Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Gudang yang Dikunci

..."Gudang yang dikunci oleh manusia hanya bisa dibuka oleh manusia lain yang berani berdiri di depan pintu dan berkata bahwa lapar tidak bisa menunggu surat."...

Angin pagi di Desa Majia membawa bau kayu basah dan getah pinus yang baru dipotong, karena rumah kedua sudah mulai dinaikkan dan anak-anak berlarian membawa paku di dalam tempurung kelapa sambil berteriak bahwa besok mereka akan tidur di bawah atap yang tidak bocor untuk pertama kalinya sejak banjir datang.

Jing yue mengecek ikatan tali di bubungan terakhir, tangannya yang kapalan memeras sekuat tenaga agar simpul tidak lepas ketika hujan datang lagi, lalu dia menoleh ke arah Paman Chen dan berkata bahwa kalau cuaca bersahabat selama lima hari maka sepuluh keluarga bisa pindah sebelum akhir bulan.

Belum sempat palu berikutnya diangkat, seorang utusan dari kabupaten datang menunggang kuda dengan wajah pucat dan jubah penuh debu, dan tanpa turun dari pelana dia langsung menyerahkan gulungan kertas yang ujungnya robek dan bertinta merah, yang isinya adalah laporan darurat dari Desa Hekou, desa kelima dan terakhir di daftar perintah istana.

Di dalam surat itu tertulis bahwa bantuan beras dan obat yang dikirim dua minggu lalu tidak pernah sampai ke warga, bahwa gudang desa dikunci rapat dan hanya dibuka pada malam hari, dan bahwa kepala desa yang baru bernama Tuan Wu bersama tiga anak buahnya menjual karung-karung itu ke pedagang di kota dengan harga tiga kali lipat.

Lebih buruknya, ketika beberapa warga berani protes, mereka dipukul dan diusir, dan sekarang ada empat puluh orang tua dan anak-anak yang sakit terbaring di balai tanpa makanan dan tanpa obat, menunggu sambil menatap pintu gudang yang tidak pernah dibuka.

Membaca itu, tangan Jing yue mengepal sampai buku-buku jarinya putih, bukan karena marah kepada Tuan Wu, tapi karena dia ingat wajah-wajah di Majia dan Shuanghe yang baru saja mulai percaya bahwa bantuan itu benar-benar ada.

Tetua Ketiga langsung berkata bahwa ini urusan pengadilan, bukan urusan Emei, karena melawan pejabat artinya melawan hukum, tetapi Jing yue menggeleng dan menjawab bahwa hukum yang tidak memberi makan orang lapar bukanlah hukum yang pantas dipertahankan.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, Jing yue memilih lima belas murid yang paling tenang, membawa sisa obat, membawa surat perintah kedua dari istana, membawa cap dari Tuan Zhou, dan mengajak Lei Feng karena dia tahu bahwa di hadapan orang serakah dibutuhkan dua pedang, satu yang benar-benar tajam dan satu yang hanya terlihat tajam.

Perjalanan ke Desa Hekou memakan waktu seharian penuh karena jalannya rusak dan jembatan gantung putus, sehingga mereka harus menyeberang dengan rakit yang mereka buat sendiri dari batang bambu dan tali, dan setiap kali rakit itu oleng Jing yue adalah orang pertama yang melompat ke air untuk menahan agar yang lain tidak jatuh.

Ketika mereka akhirnya sampai di ujung jalan Desa Hekou menjelang senja, yang menyambut bukanlah warga, melainkan dua orang bersenjata tombak yang berdiri di depan gerbang dengan dada dibusungkan dan berkata bahwa desa sedang tutup karena ada penyakit dan tidak menerima tamu.

Jing yue tidak mundur, dia mengeluarkan surat dari istana dan cap dari kabupaten, lalu dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke dalam dia berkata bahwa dia datang atas nama Kaisar untuk memeriksa gudang bantuan, dan kalau mereka menghalangi maka itu sama dengan menghalangi perintah langit.

Kedua penjaga itu saling pandang, lalu salah satunya lari masuk dan tidak lama kemudian keluar bersama Tuan Wu, seorang pria gemuk berusia empat puluh tahun dengan baju sutra yang tidak pantas dipakai di tengah desa banjir, jarinya penuh cincin dan di pinggangnya tergantung kunci besar.

