Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Sesampainya di rumah, Zilia dan Rafael belum juga berhenti berdebat. Baru beberapa langkah masuk, suara mereka sudah terdengar sampai ke dapur.
"Pokoknya jangan panggil aku dengan sebutan mesra di depan orang lain!" gerutu Zilia.
Rafael justru memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil tersenyum jahil.
"Kenapa?"
"Malulah!"
"Padahal tadi kamu sendiri yang memanggilku sayang."
Seketika langkah Zilia terhenti.
Wajahnya langsung memerah.
"A-aku..."
Rafael semakin mendekat.
"Kenapa sekarang diam?"
"Aku cuma..."
"Kamu lupa?"
Zilia menggigit bibirnya, tidak mampu menjawab.
Rafael terkekeh.
"Kalau begitu, mulai sekarang aku boleh memanggilmu sayang juga, kan?"
"Jangan!"
Zilia langsung membuang muka.
Rafael tertawa kecil.
"Kenapa? Kamu boleh, aku nggak boleh?"
"Itu kan karena keadaan!"
"Keadaan apa?"
Zilia semakin salah tingkah.
"Sudahlah! Gak perlu dibahas."
Rafael sengaja mengejarnya.
"Sayang..."
"Rafael!"
"Sayang."
"Diam!"
"Baik, Sayang."
Zilia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya ampun... Kamu ini, nyebelin banget sih!"
Dari dapur, Ibu Retno yang sejak tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Belum genap sehari menikah, sudah seperti Tom and Jerry."
Zilia langsung menyahut.
"Bu, jangan dibela! Dia yang mulai!"
Rafael malah tertawa.
"Ibu nggak perlu khawatir. Saya sudah tahu cara menghadapi istri saya."
"Siapa juga yang mau kamu hadapi!" balas Zilia.
Ibu Retno menahan senyum.
Keduanya memang terlihat tidak pernah akur. Sedikit-sedikit berdebat, saling meledek, bahkan tidak mau kalah satu sama lain.
Namun, di balik semua itu, Ibu Retno bisa melihat sesuatu yang tidak mereka sadari.
Ada chemistry yang begitu kuat di antara Zilia dan Rafael.
Mungkin mereka sendiri belum menyadarinya.
Tetapi bagi Ibu Retno, pertengkaran kecil itu justru membuat rumah yang selama ini terasa sepi menjadi jauh lebih hidup.
Zilia yang masih menahan malu akhirnya mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Rafael.
"Berhenti senyum begitu!"
Rafael menangkap bantal itu dengan mudah.
"Kenapa? Istriku malu kah?"
"Aku nggak malu!"
"Wajahmu merah gitu."
"Karena kesal!"
Rafael sengaja mendekat.
"Kalau begitu, coba panggil aku sekali lagi."
Zilia mundur selangkah.
"Apaan?"
"Seperti tadi."
"Aku nggak mau."
"Sayang?"
"Rafael!"
Rafael tertawa puas.
Zilia langsung merebut bantal dari tangannya lalu memukul lengannya berkali-kali.
"Nyebelin!"
"Hei, pelan-pelan."
"Rasain!"
Rafael justru tertawa semakin keras.
Ibu Retno yang melihat dari dapur kembali menggelengkan kepala.
"Astaga... kalian ini baru menikah sudah seperti anak kecil."
Zilia menunjuk Rafael.
"Bu, dia yang bikin aku emosi!"
Rafael menunjuk dirinya sendiri.
"Aku maksudnya?"
"Iya lah!"
"Padahal saya cuma mengingatkan bahwa kamu tadi memanggilku sayang."
Zilia langsung bungkam.
Ibu Retno menatap putrinya dengan senyum penuh arti.
"Oh..."
Zilia langsung panik.
"Bu, jangan ikut-ikutan! dia itu suka ngada ngada. Jangan dipercaya omongannya."
Rafael mendekat sambil tersenyum jahil.
"Kalau Ibu ingin dengar, nanti saya minta Zilia untuk mengulanginya, Bu."
"Jangan harap!"
Zilia segera berbalik hendak pergi.
Namun Rafael tiba-tiba berkata,
"Sayang."
Langkah Zilia terhenti.
Ia menoleh perlahan.
Rafael hanya tersenyum santai.
"Apa?"
"Aku cuma memanggil istriku."
Zilia mendengus, tetapi kali ini ia tidak membalas.
Ibu Retno yang menyaksikan keduanya hanya tersenyum.
Belum genap sehari menjadi suami istri, rumahnya sudah dipenuhi suara pertengkaran kecil.
Anehnya...
tidak terasa mengganggu sama sekali.
Justru terasa seperti ada dua orang yang sedang belajar menemukan cara untuk saling memahami.
Zilia segera membawa kotak hadiah itu ke ruang tamu. Wajahnya masih terlihat memerah, membuat Ibu Retno langsung memperhatikannya.
"Loh, kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kenapa wajahmu merah begitu?"
"Gerah, Bu."
Ibu Retno menatapnya curiga.
"Di luar malah sejuk."
Zilia tersenyum kaku.
"Pokoknya gerah."
Tak lama kemudian, Rafael keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Zilia langsung melirik tajam.
"Jangan senyum begitu."
Rafael mengangkat alis.
"Aku belum ngomong apa-apa."
"Tapi wajahmu sudah mengganggu."
Ibu Retno menahan tawa.
"Kalian ini sebenarnya habis terjadi apa?"
"Nggak ada apa-apa, Bu!" jawab Zilia cepat.
Rafael justru duduk santai.
"Memang nggak ada apa-apa, Bu."
Zilia langsung menatapnya.
"Nah, tuh!"
Ibu Retno semakin geli melihat keduanya.
"Sudahlah. Sini, apa yang mau kamu kasih ke Ibu?"
Zilia segera menyerahkan kotak yang dibawanya.
"Ini buat Ibu."
Ibu Retno menerima dengan wajah penasaran.
"Untuk apa?"
"Anggap saja hadiah wisudaku nanti. Aku sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari."
Ibu Retno perlahan membuka kotak tersebut.
Begitu melihat isinya, matanya langsung berkaca-kaca.
"Zilia..."
Ia memeluk putrinya erat.
"Kamu masih sempat memikirkan Ibu di tengah semua kesibukanmu."
Zilia tersenyum.
"Karena Ibu orang yang paling penting buat aku."
Rafael yang melihat dari samping hanya diam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Zilia yang berbeda.
Gadis yang keras kepala, mudah kesal, dan selalu membantahnya ternyata menyimpan hati yang begitu lembut untuk orang yang dicintainya.
Rafael tersenyum tipis.
Dalam hati ia berkata,
"Sepertinya aku benar-benar harus menjaga perempuan ini."
Namun Zilia tiba-tiba menoleh.
"Kenapa lihat-lihat?"
Rafael tersadar.
"Nggak apa-apa."
"Jangan senyum sendiri."
Rafael tertawa kecil.
"Baik, Sayang."
Wajah Zilia kembali memerah.
"Rafael!"
Ibu Retno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian mereka kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Rafael duduk di ruang tengah dengan ponselnya, sesekali membalas beberapa pesan penting. Sementara itu, Zilia membantu Ibu Retno di dapur menyiapkan makan malam.
Suasana rumah terasa sederhana, tetapi hangat.
Bagi Ibu Retno, kehadiran Zilia dan Rafael membuat rumahnya terasa jauh lebih hidup.
Malam harinya, Zilia sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakannya untuk acara wisuda. Setelah semuanya selesai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah foto lama di atas meja.
Foto dirinya bersama sang ibu kandung.
Zilia mengambilnya perlahan.
"Ma..."
Suaranya bergetar.
"Lihatlah putrimu sekarang."
Ia tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Zilia sudah tumbuh dewasa. Aku bukan lagi putri kecil yang dulu suka merengek dan meminta ini itu."
Jarinya mengusap permukaan foto tersebut.
"Aku akan berjuang keras untuk membahagiakan Ibu."
"Aku ingin suatu hari nanti bisa mengangkat derajat Ibu. Semua yang kulakukan selama ini... adalah niat baikku sebagai seorang putri."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Begitu banyak tahun telah ia lewati bersama Ibu Retno.
Perempuan yang bukan ibu kandungnya, tetapi selalu hadir ketika ia membutuhkan kasih sayang.
Zilia menarik napas panjang lalu menghapus air matanya.
"Maaf kalau selama ini aku belum bisa membuat Ibu bangga."
"Besok..."
"Aku akan membuat Ibu tersenyum."
Tanpa disadari Zilia, seseorang berdiri di ambang pintu.
Rafael.
Ia tidak masuk dan tidak mengganggu.
Pria itu hanya diam memperhatikan Zilia yang sedang memandangi foto tersebut.
Untuk pertama kalinya, Rafael melihat betapa besar kasih sayang Zilia kepada Ibu Retno.
Tatapannya menjadi lembut.
Waktu yang dilewati pun cukup lumayan penuh kesibukan. Ditengah tengah kesibukan, Zilia penuh semangat untuk menyambut hari wisuda yang sudah dinanti nantikannya.
Disudut ruang tamu, Rafael yang tengah duduk santai, tiba-tiba ada panggilan masuk. Setelah dicek, rupanya dari sang ayah.
"Apa?! Papa serius. Baik, Pa, aku akan segera pulang dan berangkat. Tolong belikan tiket untuk keberangkatanku. Terus, yang menggantikan ku siapa?"
Rafael begitu shock mendengar kabar soal Omanya yang telah berpulang di luar negri. Ia pun segera kembali dan langsung melakukan perjalanan untuk ke luar negri. Meski ada rasa tidak rela, namun ia juga harus pergi.
Keesokan paginya.
Suara aktivitas di rumah mulai terdengar sejak pagi.
Hari yang sudah lama dinantikan akhirnya tiba.
Hari wisuda Zilia.
Zilia bangun lebih awal dan segera bersiap. Gaun serta perlengkapan wisudanya sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya.
Namun ketika keluar dari kamar, ia justru mendapati Rafael sudah menunggunya.
Pria itu berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
Tatapannya langsung tertuju kepada Zilia.
Untuk beberapa detik, Rafael hanya diam.
Zilia mengernyit.
"Kenapa lihat-lihat?"
Rafael tersenyum.
"Hari ini kamu cantik sekali."
Zilia langsung salah tingkah.
"Jangan mulai."
"Aku serius."
Rafael kemudian mengambil sesuatu dari sakunya.
"Ini."
Zilia menatap benda tersebut dengan bingung.
"Apa ini?"
"Hadiah untuk wisudamu."
Zilia terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka Rafael sudah menyiapkan sesuatu untuknya.
"Kenapa?"
"Karena hari ini hari pentingmu."
Rafael tersenyum tipis.
"Dan aku ingin menjadi salah satu orang yang menyaksikan keberhasilan istriku."
Zilia terdiam.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara Ibu Retno terdengar dari belakang.
"Sudah siap?"
Zilia mengangguk.
"Sudah, Bu."
Ibu Retno tersenyum penuh haru.
"Hari ini anak Ibu sudah benar-benar menjadi sarjana."
Zilia langsung memeluknya.
"Terima kasih, Bu."
Sementara itu, tanpa mereka ketahui...
di tempat lain, sebuah mobil sudah berhenti tidak jauh dari kampus.
Seseorang turun dari dalamnya.
Vio.
Tatapannya tertuju pada gedung kampus tempat Zilia akan melangsungkan wisuda.
"Aku tidak akan melewatkan hari ini."
Ia mengepalkan tangan.
"Aku ingin melihatnya sekali lagi." Gumamnya.
Masih di rumah Ibu Retno, tiba-tiba Rafael berdiri dihadapan istrinya.Masih di rumah Ibu Retno, Zilia sedang memeriksa kembali perlengkapan wisudanya ketika Rafael tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Zilia mendongak.
"Kamu mau ngapain lagi?"
Rafael tidak langsung menjawab. Wajahnya kali ini terlihat serius.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Apa?"
Rafael menarik napas panjang.
"Maafkan aku. Hari ini aku tidak bisa mendampingimu."
Zilia mengernyit.
"Kenapa?"
"Semalam aku mendapat kabar kalau Oma sudah meninggal."
Seketika ekspresi Zilia berubah.
"Rafael..."
"Papa memintaku segera pulang. Aku harus berangkat hari ini."
Zilia mengangguk pelan.
"Aku turut berduka cita."
Rafael tersenyum tipis, tetapi wajahnya masih terlihat berat.
"Untuk acara wisudamu, Kak Revan yang akan menggantikanku sebagai tamu undangan."
"Kamu nggak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Lagi pula ada Ibu yang akan menemaniku."
Rafael mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia justru meraih tangan Zilia.
"Aku cuma minta satu hal."
"Apa?"
"Jaga dirimu baik-baik."
Zilia menatapnya.
Rafael kemudian berkata lebih serius,
"Dan jangan terlalu dekat dengan Kak Revan atau Kak Rendra."
Zilia mengernyit.
"Kenapa?"
"Kamu harus menjaga jarak dari mereka."
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong begitu?"
Rafael menatap mata istrinya.
"Karena sekarang kamu istriku."
Nada suaranya terdengar tegas.
"Aku percaya sama kamu. Tapi aku juga tahu kedua kakakku."
Zilia menghela napas.
"Rafael, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu."
Rafael menggenggam tangannya lebih erat.
"Tapi tetap berjanjilah."
Zilia akhirnya mengangguk kecil.
"Iya."
"Jaga diri."
Rafael tiba-tiba menarik Zilia ke dalam pelukannya.
Tubuh Zilia langsung menegang.
"Rafael..."
Ia merasa sedikit risih karena semuanya terjadi begitu tiba-tiba.
"Lepasin."
Rafael terdiam sesaat, lalu perlahan melepaskan pelukannya.
Namun sebelum benar-benar menjauh, ia mengecup kening Zilia dengan lembut.
Zilia seketika membeku.
Rasanya seperti tersengat listrik.
Rafael hanya tersenyum tipis.
"Semoga wisudamu berjalan lancar."
Zilia masih terdiam sambil menyentuh keningnya.
"Orang ini..."
Rafael kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang depan.
Ia menemui Ibu Retno.
"Bu, saya pamit dulu."
Ibu Retno mengangguk.
"Berangkatlah. Jangan lupa jaga diri."
"Iya, Bu."
Rafael sempat menoleh sekali lagi kepada Zilia.
"Jangan lupa pesanku."
Zilia hanya mengangguk.
"Iya."
Rafael pun akhirnya meninggalkan rumah.
Zilia berdiri di tempatnya sambil memandangi kepergian Rafael.
Entah kenapa, pagi itu terasa sedikit berbeda.
Baru saja sehari mereka menjadi suami istri.
Namun saat Rafael pergi, ada sesuatu yang terasa kosong.
Zilia segera menggelengkan kepala.
"Apa-apaan aku?"
Ia menepuk pipinya pelan.
"Dia cuma pulang karena keluarganya sedang berduka."
Namun jauh di dalam hatinya, Zilia mulai menyadari satu hal kecil yang selama ini berusaha ia abaikan. Keberadaan Rafael ternyata sudah mulai terbiasa dalam hidupnya.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