Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Kebenaran di Lorong UGD dan Berkah yang Tersemai
Bau cairan disinfektan yang menyengat dan deru pendingin udara terasa menusuk hingga ke tulang di koridor UGD Rumah Sakit Medika.
Dimas berlari bagaikan orang kesetanan, mengabaikan tatapan kaget para perawat dan pengunjung. Napasnya memburu parau, kemeja kerjanya basah oleh keringat dingin, dan dadanya dihantam kepanikan luar biasa yang membuat jemarinya gemetar tanpa kendali.
Di depan pintu UGD berlampu merah yang menyala kaku, Widya berdiri menyandar pada dinding cat putih. Wajahnya sembap oleh air mata bercampur kemarahan yang membendung. Di sebelahnya, Arga tampak terus berbisik berusaha menenangkan.
Begitu derap langkah Dimas mendekat, Widya langsung menegakkan tubuhnya. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan layar ponsel Kiara yang retak seribu tepat ke dada Dimas.
"Jelaskan sama aku, Mas Dimas!" suara Widya melengking parau, menahan isak yang membakar tenggorokannya.
"Siapa cewek bergaun merah ini?! Kenapa tega-teganya Mas Dimas nemuin mantan pacar di saat Kiara lagi sakit mual-mual dari pagi?! Kiara pingsan di kantor gara-gara lihat foto fitnah ini!"
Dimas membeku. Manik matanya menatap foto-foto di layar ponsel istrinya—foto yang diambil dari sudut jahat, memperlihatkan Nadia yang seolah memegang tangannya dan merangkul lengannya.
"Widya... Arga... demi Allah, demi nyawa saya..." suara Dimas pecah, air mata yang ia tahan sejak di jalan akhirnya luruh membasahi pipinya.
Pria tegap itu menangkupkan kedua tangannya dengan tubuh agak membungkuk, memohon kepercayaan.
"Nadia datang nemuin gue cuma lima belas menit! Dia diancam mantan suaminya yang mau bawa-bawa nama dinas tempat gue kerja buat skandal! Gue nemuin dia cuma buat melarang keras dia menyeret nama dinas dan keluarga gue! Gue tepis tangannya, gue dorong dia pas dia mau megang gue! Gue nggak pernah mengkhianati Kiara!"
Arga melangkah maju, merangkul bahu Dimas yang bergetar hebat.
"Gue percaya sama lu, Mas Dim. Gue tahu persis karakter lu. Foto-foto ini dipotong sama orang jahat yang sengaja mau ngancurin rumah tangga lu sama Kiara."
Sebelum tangis kebingungan Dimas kian meluap, pintu geser UGD terbuka. Seorang dokter wanita paruh baya melangkah keluar seraya melepaskan stetoskop dari lehernya.
"Keluarga dari Ibu Kiara?"
Dimas menerobos maju paling depan, menyambar lengan jas putih dokter itu dengan raut wajah hancur.
"Saya suaminya, Dok! Tolong katakan istri saya baik-baik saja... tolong, Dok!"
Dokter itu menatap Dimas dengan tatapan teduh, menyunggingkan senyum hangat yang seketika meredakan ketegangan di udara.
"Tenang, Pak. Ibu Kiara sudah sadar. Beliau mengalami penurunan tekanan darah yang sangat drastis akibat gabungan antara kelelahan fisik, stres emosional mendadak, dan gejala bawaan."
"Bawaan apa, Dok?" tanya Dimas serak, matanya menatap tak berkedip.
"Selamat, Pak..." Dokter itu memegang lembut bahu Dimas.
"Istri Anda sedang mengandung. Usia kehamilannya saat ini memasuki minggu keenam."
DEG!
Dunia seakan berhenti berputar. Udara di koridor rumah sakit serasa membeku. Dimas berdiri mematung dengan mulut terbuka kecil, sementara Widya menutup mulutnya dan menangis haru di samping Arga.
"K-kehamilan, Dok?" bisik Dimas gemetar, suaranya nyaris tak terdengar karena tenggorokannya yang menyempit oleh rasa haru yang teramat sangat.
"Iya, Pak. Janin di dalam kandungannya sangat rentan. Rasa mual sejak pagi itu adalah morning sickness. Tolong jaga kondisi emosi Bu Kiara ya, Pak. Hindarkan beliau dari guncangan psikologis agar tidak memicu kontraksi awal."
...***...
Dimas mendorong pintu ruang perawatan bertuliskan angka 104 dengan gerakan paling lembut yang ia miliki. Ruangan itu hening, hanya dibasahi pendar lampu tidur kekuningan.
Di atas ranjang, Kiara berbaring lemas dengan selang infus tertancap di punggung tangan kirinya. Wajah cantiknya pucat pasi, dan kedua matanya yang sembap menatap luruh ke arah jendela luar. Air mata bening tampak mengalir perlahan, membasahi kain bantal.
"Sayang..." panggilan Dimas mengalun begitu parau dan bergetar dari ambang pintu.
Kiara menoleh pelan. Saat manik mata mereka bertemu, pertahanan Kiara runtuh. Isak tangis pelan keluar dari bibirnya yang pucat.
Dimas setengah berlari menghampiri ranjang, lalu tanpa ragu menjatuhkan kedua lututnya ke lantai dingin. Ia berlutut di samping tempat tidur Kiara, menengadahkan wajahnya, dan menyambar tangan kanan Kiara yang dingin. Dimas menciumi jemari istrinya berkali-kali dengan air mata yang menetes deras tanpa henti.
"Mas mohon... maafin Mas, Sayang... demi Allah, Mas mohon maafin Mas..." bisik Dimas terengah-engah di antara isaknya.
"Demi Tuhan di atas langit, di hati Mas cuma ada kamu dan Rayyan. Foto-foto itu jebakan dari orang jahat, Ra. Nadia memang datang ke Sukabumi, tapi Mas cuma nemuin dia sebentar buat menolaknya secara tegas. Mas nggak pernah menyentuh dia... Mas selalu nepis tangannya. Jangan siksa Mas dengan keraguan kamu, Ra... Mas nggak akan sanggup hidup kalau kamu dan anak kita kenapa-napa..." Dimas menjelaskan kesalahpahaman ini ke Kiara
Kiara menatap dalam-dalam ke dalam manik mata suaminya. Di sana, tidak ada bayang kebohongan. Yang ada hanyalah rasa takut luar biasa akan kehilangan, ketulusan cinta yang tidak tercemar, dan kehancuran jiwa seorang pria yang sangat mencintai istrinya.
"Mas..." suara Kiara terdengar sangat lemah namun hangat. Tangannya yang bebas bergerak menyapu air mata yang mengalir di pipi Dimas.
"Dokter... udah cerita sama Mas?"
Dimas mendongak cepat, menyunggingkan senyum paling tulus di tengah pipinya yang basah. Tangannya yang gemetar perlahan bergerak naik ke atas perut datar Kiara, mengusapnya dengan kelembutan yang teramat dalam.
"Ada malaikat kecil di sini, Ra..." bisik Dimas haru, mengecup jemari Kiara lagi.
"Ada benih cinta kita yang sedang tumbuh. Terima kasih, Sayang... terima kasih sudah menjaga anak kedua kita..."
Dada Kiara berdesir hangat. Seluruh beban sesak, kekecewaan, dan kecurigaan yang sempat menghimpit dadanya seketika meluruh menguap tanpa sisa.
Kiara menarik tubuhnya sedikit tegak, lalu merengkuh kepala Dimas ke dalam dekapan dadanya. Dimas menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Kiara, menangis meluapkan seluruh rasa syukurnya.
"Aku percaya sama Mas Dimas..." bisik Kiara lembut, mengusap rambut belakang suaminya dengan rasa cinta yang kian mengakar.
"Aku tahu suami aku laki-laki yang jujur dan menjaga pandangannya."
Dimas melepaskan pelukannya perlahan. Tangannya merangkul pipi Kiara, menatap istrinya dengan sorot mata yang kini tak lagi rapuh—melainkan dipenuhi kilatan ketegasan dan naluri protektif yang maha dahsyat.
"Siapa pun yang sudah berani ngirim foto itu buat menyakiti kamu dan mengancam calon bayi kita..." tegas Dimas dengan suara dalam dan dingin,
"Mas janji demi nyawa Mas, Mas akan cari tahu siapa di balik semua ini. Mas nggak akan biarkan siapa pun menyentuh kebahagiaan keluarga kita lagi."
Malam itu, di dalam kamar rawat yang tenang, sebuah ikatan cinta makin mengakar kuat saat menyambut kehidupan baru. Ketukan detak jantung calon kehidupan baru menjadi saksi atas ikatan suci yang tak mampu dirobohkan oleh fitnah sekeji apa pun.
Namun di luar sana, di balik pendar lampu kota yang dingin, sebuah rencana busuk dari masa lalu masih terus merayap mendekat.