Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Merasakan Sesuatu?
Yusuf kesal karena begini ulah Arkan di matanya, selama ini Kedua orangtuanya selalu merawat dan mendidik Arkan dengan baik. Lantas bagaimana bisa seorang Arkan kejebak oleh hasutan dengan wanita bernama Riana.
Tak lama Yusuf mengirimkan video mengenai verifikasi emosi karyawan untuk membayar gaji mereka.
Lalu pun Yusuf mengikuti Arkan ke ruang kantornya, suasana tegang, Arkan bisa-bisanya mendapat cacian dari para karyawan. Selama ini, Arkan memang ada memakai uang tersebut, lalu dimana sebagiannya.
Arkan dengan raut wajah masam, tapi ia mendekati Yusuf. Senyum manis dibibir Arkan, seolah ini ada kaitannya dengan sikap Yusuf yang bocor untuk menjadi pewaris perusahan.
Yusuf tak menginginkan apapun, ia bersyukur bisa diangkat menjadi Aspri sudah senang menjadi salah satu dari sikapnya. Tapi apa yang dituduhkan oleh Arkan, sama sekali Yusuf tidak ingin semuanya terjadi.
"Kamu puas, Yus. Kamu selama ini bangga bisa diangkat oleh Papa ku, jawab Yus," Tanya Arkan, ia memegang dasi merah Yusuf seolah ini menjadi bumerang dalam hidupnya.
"Saya hanya menjalankan tugas dari Pak Riswan, saya tidak bangga melihat ini, Pak Arkan," ucap Yusuf ketakutan, tetapi ia tidak boleh menyerah.
Arkan menepuk tangan, tawanya menggelegar seolah Yusuf menang dalam keadaan. Tetapi, Arkan tidak akan diam sekalipun Yusuf menentangnya.
"Cukup!!" Gara-gara kamu masuk dalam keluarga saya, kamu merasa di sukai. Dan gara-gara kamu, sampai nyawa istri ku engkau selamat kan. Hebat sekarang kamu, Yusuf. Sekarang tanda tangan ini, atau saya tidak akan diam kamu menjadi Aspri saya, ingat itu," bentak Arkan, ia muak setiap kalimat harus Papanya ikut campur. Sekarang demi perusahaan saja ada orang lain malah di beri gelar.
"Tapi, Pak!" Pak Arkan boleh memecat saya, silahkan. Akan tetapi, Pak Arkan jangan menyesal setelah video mengenai gaji karyawan sudah saya bagikan kepada, Pak Riswan."
Deg!
Arkan juga tinggal diam, nyatanya nyali Yusuf begitu hebat. Ada masanya setiap orang jangan di salahkan, tetapi bagi Yusuf ia akan tetap berdiri kokoh untuk kebahagian Hanum.
Yusuf adalah pemuda dari kampung Melati, walaupun Hanum tidak mengetahui, jika Yusuf selalu mencari wanita itu. Ternyata, Wanita itu sudah menikah dengan pria sombong seperti Arkan.
Di nilai dari jauh, Arkan pria bodoh. Dan memalukan, ia bahkan sudah mengecewakan hati seorang wanita. Istri sahnya terbaring di RS dengan lupa ingatan, tetapi suami masih saja bergurau dengan wanita di luar sana.
Riswan tengah sibuk perihal sebuah kantornya, dimana ia kini sibuk tengah ingin membahagiakan menantunya. Atas permintaan dari istri, Riswan ingin mengajak keduanya berjalan. Agar Hanum tidak jenuh dirumah saja.
Tapi Riswan penuh menyesal, selama ini kerja kerasnya malah disia-siakan. Ada apa dengan sifat tamak anaknya.
Saat duduk sedang mengobrol dengan istri juga menantu di RS, membuka notif ponsel dengan sebuah video. Riswan menutup kedua mulutnya, seolah ini pertanda besar. Sedangkan istrinya tengah khawatir setelah melihat wajah suami penuh emosi.
Tapi tidak dengan Hanum, ia malah menjadi salah tapi ia juga ingin melihat keadaan rumah. Sudah jenuh berada di RS, tetapi kata lelaki yang ia temui, ia memiliki suami.
