peluru menembus dagingnya.
Ia tersungkur ke aspal yang dingin, darah segar membasahi pakaiannya.
Musa terengah-engah, napasnya memburu saat kesadarannya perlahan terkikis.
Dari balik pandangannya yang kabur, seorang pria berpakaian serba hitam melangkah mendekat, mengarahkan moncong pistol tepat ke kepalanya.
"Tamat riwayatmu," bisik pria itu dingin.
Musa memejamkan mata, bersiap menyambut jemputan maut.
Namun, sebelum pemicu pistol sempat ditarik—
BRAKK!
Suara benturan keras memecah malam. Pria yang memegang pistol itu mendadak ambruk ke tanah, tak sadarkan diri setelah sebuah hantaman keras mendarat di belakang kepalanya.
Di balik bayangan hujan, muncul sosok seorang wanita.
Ia memegang sebatang besi tebal yang kini terlepas dari genggamannya.
Tanpa membuang waktu, wanita itu berlutut di samping Musa.
"Ayo, ikut aku! Luka tembak di lenganmu harus segera diobati sebelum kamu kehabisan darah!" tegurnya tegas.
Dengan sisa tenaga yang ada, Musa membiarkan wanita itu menuntunnya berlari menembus kegelapan malam.
Jemari wanita itu menggenggam erat tangannya—sebuah genggaman yang hangat di tengah dinginnya ancaman maut.
Mereka akhirnya menemukan tempat perlindungan berupa bangunan tua yang terbengkalai.
Wanita itu melepas jaket tebalnya dan menggelarnya di atas lantai beton yang kotor.
"Berbaringlah di sini," perintahnya singkat.
Musa menuruti perkataan wanita itu dengan napas tersengsara.
Pandangannya memperhatikan gerak-gerik sang penyelamat.
Wanita itu mengeluarkan sebilah pisau lipat, korek api, dan selembar sapu tangan bersih dari dalam tasnya.
Ia melipat sapu tangan itu lalu mengarahkannya ke mulut Musa.
"Gigit ini. Aku harus mengeluarkan pelurunya sekarang, atau kamu akan mati kehabisan darah."
Musa mengangguk ke arah wanita yang menolongnya.
Sebelum wanita itu membakar bilah pisau dengan pemantik api untuk mengoperasikan sterilisasi darurat, Musa menahan napasnya sejenak.
Dari selip bibirnya yang pucat, ia berbisik lemah.
"Kenapa kamu menolongku, Nona?"
Wanita itu terdiam sejenak. Di bawah cahaya korek api yang redup, ia menatap Musa lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman samar namun penuh kelembutan yang terpatri abadi di ingatan Musa.
"Sudah sewajarnya kita sebagai manusia saling tolong-menolong, Tuan," sahutnya pelan.
"Tahan ya, jangan berteriak kalau tidak pria tadi menemukan keberadaan kita."
Musa kembali mengangguk. Ia menerima sapu tangan itu dan menggigitnya kuat-kuat.
JESS!
Sensasi terbakar dan rasa sakit luar biasa menyengat tubuh Musa saat bilah pisau panas menembus kulitnya.
"MMMMPPHH!"
Musa mengerang tertahan. Keringat dingin membasahi dahinya saat peluru itu diekstraksi dengan teliti.
CLING!
Proyektil timah berdarah itu jatuh memantul di lantai beton.
Tanpa membuang waktu, wanita itu segera menjahit luka tersebut dengan benang dan jarum darurat secara cepat dan cekatan.
Sakit luar biasa yang menumpuk akhirnya membuat daya tahan tubuh Musa ambruk.
Pandangannya meredup hingga kegelapan sepenuhnya menelan kesadarannya.
Sebelum Musa benar-benar pingsan, ia sempat merasakan wanita itu menyobek bagian bawah roknya untuk dijadikan pembalut darurat, melilitkannya dengan rapi di lengan Musa yang terluka.
Ketika Musa akhirnya terbangun beberapa jam kemudian, hari telah berganti pagi.
