Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DI BAWAH TEKANAN

Ancaman terselubung yang ditiupkan Reno di lorong sekolah tadi pagi menggantung bagaikan awan hitam pekat yang siap mencurahkan badai di atas kepala Aluna. Sepanjang sisa jam pelajaran, fokus gadis itu hancur berkeping-keping. Setiap kali melangkah menyusuri koridor SMA Garuda atau sekadar mengambil alat tulis di tasnya, ia merasa seolah ada puluhan pasang mata yang sedang berbisik-bisik, siap menghakimi dan membeberkan rahasia terlarangnya dengan Devan. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarga serta pandangan kecewa dari Ayah Danu dan Ibu membuat seluruh persendian Aluna terasa kaku dan mendingin.

Begitu bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi keras, Aluna tidak membuang waktu. Ia mengemas barang-barangnya dengan jemari yang gemetar, lalu setengah berlari menuju area parkir belakang yang relatif lebih sepi—tempat di mana mobil Devan biasa terparkir di bawah naungan pohon trembesi rindang.

Dengan gerakan cepat dan napas yang terengah-engah, Aluna membuka pintu penumpang depan lalu segera menyusup masuk ke dalam kabin. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat, mencoba melarikan diri dari riuh gelak tawa para siswa yang mulai berhamburan keluar melintasi gerbang utama.

Devan sudah duduk di kursi pengemudi. Pria itu masih mengenakan seragam sekolah dengan lengan kemeja yang dilipat rapi hingga ke siku. Wajahnya tampak amat mengeras; garis rahangnya terkatuk rapat, memancarkan aura amarah liar yang sengaja ditahan sejak insiden konfrontasi di dekat perpustakaan tadi pagi.

Clek.

Tanpa membuang waktu, Devan menekan tombol pengunci pintu otomatis. Suara mekanisme kunci yang berbunyi tajam mengisolasi mereka berdua sepenuhnya dari dunia luar, menciptakan ruang kedap udara yang sarat akan ketegangan emosional.

"Kak Devan..." panggil Aluna pelan, suaranya bergetar hebat. Ia menyandarkan punggungnya di jok kulit mobil, menghembuskan helaan napas berat seraya memejamkan mata. "Waktu jam istirahat kedua tadi, Reno berdiri di dekat tangga lantai satu dan memperhatikan kita lagi. Matanya menatap kita terus, Kak... Aku beneran takut dia bakal nekad bicarakan hal yang enggak-enggak."

Devan memutar memiringkan posisi duduknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk memotong kalimat kepanikan adiknya, Devan mencondongkan tubuhnya ke depan. Satu tangannya yang hangat dan kokoh menjangkau tengkuk Aluna, menyusup ke balik rambut hitamnya yang halus, lalu menarik wajah gadis itu mendekat secara instan.

Devan membungkam bibir Aluna dengan ciuman yang sangat dalam, panas, dan sarat akan desakan posesif.

Ciuman Devan kali ini terasa jauh berbeda dibanding biasanya. Ini bukan sekadar penumpahan gairah tersembunyi di sela-sela waktu senggang, melainkan sebuah bentuk deklarasi perlindungan mutlak dan kepemilikan tanpa kompromi di tengah kepungan rasa terancam. Devan menekan pagutannya, menuntut balasan penuh dari Aluna demi menyapu bersih seluruh keraguan dan ketakutan yang menggerogoti pikiran adiknya.

Aluna mendesah pelan di dalam kungkungan ciuman yang memabukkan itu. Jemari tangannya meremas kuat-kuat kain kemeja seragam Devan di bagian dada, menancapkan kembali pijakan rasa aman yang sempat menguap habis sepanjang hari. Rasa takut akan dunia luar mendadak kabur, tergeser oleh dominasi hangat Devan yang begitu pekat menyelimuti indreranya.

Ketika Devan akhirnya merenggangkan pagutan bibirnya secara perlahan, ia tidak menjauhkan wajahnya. Devan menyandarkan dahinya tepat di dahi Aluna. Hembusan napas mereka yang memburu dan hangat saling membelai di dalam ruang kabin mobil yang sempit.

"Jangan pernah berpikir buat jauhin aku atau narik diri cuma karena cowok sialan itu, Aluna," bisik Devan serak dengan intonasi rendah yang tak terimbas keraguan sedikit pun. Jemari tangannya bergerak naik, mengusap pelan bibir Aluna yang merona basah akibat perbuatannya. "Aku nggak akan biarkan siapa pun di sekolah ini—atau di mana pun—merusak apa yang sudah kita punya."

"Tapi... Ayah sama Ibu gimana kalau rumor ini sampai melenceng ke mereka?" bisik Aluna dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam iris mata cokelat gelap milik Devan.

"Biar aku yang menyelesaikan masalah Reno," jawab Devan dingin, tegas, dan tanpa sedikit pun keraguan di dalam nadanya. "Tugas kamu cuma satu: tetap di sampingku dan percaya sama aku."

Devan menegakkan kembali posisi duduknya, memutar kunci kontak, dan menghidupkan mesin mobil. Kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan area sekolah yang kian sepi. Di balik kecemasan yang masih tersisa akan bahaya di luar sana, Aluna menyadari satu hal dengan pasti: ancaman dari luar bukannya merenggangkan mereka, melainkan justru makin menempa ikatan terlarang di antara mereka menjadi makin kokoh dan tak mungkin lagi bisa dipisahkan oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!