"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sementara itu, di tempat yang terpisah jarak dan atmosfer, malam di ndalem barat Pesantren Al-Anwar, terasa begitu mencekam. Udara dingin pegunungan merayap turun dari puncak Welirang, membawa kabut tebal yang mengepung bangunan kayu tersebut.
Di dalam kamar kerja yang remang, Reyhan duduk terpaku di kursi ukirnya. Di atas meja jati di hadapannya, terhampar sebuah kitab tafsir kuno yang terbuka, namun tak sepatah kata pun sanggup diserap oleh pikirannya. Pria itu menyandarkan punggung, memejamkan mata rapat-rapat.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Naya yang menyambutnya dengan senyum tenang—meski ia bersikap dingin—selalu hadir menghantuinya. Ia ingat betul bagaimana Naya tidak pernah sekalipun menaikkan nada bicara, bagaimana jemari lentik wanita itu merapikan surbannya, dan bagaimana pandangan mata cerdas Naya selalu mampu membaca kelelahan jiwanya tanpa perlu diucapkan.
Penyesalan itu datang bukan bagai gerimis pelan, melainkan bagai badai yang meruntuhkan seluruh keangkuhannya. Reyhan meremas tepi meja jati hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia melarikan diri pada Rani karena merindukan rasa dipuja. Rani yang polos, rapuh, dan selalu mendongak memandangnya bagai seorang pahlawan telah memuaskan egonya sebagai putra tunggal Kyai besar. Namun kini, setelah rahasia pernikahan siri itu terbongkar dan Naya melangkah pergi tanpa meneteskan air mata kelemahan, Reyhan baru menyadari sebuah kenyataan yang memukul telak ulu hatinya: Rani hanyalah ilusi sesaat. Rasa kagum Rani padanya dangkal, tak memiliki kedalaman intelektual dan keteguhan karakter seperti yang dimiliki Naya.
Ia telah menukar permata murni dengan batu kerikil, hanya demi menuruti gengsi pria yang enggan terikat perjodohan.
Suara engsel pintu kamar kerja berderit halus, memutus lamunan kelam Reyhan.
Rani melangkah masuk seraya membawa secangkir kopi hitam menguap. Ada guratan gelisah dan tekanan ketakutan yang teramat sangat di balik matanya yang redup.
"Gus..." panggil Rani pelan, meletakkan cangkir kopi di sudut meja. "Rani buatkan kopi hangat. Dari tadi Gus Reyhan belum makan malam."
Reyhan membuka matanya perlahan. Pandangan matanya yang biasa teduh dan memikat kini terasa begitu asing—dingin, hampa, dan tanpa jarak. Ia bahkan tidak melirik cangkir kopi tersebut.
"Taruh saja di situ, Rani," sahut Reyhan pendek, suaranya datar bagai garis lurus.
Rani menggigit bibir bawahnya. Perlakuan dingin ini sudah berlangsung sejak kepindahan mereka ke ndalem barat tadi sore. Pria yang dulu begitu hangat dan berbisik lembut menjanjikannya perlindungan sewaktu mereka bertemu diam-diam di Kediri, kini bertransformasi menjadi sosok asing yang sangat sukar disentuh.
"Gus..." Rani memberanikan diri maju satu langkah, menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Apakah... apakah Gus Reyhan terbeban dengan kepindahan kita ke sini? Atau Gus Reyhan menyesal karena sudah melepas Ning Naya?"
Reyhan mengalihkan tatapannya lurus ke dalam iris mata Rani. Suasana ruangan mendadak membeku, kalah dingin oleh tatapan pria di hadapannya.
"Apakah pertanyaan itu penting untukmu sekarang, Rani? Kenapa selalu bertanya tentang hal itu?" potong Reyhan rendah.
"Penting, Gus!" suara Rani meninggi tipis, keputusasaan mulai melingkupi nadanya. "Rani istri Gus Reyhan sekarang! Abi sudah menyerahkan tanggung jawab itu pada Gus Reyhan. Kenapa... kenapa setelah Ning Naya pergi, Gus justru menatap Rani seolah Rani ini adalah sebuah kesalahan?"