Tuan Wu menyambut dengan senyum lebar yang tidak sampai ke mata, dia berkata bahwa Emei datang di waktu yang tepat karena gudang memang akan dibuka besok untuk pembagian, dan dia mempersilakan Jing yue menginap di rumahnya malam ini agar bisa istirahat dengan layak.

Jing yue mengangguk sopan, tapi matanya langsung menyapu ke arah lapangan di mana terlihat tumpukan karung yang ditutup terpal dan dijaga oleh tiga orang yang terus mondar-mandir, dan di sisi lain balai desa dia melihat beberapa orang tua duduk bersandar dengan selimut tipis dan anak-anak yang perutnya cekung.

Malam itu, Tuan Wu menjamu mereka dengan ayam dan teh mahal, dan di tengah jamuan dia mulai bercerita bahwa warga Hekou malas, bahwa kalau diberi beras gratis mereka akan menjualnya, jadi lebih baik dijual dulu lalu uangnya dipakai untuk membangun desa.

Jing yue mendengarkan sambil menunduk, tidak menyela, tidak makan banyak, dan ketika Tuan Wu bertanya berapa banyak Emei biasanya mengambil dari bantuan, Jing yue hanya menjawab bahwa Emei tidak pernah mengambil satu butir pun.

Setelah makan, Jing yue meminta izin untuk melihat kondisi warga di balai, dan Tuan Wu mengizinkan dengan syarat harus ditemani anak buahnya, dan di sanalah Jing yue melihat apa yang tidak tertulis di surat, yaitu seorang nenek yang menggigil karena demam, seorang anak yang batuk darah, dan seorang ayah yang memeluk anaknya sambil berbisik bahwa besok mereka akan dapat makan.

Jing yue tidak menangis di depan mereka, dia hanya mengeluarkan obat dari karungnya, merebus air di tungku kecil, dan menyuapi satu per satu sambil berbisik bahwa besok pagi mereka akan makan nasi, bukan janji.

Ketika kembali ke rumah Tuan Wu, Jing yue tidak tidur, dia duduk di luar bersama Lei Feng dan merencanakan langkah, karena dia tahu kalau langsung merampas gudang maka Tuan Wu akan lapor ke atas bahwa Emei memberontak, tapi kalau menunggu maka orang-orang di balai bisa mati.

Dia memutuskan untuk menggunakan cara yang sama seperti di Shuanghe, yaitu keterbukaan, tapi kali ini dengan tambahan satu langkah, yaitu saksi.

Fajar berikutnya, Jing yue meminta Tuan Wu mengumpulkan semua kepala keluarga di lapangan, dan dia berkata bahwa sesuai perintah istana, pembagian harus dilakukan hari ini juga dan harus disaksikan oleh wakil warga.

Tuan Wu menolak dengan alasan kunci gudang hilang, tetapi Jing yue mengeluarkan surat kedua dan berkata bahwa kalau kunci hilang maka pintu akan dibuka dengan cara lain dan biayanya akan ditagih ke kepala desa.

Ancaman itu membuat wajah Tuan Wu berubah, dan setelah berdebat selama setengah teh akhirnya dia menyerahkan kunci dengan tangan gemetar, sambil berbisik bahwa dia akan melaporkan Emei karena memfitnah pejabat.

Gudang dibuka, dan di dalamnya ada lebih dari dua ratus karung beras, peti obat, minyak, dan selimut yang semuanya masih baru dan masih tersegel, sementara di luar ada orang yang sudah tiga hari tidak makan.

Jing yue tidak langsung membagi, dia memanggil lima orang tua yang paling dihormati di desa, menyuruh mereka ikut menghitung bersama, dan semua karung dikeluarkan satu per satu di depan lapangan agar tidak ada yang bisa berkata bahwa ada yang disembunyikan.

Pembagian dilakukan dengan cara yang sama seperti di Shuanghe, satu karung untuk lima orang, dicatat nama, ditimbang di depan umum, dan siapa pun yang sakit didahulukan.