Wanita itu sudah hilang tanpa jejak. Hanya ada selembar kertas kecil yang ditinggalkan di sampingnya, tertulis dengan sepucuk pesan singkat:
Maaf aku harus pergi duluan. Di sini kamu sudah aman.
Kring... Kring... Kring...
Dering telepon genggam yang keras memecah lamunan Musa, mengembalikannya secara paksa ke alam nyata.
Musa membuka matanya perlahan. Napasnya teratur kembali, namun bayangan malam itu masih tersimpan begitu jelas di benaknya.
Ia mengulurkan tangan ke laci konsol mobil, menyentuh selembar kertas lusuh berisi tulisan tangan dan sobekan kain rok yang hingga hari ini masih ia simpan dengan sangat rapi.
Satu tahun telah berlalu, namun sosok wanita misterius itu tetap menjadi teka-teki terbesar dalam hidupnya.
Ponsel di sampingnya terus berdering. Nama "Kyai Adam" tertera di layar. Musa menghirup napas dalam-dalam, menetralkan ekspresi wajahnya, lalu menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum, Abah," sapa Musa lembut, mengembalikan nada suaranya menjadi sosok ustaz muda yang penuh kesantunan.
"Waalaikumsalam, Musa," suara hangat nan teduh milik Kyai Adam terdengar dari seberang telepon.
"Kamu ada di mana, Nak? Segera pulang ke pondok, ya. Ada hal penting yang ingin Abah bicarakan denganmu."
"Iya, Abah. Ini Musa sedang dalam perjalanan pulang," jawab Musa lembut penuh takzim.
"Hati-hati di jalan. Jangan mengebut, hujan masih deras," pesan sang ayah sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.
Musa memandangi layar ponselnya yang kembali gelap, lalu menghela napas panjang.
Di mata Kyai Adam dan seluruh santri di pesantren, Musa adalah sosok ustaz muda yang santun, tampan, berwibawa, dan selalu menebarkan kedamaian.
Tidak ada satu orang pun di lingkungan pesantren—termasuk ayahnya sendiri—yang tahu bahwa di balik jubah dan sorban putihnya, Musa menyimpan sisi gelap yang mengerikan.
Ia adalah pemimpin dingin dari sebuah jaringan bawah tanah yang ditakuti lawan maupun kawan.
Dua dunia yang saling bertolak belakang itu selalu berhasil dijaganya dengan sangat rapi.
Musa memasukkan kembali selembar kertas lusuh dan potongan kain penuh kenangan itu ke tempat tersembunyi di dalam mobilnya.
Ia menginjak pedal gas, melajukan mobil sport hitamnya menembus tirai hujan yang deras, membelah jalanan menuju Pondok Pesantren tempat takdir baru telah menunggunya
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Musa perlahan memasuki gerbang utama Pondok Pesantren.
Derum mesin mobil sport itu menyedot perhatian beberapa santriwati yang tengah melintas di koridor gedung utama.
Langkah kaki mereka mendadak terhenti, pandangan mata tak berkedip menatap sosok yang baru saja keluar dari balik kemudi.
Dengan setelan busana muslim yang rapi serta senyum tipis di bibirnya, Ustaz Musa melangkah anggun.
Kesantunan dan ketampanannya yang tenang selalu berhasil menyihir siapa saja yang memandang.
Tak ada satu pun dari mereka yang bisa membayangkan bahwa di balik kelembutan paras itu, ada sosok pemimpin mafia yang bertangan dingin.
Musa mengayunkan langkah menuju kediaman sang ayah.
Begitu melintasi ambang pintu rumah, ia mendapati kedua orang tuanya tengah duduk menyambutnya.
"Assalamualaikum, Abah, Umi," sapa Musa lembut sembari merunduk dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam, Musa. Ayo lekas mandi dan ganti pakaianmu, Nak. Setelah itu kita makan malam bersama," tutur Umi Sinta hangat sembari mengelus bahu putra tunggalnya.