Riswan menjauhi keberadaan istri juga menantu, takut istrinya shock setelah keributan dari perusahaan.
"Benar sialan kamu, Ar. Tega kamu mengkhianati, Papa. Kemarin kamu bilang, perusahaan dalam keadaan baik-baik saja, tapi hari ini malah semua karyawan malah di perlakukan kasar. Mana janji kamu yang sabar, Ar," sulut emosi Riswan, mengepal kedua tangannya. Senyum sinis dibalik gigi rapi Riswan.
Istrinya keluar dan menarik tangan suami, tapi tak mungkin wanita yang ia cintai tahu keadaan kantor. Takut jika istri akan menjadi kepikiran tentang perusahaan tentang diambang permasalahan.
"Pa, mau kemana?"
"Ma, Papa ada urusan sebentar. Jaga Hanum, jika keadaan urusan sudah selesai, Papa akan kabari. Mama jangan menangis, nanti dengar menantu, Hanum akan sedih. "
"Sekarang, Mama jagain Hanum, ini urusan sepele. Ma, jagain Hanum, Hanum pantas bahagia, Ma."
Pertanyaan itu menandakan jika firasat Fatimah curiga karena pasti Arkan mengulang perbuatan kembali.
Aku mendengar suara jika Kedua Mertuaku membicarakan sesuatu. Tapi, setelah itu Mama mertuaku malah memeluk ku penuh erat. Apakah yang terjadi? Tetapi pikiran ku merasakan ada yang sesuatu yang tidak sesuai.
Aku hanya berada di depan pintu, seolah aku butuh udara segar. Tapi ini tak mungkin, tapi sampai kapan aku disini saja.
Fatimah mengabaikannya, fokus pada kesehatan Hanum. Yang lebih mengejutkan, disaat Hanum sudah berada di depan pintu.
"Num, kenapa ada disini, kamu bosen berada di kamar saja, atau kita mau jalan-jalan saja."
"Tentu, Ma!" Hanum ga mau merepotkan, Mama. Biar Hanum pergi sendiri."
"Ga boleh, berbahaya. Menantu Mama, tidak boleh berpergian sendiri. Nanti kalau kamu di culik, akan semakin repot. Bisa-bisanya, Papa kamu marahin, Mama."
Keduanya tertawa terbahak-bahak, tidak disangka Hanum bisa merasakan bersama dengan orang yang ia sayang, tapi ia juga rindu dengan ibunya di kampung Melati.
"Num, kenapa?" Kenapa sedih."
"Aku kepikiran tentang Ibuku di desa, Ma. Sudah lama aku tidak kesana. Apakah boleh ibu ku dibawa kesini, Ma," ucapnya kepada mertua tapi Hanum takut jika mereka tidak serasi dengan kehadiran ibuku.
"Tentu saja boleh, Num. Mama juga pengen kumpul kelurga. Mama juga pun rindu dengan ibu kamu. Besok kita kesana, tapi harus bilang sama Papa kamu, kalau ga, pasti Papa kamu juga mau ikut."
Aku tersenyum menatap wajah mertuaku ketika pertanyaan mengenai ibuku di desa Melati. Tak ada bantahan, yang ada senang dan bangga bisa menyatu dengan keluarga.
Tidak disangka jika Kedua Mertuaku lebih menyayangi, dan merawat ku seperti anak sendiri. Lagi pula, Aku berhutang budi pada mereka. Aku harus menerima kenyataan ini jika hidupku sangat suram tanpa suami.
Selama Aku hilang ingatan, aku tak tahu siapa Arkan? Mengapa dia sosok pria nyebelin, dan jutek. Tidak menghargai, walaupun ada juga kedua orangtuanya.
Entah sampai kapan aku bisa mengenali suami ku, tapi katanya setelah aku sadar dari ingatanku, mereka ingin mengetes uji suami ku.
Tidak percaya jika kedua orangtuanya sama memiliki misi untuk membuat Arkan menjadi serba salah.
Sampai saat ini, aku juga belum tahu siapa Arkan, kenapa saat bayangan itu merasa dialah suami ku.