Reyhan menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang sarat akan kelelahan jiwa. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan letak koko mewahnya tanpa memandang Rani.
"Kamu tahu persis di mana letak kesalahannya, Rani," ucap Reyhan lugas, tanpa embellishment kata-kata manis lagi. "Aku melangkah terlalu jauh karena meladeni keegoisanku sendiri. Dan kamu... kamu memanfaatkan celah itu dengan dalih kepolosan. Kita berdua sama-sama salah. Jadi jangan menuntut kehangatan dari rumah tangga yang dibangun di atas luka orang lain."
Rani tersentak hebat. Wajahnya seketika pucat pasi. Kata-kata Reyhan menghantamnya bagai telparan fisik. Kepolosan manipulatif yang selama ini menjadi perisainya runtuh seketika di hadapan kejujuran pahit pria tersebut.
Rani yang tak mau kalah pun membalas perkataan Reyhan yang sudah sangat menyakiti hatinya.
"Kenapa cuma aku yang disalahkan? Kenapa Gus Reyhan tidak introspeksi diri?" cerca Rani dengan mata membara, meremas jemarinya sendiri hingga memucat.
"Ingat bagaimana dulu Gus bersikap manis kepadaku? Seolah aku ini perempuan yang paling Gus cintai dan sayangi. Aku menyerahkan seluruh jiwaku, bahkan Gus rela meninggalkan Ning Naya hanya demi menemaniku. Tapi kenapa setelah Ning Naya pergi, Gus justru menjadikan aku musuh?"
Reyhan mematung di tempatnya berdiri, tidak menyangka Rani akan membalas perkataannya. Ia hendak menyela, tetapi tenggorokannya mendadak mengering.
"Sejak awal aku tidak pernah memberikan pilihan apa pun kepada Gus," lanjut Rani, melangkah satu titik lebih dekat seraya menuding dada Reyhan. "Apa yang Gus lakukan adalah pilihan Gus sendiri! Jangan memusuhiku hanya karena hubunganmu dan Ning Naya hancur. Gus harus sadar diri, hubungan kalian sudah hancur jauh sebelum kita saling mengenal!"
Napas Rani memburu. Air mata yang kini menggenang di pelupuk matanya bukan lagi air mata penyesalan, melainkan luapan kegusaran atas ego seorang pria yang lari dari tanggung jawab moralnya.
"Apa pernah Gus melirik Ning Naya? Apa pernah Gus mau tahu tentang dia? Seolah-olah sekarang Gus yang paling tersakiti, melimpahkan semua dosa kepadaku! Pernikahan siri ini tidak akan pernah ada kalau Gus tidak menjabat tangan bapak saya dan mengucapkan ijab kabul!"
Setelah menumpahkan seluruh kebenaran pahit itu, Rani berbalik cepat. Tanpa menunggu balasan, ia melangkah lebar meninggalkan Reyhan, membanting pintu kayu jati hingga bunyinya menggelegar menembus sunyinya ndalem barat.
Reyhan berdiri membisu dalam remang lampu gantung. Kata-kata Rani menghantam dadanya tanpa ampun, telanjang dan memekakkan telinga. Pria lulusan Mesir yang selalu dipuja atas kedalaman ilmu tafsirnya itu kini merasa telanjang di hadapan egonya sendiri. Rani benar. Sepenuhnya benar.
Ia tidak bisa melemparkan seluruh kotoran ini ke pundak Rani. Dosa terbesarnya dimulai saat ia memilih menutup mata atas keberadaan Naya, meremehkan ketulusan seorang istri sah demi mengejar kebanggaan semu sebagai pria yang dipuja tanpa syarat.
**
Ruang makan di ndalem keluarga Zaydan El-Malik malam itu bernuansa hangat. Aroma sup ayam kampung berempah dan sambal terasi buatan Umma Mahera membumbung halus di udara, berpadu dengan derak pelan kipas angin gantung kayu. Di balik jendela kaca besar, angin malam Jombang berembus pelan, membawa kesegaran tanah basah yang menenangkan.
Di meja kayu jati bundar itu, empat piring makan telah tertata rapi. Abah Zaydan duduk di kepala meja, didampingi Umma Mahera, sementara Naya dan Arsyaka duduk berhadapan. Suasana makan malam berlangsung tenang sampai Umma Mahera meletakkan sendoknya pelan, menatap putri tunggalnya dengan pendar kasih sayang yang tulus.