Musa menganggukkan kepala santun. "Iya, Umi."
Ia melangkah menuju kamarnya. Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian koko putih yang bersih, Musa melangkah menuju ruang makan.
Bau aroma masakan rumah menyambutnya. Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Kyai Adam dan Umi Sinta.
"Ada apa, Abah, Umi? Tampaknya ada hal penting yang ingin disampaikan," tanya Musa membuka percakapan usai mereguk air putih.
Umi Sinta tersenyum sumringah, saling melempar pandang dengan Kyai Adam sebelum menatap Musa penuh kasih sayang.
"Begini, Musa. Abah dan Umi bermaksud menjodohkan kamu dengan putri dari sahabat Umi," ucap Umi Sinta lembut.
"Namanya Musdalifah. Dia wanita yang cantik, anggun, dan baru saja menyelesaikan pendidikan S1 di Mesir. Umi rasa sudah saatnya kamu membina rumah tangga, Nak."
Musa terdiam sejenak. Bayangan rahasia hidupnya dan pencarian wanita misterius yang menyelamatkan nyawanya satu tahun lalu sempat melintas di benak.
Namun, melihat binar harapan di mata kedua orang tuanya, Musa menundukkan pandangan. Sebagai seorang anak yang berbakti, ia tak ingin mengecewakan mereka.
Musa menganggukkan kepalanya perlahan. "Jika ini yang terbaik menurut Abah dan Umi, Musa ikut keputusan orang tua."
Kyai Adam tersenyum lega. "Alhamdulillah. Besok pagi kita akan berangkat bersilaturahmi ke kediaman Kyai Adi untuk mengkhitbah Musdalifah."
Makan malam berlangsung hangat. Usai santap malam dan berbincang sejenak, Musa pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Begitu Musa berlalu, Umi Sinta tak sanggup menahan kebahagiaannya. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya untuk menyampaikan kabar gembira bahwa rombongan mereka akan datang besok pagi demi melamar Musdalifah.
Di tempat lain, suasana tak kalah hangat menyelimuti kediaman Kyai Adi.
Kabar bahwa Ustaz Musa—pria berparas tampan dan berilmu tinggi yang menjadi idaman banyak orang—akan datang melamar besok pagi disambut suka cita luar biasa.
Di dalam kamarnya, Musdalifah tak henti-hentinya menatap lembaran foto Musa yang ada di tangannya.
Senyum mengembang di bibirnya yang terpoles tipis.
Ustaz muda itu benar-benar sempurna di matanya. Dengan perasaan membuncah, Musdalifah menyelipkan foto itu dengan hati-hati ke dalam saku bajunya.
Kemudian ia keluar dari kamar dan mengayunkan langkah menuju sudut rumah, tempat sang adik sedang duduk merapikan kitab-kitab pesantren.
Musdalifah bersedekap dada, menatap adiknya dengan pandangan meremehkan dan nada bicara yang dipenuhi kesombongan.
"Kasihan ya kamu, Laila. Sampai sekarang belum ada satu pun pria yang mau melamarmu. Lihat Mbakmu ini, besok seorang ustaz tampan dan terpandang seperti Mas Musa akan datang khusus untuk memintaku jadi istrinya. Kamu kapan? Jangan-jangan bakal jadi perawan tua di rumah ini."
Laila menghentikan usapan tangannya di atas sampul kitab.
Ia menarik napas panjang, menetralkan dadanya yang sempat terkejut atas cibiran sang kakak, lalu menatap Musdalifah dengan pandangan teduh tanpa menyimpan amarah.
"Astaghfirullah, Mbak." sahut Laila pelan dan lembut.
"Jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Kalau memang belum waktunya, saya cuma bisa bersabar dan memperbaiki diri. Lagipula, selamat untuk Mbak Musdalifah. Semoga acaranya besok berjalan lancar." ucap Laila.
Musdalifah yang kesal langsung keluar dan kembali ke kamarnya.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii