Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Hari sudah menjelang sore, cuaca yang semula mendung kini menjadi cerah. Di rumah Alina sudah ada beberapa warga yang kemarin melabrak dia dan keluarganya, tapi kali ini lebih banyak.
"Mana buktinya, Alina!"
"Iya nih, mana buktinya!"
"Sebentar ya, saya ambil dulu"
Alina pergi ke kamarnya dan mengambil alat tes kehamilan yang sudah ia gunakan. Baru sampai pintu depan rumah, Alina sangat kaget padahal awalnya ia sangat tenang. Bagaimana tidak, niatnya untuk membela diri justru akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Astaghfirullah!
"Ada apa Alina?" tanya Sartika. Lalu ia mengambil alat tes kehamilan yang Alina pegang. "Astaghfirullah, garis dua!" teriak Sartika menatap Alina, lalu beralih menatap Ida yang merupakan Ibu Alina.
"Tuh kan, dasar perempuan sok, suci!"
"Astaghfirullah, Alina!
"Ya ampun, nama kampung kita pasti akan tercemar. Ini semua gara - gara kamu Alina!"
"Tidak, ini bukan punya saya!"
Sartika nampak khawatir tetapi di balik rasa khawatirnya itu ia justru tersenyum samar.
"Akhirnya, terjadi juga apa yang aku tunggu - tunggu" kata Sartika dalam batinnya.
Flashback On
"Ayo, cepat Alina ke kamar mandi dan gantilah baju. Biar Bibi yang bawain tas kamu" Alina pun memberikan tasnya kepada Sartika.
Sesampainya di kamar Alina, Sartika mengecek tas Alina. Ia berharap akan menemukan apa yang ia cari yaitu alat tes kehamilan. Sartika sangat senang karena apa yang ia cari berhasil ditemukan. Sartika menukar alat tes kehamilan yang negatif milik Alina menjadi positif. Sartika juga dengan sengaja membawa makanan yang ada di tas ke meja makan, karena khawatir jika Alina akan mengecek tasnya.
Flashback Off
Beberapa orang melempari Alina dengan kerikil. Alina memejamkan mata dan menutup wajahnya. Tidak lama kemudian, Alina merasakan ada seseorang yang memeluknya. Bahkan, orang itu menyembunyikan wajah Alina di dadanya. "Aroma parfumnya kayak kenal. Astaghfirullah, ini bukan Ayah!" ucap Alina dalam batinnya. Dengan perlahan, Alina mencoba memberanikan diri untuk melihat orang itu.
Deg
"Bayu" ucap Alina dengan lirih. Orang - orang yang semula melempari Alina dengan kerikil pun syok ketika Alina di peluk oleh orang asing yang bukan saudara ataupun suaminya.
"Nah, ini dia orang yang ada di foto waktu itu"
"Astaghfirullah, ini mah kudu di tindak lanjuti. Jangan dibiarkan gitu aja!"
"Iya, betul itu, betul!"
Bayu sangat bingung ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Kamu kan yang membuat Alina hamil!?.... Kamu harus tanggung jawab!" bentak Ibu kepada Bayu. Bukannya menjawab, Bayu justru menoleh ke arah Alina yang sudah berlinang air mata. "Alina nggak mungkin hamil Bu"
"Ini buktinya!" Ibu menunjukkan alat tes kehamilan yang di pegang Bibi Alina kepada Bayu.
"Tunggu, saya punya buktinya!" ucap seorang cowok dari belakang gerombolan orang - orang yang sedang melabrak Alina, ia adalah Farhan.
"Kamu lagi, kamu lagi! Apa yang ingin kamu buktikan Farhan. Kebenaran sekarang sudah terungkap!"
"Ini buktinya"
"Dari mana kamu tahu kalau itu adalah milik Alina"
"Ini bukti kedua" Farhan menunjukkan sebuah video bahwa Sartika keluar dari rumah Alina dan membuang alat tes kehamilan di tempat sampah yang berada di depan rumah Bibi Alina. Karena khawatir ketahuan jika membuangnya di tempat sampah Alina.
