Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Suara batuk itu terdengar sampai ke meja Reza, dan begitu dia menoleh, Gwen sudah menyandarkan kepalanya ke meja selama lebih dari semenit tanpa bergerak.
"Gwen?" Reza berdiri, mendekat cepat. "Lo oke?"
"Oke," katanya, mengangkat kepala dengan susah payah, wajahnya pucat, matanya sedikit berkaca-kaca. "Cuma... pusing dikit."
"Lo demam?" Reza menyentuh dahinya sebentar, dan langsung menarik tangannya lagi. "Ini panas banget."
"Gak apa-apa," kata Gwen, mencoba berdiri, tapi tubuhnya limbung sedikit sebelum dia sempat berpegangan ke meja. "Saya harus selesein laporan implementasi buat rapat sore ini."
"Lo demam tinggi, gimana caranya kerja."
Gwen mencoba tersenyum, meski jelas terlihat dipaksakan. "Bisa, kok. Dikit lagi kelar."
Reza menggeleng, sudah cukup lama kerja dengan Gwen untuk tahu betapa keras kepalanya soal urusan pekerjaan, tapi kali ini dia tidak berniat menyerah begitu saja. "Lo lembur berapa hari terakhir ini?"
"Empat hari."
"Berapa jam tidur tiap malem?"
Gwen diam sejenak, mencoba menghitung. "Tiga, empat jam mungkin."
"Gwen." Reza menatapnya serius. "Ini gak sehat."
---
Berita itu sampai ke telinga Madoc dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lewat pesan singkat dari Reza yang langsung dia kirim tanpa berpikir dua kali.
REZA: Pak, Gwen demam tinggi di kantor. Kayaknya kecapean lembur beberapa hari ini. Saya suruh istirahat tapi dia keukeuh mau nyelesein laporan.
Madoc membaca pesan itu, dan sesuatu di dadanya langsung mengencang—perasaan panik yang datang begitu cepat sampai dia sendiri tidak sempat memikirkan cara meredamnya sebelum bertindak.
Dia berdiri dari kursinya, hampir menjatuhkan cangkir kopi yang ada di sudut meja, dan berjalan cepat keluar ruangan tanpa memberi tahu Elias terlebih dahulu.
"Pak?" Elias, yang duduk di meja luar, menoleh kaget melihat bosnya bergerak secepat itu. "Ada apa?"
"Gwen sakit," katanya, singkat, sudah menekan tombol lift berulang kali seolah itu bisa mempercepat kedatangannya.
Elias berdiri, mengikuti dari belakang, tapi cukup bijak untuk tidak berkomentar apa pun soal kecepatan reaksi bosnya yang, kalau dipikir lagi, jauh lebih cepat dan panik dari yang wajar untuk sekadar berita seorang karyawan sakit di kantor.
---
Begitu sampai di lantai dua puluh tiga, Madoc menemukan Gwen masih duduk di kursinya, wajahnya pucat, mencoba mengetik meski jelas tangannya sedikit gemetar.
"Gwen." Suaranya lebih tegas dari yang dia rencanakan, panik yang coba dia bungkus jadi nada otoritatif.
Gwen mendongak, kaget melihat Madoc berdiri di depannya, napas sedikit terengah dari berjalan cepat. "Pak?"
"Kenapa masih di sini? Reza bilang lo demam tinggi."
"Cuma dikit, Pak. Sebentar lagi kelar laporannya, terus saya—"
"Tutup laptopnya."
Nadanya cukup tegas untuk membuat Gwen berhenti, tangannya berhenti di tengah mengetik. "Pak, ini penting buat rapat sore—"
"Rapatnya bisa ditunda." Madoc mendekat, memperhatikan wajahnya dari dekat—pucat, keringat dingin di dahinya, matanya yang biasa fokus sekarang terlihat sayu karena kelelahan. "Lo demam berapa lama?"
"Baru kerasa tadi pagi."
"Berapa hari lembur?"
"Empat hari."
Madoc menghela napas, mencoba menekan kekhawatiran yang mulai jelas terlihat di wajahnya sendiri. "Pulang. Sekarang."
---
"Pak, saya bisa handle," kata Gwen, mencoba bersikeras, meski suaranya sendiri sudah terdengar lemah. "Krisis Aditama masih jalan, saya gak enak ninggalin kerjaan di tengah—"
"Lo gak akan bisa handle apa-apa kalau pingsan di kantor," potong Madoc, tegas. "Tim lain bisa cover sementara. Lo perlu istirahat."
"Tapi—"
"Gwen." Nada suaranya melembut sedikit, tapi tetap tegas. "Ini bukan permintaan. Pulang, istirahat, itu perintah."
Gwen menatapnya, mencoba mencari celah untuk membantah, tapi tubuhnya sendiri sudah terlalu lelah untuk melawan lebih jauh. Kepalanya berdenyut, penglihatannya sedikit kabur, dan dia akhirnya mengangguk pelan, menyerah bukan karena setuju sepenuhnya, tapi karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi mempertahankan argumen.
"Baik, Pak," katanya, lemah.
---
Madoc menyuruh sopir kantor mengantar Gwen pulang, tapi tidak berhenti sampai di situ—begitu mobil itu berangkat, dia langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya, seseorang yang biasa dia panggil untuk keperluan medis mendesak yang berhubungan dengan urusan keluarga Kane.
"Dokter Anwar," katanya, begitu sambungan terhubung, "saya butuh bantuan sekarang. Ada karyawan saya yang demam tinggi, kecapean kerja."
"Alamatnya?" tanya dokter itu, tanpa banyak bertanya lagi, sudah terbiasa dengan permintaan mendadak dari keluarga Kane.
Madoc mengecek alamat Gwen dari data HR—sesuatu yang secara teknis dia punya akses karena posisinya, tapi yang belum pernah dia gunakan untuk urusan personal seperti ini—dan mengirimkannya ke dokter itu.
"Tolong cek kondisinya secepat mungkin," katanya. "Apa pun yang dia butuhkan, kirim tagihannya ke saya."
Elias, yang berdiri di sampingnya sepanjang percakapan itu, mendengarkan dengan seksama, menahan senyum kecil yang sulit dia sembunyikan.
"Pak," katanya, begitu telepon selesai, "biasanya kalau karyawan sakit, cukup disaranin ke klinik kantor aja."
"Klinik kantor tutup jam segini," kata Madoc, cepat, mencari alasan.
"Sekarang jam dua siang, Pak."
Madoc menatapnya, terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengalah dengan jujur. "Saya gak mau ambil risiko. Kalau kondisinya lebih parah dari yang kelihatan, saya mau dia dapet penanganan terbaik secepat mungkin."
Elias mengangguk, tidak lagi mendorong lebih jauh, tapi ekspresi wajahnya cukup jelas menunjukkan bahwa dia sepenuhnya paham motivasi sebenarnya di balik kepanikan bosnya yang, kalau diperhatikan, jauh melebihi standar kepedulian normal seorang CEO terhadap kesehatan salah satu karyawannya.
---
Gwen sampai di apartemennya sekitar setengah jam kemudian, langsung merebahkan diri di sofa tanpa sempat mengganti pakaian kerjanya, terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain tidur.
Bel pintu berbunyi kurang dari satu jam setelah dia sampai, dan dia bangkit dengan susah payah, terkejut mendapati seorang pria berjas rapi membawa tas medis berdiri di depan pintunya.
"Gwen Aditya?" tanya pria itu, sopan. "Saya Dokter Anwar, diminta Pak Kane buat cek kondisi Anda."
Gwen berkedip, mencoba mencerna informasi itu di tengah kepalanya yang masih berdenyut. "Pak Kane yang nyuruh?"
"Betul. Boleh saya periksa sebentar?"
Gwen mempersilakannya masuk, masih setengah tidak percaya dengan apa yang terjadi—CEO perusahaannya, dalam hitungan kurang dari satu jam, sudah berhasil mengirim dokter pribadi langsung ke apartemennya, sesuatu yang terasa jauh melebihi standar perhatian atasan biasa terhadap karyawannya.
Dokter itu memeriksanya dengan teliti, mengecek suhu tubuh, tekanan darah, dan beberapa gejala lain, sebelum akhirnya memberikan diagnosis.
"Kelelahan berat, ditambah demam ringan karena daya tahan tubuh turun," katanya, menuliskan resep. "Butuh istirahat total minimal dua hari, banyak minum air putih, dan jangan dulu mikirin kerjaan sama sekali."
"Dua hari?" Gwen mengerutkan kening. "Ada krisis kerja yang lagi—"
"Dua hari," ulang dokter itu, tegas. "Kalau dipaksakan, bisa lebih parah."
---
Setelah dokter itu pergi, ponsel Gwen bergetar—pesan dari Madoc.
Gimana kondisinya? Dokter udah cek?
Dia menatap layar itu, mencoba memahami perasaan aneh yang muncul di dadanya—campuran antara terharu dan bingung, karena tingkat perhatian yang baru saja dia terima terasa jauh di luar batas normal hubungan atasan-bawahan yang biasa dia kenal.
GWEN: udah, Pak. Katanya cuma kecapean, disuruh istirahat 2 hari. Makasih banyak udah kirim dokter, harusnya gak perlu sampe segitunya
Balasan Madoc datang cepat.
Perlu. Kesehatan lo penting. Istirahat aja, gak usah mikirin kerjaan dulu. Semua bisa diatur dari sini.
Gwen membaca pesan itu berkali-kali, merasakan kehangatan yang tidak biasa menjalar di dadanya, meski dia masih menganggapnya sebagai bentuk kepedulian atasan yang baik terhadap timnya—bukti lain, pikirnya, betapa profesionalnya cara Madoc mengelola orang-orang di sekitarnya.
GWEN: makasih, Pak. Beneran.
Dia meletakkan ponselnya, menutup mata, membiarkan tubuhnya akhirnya beristirahat setelah berhari-hari memaksakan diri bekerja tanpa henti—sepenuhnya tidak menyadari bahwa pesan singkat yang baru saja dia terima ditulis oleh seseorang yang, sejak menerima kabar dia sakit, belum bisa fokus sepenuhnya pada pekerjaan apa pun, terlalu khawatir memikirkan kondisinya sampai harus mengecek ponselnya berkali-kali menunggu kabar berikutnya.
Di kantor, Madoc duduk di ruangannya, menatap layar ponsel yang baru saja menerima balasan singkat itu, dan menghela napas lega yang jauh lebih dalam dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar urusan kesehatan seorang karyawan biasa.