Tuan Wu berdiri di pinggir dengan wajah merah padam, sesekali mencoba menyela dengan berkata bahwa itu bukan urusan Emei, tapi setiap kali dia bicara ada warga yang menatapnya dengan marah karena mereka baru tahu berapa banyak yang selama ini ditahan.

Siang itu, ketika karung terakhir dibagikan dan tidak ada satu pun yang tersisa di gudang kecuali yang memang untuk cadangan, datang dua orang utusan dari kabupaten yang dikirim Tuan Zhou setelah menerima laporan kilat dari Jing yue lewat merpati, dan mereka langsung menangkap Tuan Wu dan anak buahnya karena penggelapan bantuan negara.

Tuan Wu berteriak bahwa ini konspirasi Emei, tetapi bukti sudah terlalu jelas, karung masih ada segel pedagang kota, dan ada buku catatan yang ditemukan di rumahnya yang menulis harga jual.

Sebelum dibawa pergi, Tuan Wu menatap Jing yue dan berkata bahwa dia akan memastikan Emei dicoret dari daftar sekte, dan Jing yue hanya menjawab bahwa kalau dicoret karena memberi makan orang lapar maka dia rela.

Tiga hari berikutnya, Jing yue dan muridnya tinggal di Hekou untuk memastikan tidak ada kekacauan, mereka mengajari warga cara menanam sayur di tanah yang baru surut, memperbaiki sumur, dan membuat dapur umum yang dikelola oleh para ibu.

Lei Feng yang awalnya hanya ikut mengawasi akhirnya ikut mengangkat karung dan mengajari pemuda desa cara berpatroli malam agar tidak ada pencuri bantuan lagi.

Di hari keempat, kepala desa baru dipilih oleh warga sendiri, seorang guru tua yang buta huruf tapi jujur, dan upacara kecil diadakan di depan balai dengan Jing yue sebagai saksi.

Malam terakhir di Hekou, Jing yue duduk di tepi sungai, menulis di bukunya dengan lampu minyak, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa musuh paling berbahaya bukan banjir, bukan penyakit, tapi orang yang memakai nama kekuasaan untuk mengunci makanan orang lain.

Dia juga menulis bahwa membuka gudang lebih sulit daripada membangun rumah, karena membuka gudang berarti membuka luka, dan luka itu perih tapi harus dibuka agar bisa diobati.

Sebelum tidur, anak kecil dari balai datang membawa sebutir ubi rebus dan memberikannya kepada Jing yue sambil berkata terima kasih, dan Jing yue menerima dengan dua tangan dan memakannya pelan-pelan karena dia tahu itu adalah ubi terakhir dari kebun anak itu.

Fajar berikutnya, rombongan Emei bersiap pulang ke Majia, dan warga Hekou mengantar sampai ke jembatan bambu sambil membawa bunga liar dan karangan janur.

Di tengah jalan, Jing yue menoleh ke belakang dan melihat asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah, dan dia tahu bahwa desa kelima sudah selesai.

Dia mengeluarkan surat kedua dari dadanya, melihat lima cap yang sudah dia buat di pinggirnya, satu untuk Qinghe, satu untuk Lijia, satu untuk Majia, satu untuk Shuanghe, dan satu untuk Hekou, lalu dia melipatnya dan memasukkannya kembali.

Di sampingnya Lei Feng berkata bahwa ini pertama kalinya dia melihat seorang murid sekte mau berhadapan dengan pejabat demi orang yang tidak dikenal, dan Jing yue menjawab bahwa menjadi Penjaga Gerbang artinya berdiri di depan, bukan di belakang.

Mereka berjalan pulang dengan langkah berat tapi ringan, karena tugas yang diberi surat kedua sudah selesai, dan di depan mereka masih ada pembangunan di Majia dan laporan yang harus dikirim ke ibu kota.

Malam itu, ketika mereka tiba di Majia, mereka disambut dengan sorak karena rumah ketiga sudah jadi, dan Jing yue hanya tersenyum, mencuci tangan, lalu mengambil palu dan melanjutkan memaku, karena dia tahu bahwa pekerjaan seorang penjaga tidak pernah benar-benar selesai, dia hanya berpindah dari satu pintu ke pintu lain.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!