Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
“Elara?” gumam Lucas pelan.
Ayah pasien mengernyit, terlebih saat melihat seragam sekolah yang masih dikenakan gadis itu. Tatapannya kemudian beralih pada Lucas, seolah meminta penjelasan.
“Siapa kamu?” tanyanya kepada Elara.
“Elara.”
Pria itu terdiam sesaat. “Bukan itu yang saya tanyakan. Siapa kamu sampai berani ikut campur?”
Elara menatapnya dengan tenang. “Kalau begitu, tanyakan pertanyaan yang benar.”
Untuk sesaat, pria itu kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari seorang gadis yang bahkan masih mengenakan seragam sekolah.
Bahkan beberapa orang di sana saling berpandangan. Mereka tidak menyangka jika seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah berani berbicara seperti itu di tengah situasi seperti ini.
Elara melangkah tenang ke arah Lucas. Tatapannya tetap lurus, mengarah ke pintu ruang ICU.
“Anakmu masih hidup.”
Langkahnya berhenti tepat di samping Lucas. Ia kemudian menoleh pada pria itu.
“Jadi berteriak seperti ini tidak akan membuat kondisinya membaik.”
Ayah pasien langsung mengepalkan tangannya. “Apa kamu sedang mengajari saya?”
“Tidak.”
Elara menatapnya dengan tenang. “Aku hanya mengatakan fakta.”
Pria itu semakin tidak senang mendengar jawabannya.
“Lalu menurutmu saya harus diam saja?”
“Iya.”
Jawaban Elara yang begitu cepat membuat pria itu tertegun.
“Apa?”
“Kemarahanmu tidak akan mengubah apa pun, Tuan.”
“Kamu—”
“Dan orang yang seharusnya kamu marahi bukan kakakku.”
Kalimat itu membuat suasana di koridor kembali sunyi.
Lucas bahkan langsung menoleh ke arah Elara. “Elara.”
Pria itu ikut menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Oh, jadi kamu adik dokter ini. Pantas saja kamu membelanya.”
Ia menunjuk ke arah Lucas dengan wajah penuh emosi.
“Apa kamu tidak tahu kalau kakakmu yang membuat anak saya kembali kritis?”
“Kak Lucas tidak melakukan kesalahan.”
“Dari mana kamu tahu?” tanyanya tajam.
Elara hanya menatapnya.
“Karena aku tahu.”
Wajah pria itu semakin mengeras. Jawaban Elara terdengar begitu yakin, seolah tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
Sementara beberapa perawat mulai terlihat bingung. Bagi mereka, gadis berseragam sekolah yang tiba-tiba muncul ini terlihat sangat aneh. Terlebih kata-katanya yang membuat mereka semakin khawatir akan memicu situasi yang semakin rumit.
“Elara,” panggil Lucas pelan. “Apa yang kamu lihat?”
Untuk pertama kalinya, Elara menoleh ke arahnya. Tatapan mata hijau itu terlihat jauh lebih serius dari biasanya.
“Seseorang menyuntikkan sesuatu pada pasien itu,” jawabnya pelan.
Lucas membeku. “Kapan?”
“Setelah Kak Lucas meninggalkan ruangannya.”
Lucas terdiam sejenak. Adiknya ini pasti tahu jelas siapa pelakunya. Namun tanpa bukti, semua tidak akan berarti apa-apa .
“Kita periksa kamera pengawas,” ujarnya tenang sambil menatap ayah pasien.
Pria itu langsung mengernyit. “Untuk apa? Bukannya sudah jelas kamu yang membuat anak saya seperti ini.”
Lucas memejamkan mata sejenak, menghela nafas panjang untuk mengontrol emosi.
“Karena saya merasa tidak melakukan kesalahan,” jawabnya tenang. “Jadi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kita harus memeriksa kamera pengawas.”
Pria itu terdiam sesaat. “Baik, saya akan ikut. Tapi kalau terbukti kamu yang membuat putriku semakin parah, saya tidak akan segan untuk melaporkanmu.”
Lucas mengangguk. “Silahkan.”
Setelah itu, ia mempersilahkan pria itu ikut bersama mereka menuju ruang pengawas.
Di saat semua orang mulai meninggalkan koridor, Elara tetap diam di tempat.
Tatapannya tertuju pada tempat sampah yang berada tidak jauh dari ruang ICU.
Untuk sesaat gadis itu terdiam. Seolah sedang memperhatikan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Mata hijaunya perlahan terlihat lebih terang dari sebelumnya. Hanya sesaat, sebelum akhirnya kembali ke warna semula.