"Dan ini, bukti ketiga" muncullah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil.
"Tadi pagi, ketika saya sedang lewat, saya melihat Bibi Sartika sedang mengobrol dengan Ibu Lani. Lalu, Bibi Sartika menerima alat tes kehamilan dan itu adalah milik Ibu ini" Tunjuk Bayu ke arah Bu Lani.
"Tidak, pasti dia membayar mahal Bu Lani untuk berbohong!" Ujar Sartika.
"Bagaimana Bu Lani, apakah yang saya katakan ini salah?" tanya Farhan dengan tenang.
"eee... Iya.... Betul. Apa yang dikatakan Farhan itu memang benar. Yang hasil tes positif itu punya saya. Sartika membayar saya untuk memberikan hasil tes kehamilan saya dan beliau memberikan sejumlah uang kepada saya. Mohon maaf, saya sangat terpaksa karena sedang membutuhkan banyak uang untuk keperluan sekolah anak pertama saya" jawab Bu Lani, sambil menunduk karena malu.
"Dan ini, bukti ke empat" Farhan menunjukkan bukti video CCTV yang menunjukkan bahwa Bibi Alina sedang menukar sejumlah uang dengan alat tes kehamilan milik Bu Lani. Sartika tidak bisa menyangkal apa yang di ucapkan oleh Farhan.
Seluruh warga yang melabrak Alina pun meminta maaf dan mereka berniat untuk melaporkan Sartika ke polisi atas kasus pencemaran nama baik. Namun, Alina meminta mereka untuk memaafkan dan tidak melaporkan Sartika. Akhirnya, warga pun pulang ke rumahnya masing - masing.
...----------------...
Semua orang sedang duduk di ruang tamu, mereka begitu syok dengan kejadian hari ini. Suasana sangat hening, Ibu pun memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah, masalahnya udah beres, ya" ucap Ibu sambil menghidangkan teh hangat. Ibu duduk di samping Alina, lalu berkata, "Alina, jangan murung terus, Nak."
"Oke, Bu!" Jawab Alina berusaha ceria.
"Ibu mau masak dulu, buat nanti makan malam. Bayu sama Farhan main aja dulu ya, nanti kita makan sama - sama." Kata Ibu dengan sumringah. Bayu dan Farhan pun setuju tetapi bukan karena ingin makan malam melainkan agar bisa menghibur dan menemani Alina yang sedang terpuruk.
Ibu pergi ke dapur sedangkan Farhan berpamitan keluar sebentar untuk menjawab telepon. Bayu pindah kursi agar lebih dekat dengan Alina.
"Kamu udah makan?" tanya Bayu kepada Alina.
"Udah, tadi pagi."
"Makan siang, belum?"
"Lupa, aku lagi banyak pikiran hari ini" jawab Alina dengan menghela nafas panjang.
"Kamu mau aku menghindar dari kamu kan? Tapi kalau kamu masih terus saja mengulangi kesalahan yang sama aku akan terus ganggu kamu!" kata Bayu dengan tegas dan penuh penekanan.
"Maksudnya? Kesalahan yang sama itu apa?"
"Kurang memperhatikan kesehatan"
"Tenang aja, aku tahu kok apa yang terbaik buat aku"
"Hmm, oke deh, meskipun aku nggak yakin"
"Ish.... Kamu kok bisa tiba - tiba di sini?"
"Waktu kamu ngabarin aku tadi, aku tanya Lili mengenai keberadaan kamu. Terus Lili bilang katanya kamu lagi di rumah orang tua kamu. Jadi aku nyusul deh.
"Eh, Alina maaf ya, aku nggak bisa ikutan makan malam bersama. Karena ada urusan mendadak"
"Oh iya, nggak apa - apa. Terima kasih ya, sudah nolongin aku"
"Oke, titip salam buat Ibu. Bay, saya pulang duluan ya
"Oke, Bro"
"Alina, aku boleh nanya sesuatu nggak?"
"Boleh, mau tanya apa?"
"Bagaimana perasaan kamu terhadap Farhan?" tanya Bayu pada Alina.
deg