"Bagaimana perasaanmu setelah jalan-jalan keliling pondok putri tadi, Naya?" tanya Umma Mahera seraya menyunggingkan senyum tipis.
Naya menyapu bibirnya lembut dengan serbet kain, lalu mendongak. Tatapan matanya jernih, mengisyaratkan kedamaian yang tak dibuat-buat.
"Senang, Umma. Rasanya tenang dan lega sekali," jawab Naya jujur. Namun, ia menghela napas pendek dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Tapi... sedikit bosan."
Abah Zaydan yang sedang meraih cangkir teh hangatnya langsung menghentikan gerakan. Dahinya berkerut halus. "Bosan? Kenapa, Nak? Ada yang membuatmu tidak nyaman di pondok kita sendiri?"
"Bukan begitu, Abah," sela Naya cepat, diiringi nada mengeluh yang sudah lama tidak terdengar dari bibirnya—nada manja khas anak bungsu yang dulu redup selama menjadi istri di Pacet.
"Naya cuma bingung. Hari ini rasanya tidak melakukan apa-apa. Cuma jalan-jalan, menyapa santri, duduk di pendopo. Rasanya aneh saja."
Umma Mahera tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah dan menenangkan. "Wajar saja, Naya. Biasanya rutinitasmu di Al-Anwar kan padat sekali. Mengajar madrasah, mengurus santriwati, belum lagi tugas ndalem. Sekarang jadwalmu kosong, jadi otak dan tubuhmu kaget. Nanti kalau sudah terbiasa dengan ritme istirahat, kamu tidak akan merasa bosan lagi."
Naya tersenyum tipis mendengarnya. Jemarinya bermain-main dengan pinggiran piring porcelain di hadapannya. Ada keraguan yang menggantung di matanya, sebelum akhirnya ia memberanikan diri menatap ketiga orang tercintanya secara bergantian.
"Sebenarnya..." Naya memotong ucapannya sendiri, menimbang kata yang paling pas. "Naya mungkin tidak akan melanjutkan pendidikan spesialis di Surabaya seperti yang sempat kita bahas kemarin, Mas."
Gerakan Arsyaka yang hendak memotong daging ayam mendadak terhenti. Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap adiknya tajam.
"Kenapa, Cah Ayu? Bukankah berkas pendaftaran di Unair sudah siap dan tinggal kamu serahkan?"
"Naya butuh suasana yang benar-benar baru, Mas," tutur Naya halus namun tertata.
Arsyaka menyipitkan mata. Insting seorang kakak membuatnya menangkap ada keputusan besar yang sudah dirancang adiknya.
"Lalu... kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"
Naya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkannya di paru-paru sebelum mengembuskannya perlahan. "Naya berencana mengambil program master dan spesialisasi di Dubai."
Tak.
Suara sendok Abah Zaydan yang beradu dengan piring terdengar begitu nyaring dalam keheningan yang mendadak melingkupi meja makan. Umma Mahera menghentikan kunyahannya, sementara Arsyaka membeku di tempatnya. Ketiganya saling pandang, mencoba mencerna ucapan wanita muda di hadapan mereka.
"Dubai?" cetus Abah Zaydan, suaranya naik satu oktaf. "Kamu yakin, Nduk? Dubai itu jauh sekali, Nak. Kamu tidak punya keluarga di sana, bahkan belum pernah ke sana sebelumnya."
"Tidak," pangkas Arsyaka tegas, tanpa kompromi. "Mas tidak setuju. Dubai terlalu jauh dari jangkauan Mas dan Abah."
"Mas Arsyaka, dengarkan Naya dulu," pinta Naya lembut, memasang raut memohon yang tulus. Ia tahu betapa protektifnya kakak laki-lakinya itu. "Naya sudah memikirkan hal ini dengan sangat matang. Naya bukan mengambil keputusan karena impulsif atau emosi."