Elara kemudian melangkah mendekat hingga berhenti tepat di depan tempat sampah tersebut.
Di antara tumpukan gelas plastik dan bungkus makanan, terlihat sebuah benda yang seharusnya tidak berada di sana.
Sebuah kantong plastik putih.
Di dalamnya terdapat ampul obat yang sudah pecah dan sebuah jarum suntik yang dibungkus menggunakan tisu.
Elara terdiam.
“Bodoh.”
“Siapa yang bodoh?”
Sebuah suara terdengar dari arah belakang.
Elara menoleh.
Leonard dan Lionel berdiri beberapa langkah darinya. Napas keduanya masih terengah-engah akibat berlari sejak memasuki rumah sakit.
Lionel berjalan mendekat. “Kak Lucas bagaimana?”
“Masih hidup,” jawab Elara.
“Bukan itu maksudku!” Lionel mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. “Yang aku tanyakan tentang masalah yang menimpanya.”
Elara kembali mengalihkan pandangan pada tempat sampah di hadapannya.
“Dia dijebak.”
“Apa maksudmu?” tanya Leonard.
Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah kantong plastik putih yang berada di dalam tempat sampah.
Kening Lionel mengernyit. “Apa itu?”
Leonard sendiri memperhatikan dengan seksama. Beberapa detik kemudian matanya membelalak. “Jarum suntik?”
“Dan ampul obat,” tambah Elara.
Suasana seketika hening. Lionel yang semula terlihat panik kini ikut menatap benda-benda tersebut.
“Tunggu… Jangan bilang…”
“Seseorang menyuntikkan sesuatu pada pasien Kak Lucas,” potong Elara datar.
Lionel segera menoleh. “Kamu tahu siapa pelakunya?”
“Iya.”
“Kalau begitu kenapa tidak langsung bilang?”
Elara memiringkan kepalanya sedikit. “Bukannya manusia perlu sesuatu yang disebut bukti.”
Seketika Lionel kehilangan kata-kata. Pemuda itu menatap saudara kembarnya yang hanya menghela nafas pelan.
“Yang dibilang Elara tidak salah juga kan, Lio?”
“Iya… benar. Sepertinya memang aku yang bodoh.”
“Jadi sekarang kita harus bagaimana?” tanya Leonard.
Elara mengambil kantong plastik putih itu dengan hati-hati. Tatapan mata hijaunya mengarah ke ujung koridor.
“Menyusul Kak Lucas.”
Leonard dan Lionel segera mengikuti langkah Elara.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, Leonard tiba-tiba teringat sesuatu dan menghentikan langkahnya.
“Tunggu!”
“Ada apa?” tanya Lionel yang langsung menoleh.
Tatapan Leonard tertuju pada kantong plastik yang masih dibawa Elara.
“Jangan pegang itu, Elara. Sidik jarimu bisa tertinggal di sana.”
Elara mengangkat kantong tersebut di depan wajahnya.
“Tenang saja. Mereka tidak akan menemukannya.”
Lionel terdiam sejenak, lalu berpikir.
“Bukankah justru lebih aneh kalau mereka tidak menemukan sidik jarimu? Mereka melihat sendiri kamu membawanya.”
Elara terdiam.
Ia menatap kantong plastik di tangannya, lalu mengangguk pelan.
“Benar juga.”
Gadis itu kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju tempat sampah. Dengan hati-hati, ia mengembalikan kantong plastik tersebut ke tempat semula.
“Ayo!”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah sakit, Lionel merasa sedikit lega. Setidaknya mereka telah menemukan sesuatu yang mungkin bisa membantu Lucas.
Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan menuju ruang pengawas, langkah Elara kembali terhenti.
Pandangannya perlahan beralih ke arah pintu ruang ICU yang kini sudah cukup jauh dari hadapannya.
Tatapannya tetap tenang.
Namun, perlahan warna hijau di kedua matanya tampak semakin terang.
Sinar keemasan muncul dari balik mata hijau itu, begitu samar hingga hampir tidak terlihat. Hanya bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menghilang.
Leonard dan Lionel yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya tidak menyadari perubahan itu.
Beberapa saat kemudian, Elara kembali melangkah menyusul mereka.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Hanya saja, sebelum meninggalkan koridor itu, gadis tersebut kembali menoleh ke arah pintu ICU.
Tatapannya bertahan di sana selama beberapa detik.
Elara menarik napas pelan, sebelum akhirnya kembali menyusul Leonard dan Lionel.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