Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Hitung Mundur Sembilan Puluh Hari

Hari pertama terasa berat banget. Bangun pagi, gak ada pesan singkat di layar HP. Gak ada yang nunggu di depan pintu. Gak ada langkah kaki yang beriringan ke arah gerbang. Ruangan kosong, suara sunyi, dan jantung kerasa pelan banget — kayak ikut tertinggal di kereta yang membawa dia pergi.

Gue tempel kalender di dinding kamar. Tandai hari pertama dengan tanda silang merah besar. Tersisa delapan puluh sembilan hari lagi.

"Hari pertama. Sudah lewat satu hari. Tinggal delapan puluh sembilan."

Pesan masuk dari Farhan tepat pukul enam pagi. Seperti biasa, seperti gak pernah berpisah.

"Selamat pagi, Mir. Jangan lupa sarapan. Jangan lupa senyum. Satu hari lagi berlalu, makin dekat."

Gue balas pelan: "Selamat pagi. Di sini hari cerah. Semoga di sana juga. Semangat ya kerjanya."

Hari-hari berjalan pelan banget. Setiap malam sebelum tidur, gue coret satu hari lagi di kalender. Setiap malam kita lihat bulan yang sama — seperti janji kita.

"Bulan purnama hari ini, Mir. Terang sekali. Kalau lo lihat ke luar jendela... kita sedang menatap hal yang sama. Jarak di peta bisa diukur. Tapi jarak hati... sudah hilang."

Minggu pertama berlalu. Minggu kedua mulai terasa. Farhan makin sibuk. Pesan makin pendek, telepon makin singkat. Kadang baru bisa ngobrol larut malam, suaranya terdengar lelah sekali.

"Maaf ya..." katanya pelan di seberang telepon. "Baru bisa telepon sekarang. Hari ini sibuk luar biasa."

"Gak apa-apa. Yang penting lo makan dan istirahat."

"Lo... jangan sedih ya. Jangan nungguin pesan gue sampai larut. Tidur dulu. Kalau gue balas nanti, baca besok pagi aja."

"Janji?"

"Janji. Tidur sekarang."

Tapi gue tetap nunggu. Sampai balasannya muncul, baru gue pejamkan mata. Karena rasanya — kalau gue tidur sebelum dia bilang selamat malam — seakan ada bagian dari hari yang belum selesai.

Bulan pertama berlalu. Tersisa lima puluh sembilan hari.

Gue mulai sibuk juga. Bantu Ibu di rumah, bantu urus surat-surat, kadang ke bengkel Dimas buat bantu catat pembukuan. Ternyata — sibuk itu obat paling ampuh. Waktu berjalan lebih cepat, pikiran gak melayang terus ke arah kota lain.

Suatu sore di bengkel, Dimas duduk di sebelah gue sambil lap tangan yang penuh oli. "Lo kerasa jauh gak?"

"Jauh. Tapi gak hilang." Gue senyum pelan. "Setiap hari tetap ada kabar. Setiap malam tetap ada janji. Jadi walau gak ketemu... tetap kerasa ada."

Dimas mengangguk pelan. "Itu tandanya kalian gak nyambung cuma karena deket fisik. Tapi karena cocok hati. Kalau gitu... gak akan putus walau dipisah samudra."

Malam itu hujan turun deras di kota gue. Gue lihat ke luar jendela, teringat — apakah di sana juga hujan? HP berbunyi seketika.

"Hujan di sini, Mir. Tiba-tiba rindu berat banget. Ternyata hujan itu sama di mana-mana. Dan rindu juga sama."

Gue balas seketika: "Di sini juga hujan. Kita basah bersama walau beda tempat. Tetap lihat langit yang sama ya."

Bulan kedua berlalu. Tersisa dua puluh delapan hari.

Farhan mulai pulang lebih lambat. Kadang pesan baru masuk tengah malam. Kadang suaranya terdengar pecah karena kelelahan. Tapi gue gak pernah marah. Karena gue tau — dia berjuang di sana, supaya nanti kita bisa bersama di sini.

Suatu malam dia telepon, suaranya bergetar pelan.

"Mir... maaf ya..."

"Kenapa? Lo gak salah apa-apa."

"Gue takut. Takut lo terbiasa tanpa gue. Takut lo lupa suara gue. Takut waktu berjalan dan kita... makin jauh walau tetap saling kirim kabar."

Gue tarik napas dalam, ucap pelan dan tegas ke seberang sana.

"Han... dengerin gue. Waktu boleh berjalan. Tapi perasaan gue ke lo gak berubah sama sekali. Kalau lo capek — istirahat. Kalau lo lelah — bilang. Tapi jangan pernah takut gue pergi. Karena gue berdiri di tempat yang sama. Menunggu dengan sabar."

Diam sejenak di seberang sana. Lalu terdengar tarikan napas panjang yang lega.

"Makasih... makasih udah tetap di sana. Gue janji — dua puluh delapan hari lagi. Gue selesaikan semuanya. Lalu pulang menjemput lo."

"Gue tunggu. Pelan-pelan aja. Yang hati-hati."

Hari-hari terakhir berjalan campur aduk. Semakin dekat, semakin takut. Semakin dekat, semakin rindu. Gue coret hari demi hari di kalender. Tanda silang merah makin banyak. Tinggal sedikit lagi.

Hari ke delapan puluh sembilan. Malam sebelum pertemuan.

Gue duduk di meja belajar, jantung berdebar kencang. Pesan masuk tepat pukul dua belas malam.

"Besok hari ke sembilan puluh. Gue sudah beli tiket. Gue sudah beres semua. Gue sudah siap."

Gue ketik balas dengan tangan sedikit gemetar:

"Selamat malam, Han. Sampai jumpa besok. Di stasiun. Tepat waktu."

"Sampai jumpa, Amira. Tepat waktu. Seperti janji."

Gue tarik selimut, tapi gak bisa tidur. Tatap langit-langit kamar, bayangin wajahnya. Bayangin pelukannya. Bayangin suara langsung di telinga, bukan lewat pengeras suara HP.

Sembilan puluh hari. Tiga bulan. Satu musim.

Banyak hal berubah. Banyak hal berlalu. Tapi satu hal tetap sama — setiap pagi ada sapaan, setiap malam ada perpisahan sementara, dan setiap hari ada keyakinan: kita akan bertemu lagi.

Dan besok... sembilan puluh hari berlalu. Hitung mundur selesai.

Gue tulis di halaman terakhir lembar kalender itu, tepat di bawah tanggal hari ke sembilan puluh:

"Janji ditepati. Waktu membuktikan. Jarak kalah oleh kesabaran. Dan rindu... akhirnya pulang."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!