"Kenapa harus sejauh itu hanya untuk melupakan Reyhan, Nay?" cecar Arsyaka, tatapannya menyiratkan kekhawatiran yang amat dalam. "Kamu bisa kuliah di Surabaya, Malang, atau Jakarta kalau memang butuh suasana baru. Kenapa harus ke luar negeri?"
"Ini bukan cuma soal melupakan Reyhan, Mas," potong Naya dengan nada bicara yang amat tenang, tidak terpancing tensi kakaknya. "Naya sudah mencoba mencari referensi universitas yang punya reputasi internasional untuk riset psikologi klinis dan psikiatri. Di Dubai, fasilitas akademisnya sangat maju, dan Naya sudah riset soal sistem keamanannya. Lingkungannya aman untuk wanita, apartemen dekat kampus juga jaminannya sangat ketat. Lagipula, Naya mau mencoba jalur beasiswa penuh, jadi tidak akan memberatkan Abah dan Umma."
Abah Zaydan menghela napas panjang, meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Naya, soal uang atau biaya, Abah dan Mas-mu sama sekali tidak keberatan. Kamu tidak perlu pusing soal biaya. Tapi persoalan dirimu sendiri yang membuat Abah dan Umma cemas. Kamu baru saja melewati masa-masa berat di Al-Anwar."
Naya menggenggam jemari ibunya di atas meja, lalu menatap sang ayah penuh keyakinan.
"Abah, Umma, Mas Arsyaka... percayalah pada Naya. Naya benar-benar baik-baik saja," ucap Naya dengan binar mata yang jujur. "Masalah dengan Reyhan sudah selesai di hati Naya. Naya sudah sangat lelah dengan pernikahan satu tahun yang hampa itu. Justru ketika takdir ini terbongkar dan Naya bisa keluar dari sana, Naya merasa lepas dan lega luar biasa. Naya ingin menata masa depan Naya sendiri, meraih cita-cita yang dulu sempat Naya kubur demi menjadi istri penurut."
Ruang makan itu kembali menghening. Kata-kata Naya masuk meresap ke dalam sanubari setiap anggota keluarganya. Tidak ada keputusasaan di wajah Naya, yang ada hanyalah tekad baja seorang perempuan berpendidikan yang siap bangkit berdiri di atas kakinya sendiri.
Arsyaka menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia memijit pangkal hidungnya yang mancung, menyadari bahwa adiknya yang cerdas ini bukan lagi gadis kecil yang bisa dibatasi keinginannya jika sudah memiliki argumen logis.
"Kalau kamu sudah menyusun rencana serapi itu..." Arsyaka menggelengkan kepala pelan, mengutak-atik rasa kalahnya sebagai seorang kakak yang protektif. "...kami bisa melarang apa lagi?"
Umma Mahera mengusap punggung tangan Naya yang berada di dalam genggamannya. Ibu sepuh itu tersenyum haru. "Lakukan apa pun yang membuat hatimu bahagia dan berkembang, Nak. Selama ini Naya sudah menjadi anak yang sangat penurut. Naya menuruti semua keinginan Umma dan Abah, termasuk perjodohan itu. Sekarang, selama itu hal positif dan kamu bisa menjaga diri serta kehormatanmu... Umma dan Abah mendukung penuh. Kami mengizinkanmu pergi."
Mata Naya mengembun oleh keharuan murni. Senyum cerah yang amat cantik merekah sempurna di wajahnya.
"Matur nuwun, Abah... Umma... Mas Arsyaka," bisik Naya tulus.
Tanpa membuang waktu, Naya bangkit dari kursinya. Ia memeluk Umma Mahera erat-erat, diiringi kecupan hangat sang ibu di keningnya. Beralih ke Abah Zaydan, sang ayah merengkuh bahu putrinya seraya mendaratkan ciuman kasih sayang di pelipisnya, membisikkan doa-doa keselamatan. Terakhir, Naya menghampiri Arsyaka yang masih berpura-pura merengut, melingkarkan lengannya di leher sang kakak dari belakang. Arsyaka menepuk-nepuk lengan adiknya seraya mengecup kening Naya penuh kehangatan keluarga.
Di dalam lingkar kasih sayang keluarganya, Naya mengukir janji dalam hati: ia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh lagi untuk pria yang tidak tahu cara menghargainya.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah